
Leo langsung menarik Arga keluar dari dalam kamar untuk mengajak Arga bicara serius secara empat mata "Lalu, bar kamu?" Leo menatap lekat kedua bola mata hijaunya Arga
"Aku serahkan ke kamu. Tolong kamu kelola. Aku tahu kamu bisa" Sahut Arga.
"Lalu, perusahaan kamu?" Leo mulai bersedekap.
"Ada Rendy. Rendy juga mengirim pesan text tadi, kalau Nenek akan pulang. Nenek bisa urus perusahaan" Sahut Arga.
"Lalu, balas dendam kamu? Kamu akan lupakan itu setelah kamu berusaha mati-matian dan berhasil sampai di tahap ini? Ingatlah kalau Kakeknya Ana telah membunuh Mama kandung kamu dan membuang Papa kandung kamu entah ke mana. Kamu belum menemukan Papa kandung kamu sampai sekarang. Lalu kamu diasuh oleh pasangan suami istri Sembodo dan Leonard membunuh pasangan suami istri Sembodo. Kemudian kamu dibuang ke panti asuhan.Sampai-sampai kamu harus mengganti nama kamu dari Mario menjadi Arga dan kamu memakai nama keluarga nenek kamu Hewitt setelah Nenek kamu menemukan kamu di panti asuhan. Leonard brengsek juga udah rebut pacar kamu. Kamu akan lupakan semua penderitaan kamu itu?"
"Aku tidak lupa. Tapi, aku memutuskan untuk memilih Ana dan anakku yang ada di dalam kandungannya Ana daripada dendamku. Aku telah menemukan cinta dan tujuan hidup. Aku hanya ingin hidup damai bersama dengan Ana dan anakku mulai dari sekarang" Sahut Arga.
"Jangan dibutakan oleh cinta. Kalau Nenek kamu marah dan mencoret kamu dari ahli waris? Kau akan hidupi Ana dan anak kamu pakai apa?" Tanya Leo.
"Aku bisa bercocok tanam di sana. Bisa menjual sayuran dan aku bisa cari kerja di sana sambil jalan. Yang penting adalah, setelah sampai di sana, aku akan menikahi Ana. Aku akan meminta pendeta Jaya Dwipa pimpinan Panti asuhan, untuk memberkati pernikahanku dan Ana. Lalu aku akan meminta tolong sama Rendy untuk pergi ke kantor pencatatan sipil di sana untuk mendaftarkan pernikahanku dengan Ana" Sahut Arga.
"Oke! Baiklah! Sebagai adik angkat sekaligus sahabat kamu, aku hanya bisa mendukung kamu di saat kamu menolak semua nasehatku. Aku akan doakan kamu dan Ana juga anak kalian, bisa hidup bahagia dan damai di sana" Leo memeluk Arga
Arga membalas pelukan itu dan berkata, "Terima kasih, Bro"
Lalu kedua pria tampan itu kembali masuk ke dalam kamar. Mereka melihat Novi masih mencoba meyakinkan Joana untuk pulang, namun Joana bergeming.
"Baiklah kalau kalian sudah sepakat. Kami nggak bisa menghalangi kalian lagi" Sahut Leo.
"Tapi, bagaimana kalau Papanya Ana mencari Ana? Aku harus kasih penjelasan apa?" Novi duduk di tepi ranjang dengan helaan napas panjang.
"Katakan saja kalau aku lari mencari Arga. Dan kamu pulang sama Pak Boy karena kamu, tidak berhasil menemukan aku" Sahut Joana.
"Aku setuju" Sahut Arga.
"Kalau begitu, cepatlah kau bawa Ana pergi dari sini sebelum Leonard breng........emm, maksudku, sebelum Papanya Ana mencari Ana ke sini" Sahut Leo
Arga langsung menurunkan koper besar Yanga da di atas lemari baju dan segera memasukkan semua baju Joana yang masih ada di lemari bajunya ke dalam koper besar dan ia tumpuk dengan baju-bajunya. Lalu, ia menutup koper itu, menariknya sambil berkata, "Aku tunggu di bawah"
Joana memeluk Novi sahabatnya dan berkata, "Terima kasih kau selalu ada buat ku selama ini. Aku akan sangat merindukanmu"
"Aku juga akan sangat merindukanmu" Sahut Novi.
__ADS_1
"Nggak usah nangis. Dan peluk perpisahannya jangan lama-lama! Keburu sore! Kalau aku ke sana hari Minggu. Aku akan ajak kamu" Sahut Leo.
Novi melepaskan Joana dan menoleh ke Leo untuk tersenyum dan berkata "Terima kasih"
Novi mengikuti langkah Joana sambil mengusap air mata yang terus menetes di kedua pipinya.
Sebelum masuk ke dalam pickupnya Arga, Joana berkata ke Novi, "Aku akan kirim pesan text dan tolong kasih tahu ke Tante Alma untuk tidak mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Salam buat Pak Boy. Maaf aku nggak bisa menghampiri Pak Boy untuk pamit karena Pak Boy nggak ada di dalam mobil"
Novi mengangguk dan Joana langsung melompat naik ke mobil.
Novi dan Leo berteriak secara bersamaan, "Hati-hati!!!" Saat mobil pickupnya Arga sudah melaju meninggalkan Leo, Novi, dan Bar Hewitt.
