
Segala sesuatu di dalam diri Joana membeku. Suara yang sangat ia kenal terasa hangat menyentuh telinganya.
Mario tampak seribu kali lebih tampan dengan setelan jas mahal berwarna abu-abu terang yang dipadu dengan kemeja berwarna hitam dan dasi yang senada dengan jasnya. Mario lebih memikat dibanding yang ada di dalam ingatannya. Baik bagi wanita maupun bagi pria lain, Mario sangat menawan.
Dan wajah Mario seperti model pakaian yang dipajang di tembok mall-mall besar. Rambut hitamnya berpadu sempurna dengan warna putih pucat wajahnya dan warna hijau bola matanya. Hidungnya yang mancung menjulang dengan elok di atas bibir yang penuh dan seksi. Belahan di dagunya terlihat lebih dibanding yang ada dalam ingatan Joana, tapi rahangnya tetap terlihat amat tegas seperti dulu.
Mario juga tengah sibuk mengamati setiap bagian di wajah Joana. Dia lalu berkata dengan suara dalam dan sedikit serak, "Aku kira kau tidak berani datang"
"Aku akan selalu menaati setiap pasal yang ada di kertas perjanjian cerai kita"
Mario tersenyum. Dengan seringai yang malas, Mario kemudian bertanya, "Mana suami kamu? Atau Papa kamu? Kamu berangkat sendiri ke sini?"
"Iya. Suamiku sibuk bekerja dan aku nggak ingin Papa tahu aku bekerja di perusahaan Alexei alih-alih perusahannya Papa" Joana menjawab ketus pertanyannya Mario.
Novi datang dengan membawa tissue dan Rendy langsung menarik Novi yang terperangah kaget saat ia melihat pria yang tengah berbincang dengan Joana.
Novi menarik lengannya saat ia tersadar dari keterkejutannya, lalu ia menoleh ke Rendy, "Kenapa ada kamu di sini? Dan, Ar.......Arga Hew........ Hewitt masih hidup?"
"Arga Hewitt udah nggak ada lagi di dunia ini. Yang kamu lihat barusan adalah Mario Alexei, Presdir kita"
"Hah?!" Novi langsung menutup mulutnya yang ternganga.
Rendy langsung berkata, "Tetaplah di sini dan jangan mengganggu mereka!"
"Tapi, dia nggak akan menyakiti Ana, kan?"
"Tetaplah di sini dan jangan banyak tanya kalau kamu nggak ingin aku memecat kamu sekarang juga" Rendy berkata dengan tegas.
Seketika Novi diam membisu.
Perut Joana tiba-tiba seperti ada debaran sayap kupu-kupu, seluruh indra di dalam dirinya bergejolak, dan hatinya berdesir hangat ketika Mario tersenyum kepadanya dan memberikan segelas cola.
"Aku bawakan kamu cola saat aku melihatmu melangkah masuk tadi. Aku nggak akan ijinkan kamu minum brendi, cocktail, anggur putih, anggur merah, atau minuman beralkohol lainnya malam ini"
Untuk meredakan debaran sayap kupu-kupu di dalam perutnya, Joana menyesap cola pemberian Mario dalam diam.
Seorang pria mendekati mereka dan menyapa Mario, "Hai, Mario! Wah, kamu semakin tampan dan sukses aja, ya. Apa ini wanita kamu?"
__ADS_1
Mario menoleh ke Joana dan Joana langsung melambaikan tangannya ke pria itu sambil berkata, "Bukan. Saya adalah karyawannya, heeeee"
Mario tersenyum tipis lalu menatap ke pria yang di depannya dengan senyum yang ia lebarkan.
"Well. Kau masih lajang ternyata, ya? Kau memilih keputusan yang benar teman. Pernikahan hanya menambah masalah saja"
"Yeah, begitulah" Sahut Mario dengan wajah canggung.
Joana seketika mematung.
Lalu, pria itu pergi meninggalkan Joana dan Mario.
Tiba-tiba datang seorang wanita berambut merah karena semir rambut bukan merah alami dan berkulit putih pucat, menghampiri Mario dan melingkarkan tangannya yang bergerak manja di pinggang Mario. Tangannya yang lain diletakkan dengan genit di dada Mario, lalu wanita itu berkata, "Sayang, aku kehausan, nih"
Joana memperhatikan wanita itu, wajahnya cantik tapi kesannya wanita itu adalah wanita pemberang. Gaun satin putih yang tipis menerawang dan memiliki belahan yang hampir menumpahkan kedua dadanya yang penuh seksi, sama sekali tidak cocok dikenakan di acara pertemuan para pemegang saham.
Mario melingkarkan lengannya dengan sikap memiliki pada bahu wanita berambut merah dengan gaun malam yang terbuka sensual itu sambil berkata, "Kau tidak mengenalinya?"
