
"Darimana kamu?" Rendy menoleh ke pintu.
Mario menutup pintu sambil berkata, "Mengecek sesuatu"
"Sesuatu apa seseorang?"
"Yeeaahh, terserah kamu. Ayo kita lanjutkan pekerjaan kita" Ucap Mario sambil duduk.
Joana balik ke toko kuenya dengan fisik dan psikis yang sangat lelah. Ia membuka laci untuk menaruh tasnya di bawah laci kasir dengan berkali-kali menghela napas panjang.
Alma langsung bertanya, "Kenapa menaruh tas di situ, Non? Kok, nggak dibawa pulang tasnya?"
Joana menoleh ke Alma dan sambil tersenyum ia menggelengkan kepala.
Joana tidak ingin membawa pulang tasnya yang berisi foto dirinya dengan punggung telanjang di kamar hotel. Dia tidak ingin suaminya menemukan foto itu dan akan terjadi kesalahpahaman dan keributan yang besar. Dia tidak ingin memperlebar jarak di antara dia dan suaminya, sebelum dia tahu kejelasan dari foto itu.
Jam lima sore, Joana menutup toko kuenya Dia selalu menutup toko kuenya di jam lima sore, karena suaminya biasa pulang jam enam sore dan Joana terbiasa memasak untuk suaminya sebelum suaminya sampai di rumah.
Beberapa menit berikutnya, Joana sudah memakai celemek dan berdiri di depan kompor. Joana memasak sup ayam kesukaan suaminya sembari terus berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi di kamar hotel semalam. Namun, hanya ada hembusan napas kesal, karena ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun yang terjadi di kamar hotel.
Joana dengan dibantu Nini, menata semua masakannya yang sudah matang di atas meja makan. Lalu, ia melepas celemek dan menaruh celemek di tempat asalnya.
Ketika Joana melihat suaminya melintasi ruang makan, Joana langsung berlari kecil mengikuti langkah suaminya naik ke lantai dua menuju ke kamar mereka.
Joana membantu suaminya melepas jas, dasi dan kemeja suaminya sambil berkata, "Mas, aku mulai besok bekerja di Alexei Grup. Aku menjadi ahli gizi di sana. Boleh, Mas?"
"Terserah kamu" Sahut Darren dengan wajah dingin dan datar.
"Aku sudah siapkan air panas tadi. Seharusnya sekarang ini, udah pas hangatnya" Joana tersenyum di depan Darren.
Tanpa tersenyum, tanpa mencium kening, dan tanpa mengucapkan kata terima kasih ataupun sekadar menganggukkan kepala, Darren melangkah ke kamar mandi.
Joana menghela napas panjang sembari melangkah keluar kamar untuk membawa baju kotor ke ruang cuci baju.
Sebelum Joana memasukkan satu per satu baju kotor ke dalam mesin cuci, dia terbiasa merogoh semua kantong. Joana tertegun di depan mesin cuci saat ia menemukan lipstick perempuan di saku celana kain suaminya dan struk bukti pembayaran sebuah kamar VVIP di hotel The Rain.
Joana langsung memasukkan celana kain suaminya ke dalam mesin cuci, merobek struk dari hotel The Rain dan membuangnya ke bak sampah. Joana memandangi lipstick yang ia temukan dan bergumam lirih, "Kamu masih belum puas bermain gila di kamar kita, Mas? Kamu bermain gila lagi di hotel. Lalu, aku harus bagaimana sekarang?" Joana lalu membuang lipstick itu ke bak sampah dan sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya, ia melangkah ke ruang makan dan duduk di sana menunggu suaminya.
Makan malam bersama suaminya berlangsung seperti biasanya. Penuh keheningan dan tanpa canda tawa ataupun obrolan ringan.
Joana yang sudah terbiasa hidup seperti itu, karena ia memang selalu makan sendirian di meja makan sejak kecil, tidak pernah mengeluh kepada suaminya dan itu membuat Darren semakin dingin sikapnya ke Joana saat mereka makan berdua di meja makan.
