Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 24. Belanja


__ADS_3

Waktu telah berjalan, setelah sepulang sekolah aku dan Sofie pergi belanja untuk bahan makanan nanti malam, sebenarnya aku ingin bergegas menyiapkan kado berupa boneka anjing untuk Sofie, tapi kuurungkan niat itu untuk hari ini.


Jika Sofie pergi sendiri itu lebih bahaya lagi. Dan juga ulang tahun Sofie masih sekitar tiga hari lagi, aku bisa menyiapkan kado besok.


Terhanyut akan pikiran, tanpa sadar Sofie menghilang dari sisiku, sebelumnya dia tepat berdiri di samping kananku untuk mencari kecap dan saos, tapi sekarang dia tidak ada.


'Dasar bodoh! Kemana perginya dia?'


Aku berlari mengitari ruangan ini, mencari di tempat daging, buah-buahan. Setiap langkahku ada rasa kepanikan yang luar biasa.


Sampai akhirnya aku lega, kakiku berhenti melangkah, Sofie sedang berada di tempat sayuran berada dan dia sedang mencari sesuatu untuk di beli.


Aku melangkah mendekati Sofie yang berdiri itu.


"Dasar bodoh! Jangan seenaknya pergi!"


Aku sedikit membentak gadis ini, tapi dia malah tersenyum cengegesan.


"Maaf, habisnya aku tidak bisa melewatkan diskon ini."


Dia menunjukkan ke arah diskon sayuran yang ada, tampaknya ada sebuah diskon sebesar 15℅ dan dari mata Sofie terlihat sangat membara, dipenuhi oleh rasa ingin.


'Jadi ini yang dimaksud bahwa wanita suka dengan diskon.'


Aku menghela napas dan membuang pikiran tak berguna, mataku kembali menatap Sofie dengan pandangan serius.


Kakiku malangkah kemudian aku memegang tangan kanan Sofie, dia tampak terkejut dan dengan cepat menatapku.


"Jangan pergi seenaknya, apa kamu tahu kondisimu? Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke manapun lagi jadi diamlah dan tetap di sisiku!"


Sofie tampak sedikit bersalah, dia menundukkan kepala.


"Maaf."


"Ya."


Aku tidak merasa menyesal sama sekali, jika aku berpaling sebentar saja Sofie mungkin bisa dalam bahaya.


Jadi sudah kuputuskan aku tidak akan melepaskan tangan ini sampai ke rumah.


"Aku minta maaf, jadi lepaskan tanganku."


Dia menunduk dan berkata dengan suara cukup lirih, mungkin Sofie risih dengan tangan ini, tapi siapa peduli, aku khawatir jika Sofie mengalami sesuatu.


Jadi jawabannya sudah jelas.


"Ogah."


"Eh? Tolong, kita jadi pusat perhatian... dan juga ini memalukan."

__ADS_1


Mataku menoleh ke segala arah dan yang Sofie katakan adalah kenyataan, semua pandangan mengarah ke kami. Tapi apa masalahnya.


"Terus? Aku ingin seperti ini, jadi tidak apa-apa kan?"


Biasanya aku akan dengan cepat melepaskan tangan, tapi kali ini tidak akan, karena aku bisa melihat seseorang dengan jaket hodie bersembunyi dan menatap kami.


Dia terlihat sedikit terganggu akan keberadaanku, syukurlah aku ada di sini, jika tidak Sofie pasti beneran dalam bahaya, karena Stalkernya masih ada di dekat kami.


Tapi, setelah aku memegang tangan Sofie, dia langsung berdesis keras dan pergi, tampaknya dia tidak berani jika ada aku di sini.


"Ayo, buruan pilih apapun itu dan pulang."


Sofie menganguk dengan tangan kami yang masih berpegangan.


Sofie memilih beberapa sayuran berupa kubis, sawi dan tomat, dia memasukkan ke keranjang dan membawanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya telah kupegang dengan sangat erat.


Dia terus meminta untuk melepaskan tangan ini karena dia mali jadi pusat perhatian, tapi kutolak dengan sangat tegas.


Saat kami membayar di kasir, kami di tatap dengan senyuman yang entah apa artinya, Sofie makin menjadi malu dan sekujur wajahnya telah menjadi merah.


