
Leo datang ke rumahnya Arga dan langsung berlari masuk ke dalam saat ia melihat gerbang dan pintu bar terbuka lebar. Leo mengedarkan pandangannya ke seluruh bar dan dia segera berlari ke lantai dua saat ia melihat bar dalam keadaan rapi. Leo melihat ke seluruh sudut ruangan lantai dua dan tidak mendapati ada yang hilang. Namun, saat Leo membuka pintu kamarnya Arga, dia tertegun dan refleks bergumam, "Bercak darah? Becak darah apa itu?"
Di saat Joana hendak melompat turun, pintu kamar terbuka dan Alma, wanita yang merawat Joana sejak masih bayi langsung berlari mendekati Joana sambil berteriak, "Non! Jangan lompat! Jangan bunuh diri, Non!"
Joana menoleh ke wanita yang sangat ia sayangi meskipun wanita itu bukan mama kandungnya, untuk berucap, "Siapa yang mau bunuh diri, Te" Joana memanggil Alma dengan sebutan Tante Alma.
"Lalu, Non mau ngapain?" Tanya Alma.
"Aku harus menolong temanku, Te. Dia difitnah. Aku harus ke kantor polisi sekarang juga" Sahut Joana.
"Turun dulu dari pagar balkon, Non! Tante akan minta Boy mengantarkan Non ke sana. Tante juga akan menemani Non"
Joana langsung turun dari pagar balkon dan mengajak Tante Almanya berlari sembari berkata, "Kita harus berangkat sekarang juga kalau gitu. Sebelum Papa dan Istrinya pulang dari kantor"
"Iya" Alma mengikuti laju larinya Joana.
Satu jam kemudian, mereka sampai di kantor polisi. Rendy dan Bramantyo masih di sana. Mereka masih bernegosiasi dengan pihak kepolisian karena mereka menginginkan Arga bebas secepatnya.
Joana berdiri di sampingnya Rendy. Rendy menoleh dan memandangi gadis muda yang cantik tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Petugas kepolisian yang bernama Susilo, Rendy dan Bramantyo sontak bertanya secara bersamaan, "Kamu siapa?"
"Saya Joana Alexander. Saya ingin mencabut tuntutan Papa saya Leonard Alexander. Saya juga akan memberikan pernyataan kalau saya tidak diculik. Saya datang sendiri ke bar-nya Arga Hewitt. Kalau saya memberikan pernyataan ini, Arga akan bebas, kan?"
Rendy melihat Joana sampai ke ujung kaki dan dia langsung menautkan alisnya saat ia melihat Joana tidak memakai alas kaki.
Bola mata Alma mengikuti gerakan bola mata pemuda yang ada di sebelahnya Joana dan Alma langsung memekik kaget, "Astaga, Non! Non lupa nggak pakai alas kaki"
"Itu nggak penting, Tante" Sahut Joana.
Lalu, Joana kembali bertanya, "Apa yang harus saya lakukan agar Arga Hewitt bebas? Dia tidak bersalah. Dia tidak menculik saya"
"Oke. Duduklah di sana! Teman saya akan mengetik semua yang kamu katakan dan kamu harus menandatangani pernyataan kamu itu di atas meterai.
Joana bergegas duduk di meja yang ditunjuk oleh petugas kepolisan dengan nametag Susilo. Dan segera memberikan pernyataan di depan petugas kepolisan wanita yang langsung mengetik semua ucapannya Joana.
Rendy terus memandangi Joana dan bergumam, "Kenapa ia bisa memakai kaosnya Bos?"
Alma kembali menepuk jidatnya dan bergumam, "Non bahkan belum ganti baju. Padahal dress mini yang dia pakai itu kena hujan tadi pagi. Semoga Non nggak masuk angin"
Setelah menyelesaikan semua prosedur dengan baik, Joana menemui Rendy dan Bramantyo saat pihak kepolisian memberitahukan kepadanya bahwa Rendy adalah temannya Arga dan Bramantyo adalah pengacaranya Arga.
Joana berdiri di depannya Rendy dan Bramantyo untuk berkata, "Sampaikan ke Arga Hewitt, Joana Alexander telah membalas budi ke Arga Hewitt. Dan tidak ada lagi hutang yang harus ia bayar ke Arga Hewitt. Dia udah bayar hutangnya dengan lunas dengan membebaskan Arga Hewitt dari penjara dan semoga Joana dan Arga tidak bertemu lagi untuk selamanya"
Sebelum Rendy dan Bramantyo mengucapkan kata terima kasih ke Joana, Joana telah berlari pergi dengan sangat cepat.
__ADS_1
Rendy dan Bramantyo kemudian bersitatap dan mereka sontak tersenyum lega karena, Arga Hewitt bisa bebas hari itu juga.
Petugas kepolisan yang bernama Susilo langsung menjemput Arga yang sudah dipindahkan di sel belakang.
Sepuluh menit kemudian, Arga sudah berdiri tegak di depan Rendy dan Bramantyo.
Arga sontak bertanya, Di mana Joana Alexander?"
"Dia siapa Anda, Bos? Dia sepertinya datang buru-buru ke sini. Itu terbukti dia lupa pakai alas kaki dan dia pakai kaos Anda, Bos" Sahut Rendy.
"Apa dia kabur dari rumahnya?" Satya bergumam sendiri.
Bramantyo langsung menyahut, "Kita bahas soal ini di perjalanan aja. Yuk! Kita pulang. Aku kepanasan, nih, terlalu lama berada di sini" Bramantyo lalu melangkah lebar mendahului Arga dan Rendy.
Arga dan Rendy menghela napas kesal dan segera menyusul Bramantyo.