Joana dan Darren pun tidur seranjang saling memunggungi dan tidak ada kecupan mesra atau kata sayang yang mengiringi langkah mereka menuju ke alam mimpi.
Keesokan harinya pun masih tetap sama. Kesunyian masih ada di antara Darren dan Joana.
Joana masih belum memiliki keberanian untuk melabrak Darren atas perselingkuhan yang sudah Darren lakukan, karena ia merasa, perselingkuhan itu terjadi akibat dari ketidakperawanan dia di malam pertama pernikahannya.
Joana membantu Alma dan karyawatinya membuka toko kue dan membuat kue. Joana bisa membuka toko kuenya dan membuat kue terlebih dahulu karena, di kontrak kerja samanya dengan Alexei Grup, jam kerjanya mulai jam sepuluh dan harus menyiapkan menu sehat dan bergizi untuk Presdir Alexei Grup, tepat di jam dua belas siang.
__ADS_1
Jam sepuluh Joana bersemangat datang ke gedung besar berlantai dua puluh milik Alexei Grup karena dia ingin menagih janji Rendy mempertemukan dirinya dengan Presdir Alexei Grup di hari itu.
Rendy menyambut Joana di depan meja penerima tamu dan langsung mengajak Joana naik ke lantai lima. Rendy membuka pintu, "Ini ruang kerja kamu. Ada meja tamu, sofa, meja makan mini, dan dapur bersih lengkap dengan semua alat masak yang dibutuhkan. Setiap hari, lemari es itu" Rendy menunjuk sebuah lemari es dua pintu yang tertanam di tembok dan arah pandang Joana otomatis mengikuti arah telunjuknya Rendy, sembari berkata, "Iya, terus? Ada apa dengan lemari esnya?"
Rendy menarik jarik telunjuknya, lalu bersedekap dan berkata, "Lemari es itu akan diisi dengan bahan makanan yang beda-beda setiap hari dan tugas kamu, memasak sesuai dengan bahan makanan yang ada di dalam lemari es itu"
Joana menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke belakang meja bar. Dia melihat ada kompor elektrik atau bisa disebut dengan kompor induksi di sana yang memiliki empat tungku. Lalu, ada dua macam alat penanak nasi super canggih, ada mesin pencuci perabot makan di bawah kompor induksi itu, dan ada berbagai macam piring, mangkuk, dan gelas di sisi kanan tidak jauh dari kompor induksi itu.
Sebentar lagi akan datang seorang wanita. Namanya Mitha. Dia akan membantumu di sini.
"Baiklah. Aku akan antarkan makanannya ke ruang Presdir sebelum jam setengah dua belas. Sekarang tunjukkan di mana ruang Presdir?"
Rendy langsung menautkan kedua alisnya dan berkata, "Tidak ada yang boleh masuk ke ruang Presdir selain aku. Jadi, aku yang akan mengambil makanannya dan kembali ke kamu untuk melaporkan apakah Presdir cocok dengan masakan kamu atau tidak"
"Tapi, kemarin kamu bilang kalau aku bis bertemu dengan Bos kamu. Aku cuma ingin tanya soal foto yang kamu kasih ke aku kemarin"
"Aku memang kemarin bilang ke kamu, kalau besok kamu bisa bertemu Bos. Tapi, itu, belum tentu juga hari ini. Bisa aja besok lagi dan besoknya lagi"
"Kau.........." Joana mendelik ke Rendy dan dengan santainya Rendy berlalu pergi meninggalkan Joana.
Joana langsung mengejar Rendy, namun saat ia membuka pintu, ia bertubrukan dengan seorang wanita mungil yang gemuk.
"Maafkan saya!" Joana langsung memegang kedua bahu wanita itu.
"Tidak apa-apa. Saya Mitha. Saya yang akan membantu Anda menyiapkan makan siang untuk Presdir. Kita harus cepat menyiapkannya karena Presdir nggak suka keterlambatan"
Joana terpaksa merelakan Rendy menghilang dari pandangannya dan masuk kembali ke dalam ruangannya untuk mulai memasak.
