
...[Sebastian POV]...
Suasana yang berat kini mengitari seisi ruang tamu. Aku dan Sofie kini duduk berlutut menghadap ke arah dua orang tua itu. Mereka menatap tajam ke sini, lebih tepatnya tatapan ini mengarah ke aku.
Mereka menatap dengan pandangan sedikit mengerikan. Aku bisa merasakan aura siap menyerang dari mereka berdua, apakah kehidupanku akan baik-baik saja?
“Uhum.. pertama-tama, siapa kamu? Kenapa bisa ada di rumah anakku? Kamu tidak melakukan apapun, kan?”
Aku terdiam sebentar, bingung harus merespon apa. Pada akhirnya aku tidak melakukan apapun hanya- tunggu, ciuman, menggandeng Sofie, memeluknya, tidur di satu kasur.. hmm, akan jadi kebohongan bila aku berkata ‘tidak’ tapi maaf aku harus bohong.
“Tidak-”
“Ayah dan ibu, dia adalah temanku yang berharga. Aku tidak memaafkan kalian jika memandang dia buruk, Sebastian tidak melakukan apapun!”
Pada saat aku ingin menjawab dan menjelaskan, ucapanku telah dipotong oleh Sofie. Kedua orang tuanya tampak terdiam, dia berhasil membuat mereka yakin walau hanya sedikit, tapi ‘teman’ aku sedikit jengkel dia berbohong di situ.
“Tidak, aku bukan teman Sofie. Aku pacarnya ...”
Satu kalimat yang membuat Sofie menjadi merah padam seperti ingin meledak, sedangkan kedua orang tua mereka membuka mata lebar menatap ke arahku.
Brak
Ayah Sofie memukul meja dan menatap tajam ke arahku. Ah, orang ini tipe yang sama seperti ayahku, dia pasti tidak suka jika anaknya dekat dengan lawan jenis.
“Baj*jangan beraninya kau menyentuh anakku! Katakan padaku apa yang sudah kamu lakukan dengan anakku?!” Tak bisa menyembunyikan wajah penuh emosi, dia berkata dengan nada sangat tinggi.
TIdak ada gunanya untuk berbohong..
“Tidak terlalu banyak, anak anda adalah orang yang imut, jujur. Jadi aku hanya memegang tangan, tidur dengan satu selimut, dan ciuman. Tidak ada yang melampaui batas..”
__ADS_1
Sofie sekali lagi memerah dan gemeteran, ini bukan hanya pipi saja, tapi sekujur wajahnya. “Bodoh, kenapa kamu mengatakan itu? Ini sangat me- memalukan!”
Sang ayah menarik kerahku dan menatap sangat tajam. “Sialan, beraninya kamu melakukan tindakan seperti itu! Menyentuh anakku, dia memang imut, tapi bahkan sampai ciuman segala!” Matanya sangat merah dan urat nadi terlihat jelas di kening. Sedikit menakutkan.
“Tenanglah sayang..”
Sang ibu akhirnya mengeluarkan suara, beda dengan suaminya, dia terlihat lebih sedikit tenang dan dingin. Oh, sifat Sofie turun dari dia, kalau begitu dia pasti pemalu, mungkin?
“.... Sebastian, apa yang kamu inginkan dari anak kami? Jika kamu pacarnya maka kamu tahu kalau dia sering dibuntuti oleh orang yang tidak bertanggung jawab, kan? Tapi kalau masalah itu sudah kami selesaikan dengan bantuan pihak polisi, jadi asalkan ada kami orang tuanya maka aman—"
“Tidak, dia sama sekali tidak aman, dia kemarin dibuntuti oleh orang baru lagi..”
Perkataan itu membuat kedua orang tua Sofie membuka mata lebar, mereka pasti tidak menyangka. “Tunggu Sofie kenapa kamu tidak menceritakan apapun ke kami?”
Sofie menunduk, dia sedikit susah untuk menjawab. “Itu.. karena aku tidak mau pekerjaan kalian terganggu, jadi maaf..” Mendengar perkataannya kedua orang tua Sofie terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Sang ibu seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi aku memotong pembicaraan.
“Aku menjadi pacar Sofie bukan hanya karena suka dengan dia, tapi untuk melindungi perempuan yang kucintai, pelaku dari stalker saat ini kemungkinan besar adalah dari sekolah yang sama dengan kami, itulah yang kupikirkan.. Makanya aku memutuskan untuk menjadi pasangan dengan Sofie, dengan begitu aku bisa menghindari Sofie dari tatapan buruk, karena ada aku di sisinya.”
“Tunggu, kalau seperti itu berarti kemungkinan pelaku itu bukan orang baru, sejak awal dia memang sudah mengincar Sofie, tapi karena kalian mengundang polisi sang pelaku tidak berani lagi mendekatinya, tapi kini dia kembali menyerang lagi.” kataku.
