
Joana memiliki bibir yang tipis dan terlihat manis, namun ia memiliki mulut yang sangat mengagumkan, begitu penuh dan lembut, luar biasa seksi.
Dengan napas bergetar, Joana membuka mulut. Otaknya menyuruh dia untuk mendorong Mario dan berlari pergi, tapi kakinya tidak dapat ia gerakkan.
Joana langsung mematung, lalu berjinjit dan tak bergerak, bernapas berat karena jantungnya terus berdebar abnormal, dan ia terengah melalui hidung, karena Mario masih menyelipkan lidah di mulutnya Joana.
Tak mampu menahan diri, Mario memegangi kepala Joana dengan dua tangan dan memosisikan diri lebih dekat lagi dengan wanita yang sudah membuatnya kehilangan daya dan akal. Mario makin dalam mencium, namun gerakannya lembut, intens dan ia mulai menjelajah mulut Joana yang terasa sangat menggoda
Joana mengerang, ia bergairah tanpa ia sadari dan menerima dengan kebodohannya, tapi karena ia tidak memiliki banyak pengalaman, ia tidak begitu berpartisipasi.
Mario melepaskan bibir Joana untuk mengambil napas dan ia mundur sedikit untuk mengamati Joana.
Mata Joana terpejam erat, kedua tangan Joana mengepal, cuping hidungnya mengembang, tubuhnya bersandar ke tubuh atletisnya Mario. Joana terlihat pasrah dan siap meledak.
Dia sudah menikah. Tapi, kenapa masih sangat polos. Dia seperti ini hanya karena satu ciuman, kenapa? Apakah dia tidak pernah disentuh oleh suaminya?
Kecurigaan di benak Mario, membuat Mario melepaskan Joana dan mundur beberapa langkah ke belakang, Dia sengaja memberi ruang gerak bagi Joana.
Perlahan bulu mata lentik Joana terangkat dan seketika menampakkan matanya yang membelalak. Joana maju, menampar keras pipinya Mario, lalu melangkah pergi meninggalkan Mario dengan isak tangis.
Mario seketika mematung. Dia ingin menyusul Joana, mendekapnya erat, tapi otaknya kembali mengingatkan dia akan semua kejadian yang ia alami di masa lalu. Dan kata cerai yang ia dengar dari mulutnya Joana beberapa menit yang lalu, membuat Mario mematung dan mengepalkan kedua tangan alih-alih mengejar dan mendekap erat Joana.
Joana berlari ke ruang kerjanya untuk mengambil tas dan langsung berlari kencang ke parkiran mobil. Joana mencengkeram kemudi mobilnya dan bergumam dengan suara gemetar, "Kenapa aku bisa bercinta dengan Mas Arga, eh, Mas Mario, sial! Bodo amat dengan nama dia yang sebenarnya. Kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun" Joana lalu menaruh keningnya di kemudi mobil dan kembali bergumam, "Aku sungguh bersyukur dia masih hidup dan sehat bugar saat ini. Tapi, dia bukanlah Arga Hewitt yang dulu aku kenal. Kenapa dia mengatakan aku menggugurkan kandungan dan meminta cerai? Yeaaahhh, aku memang meminta cerai beberapa menit yang lalu. Tapi, sebelumnya ia katakan soal gugatan cerai dariku di masa lalu. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Siapa yang harus aku percayai, Papa atau Arga Hewitt, eh, maksudku Mario Alexei?"
"Kenapa aku? Kenapa aku yang harus bertemu dengan Joana Alexander? Kenapa harus ada cerita cinta di masa laluku dan Ana? Dia masih lugu dan polos bahkan sampai saat ini. Bedanya, dia lebih cantik dan lebih menarik sekarang ini. Aku bisa merasakan kalau dia tidak berpura-pura. Ana memancarkan kemurnian sensual, menggetarkan keingintahuan penuh hasrat, dan haus akan sentuhan. Mengapa ia masih sama seperti Ana yang dulu? Apa suaminya tidak pernah menyentuhnya?" Mario lalu meraup kasar wajahnya sambil melangkah lebar ke kamar mandi.
Hampir tidak mampu menguasai diri, Mario langsung mengucurkan air dingin di pucuk kepalanya, "Aku butuh pendinginan selama sepuluh menit. Sial! Kenapa aku tidak pernah bisa menahan diri saat aku berada di dekatnya Ana"
Mario mencoba memejamkan rapat kedua matanya dan dia langsung membuka kedua matanya kembali dan langsung mengumpat, "Sial! Kenapa aku justru membayangkan diriku mandi dengan Ana saat ini" Mario memukul pelipisnya sambil berucap kesal, "Dasar otak mesum!"
Joana berlari masuk ke dalam kamar dan kembali melepaskan rasa sesak yang dibalut kekacauan di otaknya dengan derai air mata. Joana menangis sejadi-jadinya di atas kasur sampai dia ketiduran.
Darren pulang jam satu dini hari. Dia memang tengah asyik melakukan permainan mencicipi darah perawan, namun dia tidak lupa untuk pulang.
