Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Kerinduan


__ADS_3

Joana benar-benar merasa seperti seorang Putri, saat Akihiro memujanya dengan penuh kesopanan. Akihiro sangat berhati-hati memperlakukan Joana. Akihiro juga sangat menghormati Joana. Bahkan hanya untuk sekadar mencium keningnya Joana, Akihiro meminta ijin terlebih dahulu.


Dia sangat berbeda dengan Mario. Batin Joana.


Akihiro langsung mengantarkan Joana ke kamar yang khusus ia persiapkan untuk Joana setelah ia sampai di vila pribadinya. Sebelum meninggalkan Joana sendirian di kamar, Akihiro berkata, "Pesta dimulai jam delapan malam. Aku akan mengecek segala sesuatunya dulu"


Joana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Joana langsung berbalik badan saat ia mendengar suara jendela dibuka dan dia sontak mendelik lalu berteriak, "Kau! Kenapa kau bisa masuk ke sini? Penjagaan di sekitar vila, kan, sangat ketat"


Mario melompat masuk dan langsung berlari untuk mencekal tangan Joana sambil berkata, "Kau harus cepat pergi dari sini!"


Joana langsung menarik tangannya dari genggaman Mario dan sambil mendelik ia berkata, "Untuk apa aku pergi dari sini dan itu sama kamu? Yang benar, aja"


"Akihiro bukan orang yang baik seperti yang terlihat di depan"


"Aku nggak percaya sama kamu!" Joana mendelik ke Mario.


Mario langsung merogoh saku kemejanya lalu memperlihatkan sebuah rekaman yang ada di telepon genggamnya. "Lihatlah sendiri kalau kamu nggak percaya!"


Joana langsung menutup mulutnya yang ternganga dan sambil mengembalikan telepon genggamnya Mario ia menganggukkan kepalanya.


"Kenapa mengangguk-angguk?" Mario bertanya sembari memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku kemejanya.


Joana menarik tangannya dari mulutnya untuk bisa berkata, "Bawa aku pergi dari sini"


Tanpa berpikir panjang Mario langsung membawa Joana keluar dari dalam kamar vila pribadinya Akihiro.


Joana naik ke speedboatnya Mario dan tiba-tiba berkata, "Koperku masih di dalam kamar"


"Kamu bawa tas selempang kamu, kan?"


"Nih. Untung saja tasnya masih nempel di badanku"

__ADS_1


"Koper kamu isinya apa?"


"Cuma baju, sih. Tapi, kalau aku nggak punya baju, gimana aku ganti baju nanti? Aku belum sempat mandi, kan?"


"Aku akan ajak kamu beli baju setelah ini. Pegangan yang kuat, aku akan ngebut!"


Joana memeluk erat pinggangnya Mario dan menempelkan pipi kanannya di punggungnya Mario.


Tanpa sepengetahuannya Joana, Mario tersenyum senang bisa merasakan kembali hangatnya pelukan Joana.


Sesampainya di bibir pantai, Mario langsung mengajak Joana naik ke helikopter dan mereka terbang meninggalkan pulau pribadinya Akihiro.


"Sejak kapan Akihiro memakai pulau pribadinya untuk pesta miras, narkoba dan pesta permainan berganti-ganti pasangan?"


"Sudah sejak ia remaja. Dia akan anaknya Aika. Pewaris tunggal konglomerat hebat. Jadi, wajar kalau dia suka berpesta yang aneh-aneh sampai akhirnya ginjal dia rusak parah"


"Oh. Lalu, dia koma"


"Hmm" Sahut Joana.


"Jangan khawatir, aku sudah panggil polisi yang benar-benar aku percaya. Vila Akihiro akan digerebek malam ini juga dan pastinya, Akihiro akan menginap di hotel Prodeo besok" Sahut Mario.


"Kenapa kamu menolongku?"


Mario seketika mematung. Dia tidak ingin Joana tahu perasaan dia yang sebenarnya karena belum waktunya bagi Joana untuk mengetahuinya.


Joana lalu bersedekap dan menjawab sendiri pertanyannya, "Pasti hanya karena rasa perikemanusiaan, kan?"


"Hmm" Sahut Mario.


