Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Lama-lama Bisa Gila


__ADS_3

Novi menyadari kalau ia terus diawasi oleh Darren dan Leonard. Oleh sebab itu, Novi tidak berani pergi ke bar untuk menemui Joana.


Polisi mulai bergerak terus untuk mencari keberadaannya putri tunggal konglomerat terkenal, Leonard Alexander.


Joana sontak memejamkan kedua kelopak matanya saat ia melihat bagian bawah.


Arga ikutan melihat ke bagian bawah dan ia segera berbalik badan untuk menghidupkan keran dan mengguyur kepalanya yang masih penuh dengan busa shampoo sekaligus untuk melindungi pusakanya saat ia menyadari dirinya telanjang bulat di depan seorang gadis yang masih berumur belasan tahun.Rona merah terpampang nyata di wajah tampannya Arga di saat ia terus mengarahkan kepalanya di bawah guyuran air dingin yang mengucur deras dari shower sederhana yang ada di kamar mandi itu.


Sementara itu, Joana yang masih memejamkan kedua kelopak matanya bersandar pelan ke tembok kamar mandi untuk meredakan degup jantungnya. Joana tanpa sadar bergumam, "Ternyata bentuknya seperti itu dan ternyata kecil"


Arga mendengar gumamannya Joana dan spontan ia meraih handuk besar untuk ia pakai menutupi bagian pinggul ke bawah, lalu ia berbalik badan untuk melihat Joana sambil bertanya, "Apanya yang kecil?"


Joana terkejut dan sontak membuka kedua kelopak matanya. Joana merona malu saat ia melihat enam kotak otot seksi yang ada di tubuh Arga. Gadis tujuh belas tahun itu, langsung mendorong tubuhnya Arga dan gerakannya itu justru membuatnya terpeleset. Ia refleks memegang ujung handuk di pinggul Arga dan menariknya.


Arga dengan sigap melindungi kepalanya Joana dari benturan lantai kamar mandi dan mereka berdua terjatuh di atas lantai kamar.mandi dengan posisi Arga di atas tubuhnya Joana dan handuk Arga terlepas dari pinggulnya.


Joana merasakan sesuatu yang aneh di atas tubuhnya, lalu ia mendorong tubuh Arga Samapi terguling ke samping dan segera bangkit berdiri dan sambil berteriak, "Kyaaaaaa!!!!!" Ia melemparkan handuk mandi yang dia pegang ke arah belakang.


Handuk itu terbang dan jatuh tepat di atas wajahnya Arga. Arga yang masih terlentang di atas lantai kamar mandi mengerang frustasi, "Aaaarrrggghhhhh!!!!!! Lama-lama bisa gila aku"


Joana terus berteriak di saat ia berlari masuk ke dalam kamar. Dia kemudian menutup rapat pintunya dan bersandar di pintu dan dengan napas terengah-engah ia berucap, "Hah, hah, hah, kenapa panas sekali, nih?" Joana mengipasi dirinya sendiri dengan telapak tangan kanannya dan kembali berucap, "Ah! Kenapa panas sekali rasanya"


Arga segera bangun dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Lalu, ia bergegas memakai semua bajunya dan melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Ia langsung menuju ke kamar. Arga mengetuk pintu kamarnya sambil berteriak, "Kita butuh bicara"


"Nggak mau! Aku masih belum bisa bertatap muka denganmu" Joana berteriak kencang dari dalam kamar.


"Joana, keluar!" Arga mulai menggeram kesal. saat tidak ada sahutan dari Joana.

__ADS_1


Pria tampan berumur dua puluh delapan tahu. itu kemudian menghela napas panjang dan kembali mengetuk pintu kamarnya sambil berkata dengan nada lembut, "Kalau kau tidak mau keluar, aku akan bawa kamu ke halte bus sekarang juga dan menyuruhmu pulang"


Ceklek! Pintu langsung terbuka dan Joana keluar dari dalam kamar dengan wajah tertunduk.


"Kenapa kau masuk ke dalam kamar mandi?"


"Lampu mati dan aku takut gelap. Biasanya kalau di rumah, aku langsung masuk ke kamar kalau lampu mati. Aku nggak tahu tadi. A...aku........ternyata masuk ke kamar.mandi" sahut Joana dengan terus tertunduk.


