Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 29. Teman baru Sofie


__ADS_3

Tepat pada saat ini situasi telah menjadi hening baik itu Sofie maupun Nasya hanya saling bertatap mata tanpa interaksi.


Sebutir keringat menetes melalui pipi Nasya yang asik membaca dia tampak seperti orang yang gugup.


"Ada apa?"


"....."


Sofie tidak menjawab dan menatap ke orang itu dengan wajah tenang serta sok dinginnya. Meskipun terlihat sangat tenang kini aku sadar Sofie pasti hanya bingung mau ngomong apa. Pada dasarnya dia hanyalah orang pemalu.


"P- permisi, apa kamu punya masalah?"


Nasya makin terlihat pucat kemungkinan karena tekanan dari gadis ini. Karena terbiasa aku tidak sadar, tapi tampaknya aura Sofie berubah menjadi sangat tenang, dingin, dan menghanyutkan.


Jujur saja jika orang normal pasti kebingungan karena Sofie tiba-tiba datang tanpa alasan yang jelas, oh. Kalau diingatkan lagi aku juga mengalami hal yang sama dulu.


Sofie mengeluarkan senyuman di situasi seperti ini, tapi itu sangat tidak terlihat ramah aku yang melihat dari kejauhan saja merasa sangat tertekan dengan senyuman milik Sofie. Serius ada apa dengan senyuman bodoh itu?


"Kamu Nasya kan?"


Senyuman itu tidak ramah justru seperti orang yang mengejek.


"Giik.. apa kamu punya dendam denganku?"


Dia makin takut, bahkan keringat terus bercucuran. Tapi Sofie masih diam serta menatap dengan pandangan yang sama.


Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi bisa saja orang ini menjadi salah paham.


Kakiku melangkah dan aku menepuk pundak Sofie dengan sangat keras hingga dia merintis kesakitan.


"Dasar bodoh! Apaan senyuman itu?"


"Duh! Apa yang kamu lakukan? Menepuk pundak seorang gadis dengan sangat kuat!"


Dia tampak tak terima dan menatap tajam aku.


"Kamu yang salah! Bagaimana bisa kamu mengeluarkan senyuman seperti itu? Kamu menakutkan orang lain!"


"B- b- berisik! Aku juga berjuang!"


Sofie merona, tapi dia berusaha keras menutupinya dengan menaikan nada suara hingga membuat kami jadi pusat perhatian.


"Hah, Sofie kenapa kamu gugup seperti ini.. jika bersamaku kamu biasanya tersenyum sangat manis, tapi kenapa tidak bisa dilakukan dengan orang lain?"


Aku menggelengkan kepala sebagai tanda kebingungan.


Dia merona, mungkin karena aku mengatakan senyum manis.


"Pujian tidak akan berguna di saat seperti ini! A- aku hanya sedikit gugup."


Si Nasya terlihat sangat bingung pada kondisi seperti ini dia berkata,


"Permisi sebenarnya ada apa?"

__ADS_1


Dia tersenyum lebih tepatnya terpaksa untuk tersenyum. Wajahnya juga masih pucat.


"Sofie lakukan itu!"


"Aku paham... uhum.. namaku Sofie salam kenal."


Dia dengan cepat berubah menjadi mode dingin, membuat Nasya kembali menjadi ketakutan. serius ada apa dengan orang ini? Perbedaan sifatnya 180 derajat sangat berbeda jika saat bersamaku.


Plak


Aku menyikut Sofie dan membisikkan sesuatu.


"Kamu beneran payah ya."


"Dan kamu sangat cerewet." sahut Sofie tidak mau kalah.


"A- anu, permisi. Aku tidak paham dengan situasi sekarang, tapi apakah kalian berdua beneran Couple seperti yang rumor katakan?"


Dia bertanya dengan sedikit keraguan. Tapi jawabanku cukup simpel.


"Ti-"


Aku merebut perkataan Sofie.


" Ya."


Aku menegaskan tampaknya Sofie hampir saja menyangkal fakta itu.


"Jadi begitu ya."


"Tapi, kembali ke tujuan sebenarnya ada apa denganku? Tampaknya Sofie ingin berbicara denganku, tapi..."


Dia berhenti berbicara karana melihat wajah dingin dari Sofie, mungkin dia merasa aneh karena tiba-tiba Sofie ceria dan tiba-tiba jadi dingin.