Mario membawa Joana ke sebuah hotel dan berkata ke Joana, kunci pintunya dan jangan buka pintu saat kamu mendengar pintu diketuk. Aku bawa kunci cadangan kamar ini, jadi kalau aku datang, aku akan langsung buka kamar ini tanpa mengetuknya. Ini semua demi keamanan kamu. Kita di tempat asing dan kita tidak boleh percaya sama siapapun di sini"


"Baiklah. Lalu, kamu mau ke mana?"

__ADS_1


"Aku akan menemui seseorang yang bisa mempertemukan aku dengan Ayah kandungku"


"Ayah kandungmu masih hidup?"


"Hmm"


"Apa aku boleh ikut? Aku juga ingin berkenalan dengan beliau"


"Terlalu berbahaya. Jangan ikut! Kalau Ayahku bisa bertemu denganku hari ini, aku akan ajak Ayahku ke sini dan kamu bisa berkenalan dengan Ayahku di sini"


"Baiklah. Hati-hati" Tanpa Joana sadari ia memeluk Mario.


Mario tersentak kaget dan dengan cepat ia membalas pelukannya Joana sambil berkata, "Terima kasih"


Beberapa jam berikutnya, Mario bertemu dengan seorang pria paruh baya yang terlihat sangat asing baginya.


Pria itu menyerahkan satu kotak yang tidak begitu besar dan tidak begitu kecil. Kotak itu berukuran sedang.


"Kotak apa ini? Kenapa kita nggak segera berangkat untuk menemui Ayah saya?" Mario menautkan kedua alisnya.


"Sebelum kita ke tempat Ayah kamu, buka dulu kotak itu"


Mario membuka kotak itu dan ia menemukan sebuah tape recorder dan sebuah flashdisk dan sebuah kamera mahal jaman dulu. Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan tape recorder untuk menyetelnya.


Suara ayahnya langsung terdengar, "Putraku, maaf kalau nanti kita tidak bisa bertemu lagi. Ayah memiliki program komputer yang diinginkan oleh banyak pengusaha di seluruh dunia. Namun, Ayah memutuskan untuk bekerja sama dengan Grup Alexander. Tapi, sebelum Ayah menandatangani kontrak kerja sama dengan pemilik Grup Alexander, Ayah menyadari ada yang salah dan Ayah menemukan fakta kalau pemilik Grup Alexander akan mengkhianati dan membunuh Ayah setelah Ayah menyerahkan programnya Ayah. Mereka akan menggunakan program ciptaan Ayah untuk kejahatan. Jadi, Ayah melarikan diri dan membawa kabur program milik Ayah sebelum Ayah menandatangani kontrak kerja sama dengan Grup Alexander. Mereka marah besar dan mereka memancing Ayah keluar dengan cara menculik kamu dan Mama kamu. Mama kamu tidak bisa selamat dan Ayah sangat menyesalinya. Namun, Ayah bernapas lega, kamu masih hidup. Saat kamu mendengarkan tape recorder ini, berarti Ayah sudah meninggal. Maafkan Ayah tidak bisa bertemu denganmu. Maafkan Ayah telah menjadi Ayah pengecut yang selalu bersembunyi. Ayah mencintaimu. Pakai semua yang ada di dalam kota yang diserahkan oleh teman Ayah ke kamu untuk menjebloskan Leonard Alexander ke penjara"


Mario menatap pria paruh baya di depannya dengan genangan air mata di kedua pelupuk mata.


Pria itu mengangguk pelan dan berkata, "Ayah kamu kena tembak. Anak buahnya Leonard menemukan tempat persembunyian Ayah kamu dan membunuhnya saat mereka tidak menemukan barang-barang yang mereka cari"


Mario mengusap air mata yang menetes di kedua pipinya, laki berkata, "Antarkan saya ke makam Ayah saya, bisa?"


"Bisa. Tapi, lebih baik kamu simpan dulu kotak ini ke tempat yang sangat aman"

__ADS_1


"Baiklah. Kita pergi dulu untuk menyimpan kotak ini ke tempat yang sangat aman barulah kita ke makam Ayah saya"


Beberapa jam berikutnya, Mario bersimpuh di depan pusara yang bertuliskan nama ayahnya. Mario memeluk pusara itu dan menangis sejadi-jadinya di sana untuk melepaskan kerinduannya pada ayahnya.


__ADS_2