Yah, aku tidak peduli.


"Totalnya sekitar RP 50.000"


"Ya."


Aku merogoh dompet dan memberikan uang pas. Saat aku berencana pergi, Tiba-tiba sang kasir memanggil Sofie.


Aku berhenti dan kami berdua menoleh.


"Kamu punya pacar yang baik!" Dia tersenyum dan melambaikan tangan.


Aku tidak tahu ekpresi apa yang Sofie tunjukkan karena masih menatap sang kasir, tapi tangannya serasa sangat panas, pasti dia tersipu malu.


Aku mengabaikan fakta itu dan berjalan bersama Sofie dengan tangan yang masih berpegangan satu sama lain.


"Kamu beneran tidak mau melepaskan tanganmu?" tanya Sofie tampak sangat malu.


"Aku berjanji tidak akan pergi kemana pun, jadi.. ini sangat memalukan.." Dia melanjutkan.


Tapi jawaban dariku masih sama.


"Tidak mau."


Aku tentu saja menolaknya dia tidak akan kubiarkan pergi walaupun satu CM pun karena dia bisa saja di serang dari manapun.


Dan juga aku cukup suka tangan halus ini.


"Duh! Dasar cari kesempatan!"

__ADS_1


Dia menaikan nada dan tampak marah, tapi justru terlihat cukup menggemaskan.


"Kamu bisa katakan apapun sesukamu."


Aku mengabaikan keluh kesahnya dan masih berjalan menuju rumah Sofie.


Beberapa menit terlewat dan kami sampai ke rumah Sofie, seperti yang kukatakan aku menginap di sini untuk satu minggu.


Setelah sampai di rumah aku melepaskan tangan itu dan Sofie bernapas lega.


Saat ini Sofie memasakan sesuatu dari bahan yang kami beli dan kami memakannya dengan sangat tenang, walaupun dia masih terlihat dan cemberut mungkin marah karena aku memegang tangannya dengan sangat lama.


Waktu berlalu dan sekarang adalah saatnya untuk tidur malam. Sama seperti sebelumnya Sofie ada di kasur, tapi dia duduk dan menatapku dengan wajah cemberutnya terus seperti itu untuk beberapa menit.


"Ada apa?"


Aku bertanya dan Sofie dengan cepat langsung berpaling dengan cara yang imut.


"Tidak ada, aku hanya marah!" Dia makin cemberut.


Hah, dasar gadis yang merepotkan.


"ya ya ya, aku minta maaf akan yang tadi, tapi Sofie itu aku lakukan untuk kamu lo."


"Aku sudah tidak peduli tentang itu lagi!"


"Jadi apa yang membuatmu marah sekarang?" Helaan napas keluar dan aku menatap Sofie dengan sendu.


"Kenapa hari ini kamu tidak makan bersamaku dan juga sudah kubilangkan, temani aku tidur di kasur!"


Aku memijat keningku karena mendengar jawaban tidak masuk akan dari Sofie, jadi dia marah karena hal itu.


"Dengar, tadi pas istirahat ada hal yang harus kulakukan, dan aku tidak akan bisa tidur satu kasur denganmu!"


Aku menegaskan hal yang terkahir dengan nada yang tinggi agar dia tidak meminta hal bodoh ini lagi, tapi Sofie masih bersikeras.


"Yaudah!" Dia berpaling sekali lagi.


'Sungguh merepotkan gadis ini.'


Sofie beranjak bangun dari kasur, dia membawa selimut tebal dan sekali lagi duduk di sampingku, dia membagi selimut sama seperti kemarin.


"Kalau ini tak masalah kan?" tanya dia tampak berharap.


Aku menghela napas, "Lakukan sesukamu."


Sofie tersenyum sangat ceria seolah jawabanku adalah hal paling membahagiakan, dia meletakkan kepala kecilnya ke bahuku dan tidur lagi.


Tidur sangat lelap dengan kepala yang tertaruh di bahu, dia juga sedikit mengeluarkan suara saat tidur.

__ADS_1


Aku menghela napas dan menatap jendela di sana, menatap pemandangan malam yang sepi.


"Sungguh gadis yang merepotkan."


__ADS_2