
Leo mengurus bar Hewitt sendirian. Dia juga menyiapkan semuanya sendiri. Arga pergi dan Mona masih sakit.
"Berat juga ngurus bar ini sendirian" Leo mengerucutkan bibirnya saat ia akhirnya bisa duduk untuk beristirahat sebentar.
Leonard Alexander menggeram kesal di dalam private jetnya, "Dasar bodoh, idiot! Dia pikir bisa dengan mudah membohongiku"
Leonard menoleh ke asisten pribadinya, "Gimana? Kau sudah temukan profilnya Arga Hewitt?"
"Sudah, Bos"
"Bacakan!"
"Arga Hewitt, hanyalah seorang anak yatim piatu. Dia dibesarkan di sebuah panti asuhan di desa terpencil.
"Hanya itu?"
"Iya, Bos" Sahut asistennya Leonard Alexander.
"Panti asuhan apa dan di mana letaknya?"
"Saya tidak tahu, Bos. Saya akan selidiki lebih jauh lagi"
Leonard Alexander diam membisu.
"Lalu, kita akan ke mana setelah turun, Bos?"
"Tentu saja ke bar Hewitt. Aku akan bikin perhitungan dengan Arga karena ia telah lancang menemui Istriku setelah ia menculik Ana" Leonard mengeram kesal.
"Ini udah jam delapan, Mas. Kita berangkat sekarang aja"
"Yakin, kita lanjutkan perjalanan kita sekarang?" Tanya Arga sembari menaikkan koper ke pickup dan menutupinya dengan terpal.
"Iya" Joana melompat masuk ke dalam mobil pickup dengan hati-hati.
Arga lalu memasukkan tas ransel ke jok depan, persis di sebelahnya Joana dan berkata, "Kamu nggak pengen pergi ke mana gitu?"
"Nggak, Mas. Aku pengen cepat sampai di sana"
"Kamu nggak capek?" Tanya Arga.
"Aku baik-baik saja"" Sahut Joana.
"Perjalanan kita masih tiga jam lagi, lho Itu karena aku akan lewat tol. Kalau nggak lewat tol bisa enam jam lebih"
"Jauh juga, ya. Aku belum pernah melakukan perjalanan sejauh itu. Dan aku belum pernah lewat tol. Kita langsung berangkat aja. Aku baik-baik aja, kok. Nggak capek dan baik-baik aja"
Arga mengusap kepalanya Joana dengan senyum, lalu ia berkata, "Kalau capek bilang, ya, kita bisa berhenti di rest area nanti kalau kita udah masuk tol"
__ADS_1
"Iya" Joana meraih tangan Arga yang ada di atas kepalanya sambil bertanya, "Boleh aku genggam tangan kamu, Mas?"
"Aku pinjam sebentar untuk menjalankan mobil, ya" Arga menarik tangannya dengan pelan dan senyum penuh sayang. Setelah mobilnya jalan, Arga menyerahkan tangannya ke Joana dan berkata, "Nih, aku kembalikan tanganku untuk kamu genggam"
Joana tersenyum semringah dan langsung menggenggam tangan Arga. Joana melihat tangan Arga yang ia genggam dengan senyum bahagia. Lalu, ia menoleh ke Arga, "Kalau kau dipinjam lagi tangannya, bilang, ya, biar aku nggak kaget"
Arga menoleh sekilas ke Joana sambil menarik tangannya untuk ia cium punggungnya tangannya Joana, "Kamu kenapa tercipta sesempurna ini? Udah cantik, pinter, lucu lagi"
"Kamu juga sama, Mas" Joana menatap Arga dari arah samping dengan senyum penuh cinta.
"Maaf, kita akan masuk ke tol, jadi tanganku akan aku pinjam dan nggak bisa kamu genggam lagi. Harus fokus nyetir di tol" Arga menoleh ke Joana sambil menarik pelan tangannya.
" Oke" Sahut Joana dengan senyum manis.
Begitu masuk tol, Joana terpukau dengan beberapa awan yang ia lewati. Saking terpukaunya, ia menempelkan keningnya di jendela dengan mata berseri-seri. Gadis remaja yang sangat cantik sekaligus manis itu, tiba-tiba berkata, "Awan itu bentuknya seperti kelinci. Dan yang itu kayak gajah. Ah! Ada yang bentuknya kayak rumah mewah, Mas? Jangan-jangan itu Surga?"
Arga tertawa ringan dan sambil mengelus singkat rambutnya Joana ia berkata, "Sesenang itu kamu lihat awan, ya? Itu bukan surga. Itu awan. Bentuk awan di tol memang macam-macam sesuai dengan apa yang kita bayangkan"
"Wah! Indah banget pemandangannya" Joana memekik senang dan Arga menoleh sekilas ke Joana dengan perasaan campur aduk.
Arga kemudian berkata, "Kita nanti tinggal di rumah yang sangat sederhana, nggak papa, kan?"
