
...[Nasya POV]...
Aku terdiam, menatap pundak Sebastian yang pergi. Isak tangisan berjatuhan, aku menyeka menggunakan kedua tanganku.
Dia beneran marah dengan sikap ini, tapi apakah yang dia katakan tentang Sofie itu adalah kenyataan? Aku tidak tahu jawabannya.
Di tengah teriknya sore hari. Suasana kelas yang kosong dan sunyi. Aku menyeka segala air mata yang membasahiku, lantas berjalan menuruni tangga.
Kakiku melangkah menatap halaman yang sepi, namun aku bisa melihat satu orang yang sangat ku kenal berada di tengah kesepian ini, dia adalah Sofie. Gadis yang baru-baru ini ku benci.
Dia menoleh ke sini dan melambaikan tangan, tampaknya sadar akan keberadaanku. Helaan napasku keluarkan, masih sedikit canggung, tapi kupaksakan untuk mendekati Sofie.
“Sofie,” ucapku memanggil.
Dia tersenyum dengan sedikit ceria. “Apa?”
Jika dilihat dengan seksama senyuman ini sangatlah indah, aku sampai sekarang masih tidak paham kenapa Sofie menjadi seperti ini, apakah yang dikatakan Sebastian beneran.
Aku menggelengkan kepala, melenyapkan pikiran tidak berguna. Aku merogoh saku dan memberikan kalungnya kembali ke Sofie.
Sofie tampak kage, dengan mata berbinar dia menatap kalung itu. “Kamu menemukan nya untukku?” Dia bertanya dengan penuh harapan tidak tahu kenyataan yang sebenarnya.
Aku tidak akan berbohong dan mengatakan semua ini. Mungkin dengan seperti itu aku bisa mengenal sosok sebaranya Sofie.
“Tidak, kamu salah Sofie aku sebelumnya mencuri ini dari rumahmu.”
Mata binar itu memudar, dia menatapku dengan wajah agak terkejut dan sedikit tidak percaya.
“Apa itu benar? Kenapa kamu melakukan hal semacam ini?”
Aku menggertakan gigi. “Ini karena aku benci kau,” pada akhirnya aku berhasil mengatakan hal yang kuinginkan.
Sofie masih memasang wajah tidak percaya dan terdiam. Aku melanjutkan ucapanku lagi.
“Sofie sejak pertama kali bertemu aku benci kamu. Kamu punya segala yang tidak kumiliki, aku jadi iri. Bahkan kamu merebut orang yang penting bagiku, aku menganggapmu sebagai orang munafik!”
“Ka- kamu bohongkan? Mata Sofie tampak sedikit berair.
__ADS_1
Sebenarnya aku sedikit tidak tega menatap mata basah itu, tapi emosi ini lebih besar.
“Aku serius!” Aku menegaskan, agar dia paham.
Dia terdiam untuk beberapa detik dan kini menatapku. “Kamu salah, aku bukan orang seperti yang kamu katakan! Aku punya segalanya? Bahkan teman pun aku hanya punya beberapa, jangan katakan seolah kamu tahu segalanya!” Sofie berteriak, dia sedikit emosi.
“Apa kamu tahu perasaanku? Padahal aku hanya ingin menjadi dekat dan teman bagimu, tapi kenapa kamu mengatakan hal kejam seperti itu?” Dia kini memasang wajah cemberut.
Serius dia apa? Ceria, dingin, emosian, dan kini menjadi ngambekan. sangat tidak jelas.
Aku berpikir demikian, tapi ucapan ‘teman’ membuat aku sedikit membuka mata lebar. ‘Apakah dia benar-benar ingin menjadi temanku’ Aku menanyakan itu di dalam hati.
Sebelumnya tidak ada yang tertarik dan memiliki minat bahkan untuk mengajak bicara pun tidak ada, dan justru orang yang kuanggap munafik ingin berteman denganku.
‘Menjauhlah, aku tidak mau berteman denganmu.’
‘Membosankan katakan sesuatu.’
‘Dasar aneh’
Aku tanpa sengaja memutar perkataan orang-orang tentangku. Menjadi diam seketika jika mengingat ucapan mereka.
Sofie bertanya kini dengan wajah normal, aku makin tidak paham, tapi ada satu hal yang pasti. Aku sama saja dengan mereka.