Novi lalu mengajak Boy pulang. Novi menoleh ke Boy, "Pak Boy, tadi ke mana pas Ana pergi?"
"Pak Boy ke toilet umum. Emangnya Non Ana pergi ke mana?"
"Ana hamil anak pria yang pergi bersama Ana dan Ana ingin hidup bersama dengan Pria itu. Saya lihat, Ana sangat bahagia bersama dengan pria itu. Jadi, saya nggak bisa memaksa Ana untuk tinggal dan ikut pulang sama saya" Sahut Novi.
"Pak Boy ikut bahagia kalau Non Ana akhirnya bisa bebas dan bahagia. Biarkan Non Ana pergi dan bahagia" Sahut Boy sambil terus fokus menyetir.
"Nanti, Pak Boy dukung cerita saya, ya?! Kalau Ana lari dan kita kehilangan jejaknya. Kita nggak tahu Ana di mana dan kita bergegas pulang saat kita tidak berhasil menemukan Ana" Sahut Novi.
Paloma tersenyum senang saat suaminya berkata, "Aku akan ke Belanda selama seminggu. Karena kamu hamil, aku nggak bisa ajak kamu"
"Iya, Mas. Baik-baik di sana, ya" Aku dan anak kamu menunggu kepulangan kamu" Sahut Paloma sambil mengecup bibir Leonard.
Leonard masuk ke dalam mobil dan menelepon Boy, "Aku ke Belanda selama seminggu. Jaga Ana baik-baik! Jangan biarkan dia pergi keluar rumah tanpa kamu!"
"Baik, Tuan" Sahut Boy.
"Ada apa Pak Boy?" Tanya Novi.
"Tuan Leonard pergi ke Belanda selama seminggu. Kita sementara aman. Kita akan bilang kalau Non Ana kabur setelah beliau pulang ke rumah" Sahut Boy.
"Lalu, si nenek sihir Paloma, gimana?" Tanya Novi.
"Nyonya nggak pernah peduli sama Non Ana. Jadi, dia juga nggak akan nanya-nanya di mana Non Ana. Mereka juga nggak pernah ajak Non Ana makan bareng di meja makan" Sahut Pak Boy.
__ADS_1
"Aman kalau gitu" Sahut Novi.
Arga menoleh sekilas ke Joana, "Kalau lapar bilang! Kamu nggak sendirian lagi saat ini. Ada anak kita di perut kamu"
"Hmm" Joana menoleh ke Arga dengan senyum bahagia.
"Perjalanan kita sangat jauh. Kita harus menginap di hotel semalam sebelum melanjutkan perjalanan" Sahut Arga.
"Berapa lagi kita sampai di hotel?"
"Satu jam lagi. Tidurlah kalau kamu capek!" Sahut Arga.
"Iya" Sahut Joana.
"Kenapa kamu mau ikut denganku? Kamu belum begitu mengenalku. Kamu percaya sama aku?" Tanya Arga.
"Aku percaya sama kamu. Kamu orang baik. Anak kita juga berbisik ke aku kalau Papanya orang baik" Sahut Joana.
Arga menoleh sekilas ke Joana dengan senyum senang, "Benarkah anak kita berbisik seperti itu?"
"Iya" Sahut Joana dengan wajah semringah.
"Boleh aku sentuh perut kamu?" Tanya Arga.
Joana langsung menarik tangan kiri Arga dan ia letakkan tangan itu di atas perutnya, "Kalau pengen sentuh, sentuh aja. Ini anak kamu"
Arga menoleh sekilas dan dengan tangan kanan tetap mengendalikan kemudian, ia usapkan tangan kirinya di perut Joana yang masih rata sambil berkata, "Nak, Papa akan nikahi Mama kamu dan Papa akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Supaya Papa, bisa mendidik kamu menjadi anak yang baik dan berhati emas.Kita akan hidup sederhana nanti. Apa kamu keberatan?"
"Tidak Papa. Mama juga nggak keberatan harus hidup sederhana. Asalkan kita kumpul bersama, aku dan Mama akan bahagia" Sahut Joana dengan suara menirukan suara anak kecil.
Arga lalu menggenggam tangan Joana dan mencium tangan itu, lalu ia letakkan tangan itu di atas pahanya dan ia genggam terus sambil berkata, "Terima kasih sudah memercayaiku"
Joana menoleh ke Arga, "Terima kasih sudah bersedia menjaga dan melindungi aku dan anak kita"
"Aku mencintaimu"
"Aku juga" Sahut Joana.
__ADS_1
Paloma pergi ke bar Hewitt. Dia berencana membujuk Arga untuk mau pergi bersamanya ke Jepang. Tinggal menetap di sana selama seminggu. Dia ingin hamil, tapi bersama dengan Arga. Dia ingin punya anak dari Arga bukan dari Leonard. Namun, Paloma harus menggigit jari saat Leo yang menemuinya bukannya Arga. Leo berkata ketus, "Arga sudah meninggalkan kota ini. Aku nggak tahu dia di mana. Jadi, berhentilah mengganggu hidupnya. Dia sudah bahagia. Pergi untuk selama-lamanya dari kehidupannya Arga! Pergi!!!!!"