Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Ahli Gizi


__ADS_3

Joana menguap beberapa kali dan bergumam lirih, "Kenapa badanku pegal-pegal semua kayak gini? Kepalaku juga pusing banget. Apa karena aku mabuk berat semalam?"


Darren terbangun dan mendapati Joana tidur dengan memeluk pinggangnya. Darren mengelus pelan punggung tangan Joana dan seketika itu dia merasa bersalah telah berselingkuh.


Darren mengangkat pelan tangan Joana dan bangun. Dia lalu berjingkat pergi ke kamar mandi karen ia tidak ingin membangunkan istri cantiknya.


Selesai mandi, Darren bersiap di depan cermin yang ada di dalam ruang ganti dan saat ia keluar, dia masih menemukan Joana tertidur pulas.


Entah apa yang merasuki Darren di pagi itu, dia melangkah mendekati Joana dan mencium keningnya Joana sambil bergumam lirih, "Selamat untuk kelulusan kamu"


Darren kemudian melangkah kelar dari dalam kamar dan sesampainya di lantai bawah rumahnya, ia berteriak, "Nini! Kemari!"


Kepala rumah tangga yang bekerja di rumahnya Darren segera menghadap Darren dan berkata, "Iya, Pak, ada apa?"


"Kemarin Nyonya kamu pulang jam berapa?" Tanya Darren dengan suara berat dan tanpa ekspresi.


"Jam sepuluh, Pak"


Darren ingat betul kalau karyawatinya yang dia ajak bercinta habis-habisan, pulang sebelum jam tujuh malam dan setelah itu sepetinya ia ketiduran.


"Dia bilang darimana?" Tanya Darren.


"Dari toko kue. Nyonya dan Tante Alma mencoba bikin resep kue baru di toko sepulang dari acara wisuda dan syukuran di kampus" Sahut Nini. Dia berbohong untuk melindungi Joana.


Syukurlah, Ana nggak memergoki aku bercinta dengan wanita lain. Batin Darren.


Aku tahu kamu berselingkuh Darren Benn. Untuk itulah aku berbohong demi untuk melindungi Nyonya Joana. Aku juga akan ungkap perselingkuhan kamu ke Tuan Leonard Alexander. Batin Nini.


"Baiklah. Kamu boleh kerja lagi!" Darren lalu melangkah ke ruang makan untuk sarapan.


Selama menyetir sendirian ke perusahaan milik papanya, Darren bergumam, "Seandainya kamu mau jujur soal segel keperawanan kamu yang sudah terbuka sebelum aku menyentuhmu. Andai saja kau mau jujur siapa pria yang sudah mengambil keperawanan kamu, aku mungkin masih bisa memperhitungkan cintaku padamu. Jujur, saat ini hati dan pikiranku kacau balau. Aku memang bercinta dengan wanita lain kemarin, tapi yang ada di benakku adalah kamu. Aku bercinta dengan wanita itu dengan membayangkan dirimu"


Joana terbangun di jam sembilan pagi dan dia langsung membuka kedua bola matanya lebar-lebar saat dia teringat kembali soal kamar hotel. Joana melompat turun dari atas ranjang dan langsung melesat masuk ke kamar mandi.


Joana keluar dari ruang ganti dengan mengenakan blus berkerah V dengan motif bunga melati kecil-kecil yang dipadukan dengan celana panjang kain berwarna hitam, dan dia mengikat kuda asal-asalan rambut panjang hitamnya yang sangat indah.


Dia memakai tabir surya dan bedak tipis, lalu memulaskan pelembab bibir berwarna merah muda yang sangat kalem.


Setelah itu, Joana meraih telepon genggam dan kunci mobil lalu ia memasukkan semuanya ke dalam kantong celana kainnya, kemudian, ia memasukkan buku cek, dompet kartu dan dompet uang tunai ke dalam tas jinjing bermerk yang berwarna hitam.


Joana melangkah keluar dari dalam kamar sambil menyemprotkan minyak wangi mewah yang dibelikan oleh suaminya dari luar negeri.

__ADS_1


Joana sarapan di meja makan dan ia selalu minta ditemani Nini. Nini lebih tua dari Joana tiga tahun. Umur mereka yang tidak begitu jauh membuat mereka bisa menjadi cepat akrab dan berteman baik. Joana dan Nini saling menyayangi.


"Aku sebenarnya risih kalau kamu memanggilku Nyonya dan selalu menggunakan bahasa formal sama aku"


"Tapi, saya harus seperti itu. Saya adalah bawahan dan Anda ........"


"Kita ini sama di dunia ini. Nggak perlu ada bawahan dan atasan. Kamu udah aku anggap seperti kakakku sendiri"


"Tapi, saya tetap tidak bisa memanggil Anda dengan nama saja. Saya takut dimarahi sama Pak Darren dan Tuan Leonard"


"Yeaaahhh, itu masalahnya. Tapi, kalau hanya ada kita berdua kayak gini, pakailah bahasa santai dan panggil nama aja, nggak papa" Joana tersenyum penuh kasih ke Nini.


"Baiklah" Sahut Nini dengan senyum penuh kasih pula.


Beberapa jam kemudian, Joana berdiri di depan meja resepsionis dan langsung berkata, "Saya ingin mengembalikan kunci kamar yang saya pakai semalam dan saya ingin membayarnya. Saya belum terlambat untuk chek out, kan?"


"Belum Nona dan ........"


"Maaf, saya bukan Nona lagi. Saya sudah menikah"


"Oh, maafkan saya. Anda masih terlihat sangat muda jadi saya pikir Anda masih single. Oke, emm, check outnya masih nanti jam dua siang dan ini masih jam sebelas. Anda masih diperbolehkan masuk ke kamar Anda untuk mengambil beberapa barang yang mungkin masih ketinggalan di sana" Sahut wanita muda yang bertugas di meja resepsionis siang itu.


