
...[Sofie POV]...
Seperti yang diminta oleh kak Zahra aku datang ke rumah Sebastian untuk makan malam karena hari telah menjadi gelap. Rumah itu seperti tampak sederhana, namun terlihat kokoh dan rapi ruang keluarga juga terlihat nyaman dan bersahabat dengan sekitar 5 kursi dan meja bulat yang ada di sana, itu pasti meja untuk makan hanya itu yang terlintas di kepala.
Ketika kami beriga masuk, aku disambut hangat oleh ayah, dan ibu Sebastian. Ayah sebastian terlihat seperti orang yang tegas dengan kumis dan kacamata di wajahnya. Sedangkan ibu Sebastian memiliki paras yang cukup muda dan sangat freindy dia sangat murah akan senyuman.
“Katakan kepadaku, nak.”
Ayah Sebastian menatap Sebastian dengan serius, dia meletakan koran yang dibaca dan mengeluarkan ekpresi yang tegas. Ruangan dengan cepat menjadi hening.
Sebastian mendekat, dia melipat kakinya dan duduk dengan sopan di lantai menghadap ke sang ayah, sedangkan aku juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Sebastian, lagi pula aku juga bertamu maka setidaknya aku harus bersikap sopan.
“Baik, ayah apa yang ingin anda katakan?”
Suara Sebastian yang duduk disampingku mendadak berubah menjadi sangat serius dan berat, aku tak tahu apa yang akan terjadi.
“Pertama-tama siapa anak imut ini?” Dia menunjuk ke arahku.
Bibirku terangkat menciptakan senyuman hangat dan berbunga-bunga. “Perkenalkan nama saya Sofie Auliana, panggil saja Sofie.” Sang ayah terlihat sedikit merona, mungkin karena senyumanku, dan dengan cepat sang ibu menyikut sang ayah dengan wajah sedikit kesal.
Dia sedikit merintis kesakitan lalu melanjutkan ucapannya. Berlanjut dengan berbagai pertanyaan random, seperti di mana rumahmu, umurmu, berapa uang saku, berapa banyak aku menghabiskan uang, dan aku menjawab semua dengan senyuman hangat ini.
Ini sedikit sangat aneh mengingat sikap maluku mendadak hilang jika berada di keluarga Sebastian, apa keluarga mereka memiliki sihir untuk menghilangkan rasa malu atau semacamnya.
Mengatur nafas sang ayah menyeka keringat dan menatapku. “Baiklah ini pertanyaan terakhir, apa hubunganmu dengan anakku?"
Pipiku memanas tak bisa menjawab apa yang dia tanyakan. Tentu saja jawabannya mudah aku adalah temannya, tapi di sisi lain aku ingin me- menjadi lebih dari itu. Sekali lagi pipiku mulai memanas, aku konslet.
Sang ibu menghela nafas dan menepuk pundak ayah Sebastian, “Cukup sayang. Tak perlu tahu apa hubungan mereka. Dek Sofe repot-repot datang ke sini tentu saja kita harus melayaninya bukan malah merepotkan nya.”
Aku setuju. Pertanyaan yang terakhir sangat merepotkan.
Setelah itu sang ayah mengangguk, wajah yang tegas dan sedikit galak berlaku seperti anak anjing yang patuh jika harus berhadapan dengan istrinya. Mungkin dia tipe yang takut istri.
Waktu berlalu untuk sekitar 15 menit, Sebastian dan sang ayah seperti membicarakan hal yang entahlah aku bahkan tak bisa mendengar dari dapur, tapi tahu satu hal. Mungkin mereka sedang mengatakan sesuatu dariku. Itu firasat saja.
Saat ini aku, sang ibu, dan kaka Zahra memasak sesuatu untuk dimakan nanti. Kami memasak sup dan ayam. Awalnya ibu Sebastian menolak untuk dibantu, tapi aku memaksa dan pada akhirnya aku membantu.
Aku sedang memotong beberapa cabai dan bawang.
Tak
Tak
"Sofie, terima kasih." kata ibu Sebastian.
__ADS_1
"Ya, tak masalah. Ini cuma masalah sepele, kalau aku tak membantu bukannya malah tak sopan?" jawabku dengan tersenyum hangat.
"Bukan itu Sofie."
Aku kebingungan, kalau bukan memasak terus apa yang dia ingin katakan? Aku berpikir sendiri di dalam kepala.
"Terima kasih karena sudah mau dekat dengan anaku."
Lamunanku menghilang dan pada saat itu juga aku sedikit tersenyum kekeh.
