Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Khawatir


__ADS_3

Joana beneran jatuh pingsan dan saay Mario hendak berlari menangkap Joana, Boy yang berdiri di dekat pintu masuk ruang jenazah, lebih cepat menangkap Joana.


Joana langsung dibawa ke IGD dan Mario berlari mengikuti laju larinya Joana. Di saat Mario hendak masuk ke bilik tempat Joana direbahkan, telepon genggamnya berbunyi sangat nyaring dan dengan sangat terpaksa, ia berlari keluar dari ruang IGD untuk menerima panggilan telepon itu.


"Ada apa Aika?"


"Aku menyetujui tawaran kamu. Sekarang datanglah ke kantorku!" Klik! Tanpa berpanjang kata, Aika mematikan teleponnya.


Mario menoleh ke IGD dan bergumam, "Aku tinggal kamu bentar, ya, yang kuat, ya, Ana" Lalu, Mario berlari ke parkiran.


Setelah mengidentifikasi menantunya, Leonard keluar dari kamar jenazah untuk menemui pihak kepolisian.


"Kami akan segera menangkap pelakunya. Kami sudah olah TKP dan teman kami menemukan ceceran darah yang berbeda dengan darah almarhum. Kami rasa, itu darah si pelaku. Kami sedang menyelidikinya saat ini dan kami akan segera mengabari Anda hasilnya" Ucap petugas kepolisan dengan nametag Teguh.


"Terima kasih" Sahut Leonard singkat. Lalu, Leonard menoleh ke asisten pribadinya untuk bertanya, "Kenapa Ana belum datang?"


"Non Ana jatuh pingsan. Boy membawa Non Ana ke IGD"


Leonard langsung berlari ke IGD dan baru pertama kalinya itu, Leonard merasa khawatir dengan keadaannya Joana.


Beberapa jam berikutnya, Mario duduk di depan meja kerjanya Aika.


Aika tersenyum penuh arti saat ia mengenalkan seorang pemuda tampan yang berwajah hampir mirip dengan Mario cuma bola mata pemuda itu hitam pekat, "Dia pengganti kamu dan dia lebih hebat dari kamu"


"Dasar gila! Cepat katakan apa mau kamu! Aku nggak punya waktu untuk meladeni kegilaan kamu"


Aika tertawa lepas dan beberapa detik kemudian, ia menoleh ke pemuda tampan yang berdiri di sampingnya, "Keluarlah! Aku akan telepon kamu nanti"


Pemuda itu mencium kening Aika lalu melangkah pergi meninggalkan Aika.


"Dia romantis juga, kan?"


"Cih! Nggak penting untukku" Mario mendelik ke Aika.


"Ini. Berkas ini, bacalah lalu tandatangani!" Aika mendorong berkas di atas meja sampai berkas itu berhenti di depan Mario persis.


Mario mengambil berkas itu, lalu membacanya dengan teliti tanpa melewatkan poin sekecil apapun.


Setelah selesai membacanya, Mario menandatangani berkas itu di atas meterai. Lalu, ia mengangkat wajahnya untuk memastikan, "Jadi, aku harus mulai masuk ke rumah sakit untuk diobservasi, Minggu depan?"


"Iya" Aika berkata sembari memasukkan berkas itu ke dalam laci.


"Oke" Sahut Mario dan tanpa banyak bicara lagi, ia bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Aika.

__ADS_1


Aika menatap punggung Mario sampai lenyap dari hadapannya, lalu ia bergumam, "Kau akan menginap di rumah sakit cukup lama. Mulai dari observasi, operasi dan masa pemulihan. Dan selama itu, Ana tersayang kamu nggak ada yang menjaga. Aku akan bermain-main sebentar dengan Ana kamu, hehehehe. Sepertinya akan mengasyikan bagiku"


Mario kembali ke rumah sakit dan dia bertemu dengan Boy di parkiran, "Pak Boy! Tunggu!"


Boy menahan pintu mobil dan menoleh ke Mario.


Mario menghentikan laju larinya persis di depannya Boy, lalu ia bertanya, "Ana? Bagaimana kondisi Ana sekarang ini?"


"Ka.....kamu masih hidup? Apa Non Ana tahu kalau kamu masih hidup?"


"Tahu" Mario tersenyum canggung ke Boy. Lalu ia kembali berucap, "Ana bekerja dengan saya sekarang ini, Pak, dan ........"


"Jangan sakiti Non Ana! Non Ana tidak bersalah dan Non Ana tidak mengerti apa-apa" Sahut Boy.


Mario menghela napas panjang dan hanya bisa berucap, "Saya kecewa berat sama Ana"


"Tapi, jangan sakiti Non Ana"


"Saya nggak akan menyakitinya" Mario sendiri kaget dengan dirinya sendiri saat ia mengucapkan kata-kata itu.