“Ya, seperti itu. kemungkinan besar pelaku kemarin adalah pelaku yang sudah muncul sejak lama dan jika tebakanmu benar pelakunya berada di sekolah kalian,” Kini sang ibu ikut mengeluarkan pendapat.
“Tapi pertanyaannya adalah siapa? Sampai sekarang belum ada jawaban walaupun sudah sejak Sofie kelas 8 SMP.”
Perkataan dari Ayah Sofie membuatku sedikit membuka mata lebar. “Tunggu, jadi Sofie pertama kali dibuntuti oleh orang pada saat 8 SMP?” tanyaku yang dibalas dengan anggukan.
Kelas 8 SMP, itu adalah hari pertama kali aku dan Sofie bertemu. Hari itu aku menyelamatkan Sofie dari 3 orang dewasa yang mengganggu dia, yap. Kemungkinan pelaku adalah salah satu dari tiga orang itu, untung saja mereka adalah para orang berbahaya dari geng motor jadi aku tahu wajah dan nama mereka. Aku harus mengatakan kemungkinan ini.
“Kalau masalah pelaku aku punya 4 calon yang berkemungkinan besar,’ ucapku yang berhasil membuat ayah dan ibu Sofie menjadi tertarik.
__ADS_1
“Calon pertama, Angga, dia adalah teman masa kecil Sofie..” Saat mendengar nama Angga disebut kedua orang tua membuka mata lebar, yah mereka pasti baru sadar kalau Angga berpotensi.
“Yang ketiga ini adalah yang paling mungkin.. Tepat pada saat itu aku menyelamatkan Sofie dari gangguan 3 orang dewasa dari geng motor. nama mereka adalah, Gavin selaku boss, Revan, dan Bryan..”
Setelah aku selesai menjelaskan pandangan orang tua Sofie terhadapku menjadi sedikit berubah setidaknya tidak ada rasa emosi dari tatapan mereka. Yah, sangat wajar jika mereka curiga denganku, mengingat Sofie mengalami hal seperti itu.
“ …. Aku hargai kerja kerasmu Sebastian, tapi dunia yang akan kamu injak akan sangat bahaya untuk seukuran anak SMA, ini terbilang bahaya. Nyawamu bisa terancam, tapi kenapa kamu sangat ingin dekat dengan Sofie? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari putri saya?” tanya ibu Sofie, dai terlihat sangat tertarik dengan alasan itu, aku harus menjawab dengan sangat jujur.
“Ak.. ak.. aku, setelah lulus SMA dan tepat pada saat aku mempunyai banyak uang, aku ingin menikahi Sofie, jadi aku tidak ingin Sofie mengalami hal buruk sebelum mimpi itu terwujud, aku tidak ingin dia direbut orang lain. JIka nyawa menjadi taruhan maka aku rela melindungi perempuan yang kucintai..”
Aku menjawab dengan jujur, walaupun jantungku seperti ingin copot saat mengatakan itu. Saat aku mencoba menoleh ke Sofie aku bisa melihat dia gemetaran dan tersipu sangat malu, sekujur wajahnya telah menjadi merah padam dan terlihat sangat imut.
Ibu Sofie mengangkat sudut bibirnya. “Jawaban yang bagus,, baiklah kalau kamu, aku bisa menyerahkan Sofie dengan tenang. Kamu terlihat orang yang sangat serius.”
Brak
Ayah Sofie sekali lagi memukul meja. “Jangan bercanda! Tidak akan kubiarkan anak imutku pergi denganmu!”” Dia berteriak. Aku sedikit tahu sifat Ayah Sofie sekarang, dia orang yang sangat sayang dengan anaknya.
Aku hanya tertawa kecil menerima amukan dari ayah Sofie dan tanpa sengaja mataku dan Sofie bertemuan, meskipun hanya beberapa detik, tapi melihat Sofie saat ini sangat buruk untuk jantung jadi aku dengan cepat menatap arah lain.
“Duh, jadi ingat dulu.. Sayang dulu kamu melamarku dengan cara yang hampir sama, saat itu jantungku hampir copot.” Mengatakan hal itu ibu dan ayah Sofie menjadi sangat merah. Aku tidak tahu apa yang mereka alami, tapi kedua orang ini adalah pasangan yang baik.
Aku tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
***
Sore hari, aku hendak pulang. Kini Sofie dan ibunya tidur di satu kamar hanya ada aku dan ayah Sofie di ruang tamu. Saat aku berpamitan dan melangkah tiba-tiba ayah Sofie berkata.
“Akan kuterima hubungan kalian, tapi buktikan dulu kepadaku, coba tangkap dan beri hukuman ke orang mesum yang membuat Sofie tersiksa!”
__ADS_1
Ini tidak lain adalah tantangan untukku, jawabannya tentu sangat simpel. “Tak perlu diberitahu aku akan mencari pelaku,” jawabku.
Kami saling tersenyum satu sama lain dan aku melambaikan tangan. Membuka pintu keluar dan berjalan menuju rumah.