
Mendengar ucapan Freya jelas membuat Zoe terkejut, laki-laki itu fikir makan bersama? dia bagaimana cara menolak nya?.
"Aku belum lapar"
Zoe kembali mencoba menolak nya.
Alih-alih peduli dengan tolakan yang dilontarkan Zoe, Freya malah menggenggam erat tangan Zoe, dia menarik laki-laki itu agar mengikuti dirinya.
"Frey?"
"Kita intip kak Gao lebih dulu"
Ucap gadis itu menuju ke sebuah ruangan kaca yang ada dihadapan mereka, gadis itu mencoba menjinjiitkan kakinya, mengintip keadaan sang kakak.
Didalam sana dia melihat punggung seorang gadis yang kepalanya ditutupi oleh Hijab, dia tidak bisa melihat rupa Gadis itu, tapi Mommy nya berkata gadis pilihan kak Gao nya luar biasa cantik.
Setelah memastikan keadaan kakak laki-laki nya itu baik-baik saja, Freya langsung menarik kembali tangan Zoe agar mengikuti langkah kakinya.
"Aku benar-benar lapar, semalam juga tidak makan malam"
Ucap Freya sambil menarik paksa tangan kekar tersebut, mereka menepi, mencari kursi kosong lantas mencoba duduk di pinggir ruangan, di mana Freya menyakini jika disudut tersebut tidak akan membuat mereka terganggu dalam menghabiskan sarapan pagi mereka.
Zoe hanya bisa menatap Tangan nya yang terus ditarik kesana-kemari oleh gadis tersebut.
Sejenak dia menelan salivanya.
Freya langsung melepaskan tangan nya, dia buru-buru membuka menu sarapan yang dibelikan Zoe untuk dirinya.
Seketika gadis itu mengembang kan senyuman nya, dia fikir Zoe tahu betul apa makanan kesukaan nya.
Bubur ayam.
Seketika Freya langsung menuangkan bubur tersebut kedalam mangkuk yang sudah ada di dalam kantong plastik yang dibawa oleh Zoe.
Tidak tahu bagaimana cara laki-laki itu mendapatkan mangkok dan sendok, tapi Freya tahu Zoe memang selalu gercap dan bisa di andalkan, Mommy nya selalu memuji laki-laki itu dalam tiap tindakan nya.
__ADS_1
Laki-laki itu benar-benar tidak meletakkan daun bawang di dalam bubur nya.
Freya langsung mengembang kan senyuman, secara perlahan dia mulai melahap bubur tersebut.
Laki-laki itu mencoba membuang pandangannya dari Freya, dia fikir seharusnya gadis itu bisa menghabiskan makan pagi nya sendiri tanpa harus ditemani oleh dirinya.
Dia ingin sekali segera beranjak Pergi dari sana, keadaan ini membuat dirinya semakin tidak enak.
"Zoe cobalah"
Tiba-tiba Freya bicara sambil menyodorkan sendok nya berisi bubur kearah dirinya.
Seketika Zoe tercekat.
"Aku tidak lapar"
Mendengar Zoe menolak tawaran nya gadis itu tampak merengut.
"Ini enak"
"Aku tahu, jika tidak enak kamu pasti tidak mau memakan nya"
Ucap Zoe cepat.
"Karena itu kami juga harus ikut makan"
"Frey..."
"Makan lah, jika tidak aku juga tidak akan menghabiskan bubur nya"
Gadis itu terus memajukan sendok nya.
"Oh god, frey!"
__ADS_1
"AaaaĆ aaaa"
Gadis itu bicara sambil membuka mulutnya, dimana tangan kanan nya memegangi sendok berisi bubur, tangan kirinya mencoba menyentuh dagu Zoe.
Oh god.
Zoe bergumam didalam hati.
Mau tidak mau terpaksa mengikuti keinginan Freya dalam 1 kali suapan.
Sesaat Zoe menjadi malu sebab beberapa pasang mata menatap mereka sambil berbisik-bisik.
"Sekali lagi"
Freya kembali mengarahkan sendok nya berisi bubur kearah Zoe.
"Frey, mereka memperhatikan kita"
Ucap Zoe dengan nada tertahan.
"Siapa?"
Gadis itu malah celingak-celinguk balik menatap orang-orang yang menatap mereka.
"Hmmm biarkan saja, bukankah itu tidak dilarang? tidak ada undang-undang yang bilang tidak boleh menyuapi seseorang"
Ucap Freya seperti tanpa dosa.
Dia kembali mencoba menyodorkan sendok berisi bubur ke arah Zoe, tapi sepersekian detik kemudian tiba-tiba bola mata nya menangkap sosok seseorang.
Laki-laki yang jelas begitu familiar, berjalan di ujung sana sambil menggandeng tangan seorang perempuan muda.
Freya sejenak mengerutkan keningnya, dia fikir siapa perempuan yang bersama dengan kekasihnya.
Melihat ekspresi Freya seketika Zoe mencoba menoleh kearah mana bola mata Freya berada, laki-laki itu ikut mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Freya fikir bukan kah ruangan ujung adalah ruangan dokter kandungan?.
Apa yang dilakukan laki-laki itu hingga harus berakhir ke ruangan tersebut.