Joana terkesiap kaget dari lamunannya dan sontak berkata, "Maaf. Aku tidak mengenalinya"
"Hai, Ana. Aku Rosa. Aku sedih banget kau melupakan aku semudah itu"
Rosa menyeringai malas, lalu ia berkata, "Terima kasih untuk pujiannya. Aku tunangannya Mario sekarang ini. Kami akan segera menikah"
Joana merasa terhina dengan ucapannya Rosa dan sontak ia menatap tajam ke Mario untuk meminta penjelasan dari Mario. Namun, Mario hanya menatap Joana dalam diam.
Joana tersinggung dengan sikap Mario, dengan mendengus kesal, ia mengambil kembali gelasnya dan langsung berbalik badan Ia ingin segera pergi dari hadapannya Rosa dan Mario. Namun, saat ia berbalik badan, dia langsung tersentak kaget, "Astaga! Maafkan saya! Untung saja saya tidak menumpahkan minuman saya ke gaun indah Anda, Nyonya"
"Dia Mama angkatku" Sahut Mario dengan nada dalam dan datar.
Joana menoleh ke belakang lalu menoleh ke depan kembali lalu berkata, "Ah, senang bertemu dengan Anda Nyonya........."
"Aika" Sahut Wanita cantik yang masih bertubuh indah di umurnya yang sudah menginjak kepala empat.
"Sa.....saya permisi dulu" Joana langsung melangkah cepat meninggalkan Mario, Rosa dan wanita cantik yang bernama Aika.
Joana memilih untuk menghirup udara segar di luar. Dia berdiri di depan kolam renang untuk menghindari hiruk pikuk pesta mewah yang diselenggarkan oleh Grup Alexei.
__ADS_1
Joana yang terbiasa sendiri dan hidup di dalam kesunyian, membuatnya tumbuh menjadi orang yang tidak menyukai keramaian dan tumbuh menjadi orang yang tidak pandai bersosialisasi ataupun berbasa-basi.
Joana menyesap colanya dan menghela nas panjang, lalu bergumam, "Kenapa dia tidak ingin segera menceraikan aku? Dia, kan, udah punya tunangan. Dasar brengsek kau Mario! Kau ternyata pria yang sepeti itu. Apa wanita yang bernama Aika yang telah menyelamatkan kamu dan membuatmu kaya raya seperti ini?"
Novi menghampiri Joana dan mengajak Joana masuk kembali ke dalam karena papanya Joana yang mengetahui Joana datang ke pesta itu, meminta Joana untuk menemuinya.
Dengan langkah malas Joana melangkah ke dalam dan dengan langkah malas, ia menemui Papanya.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Kau, kan, nggak pernah suka mendatangi pesta semacam ini?" Leonard menautkan kedua alisnya ke Joana.
Joana seketika kelu. Begitu banyaknya kejutan yang ia dapatkan di beberapa menit yang lalu, membuat otaknya beku
"Saya yang mengajaknya, Om. Saya karyawan baru di perusahaan ini dan karena saya tidak punya teman maka saya ajak Joana untuk datang ke pesta ini" Sahut Novi.
"Apa Darren tahu kau di sini? Kau sudah bertemu dengan Darren? Dia baru aja sampai" Leonard menatap tajam putri cantiknya.
"Tidak. Aku belum bertemu dengan Mas Darren. Tapi, Mas Darren tahu kalau aku datang ke pesta. Aku udah nelpon Mas Darren tadi"
"Baiklah. Papa akan menemui Pak Gubernur dulu. Kamu baik-baik sama Novi dan jaga sikap kamu"
"Baik, Pa" Sahut Joana dengan senyum lega.
Joana langsung merangkul bahu Novi sambil berkata, "Makasih, ya, kamu menyelamatkan aku lagi"
"Sama-sama" Novi merangkul bahu Joana dengan tawa lebar.
"Dansa, Ana?"
Ana tersentak kaget dan langsung menjawab dengan sewot, "Kenapa ajak aku? Kenapa nggak ajak Rosa tunangan kamu yang lebih eye catching dibandingkan aku"
"Dia masih menerima telepon dan kita harus segera mencari pasangan dansa. Kau tidak ingin membuat Presdir kamu yang tampan ini tidak malu karena tidak memiliki pasangan dansa, kan?"
"Tapi, kenapa kau pilih aku? Ada banyak wanita di pesta ini. Cari wanita lain aja, karena aku akan dansa dengan Novi" Joana menoleh ke samping dan langsung melongo, "Lho, Novi mana?"
"Novi udah dansa dengan Rendy" Mario mengulum senyum geli.
Ana menoleh ke Mario dan berkata, "Aku rasa aku tidak bisa menjawab nggak mau kali ini"
__ADS_1
"Yeah, kau tidak punya pilihan"