Gadis Dingin Yang Ceria

Gadis Dingin Yang Ceria
Chapter 32. Perasaan Sofie


__ADS_3

...[Sofie POV]...


Sejak kecil aku tidak terlalu menyukai wajah ini. Karena tampang yang sering dikatain cantik oleh orang lain, aku tidak pernah hidup dengan normal, bahkan pertemanan ku dibuat hancur karena paras ini.


Apanya yang cantik? Bagiku wajah ini adalah pembawa mala petaka. Bukannya aku tidak bersyukur, tapi pandangan orang tentangku terlalu mengerikan.


Dia pasti hidup enak. Wah sangat cantik. Maukah kamu jadi pacarku? Aku menyukaimu. tampangnya seperti itu, dia pasti sangat suka bermain laki-laki beneran menyebalkan, dia sangat sombong.


Perkataan seperti itu sudah jadi hal biasa bagiku, hampir setiap hari ada orang yang mengatakan hal itu.


Saat aku berjalan walaupun hanya untuk merilekskan tubuh. Semua orang menatapku dengan sangat kagum, tapi di balik kekaguman itu aku bisa merasakan tatapan iri dan kebencian dari banyak orang.


"Dasar pencuri cowok!"


Saat aku masih SMP aku pernah menerima fitnah dari temanku, dia berkata bahwa aku merebut pacarnya. Padahal hal itu tidak benar, aku mencoba untuk menyangkal dan melawan, tapi dia semakin marah.


"Kamu ini ya, hidupmu pasti sangat bahagia.. dikelilingi banyak cowok dan kamu bahkan mencuri kebahagiaanku... aku benci kamu!"


Hal itu terus terulang bukan hanya untuk satu orang, sedikit demi sedikit temanku berjalan menjauh dan menghilang karena alasan yang sama persis.


Aku tidak tahu apa salahku, aku tidak pernah mencoba merayu, ataupun mendekati pacar dan teman cowok mereka. Justru merekalah yang memaksa diri untuk mendekati diriku.


Apa kalian tahu, seberapa menakutkannya di incar banyak orang? Apa kalian tahu bagaimana perasaannya kehilangan pertemanan karena hal bodoh ini?


Beruntungnya aku masih punya teman setia bernama Zilla, saat aku kehilangan banyak teman di SMP. Zilla satu-satunya orang yang masih mau dekat denganku.


Walaupun setelah kejadian itu aku menjadi sedikit mengurung diri dan berubah sifat menjadi agak cuek, serta apatis, hanya Zilla satu-satunya orang yang mau menerimaku. Dia adalah teman berharga bagiku.


Pada saat SMP kelas 8 aku semakin merasa takut akan pandangan orang kepadaku. Mungkin meraka hanya menatap biasa ke aku, namun bayangan yang ada di otakku tidak seperti itu.


Aku menganggap kalau pandangan mereka adalah pandangan iri, dengki, dan godaan. Karena tatapan itu aku semakin susah untuk bersosialisasi semakin takut dalam mendekati orang itulah yang aku alami sekarang.


Sebenarnya apa yang mereka pikirkan sampai menatapku terus? Apakah aku menganggu bagi mereka? Apakah aku dibenci? Apakah aku tidak diinginkan? Atau mereka mengharapkan keberadaanku untuk lenyap?


Pikiran seperti itu terus memenuhi otak. Seperti lumpur, tidak akan hilang begitu mudahnya. Sebelum aku menyadari napasku menjadi sesak bahkan saat seseorang menatapku.


Aku bukan orang tenang, dingin, dan pendiam seperti yang orang katakan. Aku hanya takut dengan orang-orang yang dekat denganku, ketakutan terus mengitari aku yang menyedihkan ini.


Apalagi tatapan para lelaki. Yap, itu adalah tatapan paling aku benci setiap mengingat tatapan mereka aku semakin takut untuk melangkah.


Aku selalu menolak semua pernyataan cinta dari mereka karena aku sadar mereka hanya dipenuhi oleh nafsu duniawi, mereka tidak menatapku. Hanya paras ini yang mereka pedulikan.


Bahkan aku terus menerima beberapa rayuan, godaan, surat cinta, pesan ancaman, dan bahkan beberapa orang mengikutiku kemanapun aku pergi.


Aku sangat takut. Siapa yang tidak takut bila terus mengalami hal itu? Siapa yang tidak akan gila bila melewati semua peristiwa ini?


Setiap orang yang mendekatiku maka akan kujawab dengan singkat "tidak" karena aku takut. Aku terlalu takut dengan tatapan orang.


Dan ketika aku menolak maka aku bisa merasakan tatapan kebencian dari para tatapan para siswi cewek.


"Apaan sih dia, hanya karena cantik jadi sombong."