Arga ungu berakhir dingin, namun sesungguhnya memliki hati yang hangat, merasa kasihan melihat Joana terus tertunduk di depannya. Arga kemudian berucap, "Lupakan saja! Jangan kamu ingat-ingat apa yang kamu lihat di kamar mandi tadi dan jangan kamu ulangi lagi!"


Joana yang masih tertunduk langsung menganggukkan kepalanya.


Arga lalu berbalik badan meninggalkan Joana.


Joana menghela nas lega sembari mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah mana Arga pergi. Saat ia melihat Arga turun ke bawah, Joana langsung berbalik badan untuk masuk ke dalam kamar kembali untuk mandi dan memakai seragamnya.


Joana mendekati Arga dan bertanya, "Kenapa pintunya belum dibuka? Dan Mona belum datang? Leo juga nggak nampak"


"Aku libur tiap hari Senin" Sahut Arga tanpa menoleh ke Joana. Arga tengah asyik meracik menu baru minumannya.


"Yaaahhhh! Kok baru bilang, sih?!" Joana langsung mengerucutkan bibirnya.


Arga diam saja. Pria tampan berbola mata hijau itu lebih memilih tetap asyik meracik minuman dan ia mengabaikan Joana.


Arga menaruh sloki kecil berisi cairan di meja bar.


Joana melihat sloki itu lalu menoleh ke Arga untuk bertanya, "Ini boleh diminum?*

__ADS_1


Arga menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke Joana dan tanpa mengatakan kalau minuman yang ia coba racik untuk menemukan menu baru adalah minuman yang mengandung alkohol.


Tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Arga, Joana menenggak sloki itu dan menaruh kembali sloki itu di atas meja bar. Ia mengernyit dan berkata di dalam hatinya sambil manggut-manggut, minumannya enak. Ada pahitnya sedikit, tapi rasa asam dari lemon, menyegarkan minuman ini.


Joana hanya berani berkata di dalam hatinya, karena ia tidak ingin mengganggu Arga. Gadis berparas cantik yang masih lugu dan polos itu, menoleh ke Arga dalam kebisuannya.


"Aku penasaran akan satu hal" Arga tiba-tiba membuka suaranya.


Joana mengerjap girang karena akhirnya dia mendengar suaranya Arga. Gadis cantik berambut indah itu langsung bertanya, "Penasaran akan apa? Katakan saja!"


"Kamu nggak Sekolah? Kamu tinggal di sini sampai kapan?" Tanya Arga sembari menuangkan minuman hasil racikannya yang kedua ke dalam sloki kecil dengan hati-hati.


"Aku mau di sini sampai hutangku ke kamu lunas. Kalau soal sekolah, jangan khawatir! Aku ikut program homeschooling. Hanya tiga bulan sekali hadir di kelas umum. Aku peringkat satu dan nilaiku semuanya sempurna,.seratus bulat. Jadi, aku rasa kalau aku tidak sekolah beberapa bulan saja, tidak akan ada masalah. Aku bisa dengan cepat mengejar ketinggalan"


Arga menaruh sloki kecil yang berisi racikan keduanya di atas meja bar. Arga kembali memunggungi Joana untuk mencoba lagi racikan yang baru.


Tanpa sepengetahuannya Arga, Joana meminum sloki kedua itu dan kembali memberikan penilaian di dalam hatinya, yang kedua ini lebih enak manis anggur dan asam lemonnya sangat kuat terasa. Aku suka racikan yang kedua.


Joana tiba-tiba merasa pusing dan saat ia menoleh ke Arga, dia terkejut geli dan spontan berteriak, "Hei! Kenapa kau bisa ada tiga? Satu aja sudah menakutkan, kenapa ini malah ada tiga?"


Arga terkejut dan sontak berbalik badan untuk melihat Joana.


Arga menoleh ke meja bar dan mengumpat, "Sial! Apa kau meminum semuanya?"


Joana berdiri sempoyongan dan setelah menganggukkan kepalanya, Joana ambruk ke arah depan dan Arga dengan sigap menangkap tubuhnya Joana.


Arga segera membopong Joana naik. Dan saat ia merebahkan Joana di atas kasur, Joana menarik kerah kaosnya Arga dan sembari menari-naik keras kaos itu sampai membuat kepala Arga bergoyang-goyang, Joana berucap, "Panas sekali! Lepaskan bajuku! Panas sekali!"

__ADS_1


Arga refleks memejamkan kedua kelopak matanya, menengadahkan kepalanya ke atas dan menghela napas panjang.


__ADS_2