
Leonard Alexander memanggil Novi sahabatnya Joana saat anak buahnya menemukan Novi berjalan sendirian di sebuah mall tanpa Joana.
Novi berdiri di depan meja kerjanya Leonard dengan menunduk dan kedua kaki gemetar.
"Kata kamu, Joana piknik ke luar kota dengan orangtua kamu. Kenapa kamu masih ada di sini?" Tanya Leonard dengan nada dan wajah dingin.
"I....itu, emm, A.......Ana, masih di dalam perjalanan pulang. Saya pulang duluan karena ada tugas dan......."
Brak!!!!!! Leonard menggebrak meja kerjanya dan berteriak lantang, "Jangan bohong! Katakan di mana Ana?!"
Novi langsung jatuh bersimpuh di atas lantai dan berkata dengan suara gemetar, "Sa......saya tidak tahu di mana Ana sekarang?"
"Bohong!!!!!! Terakhir kali Joana pergi sama kamu" Leonard mulai berdiri dengan wajah garang penuh amarah.
Novi semakin menundukkan wajahnya dan terisak menangis.
"Jangan menangis! Katakan di mana putriku atau aku akan membawamu ke kantor polisi" Leonard memandang Novi dengan wajah garang.
"Am......ampuni saya, Pak. Sa......saya benar-benar tidak tahu di mana Ana sekarang ini" Sahut Novi dengan isak tangis.
Leonard memberi kode anak buahnya untuk mengeluarkan Novi dari ruang kerjanya.
Leonard menatap asisten pribadinya untuk berkata, "Cari keberadaannya Ana sekarang juga!"
"Baik, Tuan" Sahut asisten pribadinya Leonard.
Pintu bar terbuka dan seorang laki-laki berambut panjang ikal yang dikucir kuda, melangkah memasuki bar-nya Arga.
Mona dan Joana menatap pria tersebut dan mereka refleks bertanya secara kompak, "Anda Leo?"
Laki-laki tampan berambut gondrong itu tersenyum lebar dan sambil menaruh kacamata hitamnya di atas meja bar, dia berkata, "Aku Leo. Kalian?"
Mona memekik senang dan langsung mengulurkan tangannya ke Leo dengan antusias, "Aku Mona. Pegawai senior di sini dan ini Joana. Dia baru bergabung di sini hari ini"
Leo melebarkan senyumnya saat ia menerima ukuran tangannya Mona namun pandangannya terus tertuju ke Joana yang berdiri di belakangnya Mona.
Leo berkata di dalam hatinya, Mona cantik, namun tidak ada yang spesial di dirinya. Sedangkan Joana, melihat sekilas saja aku langsung merasa kalau dia spesial. Joana bukan hanya cantik, tapi dia memiliki aura spesial.
"Ehem" Mona berdeham saat ia melihat pria tampan yang sesuai dengan kriterianya terlihat melamun. Mona bertanya, "Apa yang kau lihat?" Mona menoleh ke belakang dan dia hanya menemukan Joana yang masih berdiri di belakangnya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Oooooo, aku mencari Arga. Di mana dia?".Sahut Leo sambil melepas tangannya Mona dan tersenyum semakin lebar.
"Bos Arga sedang keluar. Katanya mau menemui cewek brengsek" Sahut Joana.
"Itu pasti pacarnya Arga yang selingkuh dan aku yakin mereka putus hari ini" Sahut Leo acuh tak acuh.
Joana tertegun mendengar ucapannya Leo. Gadis remaja yang berparas manis dan cantik itu bergumam di dalam hatinya, apa Mas Arga.menolongku dan memperbolehkan aku tinggal dan bekerja di sini, karena Mas Arga bernasib sama denganku? Sama-sama diselingkuhi.
Arga kembali ke bar dan segera memakai seragamnya. Saat ia mulai asyik meracik minuman di balik meja bar-nya, dia terpana melihat Joana. Pandangannya Arah tidak lepas dari Joana yang bisa dengan cepat membaur dan menjalankan tugasnya menjadi pramusaji di barnya dengan sangat baik.
Arga memperhatikan Joana saat Joana menolong salah satu dari pelanggannya membuka tutup botol dan menolong Mona merapikan meja dan kursi. Arga tersenyum senang melihat hal itu dan dia refleks bergumam, "Aku nggak nyangka, dia ternyata baik hati dan ramah pada semua orang"
"Siapa?" Suara Leo mengagetkan Arga
Arga sontak mendelik ke Leo dan berkata, "Bukan urusan kamu"
Leo menoleh ke belakang dan dia kembali menatap Arga untuk berkata, "Oooooo, kamu memperhatikan Ana ternyata"
"Si....siapa yang memperhatikan cewek aneh itu" Arga langsung menunduk untuk mengelap meja barnya.
"Udah nggak usah ngeles. Aku tahu kamu memperhatikan Ana. Ana memang spesial. Dia ramah, baik, enak diajak ngobrol dan masih bau kencur. Kalau kita mau, kita bisa........."
"Jangan dekati dia!" Arga sontak melotot ke Leo dengan sikap posesif.
Arga dengan cepat menggelungkan kepalanya sambil berucap, "Siapa yang suka dengan cewek aneh itu. Dia bukan tipeku. Aku hanya ingin melindunginya demi rasa kemanusiaan"
Leo menatap lekat kedua bola mata Arga sambil tersenyum lebar dan manggut-manggut.
