
PLAK......
"Arkhhhhhh..sialan kau"
"Kau pantas mendapatkan tamparan itu jallang yang sebenarnya" ucap Richie dingin dengan sorot mata tajamnya.
"Siapa kau?"
"Aku adalah anak dari wanita yang kau bunuh yaitu Liona Collins dengan Jacob Hurgon mantan suami yang kau pisahkan dengan begitu sadisnya dari istri yang tengah hamil itu..apa kau tak pernah memikirkan perasaan wanita itu..jallang tetaplah jallang yang hatinya akan slalu merasa iri..matilah kau jallang"
Srettt.......
"Arkhhhhhh"
Viola menjerit ketika lehernya tersayat owlh pisau yang Richie pegang..dia merasakan sakit yang amat sangat..darah segar mengalir dari lehernya.
"Apa dengan ini caramu membunuh ibuku jallang?" ucap Richie dengan memegang sebuah botol kaca kecil yang hanya Richie,giandan Roman yang tau.
"Apa..apa..maumu.. lepaskan aku arghhhhhh"
"Tidak sebelum kau meminum ini dan dengan perlahan kau akan seperti ibuku..kau pasti paham bukan?" ucap Richie masih dengan raut wajah menyeramkan.
Viola tau apa yang Richie maksud..dia tau itu adalah racun yang sama seperti yang pernah dia beri pada Liona dulu..tidak dia tidak mau meminum racun itu..dia tidak mau mati secara perlahan.
"Tidak..tidakkkk.. lepaskan akuuuuuuu.. tidakkkk"
Richie mengisyaratkan pada anak buah Gian agar membuka paksa mulut kotor Viola dan menuangkan semua isi cairan dalam botol kaca itu.
__ADS_1
Tuan Maxton begidik melihat perbuatan Richie di hadapannya..dia jadi memikirkan bagaimana nasibnya nanti..dia juga sering menyiksa Liona dan juga Rachel..astaga matilah kau Maxton.
"Arhmmmmm..erhmmmm" gumam Viola menggelengkan kepalanya menolak meminum cairan itu.
"Bagus..habiskan jallang..dan istirahatlah dengan tenang ..minta maaf lah pada ibuku ketika kau sudah sampai di sana" ucap Richie dingin.
Viola kejang-kejang..perlahan kesadarannya mulai hilang..tubuhnya panas..amat panas..kulit tubuhnya memerah menandakan reaksi racun itu telah bekerja.. mulutnya mengeluarkan darah segar yang pekat..kemudian tubuhnya ambruk matanya melotot menandakan dia tengah sekarat dan segera menuju ajalnya.
"Violaaa.. Viola..hey tolong dia..dia bisa mati" ucap tuan Maxton bodoh.
"Tenang saja tua bangka..kau akan segera menyusulnya dan menemaninya di sana..bawakan benda itu" ucap Gian.
Anak buah Gian membawakan apa yang Gian minta..sebuah ikat pinggang yang terbuat dari besi dan di setiap sisinya terdapat pecahan kaca yang sudha tertanam.
Tuan Maxton melihat benda itu seketika histeris meronta.
Gian tak mendengarkan ucapan tuan Maxton..dia hanya fokus melap ikat pinggang yang terbuat dari besi dan pecahan kaca di setiap sisinya.
"Roman apa kau ingin bermain?" tanya Gian pada Roman.
"Tidak bos..silahkan anda saja"
"Baiklah..apa kau mau Kaka ipar?" kini Gian beralih pada Richie.
"No..kau saja..balaskan rasa sakit Bella dan Mommy ku" ucap Richie.
"Baiklah jika kalian semua menolak.. bagaimana tuan Maxton..mereka berdua tidak ada yang mau..hmmm terpaksa aku akan melakukannya sendiri"ucap Gian dengan nada yang di buat-buat.
__ADS_1
"Tidak..ampun..maafkan aku.. maafkan aku..aku mohon"
"Sudah terlambat untuk memohon ampun tuan Maxton Miller yang terhormat..apakah kau memperdulikan teriakan Rachel dan juga mantan istri mu itu ketika kau cambuk mereka dengan beringas nya?"
"Maafkan aku..kumohon..aku akan berlutut oada Rachel dan meminta maaf pada nya..kumohon lepaskan aku"
"Tidak..dan tidak akan pernah..pegang dia"
Anak buah Gian memegang kedua tangan tuan Maxton dan sedetik kemudian cambukan berhasil mengoyak kulit punggungnya hingga terasa sesuatu mengalir begitu deras dari kulit punggungnya.
Cetarrr....(kira-kira sendiri ya bunyinya)
"Arkhhhhhh sakitttttttt"
Cetarrr.....
"Arghhhhh ampunnnnnnn.. arghhhhhh"
Gian berhenti sejenak untuk melihat ekspresi wajah tuan Maxton yang tengah kesakitan..dia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi kedua wanita itu ketika di cambuk seperti ini..dengan hanya membayangkan kesakitan di wajah Rachel saja sudah membuat jiwa iblis Gian bangkit.
"Seharusnya kau berpikir dua kali lagi ketika menyakiti mereka..kau tau Rachel hanya gadis remaja kala itu ketika kau cambuk dia dengan kejinya..dan apa kau berfikir lagi ketika menyiksa ibu Rachel yang notabenenya adalah istri sahmu sendiri hah..kau tak memikirkan kondisinya kala itu..kau lakukan sesukamu asalkan emosimu tersalurkan begitu hah" ucap Gian menggebu-gebu.
"Ma..af..kan..ak..u"
"Tidak ada kata maaf..rasakan pembalasan dariku untuk setiap keskaitan Rachel dan ibunya..nikmatilah rasa sakit di sekujur tubuh mu tua bangka"
Cetarrr......
__ADS_1