Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Kecewa


__ADS_3

Tanpa Joana sadari, semua mata tertuju padanya. Terdengar beberapa orang bertepuk tangan dengan sopan, di antara gelas-gelas cocktail yang saling beradu dan terdengar bisik-bisik percakapan.


Semua hadirin menyambut dengan antusias saat Mario membawa Joana ke tengah lantai dansa.


separo hadirin yang ikut melantai di lantai dansa mengawasi Mario dan separo yang lain mengawasi Joana.


Ketika musik riang diganti dengan musik pelan, slow dance dimulai. Mario menarik Joana lebih dekat, kedua lengan kekarnya memeluk erat pinggang Joana. Tidak ada yang bisa Joana lakukan selain meletakkan lengannya di atas bahu Mario.


"Rosa sedang memperhatikan kita"


"Siapa yang peduli?"


"Hei! Dia tunangan kamu. Kenapa kamu bilang begitu?"


"Karena kewajiban seorang pria sejati adalah hanya peduli dengan pasangan dansanya ketika ia berada di lantai dansa" Ucap Mario tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik pasangan dansanya.


"Kau memelukku terlalu erat! Rosa mulai kesal"


"Aku nggak peduli. Lagian ini slow dance, jadi wajar kalau aku memeluk kamu begini"


Joana bisa merasakan napas Mario mengenai rambutnya. Dia bisa merasakan juga detak jantungnya Mario.


Sontak Joana menengadah dengan semua indra yang terbangun dan merasakan dahaga untuk menikmati semua hal menawan yang ada di diri Mario.


Joana sadar kalau tatapannya menggoda saat ia menengadah memandang Mario. Namun, itu tidak untuk menggoda Mario. Tatapan menggodanya muncul akibat dari refleksi jiwanya yang terpikat akan pesonanya Mario Alexei. Joana kemudian bertanya dengan suara yang sedikit serak, "Kau menyukai dansa dengan irama cepat seperti di awal tadi, atau slow dance?"


"Pertanyaan bodoh, Ana" Mario sudah tidak dapat bergerak lagi karena seluruh tubuh mereka sudah menempel sangat erat. Namun, pertanyaan bodohnya Joana menimbulkan desiran aneh di hatinya dan membuatnya menekan lebih dekat ke Joana. Lalu, Mario berucap, "Aku suka slow dance. Agar aku bisa memelukmu erat seperti ini dan melihat perubahan apa saja yang ada pada dirimu"


"Apa kau masih ingat dengan aku yang dulu sehingga kau bisa melihat perubahan yang ada pada diriku"


"Aku ingat semuanya" Sahut Mario dengan suara dalam dan serak.


"Aku rasa aku tidak ada perubahan" Joana menunduk untuk melihat dirinya sendiri lalu menengadah kembali.


Mario menatap lekat kedua bola mata hitamnya Joana lalu berkata, "Ada perubahan di beberapa tempat"


"Di mana saja?" Joana bertanya dengan acuh tak acuh. Dia yang masih gadis yang lugu tidak menyadari kalau pertanyannya itu bisa memicu gejolak yang besar pada diri seorang pria.


Mario menggertakkan gerahamnya untuk menahan gairahnya, lalu ia menunduk ke dada Joana dan berkata, "Di sana. Dada kamu lebih berisi dan seksi. Lalu, pinggang kamu" Mario mengelus pelan pinggang Joana dengan ibu jarinya sambil berkata, "Dan pinggang kamu memiliki lekuk yang sempurna, pantat kamu juga penuh menggoda"

__ADS_1


Joana langsung menyembunyikan rona merah wajahnya di dada Mario.


Mario badannya terguncang geli dan bertanya sambil mengusap rambutnya Joana, "Kau malu?"


Joana diam membisu. Dan saat ia tersadar bahwa pria yang mengajaknya berdansa adalah pria yang berbahaya dan banyak menyimpan kebohongan, Joana langsung mendorong tubuh Mario.


Mario seketika mematung.


Joana langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan bergumam, "Di mana Mas Darren? Kenapa dia dari tadi tidak nampak?"


"Ini" Mario menyodorkan kunci kamar hotel.


"Apa ini?" Joana menautkan kedua alisnya.


"Suami kamu memesan kamar ini. Aku rasa kamu berhak menerima kunci cadangannya, karena kamu adalah istrinya"


"Kenapa kamu punya kunci ini dan bisa tahu kalau Mas Darren memesan kamar ini?"


"Aku pemilik hotel ini. Tentu saja aku tahu semuanya. Sebagai tanda terima kasihku, karena kamu udah mau berdansa denganku, aku kasih kunci kamar hotel yang dipesan oleh suami kamu. Kalau kamu lelah, kamu bisa beristirahat di kamar ini sambil menunggu suami kamu kalau suami kamu belum masuk ke kamar ini. Terimalah!"


Joana mengambil kunci itu dan berkata, "Terima kasih"


Mario menatap punggung Joana yang pergi menjauhinya dengan senyum penuh arti.


Kamar itu redup karena Darren memang memesan agar kamarnya dibuat pencahayaannya redup.


Darren yang duduk di tepi ranjang langsung bangkit dan memeluk Joana dari arah belakang. Joana yang hendak menutup pintu kamar tersentak kaget.