Menyadari perubahan sikap yang mendadak membuat aku sekali lagi menyikut Sofie dan sekali lagi dia merintis kesakitan.


Tapi kuabaikan dia yang mengeluh dan aku menatap Nasya.


"Sebenarnya Sofie ingin—"


"Stopp!! Dasar bodoh jangan katakan secara langsung ini akan memalukan."


Dia berbisik, meletakkan kedua tangannya di bibirku, tapi aku juga ada kesabaran yang terbatas.


"Sofie, kamu ini. Cukup katakan yang kamu inginkan!"


Nasya makin menatap kami dengan sangat kebingungan dia celingak celinguk seperti orang hilang.


Ting


Tiba-tiba hp di meja Nasya berbunyi.


"Duh, maaf aku tidak tahu apa yang kalian inginkan, tapi sepertinya ibuku menelpon dan menyuruhku pulang.. maaf aku harus segera pulang."

__ADS_1


Nasya mengambil tas cangklung yang berada di kursi dan meninggalkan kami berdua.


Sofie menatap kecewa pundak Nasya yang menjauh mata milik Sofie sedikit membasah. Dia pasti sangat ingin dekat serta berteman dengan Nasya— Seorang yang mungkin satu hobi dengan dia.


Tapi itu tidak berjalan lancar melihat wajah Sofie yang murung membuat hatiku sedikit merasakan rasa bersalah.


Aku mengerakan tangan untuk membelai kepala Sofie dengan halus berusaha memberikan kenyamanan untuk Sofie, dia tidak menolak dan terlihat menikmati elusan ini.


"Ne, maaf ya. Hari ini aku sedikit egois."


Sofie masih menundukkan kepala dan masih terlihat terpukul.


"Ya, tidak masalah, masih ada besok. Jadi tenang lah. Cobalah untuk lebih terlihat ramah besok, tersenyum lah sehangat mungkin."


Sofie mengangkat kepala dia menatapku. "Seperti ini?" Dilanjutkan dengan senyuman manis Sofie menatapku.


"Y- ya seperti itu."


Rasa sedikit terpesona muncul di hatiku.. tunggu ini agak aneh, Sofie bisa tersenyum normal bila denganku, namun mengapa saat dengan orang lain dia selalu kaku bahkan tersenyum pun tidak ramah.


Yah lupakan tentang hal detail dan mari kita kembali ke rumah. Aku berjalan untuk pulang, namun Sofie memegang tanganku.


Saat aku menoleh yang bisa kulihat hanyalah gadis imut yang terlihat sangat merona.


"Tunggu, kita jarang sekali keluar... j- j- jadi apa kamu kencan denganku hanya untuk satu hari?"


Dia bertanya dengan pipi yang merona dia juga memiringkan wajah dengan pose imut.


"Ya, tentu saja."


Aku menjawab dengan spontan tanpa memikirkan apapun yang terjadi.


"Jadi begitu, kamu tidak masalah pergi denganku... jujur saja ini membuat hatiku serasa copot."


"Aku juga."


Aku sekali lagi menjawab tanpa memikirkan apapun kejadian ini secara refleks.


"A... a.. kalau begitu... mari pergi... Sebastian, mau pergi ke suatu tempat?"


"Aku tidak punya saran hehehe, pergi kemanapun tak masalah."


Aku menggaruk kepala, tapi bukan karena gatal. Aku hanya sedikit grogi karena Sofie masih memegang tanganku dengan sangat erat dan jarak kami cukup dekat.


"Kalau begitu... a... aku ingin ke taman bermain... apa tidak masalah?"


Dengan mata berair dia menatapku. Mungkin mata itu memberi sinyal jika aku menolak maka Sofie akan menangis, tapi lupakan tentang Sofie yang menangis, mana mungkin aku menolak ajak dia kan.


Aku menganggukan kepala dan membalas genggaman tangan Sofie.


"Ya tidak masalah, jujur saja pergi ke tempat itu adalah hal yang sering pasangan lakukan."


"Pasangan? a- apakah kamu beneran menganggap ku... seperti itu? Jika aku menjadi pasangan aslimu bukan pura-pura, apakah kamu tidak masalah?"

__ADS_1


Sofie terus bertanya dengan wajah yang sangat memerah. Aku beneran gak tahu harus menjawab apa di kondisi ini lagipula jantungku serasa hampir copot.


__ADS_2