
Di saat Leonard menarik bangun Joana dengan paksa dan hendak menampar pipi putri tunggalnya itu, Darren menahan tangan Leonard sambil berkata, "Om, jangan pukul calon Istriku!"
Leonard menarik tangannya dan menoleh ke Darren masih dengan napas menderu penuh amarah.
Paloma langsung memeluk suaminya dari arah belakang dan menarik mundur suaminya sambil berkata, "Mas, jangan main fisik!"
Darren bertanya ke Leonard, "Ada apa ini? Kenapa Om ingin menampar calon Istriku?"
Leonard Alexander diam membisu di depan Leonard dengan wajah merah padam menahan amarah. Leonard kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Darren sendirian dengan Joana.
Joana duduk di tepi ranjang dan membelakangi Darren.
Darren langsung duduk dan berkata, "Maafkan aku! Aku sudah tinggalkan wanita itu. Aku mencintaimu dan hanya ingin menikah denganmu. Sungguh"
Joana berkata dengan masih membelakangi Darren, "Tinggalkan aku sendiri! Aku malas bertemu dan ngobrol dengan siapapun saat ini. Aku capek"
"Baiklah. Aku akan biarkan kamu beristirahat.Aku pergi. Tapi, besok aku akan datang lagi"
Joana diam membisu dan membiarkan Darren keluar dari kamarnya tanpa menoleh dan mengantarkannya.
Darren menghela napas panjang saat ia menuruni anak tangga menuju ke lantai satu. Dia kemudian bergumam, "Aku akan berjuang merebut hati Ana lagi"
Darren bertemu dengan Leonard dan Paloma di ruang tamu dan dia langsung pamit pulang dengan pesan, "Besok aku akan ke sini lagi, Om. Kalau sampai besok aku lihat di pipi Ana ada bekas tamparan maka aku akan bikin perhitungan dengan Om"
Leonard diam membisu. Darren langsung melangkah pergi meninggalkan kediamannya Leonard.
Sepeninggalnya Darren, Paloma langsung menyemburkan protes ke suaminya,"Kenapa Mas tidak katakan yang sebenarnya ke Darren?"
"Aku tidak bisa mengatakan soal Ana dan cowok brengsek yang telah menculik Ana. Itu suatu aib bagiku. Ana tinggal berhari-hari di rumah cowok itu Aku nggak mau Darren membatalkan niatnya untuk menikahi Joana. Kalau, sampai Darren membatalkan niatnya maka investasi yang Darren tanamkan di perusahaanku pasti akan ia cabut. Kalau itu terjadi, aku akan mengalami kerugian yang sangat besar. Aku sudah keluar banyak uang untuk membungkam wartawan agar masalah penculikannya Ana tidak tersebar keluar"
Paloma yang tidak menginginkan dirinya hidup melarat dan pas-pasan lagi, langsung berkata, "Kalau begitu jangan biarkan Darren tahu soal penculikannya Ana. Kita katakan saja kalau Ana ternyata ada di rumah salah satu kolega kamu, Mas"
"Hmm" Sahut Leonard.
__ADS_1
Di saat Arga melangkah lebar ke pos satpam yang ada di samping gerbang depan kediamannya Leonard Alexander, Rendy dan Leo langsung menarik tangannya Arga. Leo langsung mendelik ke Arga dan berkata, "Kau pengen bunuh diri, ya?"
"Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan ke Ana. Aku harus menyampaikannya sekarang juga" Arga balas mendelik ke Leo.
"Ini kediamannya Leonard Alexander. Kau tahu, kan?" Leo berucap sambil terus memegang erat pergelangan tangannya Arga.
"Tahu" Arga masih mendelik ke Leo
"Maka, sadarlah! Kalau kamu masuk ke dalam, Leonard brengsek itu akan menjebloskan kamu ke penjara lagi. Kalau kamu dipenjara, bagiamana dengan nasib karyawan-karyawan kamu di hotel maupun di bar kamu? Kau mau mereka semua kehilangan pekerjaan karena kau dipenjara dan bangkrut?" Leo memekik kesal ke kakak angkatnya itu.
"Aku nggak mau itu terjadi Aku nggak akan biarkan semua karyawanku kehilangan pekerjaan. Tapi, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus menyampaikan hal yang sangat penting ke Ana sekarang juga" Arga menghembuskan napas frustasinya.
"Kalau Anda masih peduli sama saya dan karyawan Anda yang lainnya, maka jangan nekat masuk ke dalam, Bos. Saya mohon" Sahut Rendy sambil memeluk Arga.
"Lebih baik kau pulang. Kita tunggu sampai bulan depan. Kita kasih waktu dulu ke Leonard untuk melupakan kasus kamu dan Ana. Setelah itu, kau bisa mencari Ana dan menemui Ana kembali" Sahut Leo dengan masih menggenggam pergelangan tangannya Arga.
"Satu bulan?" Arga menatap Leo dengan sorot mata frustasi.
Arga meredupkan sorot matanya dan berkata lirih dengan tubuh melemas, "Semoga belum terlambat"
"Kita pulang dulu. Kita tunggu waktu yang tepat jika kau ingin menemui Ana. Bukan hari ini pastinya" Sahut Leo.
Arga akhirnya bersedia diajak Leo masuk ke dalam mobil. Arga pulang ke rumah bersama Leo dan Rendy kembali ke kantor.