"Benar-benar menyebalkan."


"Aku benci dia."


"Aku setuju bahkan dia mencuri hati priaku... wanita ****** ini aku sangat benci dia."


Meskipun hanya tatapan, tapi aku bisa mendengar maksud dari mata sinis itu. Padahal aku hanya ketakutan dan mencoba melindungi diri, tapi kenapa aku malah dibenci?


Hanya karena aku sedikit berbeda semua orang menolakku. Aku sendiri, tidak ada yang menginginkan, meskipun ingin pasti hanya karena ada sesuatu. Aku benci ini semua. Tidak ada yang tahu perasaan ini.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik, ikut kami yuk."


Pada suatu hari, saat aku terlalut dengan pikiran negatif. Sekelompok seseorang yang tidak terlalu kupedulikan wajahnya merayuku.


Ini sudah hal biasa jadi aku mengabaikan mereka, tapi ke tiga pria yang terlihat lebih tua tampak sangat suka mengoda ku. Waktu itu adalah sore hari. Aku sedang menunggu ibuku di terminal.


"Nona kecil, ikut kami main yuk."


Saat itu aku sangat ketakutan, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Digoda oleh beberapa siswa adalah hal biasa, tapi jika orang dewasa agak menakutkan, mereka tampak mengerikan dengan kumis dan wajah nafsu mereka.


"Jangan hanya diam, ayo ikut kami!"


Salah satu pria menggenggam tanganku dan membawa ke suatu tempat, yang pasti bukan tempat yang enak untuk didengar.


"Tidak, tolong hentikan!"


"Hahaha, ini pasti akan menjadi Sore yang bagus, Bos. Kita dapat menikmati tubuh gadis kecil ini."


"Ya, aku tidak sabar Mencicipinya." Orang yang dipanggil bos itu menjilati bibirnya tampak sangat nafsu.


"Oi! Jangan lupakan aku kalian berdua! Biar kita Cicipi dia barengan."


"Bodoh, nanti kena HIV kita, tapi itu bukan ide yang buruk menikmati tubuh kecil dengan bersama itu akan membuatku makin bersemangat."


"Tidak, tolong! Hentikan!"


Aku masih sangat ingat, tatapan para pengunjung yang menatap kasihan. Tidak ada yang berani membantu entah karena alasan apa aku pun tidak tahu, tapi jika mendengar dari bisikan tampaknya orang-orang itu adalah dari geng motor yang berbahaya.


Tapi, apapun alasannya membiarkan gadis kecil seperti aku adalah hal yang aneh dan salah. Semua yang di sini gila, serius tidak ada yang berani melakukan apapun? Aku bisa saja dilecehkan setelah ini.


Di tengah pikiran itu aku yang memberontak memutuskan untuk mengalah dan membiarkan mereka melakukan apa yang diinginkan. Aku berjalan tanpa perlawanan, membiarkan mereka membawaku ke suatu tempat yang mungkin berbahaya.


"Lihatlah dia, tidak mau memberontak lagi. Tampaknya dia tertarik dengan milik si boos, hahahaha."


"Paman, apa yang ingin kalian lakukan?"


Aku menatap remaja yang seumuran denganku. Kami berdua saling menatap, tapi mata dari pria itu sangatlah indah hingga membuat aku sangat nyaman. Tatapan itu tidak menakutkan sama sekali.


"Hah? Apa gunanya bocah sepertimu tahu? Mau sok jadi pahal—"


Belum selesai bicara, remaja itu berlari dan memberikan pukulan keras ke pria dewasa yang dipanggil bos itu. Ya, dia memukul orang menjijikkan yang terus memegang tanganku.


Keberanian remaja itu membuat terminal menjadi ramai dan menatap perkelahian antara anak SMP dengan orang dewasa.


"Brengsek beraninya kamu menganggu bos kami."


Dua orang bawahan itu tampak sangat emosi, mereka berlari dan hendak mengeroyoki remaja yang menyelamatkanku, tapi dua orang itu bukan apa-apa.


Semuanya di babat habis tanpa ampun, meskipun seumuran, tapi remaja itu sangatlah kuat. Dalam waktu beberapa menit dia membuat tiga orang dewasa yang hampir melecehkanku terjatuh lemas.


Bagaikan master gulad yang tidak tahu apa kalah dia menang dengan sangat mudah. Dia bahkan tampak merendahkan sang lawan, dia membersihkan kedua tangan dan berjalan mendekatiku.


"Apa kamu baik-baik saja? Wajah dan perasaanmu, tidak terlihat seperti sedang sehat?"


Aku meneteskan air mata, memang yang dia katakan sangat benar. Tadi aku sangat takut, takut, sangat takut. Tapi orang ini yang bahkan tidak kukenal mau menyelamatkanku.