Joana menoleh ke Mitha, "Kenapa ada es krim cokelat dan vanila di lemari es ini?"
"Presdir susah makan, tapi suka sekali makan es krim Apalagi makan es krim kayak gini?"
"Es krim kayak gini, maksudnya gimana?" Tanya Joana.
"Es krim yang disukai Presdir adalah es krim yang dijual oleh abang-abang di jalanan kayak gini. Dan Pak Rendy selalu membeli es krim di abang-abang yang jualan di pojok jalan"
"Oh. Kok aneh, ya? Dia, kan Presdir. Kenapa nggak beli es krim di restoran atau di mall besar. Kenapa malah beli es krim di pinggir jalan yang ada di pojok jalan kantor ini?"
"Orang kaya emang suka aneh, Mbak" Sahut Mitha.
Joana tersenyum geli mendengar ucapannya Mitha, lalu ia berkata, "Iya, kamu benar. Orang kaya emang suka aneh"
Rendy datang dan membawa keranjang yang berisi makanan yang sudah disiapkan oleh Joana.
Rendy bergegas berlari pergi sebelum Joana mengikutinya. Joana mendengus kesal karena lagi-lagi ia kehilangan jejaknya Rendy.
Rendy meletakkan keranjang makanan di meja sofa dan Mario langsung mendekati Rendy dengan wajah semringah.
"Baunya sedap. Kayaknya enak" Mario langsung membuka keranjang makanan itu dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Gimana?" Tanya Rendy.
"Enak. Sangat enak. Makanan ini sehat, tapi nggak pahit karena kebanyakan sayur"
"Lha iya, kamu benci banget, kan, sama sayur. Kenapa ini kamu makan lahap banget"
"Kamu cicipi aja sendiri. Masih ada satu, tuh"
Rendy mencicipi dan langsung melotot, "Gila! Ini enak banget"
"Iya, kan?" Mario makan dengan lahap.
Saat ia memakan cupcake dengan toping es krim cokelat, Mario seketika membeku. Dia teringat akan kenangan saat ia dan Joana makan es krim di bak pickupnya lima tahun yang lalu.
Rendy mengerutkan alisnya, "Kenapa? Cupcake ini enak juga, kok"
Mario tersentak dari lamunannya dan langsung menyahut, "Hmm"
Setelah semua makanan ludes, Mario berpesan ke Rendy, "Jangan katakan kalau makanannya enak.
"Hah?! Kau suruh aku berbohong?"
"Demi kebaikan" Sahut Mario dengan polosnya.
"Kebaikan Elo bukan Gue. Lalu, aku harus bilang ke Ana, apa?"" Rendy menyahut kesal.
" Katakan kalau makanannya nggak enak dan dia harus lembur bikin makanan lagi untuk makan malamku nanti"
"Hah?! Kamu,kan, kalau lembur nggak pernah makan"
"Mulai sekarang aku akan makan. Demi staminaku, kan?"
"Huuffttt!" Rendy mengelus dadanya sambil berlalu pergi dari hadapannya Mario.
Mario mengeluarkan kalimat sinis,
Rendy sampai di ruangannya Joana dan sambil meletakkan keranjang makanan yang telah kosong, ia berkata, "Masakan kamu semuanya pahit sekali, apa kau tidak mencicipinya terlebih dahulu?" Kalimat itu membuat Joana kesal.
Joana spontan membuka keranjangnya dan mendelik kesal ke Rendy sambil menyemburkan protes, "Nggak enak, kok habis ludes?"
"Jojo menyukainya. Jadi, semuanya dikasih ke Jojo"
"Syukurlah masih ada manusia normal yang mau menerima masakanku" Joana berucap sembari mengelus dadanya.
"Jojo bukan manusia" Sahut Mitha dengan pelan.
Joana menoleh ke Mitha lalu menoleh ke Rendy dengan wajah penuh tanda tanya.
"Mitha benar. Jojo itu nama anjingnya Bos"
__ADS_1
"Whaaatttt!!!!!!!" Joana langsung memekik kaget dan melotot.