Saat ia berbalik badan, dia tersenyum semringah melihat wajah suaminya.


Darren yang mabuk dan berada di bawah pencahayaan yang redup, langsung mencium bibir Joana dengan penuh damba dan liar. Joana yang sudah lama tidak merasakan sentuhan suaminya, terpancing untuk membalas ciuman suaminya.


Namun, Joana tersentak kaget saat suaminya bergumam, "Devi, kau cantik pakai gaun dan kalung pemberianku. Terima kasih udah mau memakai semua barang pemberianku dan datang menemuiku di sini"


Joana langsung mendorong tubuh suaminya bertepatan dengan munculnya seorang perempuan yang memakai baju, sepatu dan kalung yang sama persis dengan yang dia pakai. Joana seolah bercermin.


Joana dan perempuan itu saling tunjuk dengan teriakan, "Siapa kamu?"


Darren yang berdiri sempoyongan langsung berkata, "Aku mabuk berat sekarang, ini, ya? Kenapa Devi bisa ada dua?"

__ADS_1


Joana langsung mendorong perempuan itu dan berteriak, "Kau mau apa masuk ke kamar suamiku?"


"Su......suami? Tapi, Mas Darren bilang kalau dia sudah bercerai"


"Dan kenapa kau bisa pakai baju dan kalung yang sama persis dengan yang aku pakai?"


"Lho, kalau itu aku nggak tahu. Tanya aja sama Mas Darren. Mas Darren yang membelikan semua ini untukku dan Mas Darren yang mengundangku ke sini"


"Pergi! Keluar! Dasar wanita menjijikkan dan jangan pernah temui suamiku lagi!!!!"


Wanita muda itu langsung mengumpat kesal dan berbalik badan pergi meninggalkan Joana dan Darren.


Teriakan Joana membuat Darren terjaga dari kondisi mabuknya dan dia langsung mendelik ke Joana, "Kenapa kau ada di sini, hah?! Kenapa kau pakai baju dan kalung ini? Ini aku belikan untuk Devi! Lepas semuanya!!!!!"


Joana langsung melangkah mundur dan sambil menangis dia berkata, "Kenapa kamu tega selingkuh, Mas?"


"Karena, kamu palsu. Kamu penuh kebohongan dan aku muak sama kamu! Lepas baju dan kalung itu! Cepat! Baju dan kalung itu nggak pantas kamu pakai! Aku beli baju dan kalung itu untuk Devi!"" Saat Darren mengangkat tangannya untuk merenggut dressnya Joana, Mario menarik tangan Darren sambil berkata, "Jangan main kasar terhadap Istri Anda, Tuan Darren Benn!"


"Siapa kamu?!" Darren menarik tangannya lalu berbalik badan untuk melihat Seperti apa wajah orang uang sudah berani menyentuh tangannya.


Mario menatap Darren Benn dengan penuh kebencian.


"Kau siapa?!" Darren melotot.


"Aku pemilik hotel ini. Aku dengar pintu kamar ini terbuka dan ada seorang gadis berlari keluar dari dalam kamar ini lalu ada suara wanita berteriak dari dalam kamar ini. Maka aku ke sini untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi"


"Minggir! Aku akan susul Devi. Kau bilang dia berlari keluar, kan?" Dengan santainya, Darren berlari keluar dari dalam kamar dan mengabaikan Joana yang menangis terisak di pojokan.


Mario menghela napas panjang dan dengan pelan ia mendekati Joana sambil berkata, "Kau tidak perlu mengeluarkan air mata untuk pria seperti Darren Benn!"


Joana menengadah dan menatap tajam Mario. Kemudian ia berkata dibalik isak tangisnya, "Kau juga sama seperti Mas Darren. Kau sengaja kasih baju dan kalung ini ke aku untuk menjebak Mas Darren, kan? Membuatku melihat semuanya, hiks, hiks, hiks"


"Hei! Aku sudah menolong kamu melihat siapa sebenarnya suami kamu. Tapi, kenapa kau malah........"


"Menolong apa? Dasar brengsek!!!!! Kau hanya ingin memperparah rumah tanggaku dengan mas Darren, kan? Kau hanya ingin membuatku sakit hati! Kenapa semua pria di sekelilingku tidak ada yang mencintaiku? Kenapa semua pria yang aku kenal, jahat semuanya padaku. Sebenarnya apa salahku? Apa salahku, hah?!" Joana memukul dada bidangnya Mario dengan jerit tangis dan Mario membiarkannya.


Lalu, Joana mendorong Mario dan pergi meninggalkan Mario.


Mario menghela napas panjang dan bergumam, "Aku ingin kamu merasakan kecewa dan sakit hati seperti yang pernah aku rasakan dulu. Tapi, kenapa saat aku melihat kamu menangis dan kecewa, hatiku terasa seperti diiris sembilu?"

__ADS_1


Mario lalu turun ke bawah dan di sana, dia tidak menemukan Joana. Saat Mario ingin melangkah keluar, Aika yang berdiri di podium meminta Mario naik ke podium.


Mario menepuk pundak Rendy, "Tolong cari Joana dan jaga dia dari bahaya apapun!" Lalu, Mario melangkah menuju ke podium.


__ADS_2