__ADS_1
Darren langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan di saat ia naik ke atas ranjang, ia melihat wajah Joana. Darren mengusap pipi istrinya dengan bergumam, "Apa dia habis menangis? Apa yang membuatnya menangis?"
Darren mencium keningnya Joana lalu ia memejamkan kedua matanya.
Tiga gadis yang masih suci sudah dibuka segelnya oleh Darren Benn. Dan ketiga-tiganya adalah karyawan baru di perusahaan milik papanya. Darren mengajak mereka makan siang pada awalnya, lalu masuk ke percakapan penawaran kedudukan dan gaji yang lebih tinggi, kemudian berlanjut ke persyaratan mutlak yakni, gadis itu harus bersedia tidur dengan Darren Benn.
Setelah sukses mencicipi darah perawan, Darren bukannya merasa puas. Dia justru menjadi terobsesi akan darah perawan dan berniat untuk mencari lagi darah perawan yang keempat. Obsesi gilanya itu membuat Darren semakin mengabaikan istrinya.
Joana bangun dan tidak menemukan suaminya di ranjang. Joana melirik jam di dinding, "Jam delapan. Apa Mas Darren sudah ada di ruang makan? Kenapa dia tidak bangunkan aku? Atau dia tidak pulang semalam?" Joana menghela napas panjang, lalu melangkah gontai ke kamar mandi.
Joana duduk cukup lama di depan meja rias. Dia merasa malas untuk pergi ke perusahannya Alexei. Dia teringat kejadian semalam. Dia masih belum bisa mencerna dengan baik semua yang dikatakan oleh Mario Alexei semalam, namun yang pasti Joana membenci pria itu.
Joana yang pagi itu memutuskan untuk memakai celana kain yang longgar berwarna hijau pupus dan dipadukan dengan blus lengan panjang berwarna putih polos, tidak memulaskan pewarna bibir. Dia juga malas menyisir rambut lurus indahnya. Dia hanya mengucir asal rambutnya dan memutuskan untuk tidak memakai kontak lensa. Dia memutuskan untuk memakai kacamatanya, karena ia merasa sangat lelah untuk sekadar memasang kontak lensa dan dia memutuskan untuk memakai kacamata, karena matanya terlihat sedikit bengkak setelah semalaman ia pakai matanya untuk menangis.
Joana turun ke lantai bawah dan saat ia bertemu dengan Nini, dia langsung bertanya, "Bapak pulang nggak semalam?"
"Kata satpam, Bapak pulang jam satu dini hari"
"Apa Bapak mabuk?"
"Baiklah. Terima kasih infonya. Ayo temani aku sarapan"
"Saya sudah sarapan Nyonya, tapi saya akan. temani Nyonya duduk di meja makan dan mengobrol" Nini tersenyum dan Joana ikutan tersenyum.
Paginya Mario dikejutkan dengan telepon dari Rosa.
"Halo! Kamu tidak pulang semalam?"
"Hmm. Kok kamu tahu?"
"Aku ada di rumah kamu sekarang ini. Aku bawa sarapan hasil masakanku untuk kamu"
Untung aku tidak pulang. Jadi, aku nggak harus makan makanan aneh bikinannya Rosa. batin Mario sambil bangun dan mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Halo, kok malah diam?"
"Aku mau mandi"
"Kamu lembur dan tidur di kantor kamu lagi, ya?"
"Hmm"
"Kamu nggak lupa makan, kan? Kamu sering lupa makan kalau lembur dan tahu-tahu pas meeting kamu jatuh pingsan"
"Hmm"
"Kok ham, hem, terus? Gigi kamu sakit sampai kamu nggak bisa ngomong? Aku kangen banget denger suara kamu, kok kamunya malah ham, hem, ham, hem, terus"
"Aku harus mandi. Aku tutup telponnya"
Rosa memandang kesal telepon genggamnya dan bergumam lesu, "Dia bahkan tidak pernah mengucapkan kata mesra setiap kali berbicara denganku di telepon ataupun saat ia menutup telepon"
Joana membuka pintu ruang kerjanya dan terkejut bukan main saat ia melihat Mario Alexei duduk di atas sofa tengah bersedekap, bersilang kaki, dan menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Ke.....kenapa kau a....ada di sini?" Joana berdiri mematung di tengah pintu.
"Aku tidak akan bicara sebelum kamu masuk dan menutup pintunya"
"Aku nggak bodoh. Aku nggak mau kejadian semalam terulang lagi. Aku nggak mau kamu menciumku dan ......"
"Masuk dan tutup pintunya! Atau........"
"Atau apa?" Joana mendelik kesal dan berkacak pinggang di depan Mario.
"Atau aku akan menggendong kamu dan membawa kamu ke tempat yang terpencil dan hanya ada kita berdua di sana. Kita bisa mengenang masa lalu kita dan......"
Joana melangkah masuk dan brak! Dia menutup pintu ruang kerjanya dengan sangat keras
__ADS_1
Mario tersenyum penuh arti dan sambil bangkit berdiri dia berkata, "Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan ke kamu"