Dia terlihat seperti remaja nakal, rambutnya di semir, memiliki tindik di ke dua telinga, dan tatapannya seperti tidak mempunyai harapan hidup.


Di tengah kumpulan orang munafik yang sok baik dan tidak mau menyelamatkanku hanya dia yang datang ke sini. Aku sangat terharu. Tanpa sadar titisan air mata mulai berjatuhan.


"Jangan menangislah!"

__ADS_1


Aku mengusap air mata ini, menatap remaja yang seumuran denganku dan sudut bibirku terangkat sangat lebar.


"Terima kasih."


Aku berterima kasih dari lubuk hatiku paling dalam, dia beneran seperti pahlawan bagiku, dia sangat keren.


"......"


Mungkin ini hanya perasaanku, tapi dia terlihat sangat malu, kenapa ya?


"Kamu—"


"Bos Sebastian. Dasar bodoh! Kenapa kamu melakukan hal nekat seperti itu? Apa kamu sadar siapa yang kamu lawan? Yah, lupakan tetang itu dan ayo kabur."


Aku mendengar seseorang remaja satu lagi, tampaknya dia temannya. Dia memanggilnya dan melambaikan tangan


Sebastian, mungkin itu namanya. Dia berjalan ke arah temannya itu dan menjauh dariku.


Tatapanku mengarah ke pundak yang menjauh itu.


Aku tersenyum dan bergumam tentang namanya.


"Sebastian, ya? Aku harap kami dapat bertemu lagi."


Aku berbalik dan berjalan menjauh.


Mulai hari itu aku selalu memikirkan tentangmu, Sebastian, kamu adalah penyelamatku.


Setelah hari itu pun aku langsung bercerita dengan Zilla dan dia juga merespon dengan cukup baik, ini sangat aneh. Jika berhubungan dengan si Sebastian entah kenapa aku bisa kembali tersenyum dan bicara dengan normal.


***


Beberapa tahun berlalu, saat kelas tiga SMA di tahun ajaran baru. Aku terkejut melihat Sebastian yang ada di tempat duduknya.


Bagaimana aku tidak terkejut, dia ternyata satu sekolah denganku. Sosok pahlawanku, kenapa aku tidak sadar? Aku tahu jawaban itu, karena rasa takut terhadap pria. Aku membuat dinding di para siswa lelaki.


Mungkin inilah alasan pentingnya.


Tapi ada satu hal lagi yang buat aku kagum, dia sangat berbeda dengan pas SMP, dia tidak memiliki tindik dan berlaku seperti siswa normal.


Apakah dia sudah tidak melakukan hal onar lagi?


Setiap hari aku mencoba mendekati Sebastian, ini karena dia sangat beda dengan cowok lain, dia tidak pernah mencoba dekat denganku, menyatakan perasaanku pun tidak pernah. Tanpa kusadari otakku sudah penuh dengannya, aku selalu mencuri pandang dengannya. Dia selalu fokus dan terlihat sedikit penyendiri, kadang juga ceria.


Tapi, suatu hari tatapan kami saling bertemuan, dia akhirnya sadar akan mataku. Aku tidak peduli jika dia menyadari bahwa aku mencuri pandangan darinya, jadi aku tetap menatapnya walaupun mata kami bertemuan.


Dan mulai hari itu aku dan Sebastian menjadi teman, dia benar-benar berbeda. Entah kenapa saat bersama dia aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan tanpa takut.


Sangat aneh, dia seperti obat dari rasa takut. Biasanya hanya tatapan orang, akan membuat kutakut, tapi mata dari Sebastian sangat berbeda. Mata dia justru memberikan kenyamanan. Aku mulai sadar bahwa aku menyukai Sebastian.


Saat aku dibuntuti dia rela menemaniku di satu atap yang sama, saat aku marah dan mengoceh dia tetap menerima sisiku yang ini. Sebastian dia benar-benar spesial bagiku.


Dan sosok yang spesial itu. Kini berciuman denganku. Hatiku serasa sangat tentram, hangat, aku sangat suka dia. Hanya dia satu-satunya yang bisa memberikan perasaan ini.


Kami berciuman di wahana bianglala, cukup lama. Bibir kami saling bersentuhan aku melingkari tangan dan memeluknya, agar aku bisa merasakan kehangatan dan bisa merasakan bibir hangat darinya.


Rasa bahagia yang amat dalam membuat aku meneteskan air mata.


Lima menit berlalu semenjak bibir kami bersatu. Sebastian melepaskan ciuman itu.


Aku menatap dia dengan mata penuh kebahagiaan dan senyuman yang sangat indah.

__ADS_1


"Sebastian, aku mencintaimu."


__ADS_2