
Pimpinan tim kepolisian yang mengepung Arga saat itu mendelik ke anak buahnya dan berteriak kesal, "Kenapa tidak kau tutup rapat sarung pistol kamu, hah?!!!" Lalu pimpinan polisi itu membuka sarung pistol di pinggang sisi kiri dan menarik pistolnya untuk ia arahkan ke Arga dan berteriak ke Arga, "Letakkan pistolnya dan menyerahlah! Kalau tidak, kami akan menembak Anda saudara Arga!"
Karena tidak ingin polisi menembak Arga, Joana langsung memeluk Arga dan menggenggam kedua pergelangan tangan Arga sambil berkata, "Mas, jangan seperti ini! Taruh pistolnya dan menyerahlah! Kita bicarakan baik-baik, oke?! Aku nggak ingin kamu ditembak. Aku nggak ingin kamu celaka. Ingat anak kita, Mas"
Pimpinan tim kepolisian yang mengepung Arga langsung berteriak ke anak buahnya, "Jangan tembak!"
Arga menoleh ke Joana dengan tatapan tajam dan berkata, "Untuk apa kamu berkata seperti ini? Apa kamu percaya kalau aku nggak Makai narkoba? Apa kamu percaya kalau aku katakan Papa kamu menjebak aku? Apa kamu percaya kalau aku katakan Papa kamu itu jahat, keji, dan brengsek?!"
Joana diam membeku. Dia mematung dan diam seribu bahasa karena ia, belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga sadar di detik itu juga bahwa ia belum mengenal baik sosok Arga Hewitt dan dia juga tidak mengenal baik sosok papa kandungnya. Dia membeku karena ia, kebingungan sendiri dengan kenyataan yang ada di depan mata.
"Ana, kemari! Dia membohongi kamu selama ini. Percaya sama Papa, dia bukan pria baik-baik!" Teriak Leonard Alexander.
Joana menoleh ke papanya yang berdiri di belakang lingkaran polisi yang mengepung dirinya dan Arga.
Arga yang masih menatap Joana, melihat keraguan di kedua bola matanya Joana dan seketika itu juga ia menggertakkan gerahamnya dan mendorong Joana dengan sangat kasar sampai Joana terjengkang ke belakang dan punggungnya Joana membentur tembok cukup keras.
Di saat pimpinan polisi berteriak spontan, "Tembak!" Karena kaget melihat Arga tiba-tiba mendorong Joana,
Leo panik dan tanpa berpikir panjang, Leo memeluk Arga dan dia akhirnya yang terkena tembakan yang dimuntahkan dari pistol yang dipegang oleh sang pimpinan kepolisian saat itu.
Joana yang kaget mendengar bunyi pistol langsung berteriak, "Tidaaaakkkkkk!!!!" Dan ia jatuh pingsan.
Arga langsung membuang pistol yang dia pegang begitu saja lalu ia memeluk erat tubuh Leo yang lama-lama merosot turun. Arga jatuh bersimpuh di atas lantai sambil memeluk Leo yang terus terbatuk-batuk dan ada darah menggenang di dalam mulutnya Leo. Arga mengelus pipinya Leo.
Tanpa mengucapkan kata perpisahan, Leo menghembuskan napas terakhirnya dan meninggal dunia di dalam pelukannya Arga. Arga menangis kencang dan sambil memeluk Leo lebih erat lagi, ia berteriak histeris, "Tidaaakkkk!!!!!!!"
Seketika semuanya tertegun dan hanya Boy yang bergerak maju untuk mendekati Joana dan membopong Joana untuk dia bawa ke ruang IGD.
Leonard Alexander dan asisten pribadinya langsung mengikuti Boy. Begitu juga dengan Alma dan Novi.
Rosa menatap nanar kejadian tragis yang ada di depan kedua matanya. Lalu, ia melangkah pelan mendekati Arga. Saat ia ingin bersimpuh untuk memeluk Arga dan Leo, dua orang polisi menariknya menjauh dari Arga. Rosa berteriak histeris saat itu juga.
Rendy langsung menelepon Bramantyo saat pihak kepolisian memborgol kedua tangannya Arga dan menyeret Arga ke kantor polisi.
Rosa jatuh pingsan dan dibawa ke IGD.
Bramantyo tidak diijinkan bertemu dengan Arga karena Arga mengamuk dan untuk sementara waktu, pihak kepolisian tidak mengijinkan siapa pun mengunjungi Arga termasuk pengacara.
__ADS_1
Rendy stres bukan main saat itu. Nyonya besarnya meninggal dunia, Arga Hewitt juga masuk penjara untuk kasus yang sangat berat dan saham anjlok drastis. Perusahaan Hewitt terancam gulung tikar dalam hitungan menit.
Bramantyo menepuk pundak Rendy, "Kita kesampingkan dulu soal perusahaan. Yang penting saat ini kita mencari cara untuk membebaskan Arga dari segala tuduhan"
Satu Minggu berlalu sejak hari itu dan Arga semakin terpuruk saat Rendy memberitahunya bahwa perusahaan Hewitt gulung tikar. Arga semakin tidak mempunyai daya untuk hidup saat Bramantyo menemuinya dan mengatakan bahwa tida ada bukti yang bisa meringankan hukumannya.
"Berapa lama aku akan dipenjara?" Tanya Arga dengan sorot mata redup dan wajah putus asa.
"Seumur hidup" Sahut Bramantyo dengan wajah menyesal dan frustasi.
Arga langsung meraup kasar wajah tampannya yang tampak lusuh lalu mematung.
