
Setelah beberapa saat Sofie melepaskan pelukannya, kini situasi menjadi sangat canggung, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di situasi seperti. Seorang gadis dan pria sedang berdua saja untuk satu malam, tidak lebih tepatnya setelah ini aku harus menginap selama satu minggu lebih.
Memikirkan apa yang terjadi saja sudah membuatku malu. Untuk sekedar bertatap mata pun kami menolak.
Sunyi, itu kata yang sangat tepat untuk kami sekarang. Tidak ada satu interaksi dan hanya ada tatapan yang saling berlawanan.
Biasanya yang akan mulai membuka topik adalah Sofie, aku akan mendengar dengan seksama dan sesekali memberi respon, itu cara kami berkomunikasi. Tapi orang yang membuka topik sudah terbungkam, dia hanyut akan rasa malunya sendiri dan konslet.
Aku menghela napas, sepertinya untuk sekarang aku akan melakukan sesuatu.
“Ini sudah malam mau tidur?”
Mata Sofie terbuka lebar, seolah terkejut dengan perkataan dariku. Dia pasti salah paham lagi.
“Jangan salah paham! Maksudnya bukan yang seperti itu.” Aku membantah.
Dia terlihat malu dan menggaruk kepala bagian belakang. “Hehehe, kamu ada benarnya. Tidur itu maksudnya yang itu kan? Tapi, di kamar hanya ada satu kasur.”
“Aku tahu, makanya kamu tidur di sini. Nanti aku bisa tidur di sofa ruang tamu.”
Aku berdiri dan hendak membuka pintu untuk keluar, tapi Sofie menghentikan langkahku, dia memegang tangan kananku dengan sangat erat.
Mataku menoleh ke belakang untuk melihat Sofie, dia sangat gemetaran, dan matanya sedikit berair. Dia mengangkat kepala untuk menatapku dengan jelas.
Mata penuh air dengan pipi chubby yang merona terpapar jelas di depan mataku, napas kami bahkan saling menerpa.
“Jangan tinggalkan aku, oke. Aku takut sendiri.”
Karena malu Sofie langsung menundukkan kepala, dia menolak menatapku lagi.
Aku menghela napas, tampaknya dia masih sangat ketakutan. Yah, wajar saja seseorang baru saja membuntutinya bahkan hampir melecehkan, siapapun akan takut.
“Ya sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Aku akan tidur di lantai tanpa alas kamu tidurlah di kasur!”
Sebagai laki-laki aku mengatakan hal yang seharusnya. Tidak mungkin aku rakus dan tidur di atas kasur dan juga harga diriku menolak untuk melakukannya, karena itulah aku memutuskan untuk mengalah.
“Tidak boleh! Kamu harus tidur di sampingku.”
mataku dengan cepat terbuka lebar. “Maaf apa aku salah dengar?”
Dia berpaling dengan pipi yang cemberut.
‘Jika dilihat dari ekspresinya dia tidak bercanda, tapi mana mungkin aku melakukan itu. Bagaimana jika hal terburuk terjadi, begini-gini aku laki loh, apa yang ada di otak orang ini.’ Aku dengan cepat memikirkan itu.
“Maaf aku tidak bisa melakukan itu.”
“Kenapa?” Dia bertanya dengan wajah polos.
“Coba pikirkan sendiri. Malam hari, dua orang pria dan perempuan ada di satu atap. Dan tidur di satu kasur, apa kamu paham?”
Memerah, itu yang terlihat dari pipi dan telinga Sofie untuk sekian kalinya dia konslet lagi.
"A.. A… b.."
Dia berkomat-kamit tampaknya dia telah sadar dengan situasi kami. Dia terlihat gemetaran, apa dia masih takut? Atau justru dia takut karena laki-laki ada di depan matanya?
__ADS_1
Aku tidak mungkin melakukan hal macam-macam, tapi Sofie gemetaran dia pasti takut akan laki-laki, dia hampir ter lecehkan. Tampaknya keluar adalah pilihan bagus.
Aku berdiri sekali lagi berencana untuk pergi ke ruang tamu karena Sofie terlihat lebih nyaman tanpa aku, tapi dia sekali lagi menggenggam tanganku.
"Jangan pergi! Sudah kubilang kan aku takut tetaplah di sisiku hanya itu yang ku mau! kenapa kamu tidak paham hal sepele seperti itu?"
Dia gemetaran dan memperkuat cengkraman tangan.
Kutatap dia dengan seksama matanya berair, tapi juga cemberut pasti karena marah.
"Baiklah sepertinya aku tidak punya pilihan lain."
Sofie langsung tersenyum gembira mendengar itu.
"Tapi aku tidak akan tidur di kasur, titik!" Aku mempertegas agar tidak terjadi sesuatu.
Awalnya Sofie tampak kecewa tapi pada akhirnya dia tersenyum dan berterima kasih.
Sofie berjalan dan merebahkan diri ke kasur, sedangkan aku berlendetan di kursi mengawasi sekalian menahan pintu. Jika sesuatu terjadi maka aku bisa melakukan sesuatu.
Untuk beberapa saat Sofie menutup mata aku juga berusaha tidur, tapi tampaknya percuma. Mataku tidak mau tertutup dengan sempurna.
Kayaknya aku tidak bisa tidur di kondisi ini.
Hawa makin serasa dingin aku yang tanpa selimut menggigil.
"Uhuk.. uhuk.."