Rendy berucap saat Bramantyo sudah mulai menjalankan mobil, "Joana Alexander nitip pesan"
"Nitip pesan apa?" Sahut Arga yang sontak menjulurkan badannya ke jok depan saking semangatnya"
Rendy menoleh ke kanan untuk berucap, "Joana Alexander bilang, kalau Joana Alexander telah membalas budi ke Arga Hewitt. Dan tidak ada lagi hutang yang harus ia bayar ke Arga Hewitt. Dia udah bayar hutangnya dengan lunas dengan membebaskan Arga Hewitt dari penjara dan semoga Joana dan Arga tidak bertemu lagi untuk selamanya"
Arga terhenyak ke jok dan bergumam dengan wajah kecewa, "Dia bilang begitu?"
Joana meminjam telepon genggamnya Alma karena ia ingin penasaran akan satu hal. Dia menjelajah internet dan Joana mendelik saat ia membaca hasil dari pencariannya.
Joana sontak menutup mulutnya dengan tangan, lalu segera berucap, "Pak Boy, tolong mampir sebentar ke apotik, ya?"
Boy langsung menyahut, "Baik, Non"
"Kenapa ke apotik, Non? Non sakit?" Tanya Alma.
"Emm, nggak papa. A.....aku cuma pengen beli obat sakit kepala" Sahut Joana dengan gugup.
Alma langsung menyahut, "Biar Tante yang turun nanti"
"Nggak, jangan!" Pekik Joana.
Alma kaget dan menatap Joana dengan heran.
Joana langsung berkata, "Emm, i....itu, emm, aku ingin belajar belanja sendiri. Selama ini, Tante, kan, yang selalu membelikan semuanya untuk Joana"
"Baiklah kalau begitu, Non. Non, nanti turunnya pakai sandalnya Tante, ya"
"Iya Tante" Joana.tesenyum ke Alma dengan hangat.
__ADS_1
Setelah Boy parkir di depan sebuah apotik kecil yang ada di pinggir jalan tidak jauh dari kantor polisi, Joana masuk ke dalam apotik sendirian. Dia melarang Alma menemaninya masuk. Joana memakai sandalnya Alma. Ukuran kaki mereka sama. Joana masuk dan melangkah menuju ke meja apotik dengan ragu. Petugas yang berjaga di meja apotik langsung bertanya ke Joana, "Mau beli apa?"
Joana berdiri berhadapan muka dengan petugas apotik dan hanya bisa diam membisu.
"Mau cari apa? Kenapa Nona malah diam saja?" Petugas apotik langsung menautkan alisnya.
Joana menghela napas panjang lalu berkata, "Sa.......saya....bu.....butuh, emm maksud saya, sa......saya mau be.....beli pil pencegah kehamilan. A....apakah ada pil pencegah kehamilan, di sini?" Joana lalu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah memerah malu.
"Tentu saja ada. Kapan Anda berhubungan terakhir kali?".Tanya petugas apotik itu sambil mengambilkan beberapa merk terbaik pil pencegah kehamilan yang tersedia di apotik kecilnya.
"A.....apa itu penting?" Tanya Joana.
"Penting. Kalau sudah lebih dari dua hari, maka percuma Anda minum pil pencegah kehamilan karena, itu sudah sangat terlambat" Sahut wanita paruh baya yang berdiri di balik meja etalase.
"Emm, ba....baru, ta.....tadi pagi, kok. Belum terlambat, kan?" Tanya Joana dengan gugup dan canggung.
"Belum. Ini ada beberapa pil pencegah kehamilan dari merk yang terbaik. Anda pilih yang mana?"
"Masukkan saja semuanya ke kantong plastik, Bu" Ucap Joana dengan gugup dan canggung saat ia melihat ada orang masuk ke apotik tersebut.
"Tapi, untuk apa Anda beli sebanyak ini? Anda mau buka apotik di rumah, ya ? Saya pilihkan saja yang paling bagus, ya?" Sahut wanita paruh baya itu dengan menahan senyum geli.
"Baiklah. Saya mohon cepat, ya, Tante saya menunggu di mobil" Sahut Joana.
"Oke. Ini" wanita paruh baya yang berjaga di apotik tersebut, menyodorkan kantong plastik yang berisi pil pencegah kehamilan pilihannya ke Joana.
Joana dengan cepat menerima kantong plastik itu dan langsung bertanya, "Berapa semuanya?"
"Dua ratus enam puluh ribu rupiah. Itu merk terbaik. Satu stripnya lumayan mahal dan......."
"Ini" Joana meletakkan tiga lembar uang seratus ribuan di atas meja dan bergegas meninggalkan apotik.
"Nona! Ini masih ada kembaliannya!"
"Ambil saja kembaliannya!" Teriak Joana sambil terus melangkah lebar menuju ke pintu untuk bergegas keluar dari apotik tersebut.
"Berhenti di apotik itu sebentar! Aku ingin beli obat sakit kepala" Sahut Arga.
Ckkiittttt!!! Bramantyo langsung mengerem mobilnya di depan sebuah apotik dan Arga bergegas turun. Dia ingin segera membeli obat sakit kepala dan meminumnya
Joana. tersentak kaget saat ia melihat Arga berada di luar dan tengah berjalan menuju ke apotik. Joana tidak jadi membuka pintu apotik. Ia sontak berbalik badan dan kebingungan mencari tempat persembunyian karena apotik tersebut sangat kecil dan sempit.
Joana sontak melangkahkan kakinya ke dapan saat ia mendengar pintu dibuka sambil bergumam, "Aduh gimana, nih? Ngapain juga Mas Arga ke sini?"
Arga mengernyit dan langsung berucap, "Ana? Itu, kamu, kan?"
__ADS_1