
Keesokan paginya Rachel bangun lebih awal karena dia ingin segera bersiap dan meninggalkan kota itu secepat mungkin.
Rachel sudah berpamitan dengan Maria dan Ozi karena memang hanya mereka berdua yang perduli dengan Rachel..Rachel mandi terlebih dahulu karena sepertinya Gian juga maish lama..Ra hek tidak tau Gian telah sampai di apartemennya sejak pagi-pagi buta sekali.
"Mandi dulu kali ya..Gian juga masih lama sepertinya"
Sementara Rachel mandi Gian sudah masuk ke apartemen..dia membawa serta sarapan..wajahnya terlihat tengah menahan emosi dan kemarahan..entah lah ada apa dengan Gian hanya dia yang tau.
Gian menata makanan yang dia bawa di atas meja..dia tak ada mood untuk memasak..biasanya setiap dia datang pasti akan memasak tapi hari ini dia tidak sedang dalam mood yang baik dan itu akan membuat Rachel dalam masalah.
"Lakukan seperti yang ku perintahkan..jangan ada yang terlewat"
Gian menghubungi seseorang untuk dia beri tugas penting..orang itu langsung mengerjakan tugas dari Gian dengan semangat.
Gian duduk di atas sofa ruang tamu dekat dapur..dia menunggu Rachel keluar dari kamar..dia tak mau melampiaskan kemarahannya pada Rachel.. meskipun ini menyangkut Rachel..Gian hanya kesal kenapa Rachel ada masalah tidak menghubungi atau memberitahu nya..kenapa..hanya itu yang Gian pikirkan.
Sementara itu Rachel sudah siap dengan baju dan barang-barangnya..sejenak dia duduk di tepi ranjang dan merenung kembali..apakah dia sudah layak berada di keluarga Wilson..apakah dia sudah layak menjadi pendamping Gian.
"Apa aku masih pantas berada di keluarga Wilson..aku bahkan tidak punya muka untuk sekedar bertatap pada mereka..ya Tuhan berilah petunjuk mu..aku bingung tuhan"
Rachel memutuskan untuk keluar kamar dan membuat sarapan..Rachel tau sebentar lagi Gian akan datang jadi dia akan membuat sarapan untuk nya dan Gian.
Saat Rachel menuju dapur dia melihat Gian tengah duduk sambil memainkan ponselnya..dia tak menyangka Gian sudah datang tapi kenapa tidak menghampiri nya.
"Gian"
Gian mendongak dan menatap Rachel..dia tersenyum sejenak kemudia kembali pada mode datar nya..Rachel kembali menjadi bingung,. sepertinya Gian tidak dalam mood yang baik..dia harus bagaimana..apakah dia harus bercerita sekarang atau nanti saja.
"Kau sudah lama?"
"Hm"
__ADS_1
"Kau sudah sarapan?"
"Belum"
"Ayo aku buatkan sarapan"
"Tidak perlu"
"Kenapa?"
"Sudah ku bawakan"
"Ouh.. baiklah terimakasih sudah membawa sarapan"
"Hm"
Rachel terdiam..dia mengikuti Gian ke meja dapur..mereka makan dengan diam..tak ada suara.. hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
Selesai sarapan Rachel membersihkan piring bekas makan mereka,setelah selesai Rachel duduk menghampiri Gian..dia tak tahan dengan suasana seperti ini.
"Gian"
"Hm"
"Kau marah pada Achel?"
"No"
"So?"
"What"
__ADS_1
Huhhh.. baiklah apapun yang akan terjadi setelah ini akan lebih baik Rachel mengatakan pada Gian..dia tau selama ini dia tak sendirian di kota ini..Gian selalu menugaskan bodyguard entah dimana dia pun tak tau..yang pasti semua yang Rachel lakukan pasti Gian tau.
"Gian sebenarnya........."
Skip>>>>>>>
"Gian aku senang bisa kembali ke Nagara X lagi" ucap Rachel saat di jet pribadi Gian.
"Benarkah..kalau begitu jangan pergi lagi "
"Iya sayang"
"Apa kau bilang?"
"Apanya?"
"Tadi..kau panggil aku apa?"
"Sayang"
"Kau manis sekali jika memanggil ku sayang..terus panggil aku dengan sebutan sayang..oke"
"Baiklah sayang"
Setelah mengudara cukup lama akhirnya Rachel dan Gian sampai di Landasan pacu pribadi keluarga Wilson..sebuah rumah yang halaman belakangnya di buat sebagai landasan pacu atau mini bandara.
Mini bandara keluarga Wilson lengkap dengan fasilitas seperti bandara asli..tentu pembangunan itu tidaklah mudah karena harus denga ijin pemerintah juga surat-surat dan semacamnya.
"Ayo masuk kita istirahat di sini dulu..nanti malam baru kita ke rumah" ajak Gian.
"Baiklah"
__ADS_1
Mereka masuk kedalam rumah itu dan beristirahat..satu kamar tapi tidak terjadi apapun karena mereka sepakat untuk menyerahkan segalanya di malam pengantin mereka.