Air mata menetes melihat sosok Sofie yang sangat tulus, jika dipikirkan lagi, Sofie selalu berusaha tersenyum. Sebastian juga bilang untuk tidak berpikir buruk, sekarang aku tahu jawabanya Sofie memang bukan orang jahat dia hanya ingin mempunyai teman sepertiku.
“Apa kamu serius ingin berteman denganku?”
“Ya tentu saja.”
Aku terdiam, isak tangisan tidak mau berhenti. Tapi ini adalah tangisan kebahagiaan. Seseorang ingin denganku itu membuat sangat bersyukur. Jika perkataan Sebastian benar maka tidak diragukan lagi Sofie dan aku sangat mirip.
“Jangan menangis,” kata Sofie terlihat panik.
“Ya.” Aku menyeka dan menatap wajah cantik Sofie.
Dia juga tersenyum dan mengulurkan tangan ke arahku. “Kalau begitu akan kukatakan lagi, Nasya maukah kamu menjadi temanku.”
__ADS_1
Bibirku terangkat sangat lebar. Aku memegang tangan ini, jawabanku sangat simpel.
“Ya.” Diakhiri dengan senyuman aku memenuhi permintaan Sofie. Kami Tersenyum bersama di sore hari yang sepi dan angin yang masih berhembusan.
Tapi masih ada satu hal yang janggal. “Sofie kamu bisa tersenyum dengan sangat baik saat bersama Sebastian, tapi kenapa sangat kaku ketika bersamaku?”
“I- Itu karena dia sedikit unik, aku tidak tahu kenapa, tapi ketika bersama dia aku bisa menjadi diriku sendiri.”Dia sedikit memerah sangat malu ketika membahas Sebastian.
Aku paham maksud dia, karena aku pernah merasakannya.
“Asal kamu tahu, Nasya. Sebenarnya aku adalah orang yang cukup pemalu. Aku tidak terlalu bisa berbicara dengan normal, aku bukan orang tenang dan dingin seperti orang pikirkan. Sebenarnya aku ingin aktif tapi tampaknya tidak mungkin.”
Aku terdiam ini adalah fakta yang tidak terduga, siapapun aku yakin pasti akan terkejut. Jadi pada dasarnya semua hanya salah paham karena senyuman bodoh milik sofie.
“Tapi asal kamu tahu saat ini aku sedang berusaha untuk sedikit berubah, Sebastian yang akan membantu menyembuhkan rasa malu ini.”
Kami pulang berjalan bersama dengan tersenyum bersama dan berbincang-bincang. Hari ini adalah hari penting, kesalahpahaman berakhir dan akhirnya aku memiliki seorang teman.
Yang dikatakan Sebastian benar Sofie bukanlah orang jahat, sebelum sampai rumah kami mampir bermain untuk sebentar saja, kami pergi mencari makanan, jaln-jalan di taman dan semua sangat menyenangkan. Setelah sekian lama akhirnya aku memiliki seseorang yang penting.
Wkatu terus berajalan menjadi malam hari, aku mengatar Sofie sampai rumah, mengingat perkataan Sebastian yang membahas penguntit. ztentu saja aku tida bisa membiarkan dia pergi sendiri.
“Bye, makasih sudah menemaniku,” ucap Sofie berjalan ke rumah. Aku menganguk hendak pergi, tapi aku mendengar ucapan dari seorang lelaku yang membuat aku terhenti,
“Tunggu, ini sudah malam berbahaya kalau pulang sendiri, aku akan menemanimu.” Sebastian memakai jaket dan berjalan ke arahku.
“Sofie kamu tunggu sebnat,” ucapnya.
“Ya.” Dia tersenyum dan menutup pintu.
Aku sangat tidak paham dengan hubungan mereka alasan kenapa Sebastian tinggal di rumah aku bisa menebak dia pasti khawatir tentang stalker yang dibalang beberapa hari yang lalu.
Tapi kebersamaan mereka seperti seorang sepasang ke kasih yang baru saja menikah. Entah kenapa membuat hatiku sakit, melihat kedekatan mereka. Sudah kuduga aku masih menaruh perasaan ke Sebastian.
“Apa yang kamu tunggu, ayo!”
“Ya.”
__ADS_1
Pada malam hari itu aku diantar pulang oleh sebastian. Setelah sampai di rumah aku bergegas tertidur di kasur dan memeluk bantal. Aku menganggap bahwa hari ini adalah hari yang spesial