"Pak Boy lihat di mata kamu, masih ada rasa cinta yang sangat besar untuk Non Ana. Bapak yakin kalau kamu nggak akan pernah tega menyakiti Non Ana. Non Ana ada di kamar VVIP nomer lima belas. Tapi, jangan datang sekarang. Ada Tuan Leonard dan semua pengawal pribadinya"


"Ana baik-baik saja, kan?"


"Iya. Secara fisik nggak ada luka. Tapi batinnya terluka parah. Dulu dia shock melihat kematian kamu, suami pertamanya. Sekarang dia harus mengalami shock lagi, ditinggal mati suami keduanya"


Boy lalu pamit dan masuk ke dalam mobil. Mario mundur ke belakang untuk memberikan ruang bagi Boy, melajukan mobil.


Mario menunggu di dalam mobil dengan sangat sabar dan setelah menunggu selama satu jam lebih, akhirnya dia melihat rombongannya Leonard Alexander meninggalkan halaman parkir rumah sakit Hati Suci.


Beberapa menit kemudian, Mario berlari masuk ke dalam rumah sakit dan langsung masuk lift menuju ke ruang VVIP.


Di depan kamar VVIP nomer lima belas, Mario menghentikan langkahnya.


Seorang petugas medis berseragam putih menghampiri Mario untuk berkata, "Anda siapanya pasien?"


Mario tersnrtka kaget dan langsung menoleh, lalu berkata, "Emm, saya suaminya"


"Masuk saja nggak papa"


"Tapi, saya lihat dari kaca ini, Istri saya lagi tidur. Saya tidak ingin menganggu tidurnya"


"Wah! Anda bukan hanya tampan, tapi juga suami teladan ternyata. Saya iri sama pasien, hehehehe. Masuk saja, Pak, nggak papa"

__ADS_1


Novi menghentikan langkah Rendy, "Aku boleh minta nomer ponsel kamu?"


Rendy langsung menautkan kedua alisnya, "Kenapa minta nomer ponselku? Untuk apa?"


"Kita, kan, teman lama. Kita juga telah berdansa kemarin"


"Aku nggak merasa kalau kita ini teman lama. Kapan kita berteman?"


"Hei! Kamu dulu datang ke pernikahannya Arga dan Ana, kan? Kita berkenalan di sana"


"Aku lupa kalau kita berkenalan saat itu. Aku bahkan lupa kalau saat itu ada makhluk macam kamu saat itu"


"Apa Bos kamu nggak pengen tahu soal Ana? Kalau Ana kenapa-kenapa, kan hanya aku yang akan Ana cari"


"Sial! Kenapa kamu itu nggak hanya ceriwis tapi juga pandai memanfaatkan situasi. Kasih dulu nomer ponsel kamu, aku akan missed call kamu setelahnya"


"Kasih dulu nomer kamu. Aku nggak mau kamu bodohi"


"Sial! Dasar makhluk menyebalkan. Nih" Rendy menunjukkan layar telepon genggamnya ke Novi dengan wajah kesal


Novi memasukkan nomer telepon genggamnya Rendy ke dalam telepon genggamnya dengan wajah semringah. Lalu, ia menelepon nomer itu dan senyumnya semakin melebar saat Rendy berkata, "Aku udah simpan nomer kamu"


Novi lalu melangkah ke parkiran dan Rendy langsung bertanya, "Kamu mau ke mana?"


"Ana masuk rumah sakit. Aku udah ijin HRD dan dibolehkan ijin sehari. Aku akan menjaga Ana dan........"


"Aku ikut" Sahut Rendy.


"Wah, dengan senang hati, dong. Kamu boleh ikut dan aku akan menjaga kamu dengan sangat baik"


"Dasar makhluk aneh" Rendy berjalan mendahului Novi dengan mendengus kesal.


Mario merapikan rambut Joana dan membetulkan letak selimutnya Joana. Lalu ia duduk di tepi ranjang dan terus memandangi wajah Joana.


Mario beberapa kali menghela napas panjang untuk menghalau perasaan campur aduk yang ada di dalam hatinya.


Saat Joana membuka kedua bola mata lentiknya, ia langsung bertanya, "Kenapa kau ada di sini?"


"Aku ikut berduka cita atas meninggalnya Darren Benn dan aku mengkhawatirkan keadaan kamu"


"Terima kasih"


"Aku juga ingin pamit sama kamu. Minggu depan dan entah sampai berapa lama, aku akan pergi ke luar kota"

__ADS_1


Joana tersenyum geli dan berkata, "Untuk apa kamu pamit ke aku?"


"Karena kita ini masih suami istri" Sahut Mario dengan santainya dan Joana seketika mematung.


__ADS_2