Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 35. Apa dia mengejekku?


__ADS_3


—Ilustrasi Nasya


...[Nasya POV]...


Akhir-akhir ini aku sering didatangi oleh dua couple yang menjadi bahan pembicaraan sekolah. Aku sangat terkejut tiba-tiba gadis populer seperti Sofie menyapaku di perpustakaan.


Awalnya aku berharap mungkin dia tertarik dengan diriku yang membosankan ini, tapi jika melihat dari senyumannya sepertinya dugaanku salah.


Dia tersenyum dengan sangat mengejek ke arahku. Bahkan membuat bulu kudukku sempat berdiri.


Seperti yang orang lain katakan Sofie adalah seorang yang tenang dan dingin. Tapi, aku tidak menyangka kalau dia suka mengejek orang dengan memasang senyuman bodoh.


Padahal Sofie terlihat sangat normal jika dengan pacarnya yang bernama Sebastian itu. Dia bisa tersenyum normal dan ceria, kenapa?


Oh, aku tahu jawabannya. Dia pasti adalah wanita munafik, bersikap sok baik, tapi jika bersama lelaki dia akan menjadi Semenarik mungkin, dia adalah wanita gatel. Sepertinya yang diucapkan beberapa wanita di kelas benar, Sofie adalah pencuri lelaki.


Dia pasti datang di perpustakaan dan menyapaku untuk mengejek aku yang tidak punya pacar sama sekali.


Dari senyuman itu seperti berkata. 'Kasihan lihatlah dirimu tidak punya apa-apa. Yah, kamu membosankan jadi wajar.'


Aku menggertakan gigi jika memikirkan apa yang orang itu pikirkan. Dia sama saja dengan yang lain, toh aku adalah orang yang membosankan dan tidak terlalu banyak bicara.


"Dia sendiri lagi, lo. Apa dia punya teman?"


"Membosankan jangan dekati kami."


"Haha, kasihan pantas saja dia tidak punya pacar, oh, ya, jalankan pacar, dia bahkan tidak punya satu pun teman."


Aku sudah sering mendengarkan ucapan seperti itu, pasti Sofie juga sama, dia mengejekku.


Saat di perpustakaan Sofie dan Sebastian seperti berdebat tentang hal yang tidak aku pahami Sofie juga sangat berbeda jika dengan pria itu.


Sofie seperti ingin mengatakan sesuatu saat di perpustakaan, tapi dia seperti susah mengatakannya jadi si pacar seperti ingin membantunya.


Namun, tidak usah dikatain aku tahu apa yang ingin dia ucapkan. Pasti dia ingin mengejekku, untung saja saat itu ibu menelponku jadi aku punya alasan untuk kabur.


Aku tidak perlu mendengarkan ucapan menyakitkan dari gadis populer. Aku bersyukur ibu menelponku.


Aku pikir aku tidak akan bertemu dia lagi dan terbebas dari senyumannya, tapi hari ini Sofie datang lagi ke arahku.


Dia tersenyum mengejek dan menyapaku lantas pergi begitu saja. Si pacar mengatakan bahwa itu adalah cara Sofie menyapa orang dan tidak perlu dipikirkan. Siapapun akan tahu kalau Sebastian bohong, dia tersenyum sangat manis saat bersamamu, kan? Kamu hanya ingin membela pacarmu itu.


Kalian berdua terlalu munafik bahkan aku sampai mual melihat dua orang seperti kalian.

__ADS_1


Kring


Kring


Bel istirahat berbunyi. Aku berdiri dari tempat duduk hendak pergi ke perpustakaan dan makan di sana, tapi aku berpapasan dengan Sofie.


Dia mengeluarkan senyuman mengejek sekali lagi. Aku dibuat sedikit ketakutan melihat senyuman itu, setelah tersenyum Sofie pergi.


Sebastian yang berdiri di sampingnya, entah kenapa menghela napas. Dia berjalan ke arahku.


"Tolong jangan salah paham Sofie hanya ingin bersikap ramah.dia tidak memiliki niat yang buruk."


Pembohong. Perkataan dari dia jelas bohong, ketika bersamamu dia bisa tersenyum sangat manis, tapi Sofie tidak melakukan kepadaku. Itu artinya dia menganggapku sebagai bahan ejekan.


Setelah itu dia sekali lagi meminta maaf dan pergi menjauh.


Aku menatap pundak dia yang semakin menjauh rasa amarah menyelimuti hatiku. Sofie aku benci dia, berbeda denganku. Sofie punya segalanya, baik popularitas dan dia didekati banyak. Aku tidak heran orang-orang iri dengan dia.


Karena aku termasuk dalam kategori yang iri.


Aku membalikkan badan dan kembali lagi ke perpustakaan sekolah. Makan di sana sambil membaca buku adalah kebiasaan bagiku, suasana yang sepi membuat hati terasa tentram.