Sial aku baru saja sembuh dari demam tidak lucu kalau aku sakit lagi. Tapi ini demi Sofie, aku tidak bisa banyak mengeluh.
"Kamu tidak bisa tidur? Apa kamu kedinginan?"
Sofie menatapku dari bawah sampai atas dan dia tampak terkejut.
"Kamu tidak pakai selimut?" tanya dia dengan nada tinggi.
"Tidak."
"Dasar bodoh, kamu kan baru demam... oh, jangan bilang kamu mengalah? Aku cuma punya satu selimut di sini, kamu mengalah hanya untukku?"
Aku mengangguk.
Sofie tampak sedikit sedih dan merasa bersalah, tapi dia dengan cepat berdiri dari kasurnya sembari membawa selimut yang dia gunakan.
"Aku tidak perlu itu, kamu pakai aja."
Sofie tidak mendengar dia berjalan ke arahku yang masih duduk lendetan di pintu masuk.
Sofie duduk di sampingku dia membagi selimut tebal itu untuk aku dan dia. Bahu kami saling berdempetan, selimut ini sebenarnya cukup kecil jadi kami terpaksa harus duduk lebih dekat dan dekat.
Akhirnya selimut itu bisa terbagi pas, selimut itu menutupi tubuh aku dan Sofie. Rasa kehangatan dapat aku rasakan dari bahuku yang berdempetan dengan milik Sofie dan ini sangat hangat.
-Gambar dari pinterest
__ADS_1
Mungkin karena Sofie juga ada tepat di sampingku. Suasana dingin yang membuatku menggigil sekarang terganti oleh suasana hangat yang bahkan dapat memberikan kehangatan di hati maupun pipi. Aku yakin wajahku memerah seperti tomat.
Sofie menaruh kepalanya tepat di bahuku, dia juga tampak sangat merona, dari jarak berdekatan seperti ini aku bisa mendengar napas yang berantakan dan jantung yang berdebar dari Sofie.
Mataku tidak bisa berhenti untuk menatap gadis yang menaruh kepalanya di bahuku.
"J- jangan tatap terus! Ini memalukan."
Aku terpesona dan langsung memalingkan wajah. "Maaf, kamu terlalu imut jadi aku kebablasan."
"Aku imut? Apa menurutmu aku terlihat seperti itu?"
"Ya, awalnya aku pikir kamu orang yang berbeda level denganku. Yah, sampai sekarang aku masih berpikir seperti itu sih, tapi Sofie sifat ceria, rewel, dan suka bicaramu sangat terlihat cocok dari pada kamu yang dingin itu. Jujur saja aku akan senang kalau kamu menunjukkan sisi itu hanya untukku."
"Jadi begitu. Makasih."
"....."
"....."
"Bagaimana apa sudah hangat?" tanya Sofie, dia masih menaruh kepalanya di bahuku.
"Ya, sangat hangat, terima kasih."
"Syukurlah, kalau kamu demam lagi aku akan sangat kerepotan. Kamu tahu aku sangat kesepian tanpa kamu."
"Ya, aku tidak menyangka kalau kamu kesepian."
Sofie tersenyum, dia merogoh dan memegang tangan kananku, saat aku bertanya apa yang kamu lakukan, dia menjawab,
"Tidak masalah kan? Seperti yang aku bilang, aku sangat ketakutan, jadi bersenderan dan duduk berdekatan denganmu, membuat aku sangat tenang."
"Jujur saja tadi aku tidak tidur sama sekali, karena aku sangat takut. Tapi setelah aku duduk bersamamu dengan jarak dekat seperti ini. Aku rasa aku bisa tidur dengan sangat tenang."
"Ini juga salahmu! Kenapa sih gak mau tidur satu kasur denganku? Kalau kamu tidak mau tidur satu kasur, maka tidur sambil duduk di sampingmu tidak masalah kan?" Dia terus berkata dan pada akhirnya bertanya hal yang sudah pasti jawabannya.
"Ya, tentu saja boleh, kalau kamu bisa tenang tidur lah sesukamu."
"Terima kasih."
Tak menjelang waktu lama Sofie sudah tertidur lelap, meningalkan aku yang masih terjaga. Dia pasti sangat capek, tapi karena takut Sofie tidak bisa tidur.
Saat ini aku tidur dengan satu selimut yang sama dengan Sofie. Dia tidur dengan posisi duduk dan kepala berada di bahuku.
Jika bergerak dia pasti akan bangun, jadi kuputuskan untuk diam saja.
Hangat sekali, bahu Sofie, tangannya dan selimut miliknya. Ini semua terlalu hangat sampai aku menjatuhkan air mata.
Tapi, bagaimana jika dia hanya memanfaatkanku? Aku sangat benci keraguan itu, di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku ingin mempercayai dia, tapi aku takut merasa rasa kecewa seperti sebelumnya.
Apakah aku bisa mempercayai dia?
"Tapi jangan terlalu tidak percaya orang, jika semisal Sofie sedikit berbeda kamu bisa percaya dengannya, aku hanya sedikit memperingati saja."
Ditengah kebingungan aku teringat oleh perkataan dari Ardian.
__ADS_1
Aku juga teringat oleh beberapa kenangan yang sudah aku habiskan dengan Sofie. Meskipun hanya singkat, tapi semua terlihat sangat nyata, dia tidak mungkin berbohong dan memanfaatkan ku.
Aku tahu hal itu, tapi hatiku menolak untuk menerima itu. Tapi Sofie untuk hari ini sepertinya aku bisa mempercayaimu.