"Tidak, justru saya yang berterima kasih. Sebastian sangat baik kepadaku, dia ah.. Sudah dikatakan pokoknya aku lumayan suka dia." aku tersenyum manis ketika berbicara dan ibu Sebastian terdiam, mungkin dia terkejut karena jawabanku.
"Ti- ti- tidak maksud saya bukan suka seperti itu ya!" Aku menggelengkan kepala berusaha menyembunyikan perasaan aneh di dalam hati.
Ibu Sebastian hanya tertawa kecil, " Ya ya ya. Aku paham." Kemudian dia mengedipkan satu matanya. Dia mengodaku
'Apanya yang paham?'
Aku terus memotong bumbu meluapkan perasaan yang campur aduk ini
Setelah lima belas menit makan telah jadi.
Aku dan ibu Sebastian membawa makanan ke ruang tamu. Dan dengan cepat kami semua menikmati makanan yang ada.
"Hahaha, terima kasih bibi."
Sebastian juga mencoba memakannya, dia tersenyum ke arahku dan mengedipkan mata. "Seperti yang ibu katakan, ini enak." Setelah itu dia terus memakannya.
Entah kenapa pandanganku tak bisa berhenti menatap ke arah Sebastian yang memakan masakan itu, aku senang.
"Ah, sungguh beruntungnya anakku." Tiba-tiba ibu Sebastian berteriak dengan suara cukup keras.
Aku spontan terdiam dan menaruh sendok di meja. Aku tahu arah pembicaraan ini.
"Apa maksudnya ibu?" tanya Sebastian, dia tampak masih mengunyah makanannya.
"Habisnya punya calon istri yang imut ditambah pintar masak bukankah itu sudah seperti berkah." tersenyum penuh kehangatan muncul di wajahnya.
Sudah kuduga akan seperti ini.
"...."
Kami berdua terdiam dan menundukkan kepala, mungkin karena malu. Tapi si ibu malah tertawa kecil melihat reaksi kami. Hari ini aku sadar, dia tipe penggoda.
...***...
__ADS_1
Waktu berjalan saat ini aku pulang bersama Sebastian. Karena waktu yang telah malam, Sebastian ngotot untuk pulang bersamaku, dia bilang takut jika sesuatu terjadi kepadaku.
Dia juga berkata kalau gadis secantikku akan sangat berbahaya jika berpergian pada malam hari, jadi dia memutuskan untuk mengatarkan pulang.
Di dalam hatiku timbul rasa menyenangkan dan tenang.
"Sofie, kamu terlihat lebih baik."
"Apanya?"
"Kamu tak terlihat malu sama sekali kan saat bersama keluargaku."
"Oh itu, mungkin karena ada kamu di sisiku." ucapku dengan senyuman manis. Sebastian terdiam dan tak melangkah.
"Hahaha, jangan malu seperti itu dong. Itu malah membuatku jadi sedikit ikut tersipu malu."
Kedua dari kami mulai menjadi hening. Aku sudah sampai tepat di depan rumah, tapi aku masih ingin berkata lebih banyak dengan Sebastian, aku masih ingin menghabiskan waktu dengannya.
"Jawaban yang sesungguhnya mungkin karena keluargamu terlalu hangat."
Aku membalikkan badan dan berjalan menuju ke rumah. Tapi sebelum itu aku mengatakan sesuatu dengan nada rendah.
"Dan juga mungkin karena orang yang kusukai sedang berada di sanpingku." Nada yang kugunakan sangat rendah, aku tak berani meningkatkan volume suara.
"Hah? Apa yang kamu katakan."
Aku hanya melambaikan tangan dan langsung berlari ke rumah. "Bukan apa-apa." Aku benar-benar benar-benar malu.
Brak
Membukan pintu dan menutupnya. Walaupun hanya nada rendah tapi aku mengatakannya, sekujur tubuhku serasa sangat dingin, nafasku tak bisa bergerak dengan normal.
"Sofie kamu sudah pulang." Ibu berjalan ke arahku, dia terlihat memakai baju polos.
"Sofie mukamu sangat merah, apa kamu baik-baik saja."
Aku menggelengkan kepala dengan cara imut dan langsung pergi ke atas menuju kamarku. "Aku tidak apa-apa ibu, mungkin hanya sedikit demam."
"Hmm,kalau begitu jaga badan ya. Sekarang sedang musimnya penyakit, kamu harus merawat tubuh dengan baik, Sofie."
"Y-ya ibu." Setelah itu aku berjalan memasuki kamar dan membenanmkan tubuh di kasur meluk milikku.
Wajahku masih tak bisa berhenti untuk tersipu malu, aku memeluk bantal di sana dengan erat.
"Hah, seharusnya aku berkata dengan lebih keras" Gumamku.
__ADS_1