"Emm, nggak usah. Semua barang yang saya bawa semalam, sudah saya ambil semuanya Saya cuma takut kalau saya telat bayar dan kena sanksi. Jadi, saya..........."


"Hah?! Emm, maaf, apa saya boleh tahu siapa yang membayarnya? Pria atau wanita?"


"Pria. Tapi, maafkan saya, saya tidak bisa memberitahukan siapa namanya. Karena, yang bersangkutan tidak bersedia namanya diekspos di sini"


"Pria?" Joana seketika tertegun. Namun, dia tidak berpikiran macam-macam karena, dia bangun di kamar hotel masih dengan baju lengkap dan rapi.


Lalu, Joana mengeluarkan buku cek dan bertanya, "Maaf, apa saya bisa meminta membayar minuman yang saya minum di bar semalam di sini? Saya sepertinya juga belum membayar makanan dan minuman di bar itu" Joana menunjuk ke sisi kanannya.


"Bisa. Kalau gitu, saya cek dulu, ya, Nyonya"


Joana tersenyum dan menunggu dengan sangat sabar.


"Makanan dan minuman Anda juga sudah dibayar oleh pria yang membayar kamar Anda"


"Hah?! Nggak, ini nggak bisa saya biarkan. Saya nggak mau berhutang budi sama orang asing. Emm, kalau ditotal semuanya berapa? Total di bar dan kamar?"


"Semuanya lima juta rupiah, Nyonya. Kamarnya VVIP. Jadi, memang mahal"

__ADS_1


"Oke, nggak masalah" Joana menuliskan angka sepuluh juta rupiah di buku ceknya. Setelah ia sobek lembar cek bertuliskan sepuluh juta rupiah itu, ia bertanya ke petugas resepsionis yang masih berdiri di depannya, "Maaf, apakah Anda punya kertas kosong dan amplop? Apa saya boleh minta? Atau kalau harus bayar nggak papa, juga, sih"


"Nggak usah bayar Nyonya. Kertas dan amplopnya kami sediakan gratis untuk semua pelanggan yang membutuhkan. Ini, silakan dipakai"


"Terima kasih" Joana menuliskan kata di kertas, "Terima kasih sudah berniat baik membayar makan dan minum saya bahkan Anda membuka kamar untuk kebaikan dan keamanan saya. Tapi maaf, saya nggak bisa berhutang budi dengan orang asing. Saya kembalikan semua uang Anda dan saya berikan tambahan uang ala kadarnya untuk membayar budi baik Anda" Joana kemudian melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop beserta lembar cek yang ia tulis. Lalu, ia tutup amplop itu dan ia serahkan ke petugas resepsionis, "Tolong berikan amplop ini ke pria yang menolong saya semalam dan katakan ke pria itu kalau Joana Alexander sangat berterima kasih padanya"


"Baik, Nyonya"


Joana lalu melangkah pergi dari hotel tersebut dan langsung meluncur ke toko kuenya. Namun, dia mampir sebentar ke apotik untuk membeli obat anti pengar dan Paracetamol.


Petugas resepsionis menelepon kamarnya Mario Alexei dan langsung berkata, "Nyonya Joana Alexander menitipkan sebuah amplop untuk Anda, Tuan"


Mario langsung semringah dan dia tinggalkan begitu saja Rosa yang tengah sarapan bersama dengannya di kamar.


Rosa berteriak, "Sayang! Kenapa berlari sekencang itu? Kamu mau ke mana?"


Mario berteriak tanpa menoleh ke belakang, "Ambil paket spesial di meja resepsionis"


Mario mengerem laju larinya di depan meja resepsionis dan dengan ngos-ngosan dia bertanya, "Apa Joana Alexander tahu soal aku?"


Resepsionis yang berdiri di depan Mario, menggeleng dan berkata, "Saya tidak katakan nama Anda. Bukankah itu adalah permintaan Anda sendiri, Tuan?"


"Ah! Iya, benar" Mario berkata dengan nada sedikit menyesal.


"Ini amplopnya, Tuan"


"Ah! Oke. Terima kasih" Mario menerima amplop itu dan langsung membukanya. Seketika itu Mario menggertakkan gerahamnya dan bergumam, "Tzk! Wanita itu, ya........... Bisa-bisanya dia kasih aku cek sepuluh juta rupiah" Mario lalu menelepon Rendy, "Ren! Aku kirim foto ke telepon genggam kamu. Cetak foto itu dan cepat ke meja resepsionis!"


Sepuluh menit kemudian, Rendy menghadap Mario.


Mario menyerahkan amplop dari Joana ke Rendy sambil berkata, "Temui Joana Alexander dan balikkan amplop ini ke Joana Alexander. Lalu, kasih lihat foto yang sudah kamu cetak ke dia dan bilang kalau dia tidak mau jadi ahli giziku, aku akan edarkan foto itu ke semua medsos dan akan aku kirim foto itu ke suami dan papanya"


"Ahli gizi? Untuk apa?" Rendy langsung menautkan kedua alisnya.


"Joana lulusan gizi dan aku butuh orang yang bisa membuatku makan sehat dan benar setiap hari. Kau tahu, kan, selama lima tahun aku nggak pernah bisa makan lebih dari lima suapan dan aku sering telat makan sampai pingsan"


"Iya, benar" Sahut Rendy.


"Itu karena, aku belum menemukan ahli gizi yang tepat. Aku rasa Joana Alexander ahli gizi yang tepat untukku"


"Apa ini rencana balas dendam ala kamu yang kamu katakan ke aku semalam?"

__ADS_1


Mario menyeringai penuh arti.


__ADS_2