Joana menoleh ke Arga, "Iya. Nggak papa. Beneran nggak papa"
"Nggak ada bath-tub, mesin cuci shower,.water heater. Kalau mandi kita turun ke sungai. Di dekat sungai ada dua bilik sederhana yang terbuat dari bambu Nyuci baju juga di pinggir sungai"
Arga sontak menoleh sekilas ke Joana untuk berkata, "Hah?! Asyik? Ini bukan piknik, Sayang. Kita akan selamanya tinggal di sana dengan rumah yang sederhana, fasilitas yang sederhana, dan makanannya pun sederhana, Sayang"
"Aku tahu. Asal bersama dengan kamu dan anak kita, aku pasti betah tinggal di sana. Aku juga pasti bahagia" Sahut Joana dengan nada serius dan penuh semangat.
"I Hope so (aku harap begitu)" Sahut Arga lirih.
"Aku akan menikahi kamu di sana. Aku sudah suruh temanku si Rendy untuk ngurus pendaftaran pernikahan kita di kantor pencatatan sipil. Tapi, nggak akan ada pesta mewah seperti di film-film" Ucap Arga.
"Jangan khawatir aku akan kecewa. Aku nggak pernah lihat film, jadi aku juga nggak pernah ada bayangan apapun soal pernikahan. Asalkan ada pemberkatan dan surat nikah, bagiku udah cukup, Mas"
Arga mengusap kepalanya Joana sambil berkata, "Terima kasih sudah bersedia menerima aku apa adanya"
"Sama-sama, Mas"
"Yang baru saja kita lewati tadi, rest area?" Tanya Joana.
Arga sontak menoleh sekilas ke Joana, "Kenapa? Kamu capek? Ada rest area lagi di depan aku akan berhenti di rest area yang di depan. Tapi, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?"
Joana menyentuh pipinya Arga dengan pelan, lalu mengelusnya dan berkata, "Aku baik-baik saja, Mas. Aku nggak kenapa-kenapa. Cuma, aku belum pernah ke rest area. Aku pengen lihat rest area itu seperti apa? Apakah kayak hotel atau losmen? Ada kamar, ya? Ada tempat tidurnya gitu?"
Arga menghela napas lega dan berkata, "Syukurlah kalau kamu nggak papa" Lalu Arga tersenyum geli dan berkata, "Di rest area cuma ada toilet, warung mini dan toserba mini. Nggak ada tempat tidur atau kamar di sana. Kenapa? Kamu pengen tidur?"
__ADS_1
"Nggak kok. Aku nggak akan tidur. Aku suka menikmati pemandangannya dan aku nggak akan tidur" Sahut Joana.
"Nah, aku udah parkir di rest area, nih. Kamu pengen apa?"
"Aku akan ke toilet aja" Joana turun dan melangkah ke toilet dan Arga mengikuti Jona dan menunggui Joana di depan toilet.
"Makasih udah nungguin, Mas" Joana keluar dari dalam toilet dengan senyum cerah.
Kalau nggak ditungguin, kamu bisa digodain cowok-cowok nggak jelas kayak di restoran dulu" Sahut Arga.
"Aku pengen beli camilan, boleh?" Joana menoleh ke Arga.
"Boleh" Arga menggandeng tangan Joana.
Saat ia membayar di kasir, penjaga kasir bilang, "Putrinya cakep banget, Pak"
"Putri? Maksud Mbak, ini.........."
"Dia suami saya, Mbak" Sahut Joana.
"Oh, maaf. Saya kira bapak dan anak. Lha mbaknya masih imut banget. Mbak.umur berapa? Masih sekolah, ya, pasti?"
Arga langsung menarik keluar Joana dari toserba mini itu dengan wajah kesal.
Saat sudah masuk ke dalam mobil, Arga mulai mengomel, "Jadi orang kok sukanya kepo"
Joana mengulum bibir menahan senyum dan bertanya, "Kepo itu apa, Mas?"
Arga menoleh terkejut, "Kamu nggak tahu kepo? Sebenarnya yang tua di sini siapa, sih? Pusing aku"
Joana tersenyum geli melihat ekspresinya Arga, dia lalu berkata, "Aku beneran nggak tahu apa itu kepo. Aku, kan, nggak pernah keluar rumah dan nggak diijinkan bergaul dengan orang sembarangan kecuali dengan Novi"
"Kepo itu pengen tahu urusan orang" Sahut Arga.
"Oooooooo" Sahut Joana. "Kenapa Novi nggak ajarkan aku soal itu, ya?"
"Ternyata hidup kamu benar-benar seperti di dalam tempurung katak, ya?"
"Yeeaahhh, begitulah, Mas" Sahut Joana dengan senyum tipis.
Akhirnya mereka keluar dari tol dan masuk ke jalan umum. Arga belok ke kanan dan mulai mengandalkan GPS karena ia agak lupa jalan menuju ke panti asuhan.
Tiba-tiba Arga berkata, "Wah! Nggak ada sinyal. Kita sepertinya harus mengandalkan GPS, nih"
Joana menoleh ke Arga dengan heran, "Kalau nggak ada sinyal, berarti kita nggak bisa andalkan GPS, dong, Mas"
"Maksudku GPS, tuh, Gunakan Penduduk Sekitar. Aku akan turun untuk tanya-tanya" Sahut Arga.
__ADS_1
Joana langsung terkekeh geli dan berkata, "Ooooooo. Kamu lucu juga, ya, Mas?"