Sesampainya di rumah, Arga langsung naik ke lantai atas dan Leo memilih membereskan bar. Arga melangkah masuk ke dalam kamar dan berdiri cukup lama di depan ranjangnya. Matanya fokus di bercak darah yang ada di sprei. Arga bergumam, "Kenapa aku bisa khilaf semalam? Kasihan Ana" Lalu, ia menghela napas panjang dan menarik lepas sprei itu. Ia kemudian melangkah ke belakang sambil mendekap sprei itu lalu ia memasukkan sprei itu ke dalam mesin cuci.
Pria tampan berbola mata hijau itu berdiri di depan mesin cuci dengan perasaan yang campur aduk dan pikirannya terus terarah ke Joana Alexander.
Leonard masuk ke kamar putrinya dan berkata, "Papa biarkan kelakuan kamu kali ini. Papa biarkan cowok brengsek itu bebas dari penjara. Tapi, mulai detik ini, kamu akan Papa awasi dua puluh jam penuh. Kalau sampai kmu ketahuan menemui pria itu lagi, Papa akan langsung bunuh dia.
Joana tersentak kaget mendengar kata bunuh dan dia langsung berkata, "Joana nggak akan pernah menemui pria itu lagi"
"Bagus! Papa akan menggelar acara pertunangan kamu dengan Darren Bulan depan. Papa akan persiapkan semuanya mulai dari sekarang Tugas kamu hanya dua, menjadi gadis penurut dan jaga kesehatan kamu! Jangan kabur dan jangan sampai sakit! Pokoknya kamu harus bertunangan dengan Darren, Minggu depan"
__ADS_1
Joana banyak bisa menghela napas panjang dan berucap, "Baik, Pa. Terserah Papa saja"
Keesokan harinya, Darren datang menemui Joana dengan membawa mawar putih dan coklat berisi almond kesukaannya Joana.
Darren akhirnya bisa tersenyum senang karena sejak hari itu, Joana mau ia ajak pergi jalan-jalan lagi. Hingga tiba hari H pertunangan mereka, Joana menjadi gadis penurut yang sangat manis di depan Leonard Alexander dan Darren Benn. Bahkan Joana juga bersedia mengalah dengan istri papanya yang selalu nyinyir padanya.
Di sebuah restoran yang sangat mewah, pertunangan Darren Benn dan Joana Alexander digelar. Pertunangan itu juga disiarkan secara live di salah satu stasiun TV swasta yang sangat terkenal.
Arga Hewitt terpaku di depan layar televisinya saat ia melihat Joana Alexander akhirnya bertunangan dengan Darren Benn. Arga Hewitt langsung memukul pelan dadanya yang terasa sesak dan sakit saat ia melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Joana dan Darren di depan publik. Arga langsung memejamkan mata dan menengadahkan wajahnya ke atas saat ia melihat Darren mencium pipinya Joana. Arga merasa napasnya sesak karena cemburu.
Setelah acara pertunangannya berakhir dengan lancar dan sukses, Darren mengantarkan Joana pulang. Saat Darren hendak mencium bibirnya Joana, Joana langsung berputar badan dan turun dari dalam mobilnya Darren. Joana langsung berlari masuk ke dalam rumah dan Darren tersenyum geli melihat tingkahnya Joana itu. Lalu, Darren melajukan mobilnya sambil bergumam, "Ana kenapa menggemaskan sekali. Mau aku cium aja langsung kabur. Kalau begini terus, aku jadi sabar, nih. Aku ingin segera menikah dengan Ana"
Sesampainya di dalam kamar, Joana melihat Alma tengah menata kamarnya. Joana memeluk Alma dan berkata, "Tante, aku sangat lelah begini terus. Aku harus selaku mengalah dan tidak bisa bebas"
Alma menghela napas panjang dan sambil mengelus punggungnya Joana ia berucap, "Yang sabar, ya, Non. Tante akan terus berdoa semoga Non bisa bebas dan bahagia suatu hari nanti"
Setelah Alma keluar dari dalam kamarnya, Joana membuka balkon untuk menyuruh Novi masuk sambil berkata, "Kau sudah beli alatnya?"
"Udah, nih. Tapi, apa benar kamu hamil? Apa itu anak bartender tampan itu?"
"Aku juga belum tahu aku hamil apa tidak. Tapi, dari pagi tadi aku muntah-muntah terus. Bahkan di acara pertunanganku tadi, aku bolak balik ke kamar mandi dengan alasan sakit perut. Aku muntah-muntah juga di sana" Sahut Joana.
"Alat ini bisa digunakan besok pagi di urine pertama kamu. Kalau ada tanda garis dua, berarti kamu hamil. Langsung hubungi aku kalau garisnya dua! Aku akan antar kamu ke rumah sakit" Ucap Novi sambil menepuk pundaknya Joana.
"Baiklah. Terima kasih, ya" Sahut Joana.
"Sama-sama. Aku akan pulang. Mumpung rumah kamu masih sepi dan Papa kamu belum pulang"
"Oke. Hati-hati" Joana mengantarkan Novi sampai ke balkon.
Novi turun ke bawah dengan bantuan anak tangga yang dipegangi oleh Boy. Setelah sampai di atas rumput dengan selamat, Novi melambaikan tangan ke Joana dan berlari pergi.
Joana kembali masuk ke dalam kamar. Setelah menutup dan mengunci pintu balkon, ia melangkah ke ranjang. Dia rebahan sambil menggenggam alat tes kehamilan yang dibelikan oleh Novi. Joana bergumam, "Semoga aku hanya masuk angin. Semoga aku nggak hamil"
__ADS_1