Sementara itu, setelah menjalani serangkaian pengobatan dan perawatan medis untuk mempertahankan kandungannya, Joana harus menangis histeris di depan dokter yang menangani kandungan dan kesehatannya, saat dokter itu berkata, "Maaf, kita harus melakukan kuret karena kita nggak bisa lagi menyelamatkan janin kamu"
Joana tertidur pulas setelah menjalani kuret dan dokter yang menangani Joana, menemui Leonard Alexander, "Maafkan kami. Kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan calon cucu pertama Anda, Tuan Leonard. Tapi, karena usia Ana yang masih sangat muda dan syok yang dialami Ana, membuat Ana harus kehilangan janinnya"
"Nggak papa. Itu justru baik untuk Ana" Sahut Leonard Alexander degan wajah datar.
Saat Joana sadar dari tidur panjangnya, Joana meraih secarik kertas dan sambil terus menangis terisak, ia menulis surat untuk Arga :
Joana memasukkan surat itu ke dalam amplop berwarna putih lalu ia menoleh ke Alma, "Tante, apa aku bisa minta tolong sama Tante?"
Alma mengusap kedua pipi Joana yang penuh dengan air mata dan bertanya, "Tante akan lakukan apa saja untuk Non"
"Tolong temui Mas Arga di penjara dan kasih surat ini ke Mas Arga"
"Baik, Non. Tante akan berangkat sekarang mumpung Papa Non masih di kantor"
"Iya, Tante. Terima kasih"
Alma menjejalkan surat itu ke dalam dompetnya lalu ia bergegas keluar dari dalam kamarnya Joana bersama dengan Boy.
Namun, saat Alma hendak masuk ke dalam mobil, anak buahnya Leonard langsung mendorong Boy dan berkata, "Aku yang akan antarkan Non Ana ataupun Bi Alma ke mana pun selama Non Ana masih dirawat di rumah sakit"
Alma mengumpat kesal di dalam hatinya dan langsung menutup pintu mobil dan berkata, "Aku nggak jadi pergi. Non Ana meneleponku"
Alma dan Boy kembali masuk ke dalam rumah sakit. Alma tersenyum semringah saat ia bertemu dengan Rosa di dalam lift. Boy langsung menutup pintu lift dan Alma langsung mengeluarkan suratnya Joana dan ia sodorkan surat itu ke Rosa, "Kalau kamu ingin menjenguk Non Ana, lebih baik jangan! Anak buahnya Tuan tidak akan mengijinkan kamu masuk. Emm, minta tolong saja ke kamu. Tolong berikan surat ini ke Arga"
__ADS_1
Rosa tersenyum dan sambil memasukkan surat itu ke dalam saku celana jinsnya, dia berkata, "Baik, Bi. Saya akan kasih surat ini ke Arga. Saya turun lagi kalau gitu"
Alma menaggukkan kepalanya dengan senyum semringah dan berkata, "Iya. Terima kasih banyak, ya"
Rosa masuk ke dalam taksi online dan membuka suratnya Joana. Lalu, ia berkata ke Supri taksi online, "Pak, mampir sebentar ke toko alat tulis, bisa?"
"Bisa, Non"
Rosa dengan cepat membeli amplop, kertas surat dan sebuah pena. Dia menulis surat sebagai ganti suratnya Joana di sana. Isi surat itu adalah:
Aku menyesal mengenal kamu, Mas. Kamu ternyata bandar narkoba. Kamu juga sangat kasar padaku saat itu. Kamu mendorongku sampai punggungku membentur tembok. Aku nggak mau punya anak dari kamu. Aku sudah gugurkan anak kita. Itu karena, aku benci sama kamu. Jangan menghubungi aku lagi. Aku menyesal bertemu denganmu. Aku ingin bercerai denganmu.
Beberapa menit berikutnya, Rosa menyerahkan surat hasil karyanya ke Arga dan berkata, "Itu surat dari Ana. Bi Alma ingin ke sini tadi. Tapi, anak buahnya Leonard menghalanginya. Jadi, Bi Alma meminta tolong padaku untuk memberikannya ke kamu"
Arga menerima surat itu dengan wajah semringah. Ada secercah sinar harapan di hati Arga saat ia tahu, Joana masih ingat padanya.
"Kamu nggak baca surat itu?" Tanya Rosa.
"Nanti saja" Arga memasukkan surat itu ke dalam saku seragam penjara.
Rosa tersenyum dan berkata, "Aku pulang dulu kalau gitu"
Saat Arga hendak bangkit berdiri untuk kembali ke selnya, sipir penjwra berkata, "Duduklah kembali! Masih ada satu lagi tamu yang harus kamu temui"
Arga duduk kembali dan dengan wajah heran, ia menunggu tamu yang akan menemui dirinya di siang itu.
Seorang pria necis dengan setelan jas mahal duduk di depan Arga dan sambil mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya, ia berkata, "Saya pengacaranya Tuan Leonard Alexander. Saya ke sini, untuk menyerahkan surat permohonan cerai dari Joana Alexander dan ............."
"Tunggu sebentar. Sebelum saya membahas soal ini dengan Anda, ijinkan saya membaca surat dari Istri saya sebentar saja"
"Silakan"
Arga mengambil surat dari saku seragam penjara dan dia buka untuk dia baca isinya. Arga mencengkeram erat kedua surat itu dan seketika itu dia menggertakkan giginya dan berkata, "Saya akan tandatangani surat cerai ini depan Ana. Suruh Ana datang kemari besok! Kalau nggak, saya nggak akan pernah tandatangani surat cerai ini. Saya perlu bertemu dengan Ana. Perlu melihat dan mendengar Ana mengatakan semua ini depan saya"
"Baiklah"
Setelah pengacara itu pergi meninggalkan Arga, masuklah seorang wanita berumur empat puluhan yang sangat elegan, seksi dan sangat cantik, dia duduk di depan Arga lalu berkata, "Apa kamu ingin mati saat ini?"
__ADS_1