Di sini tidak ada orang. Aku jadi ingat, dulu aku sempat bertemu orang yang menarik di perpustakaan saat SMP kelas 8. Walaupun aku tidak tahu siapa nama dia, namun aku cukup menaruh perasaan di orang yang tidak aku tahu namanya.


Saat itu seperti biasa aku membaca buku di perpustakaan dengan tenang dan menikmati bekal, tidak ada yang istimewa hingga, dia datang.


Untung saja saat itu hanya ada aku seorang, jadi tidak ada yang menganggap dia buruk. Seorang pria yang seumuran denganku, dia terlihat sedikit garang, memiliki tindik di kedua telinga dan sedikit brandal.


Awalnya aku takut. Dia adalah anak nakal, itulah anggapanku.


'Kenapa anak seperti dia ke sini?'


Dia menatap segala arah dan berkata. "Hanya ada kamu?"


Aku menganggukkan kepala.


Dia berdisis. "Ini sedikit merepotkan, sepertinya reputasi literasi sangat buruk. Aku jadi ragu untuk jadi penulis." Dia mengaruk kepala dan hendak membalikkan badan. Sepertinya dia ingin pergi.


Tapi ucapan "menjadi Penulis" membuat kutu buku seperti aku tertarik. Tanpa sadar aku mengucapkan sesuatu.


"Apakah kamu ingin menjadi penulis?"


Dia berhenti berjalan dan menatapku.


"Iya, kedatanganku ke sini untuk melihat seberapa besar minat baca orang dan juga mencari referensi. Tapi melihat hanya ada satu orang membuat aku sedikit malas."

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu!"


"......"


"Kalau kamu calon penulis maka sebagai kutu buku, aku akan mensupportmu, kalau masalah referensi aku punya banyak. Sini! Akan ku tunjukkkan!"


Saat itu aku terlalu bersemangat, mungkin karena memiliki seseorang yang cocok. Aku tanpa sadar memegang tangan pria itu dan membawanya ke rak buku.


Aku tersenyum dan memberikan rekomendasi banyak buku, mulai dari romance, komedi, drama, dan fantasy. Saat aku menjelaskan dengan ceria, dia hanya bisa menganggukkan kepala seperti orang yang terpaksa.


Tapi, aku tidak peduli dengan respon terpaksa itu, aku sangat suka berbicara tentang buku. Mungkin itu penyebab aku tidak bisa berhenti bicara.


"Ini, ambil buku yang ini. Pasti akan sangat bagus untuk ide."


Aku memberikan satu buku paling rekomendasi menurut aku. Dia mengambilnya dan mengucapkan terimakasih.


"Aku harap kamu menyukainya."


Dan sejak hari itu dia sering datang ke perpustakaan. Kami bercerita tentang beberapa buku dan itu sangat menyenangkan.


Waktu hanya berlalu sekitar satu minggu bersama dia di perpustakaan, dia adalah orang yang seperti berandalan, tapi ternyata sangat baik.


Dia juga bercerita tentang bahwa dia menyelamatkan satu orang gadis yang tersenyum manis ke arahnya, jadi dia berhenti nakal dan menjadi normal. Dia sedang mencari gadis yang dia selamatkan, sepertinya dia jatuh cinta akan gadis itu.


Pada detik itu juga dia memutuskan untuk menjadi penulis.


Entah kenapa mendengar dia mempunyai gadis yang di cintai membuat hati ini menjadi sesak, apa aku menyukai orang ini?


Pipiku menjadi panas jika memikirkan hal seperti itu. Sudah satu minggu mengenal bahkan kita tidak tahu nama, jadi sangat aneh jika aku menyukai dia.


Aku menatap ragu ke arah pria yang sedang dengan tenang membaca buku yang baru aku rekomendasikan. Dia sangat keren, terlihat sangat kuat.


Walaupun sedikit malu aku memberanikan diri untuk menanyakan nama dia.


"Maaf, aku boleh tahu mamamu?"


Dia mengangkat bibir. " Little Sun, Itulah nama penaku."


Aku tidak tahu kenapa dia bisa salah paham dan malah menyebutkan nama pena, tapi tahu itu saja sudah sangat cukup. Mungkin dia pikir bahwa aku sudah mengenalnya mengingat dia sering berbuat onar dulu. Tapi aku tidak terlalu peduli akan lingkungan jadi aku tidak tahu namanya.


Aku jadi sedikit menyesal akan sikap ini..


"Little sun, akan aku ingat, aku menunggu bukumu."


Aku tersenyum sebisa mungkin dan dia juga membalasnya dengan senyuman penuh rasa senang.

__ADS_1


Hari itu aku mengenal nama Little sun dan pada hari itu juga. Kami tidak bertemu lagi.


__ADS_2