"Itu benar. Dia masih tujuh belas tahun, masih kecil. Aku harus melindunginya selama ia tinggal di sini" Sahut Arga sembari berbalik badan untuk meracik minuman.
"Sampai kapan Ana akan tinggal di sini? Apa orangtunya tidak mencari dia? Siapa orangtuanya? Kau tidak cari tahu asal usulnya dan memulangkannya?" Leo bertanya dengan nada serius.
Arga berucap tanpa menoleh ke belakang, "Dia senasib denganku. Tunangannya selingkuh dan Papanya tidak menyayanginya. Dia butuh bernapas lega sejenak, jadi, ya, begitulah. Aku akan membiarkannya tinggal di sini selama dia mau"
"Kamu dan Ana sama-sama gila" Sahut Leo. "Emm,.tapi aku belum pernah melihatmu seposesisf itu. Aku lihat kamu terus mengawasi Ana dan........."
"Itu karena dia anak baru dan aku butuh untuk terus mengawasinya agar dia nggak melakukan kesalahan yang bisa membuatku rugi" Potong Arga dengan cepat dan Leo hanya bisa menghela napas panjang.
"Kamu udah beneran putus dengan Paloma si sekretaris seksi itu?" Tanya Leo.
__ADS_1
"Hmm" Sahut Arga.
"Begitu aja?"Tanya Leo.
Arga berputar badan untuk memberikan minuman pesanan pelanggannya ke Mona lalu ia menoleh ke Leo untuk mengeluarkan suara, "Hmm"
"Hmm, hmm, terus dari tadi. Aku akan mulai nge-DJ aja kalau gitu. Bosan ngobrol sama.kamu" Leo lalu bangkit berdiri dan naik ke panggung DJ-nya. Leo pulang dari Jepang untuk mengikuti kontes DJ Internasional dan dia berhasil menyabet juara ketiga. Untuk itulah, saat para pelanggan bar-nya Arga mendengar berita kepulangan dan kemenangannya Leo, mereka berbondong-bondong datang ke bar-nya Arga untuk menyaksikan penampilannya Leo.
Joana yang belum pernah melihat penampilan seorang DJ dan belum pernah mendengarkan musik Box, sontak ikutan melonjak-lonjak dan terus tertawa riang dengan wajah terkagum-kagum.
Arga yang tengah fokus meracik minuman tersentak kaget saat Joana tiba-tiba memegang tangannya dan menariknya dengan berkata, "Ayo temani aku menari!" Joana harus berteriak karena musik box yang dimainkan oleh Leo sangat kencang.
"Menari?" Arga melihat tangannya yang digenggam oleh Joana.
"Iya! Menari seperti mereka! Musiknya asyik banget" Teriak Joana.
Arga terkekeh geli, lalu mendekatkan wajahnya ke telinganya Joana untuk berkata pelan karena, ia malas untuk berteriak, "Itu namanya melantai bukan menari. Kalau menari itu di atas panggung"
Joana menoleh ke Arga, "Melantai? Wah, keren banget namanya. Oke, ayo kita melantai"Joana mendekatkan wajahnya ke telinganya Arga.
Arga akhirnya melangkah keluar dari balik meja bar-nya karena Joana terus menarik tangannya. Arga mengikuti kemauan Joana sembari menoleh ke belakang untuk berkata ke anak buahnya, "Tolong jaga bar sebentar!"
"Oke, Bos" Sahut anak buahnya Arga.
Joana tersenyum lebar sambil melonjak-lonjak di depannya Arga. Arga mengikuti gerakannya Joana sembari mendekatkan wajah ke telinganya Joana untuk bertanya, "Kamu belum pernah melantai, ya?"
Joana menggelengkan kepalanya sembari terus melonjak-lonjak sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Arga sontak mengangkat kedua bahunya Joana sambil berteriak, "Jangan melonjak terlalu tinggi! Kamu pakai rok pias yang pendek"
Joana menatap Arga saat ia mengentikan lonjakannya, lalu bertanya, "Kenapa?"
"Banyak mata pria hidung belang melirik rok kamu" Arga berucap sembari melepas kedua bahunya Joana.
Leo melihat Arga dan Joana berdiri begitu dekat. Dan dengan senyum jahilnya, Leo memainkan musik slow.
Joana sontak menggelungkan kedua lengannya di leher kokohnya Arga dan sambil tersenyum polos ia berkata, "Kalau begini, boleh? Kalau berdansa aku bisa. Aku akan ajari kamu"
Arga mengumpat di dalam hatinya saat wajahnya berada begitu dekat dengan wajahnya Joana dan dia sontak kesulitan menelan air liurnya sendiri saat ia melihat leher Joana yang berkeringat tampak basah menggoda.
__ADS_1
Arga mengikuti gerakan dansanya Joana sambil terus mengumpat di dalam hatinya saat wangi tubuhnya Joana menusuk-nusuk lubang hidungnya.
Arga sontak bergumam lirih sembari menengadahkan wajahnya ke atas, "Oh, Tuhan tolong!" Saat dada Joana tanpa sengaja menekan pelan dada bidangnya dan seketika itu juga, jantungnya Arah mulai berdetak abnormal.