
Rumah sakit xxxxxxx
Ketegangan jelas terjadi
Tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, sang mommy Nadya dan mama ayudia jelas sudah tiba di rumah sakit, merangkul Gao secara bergantian.
mama Ayudia jelas terus menangis sejadi-jadinya sejak tadi, Hanif (Kakak Ayana) terdiam duduk sambil memangku kening nya dengan punggung tangannya, terlihat jelas laki-laki itu menangis tanpa suara.
Gao terus mengubah posisinya sejak tadi, bahkan berusaha untuk menahan semua perasaan nya. kalau masalah bagaimana hati nya saat ini? jelas jangan ditanya betapa hancurnya saat ini.
Dia rasanya ingin tertawa terbahak-bahak menertawakan takdir nya, baru tadi dia siang dia tertawa bahagia bersama Ayana, tapi dini hari saat ini semua jelas berubah menjadi tangisan yang pecah sepanjang sejarah.
Ini kah yang di namakan ujian? Kenapa begitu menyakitkan? Bahkan kenapa rasanya sebercanda ini? Ketika kamu di lambung kan oleh tuhan di angan-angan, kemudian kamu di hempasan olehnya dengan cara yang sangat mudah.
Jerry (Paman Ayana) melesat kembali menyelesaikan soal Sandi (Sang penculik Ayana) dan sang keluarga jenderal.
Tidak tahu berapa lama semua orang menunggu, hingga ketika tiba-tiba paman Ijal (Om Ayana) tau-tau meminta Gao untuk masuk ke dalam ruangan Opera dengan ekspresi wajah yang begitu sulit untuk dijelaskan.
"Kita perlu bicara"
__ADS_1
Bisa Zoe lihat Bola mata Gao jelas membulat, ekspresi nya juga sama dengan paman Ijal, jelas benar-benar tidak bisa dijelaskan, Gao seolah tahu apa yang akan dibicarakan selanjutnya.
Cukup lama Gao berada didalam sana, hingga akhirnya Gao keluar dari emergency room / ruang operasi tanpa mengeluarkan suara nya.
Saat mama Ayudia dan mommy Nadya bertanya, dia hanya menyentuh kedua wajah yang mulai menua itu dengan lembut.
"Tidak apa-apa, mereka akan melakukan operasi pengangkatan janin, insyaallah semua baik-baik saja"
Gao hanya mampu berkata begitu, mencoba menghibur 2 wanita rapuh itu dan melupakan kerapuhan nya sendiri.
Zoe berdiri di hadapan mereka, menatap Gao yang jelas terlihat tidak baik-baik saja.
Nadya bertanya pada sang putra dengan suara pelan, menangis sejak tadi sambil menggenggam erat tangan putra nya itu.
Gao hanya menatap dalam wajah Mommy nya, mencoba tersenyum meskipun hati terasa hancur dan sakit.
"Jika Allah mentakdirkan dia hilang di antara kami, itu artinya belum Rizki milik kami mom, kami akan mengulang nya kembali"
Gao bicara sambil menyentuh wajah Mommy nya pelan.
__ADS_1
"Aku lebih membutuhkan Ayana saat ini, kami akan membuka lembaran baru bersama, menutup cerita kemarin dan membuka cerita yang baru"
"Gao"
seakan tahu apa yang terjadi, Mommy Nadya menyentuh pelan wajah putra nya, menatap nanar bola mata Gao.
"Allah sayang kalian Gao, karena itu Allah sedang menguji kalian hmm"
Gao mengangguk pelan, berusaha terus tersenyum didepan mommy nya.
Setelah itu laki-laki itu berjalan menuju ke arah depan dengan pandangan Nanar, Zoe ingin memeluk laki-laki tersebut tapi seolah-olah Gao berkata dia butuh waktu sendiri, semua InsyaAllah baik-baik saja.
Gao terlihat berusaha menduduki dirinya di atas sebuah kursi, diam tanpa mengeluarkan suara nya sama sekali.
Zoe seketika menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit, dia memejamkan bola matanya untuk Beberapa waktu.
Dia fikir ujian apa lagi yang dihadapi oleh keluarga mereka saat ini?!.
Belum juga tuntas urusan dia dan Freya, kini mereka di terpa ujian besar yang begitu mengerikan.
__ADS_1