
"Sayangnya Tante, nih, nggak ngelamar kerja ke rumah sakit atau perusahaan besar sebagai ahli gizi?"
"Nanti, Te. Aku masih belum niat bekerja di perusahan besar ataupun di rumah sakit" Sahut Joana sambil menata kue di etalase.kaca.
"Iya, sih, Non kecilnya Tante Alma ini masih jadi guru tari balet di studio balet. Jadi, masih repot, ya?"
"Iya. Sejak nikah aku tidak diijinkan oleh Mas Darren untuk ikut pertunjukan balet dan nggak boleh ikut lomba balet lagi. Jadi, sejak aku menggantung sepatu baletku, aku memutuskan jadi guru tari balet aja untuk mengisi waktu sebelum akhirnya aku punya toko kue ini"
Alma.mengelus rambutnya Joana dan berkata, "Kalau Nyonya besar masih hidup, dia pasti bangga melihat Putri yang dia lahirkan dengan bertaruh nyawa, tumbuh menjadi Putri yang sangat cantik, baik hati, dan punya banyak bakat"
Joana langsung memutar badan untuk memeluk Alma dan berkata, "Aku bisa jadi seperti in, tuh, karena kasih sayangnya Tante Alma.
Novi muncul di depan mereka dan langsung berkata, "Aku diterima kerja di Alexei Grup. Mulai besok, aku udah ngantor di kantor finance mereka" Novi yang lulusan akuntansi tersenyum lebar di depan Alma dan Joana.
Joana langsung memeluk Novi dan memekik girang sambil berkata, "Selamat, ya! Semoga sukses selalu"
"Tapi, mulai besok aku nggak bisa lagi membantu kamu di toko kue kamu ini"
Novi mengelus punggungnya Joana.
Joana melepaskan pelukannya untuk menangkup kedua pipinya Novi dan berkata, "Nggak papa. Aku, kan, udah punya satu karyawati, dia mulai masuk hari ini dan ada Tante Alma juga"
"Iya. Tante akan berada di sini selama dia puluh empat jam penuh" Sahut Alma yang langsung disambut gelak tawa cerianya Joana dan Novi.
Ketiganya terkejut saat telepon genggamnya Joana berdering sangat nyaring. Joana langsung merogoh saku celana kainnya dan beberapa detik berikutnya, ia berkata, "Halo? Maaf, siapa ini?"
"Saya dari Grup Alexei ingin bertemu dengan Anda"
"Grup Alexei?" Joana berucap sembari menoleh ke Novi dan Novi langsung menautkan kedua alisnya.
"Iya. Kami sedang mencari ahli gizi dan ada yang merekomendasikan nomer Anda ini ke saya. Bisakah kita bertemu di restoran Padi, pas jam makan siang?"
Joana melirik jam tangannya dan langsung berkata, "Tapi, saya masih belum ingin bekerja di perusahaan besar semacam Grup Alexei dan..........."
"Kalau Anda tidak bersedia datang ke restoran Padi, maka pihak kami yang akan datang ke toko kue Anda, sekarang juga"
"Kok Anda kesannya memaksa banget, ya?" Joana mulai geram.
"Karena, ini sangat penting untuk CEO di perusahaan kami. CEO di perusahaan kami susah makan, beliau selalu pilih-pilih makanan. Kalau kami harus sering pergi keluar untuk beli makan, waktu kami habis di jalan. Untuk itulah kami perlu ahli gizi seperti Anda. Demi kelangsungan hidup CEO kami dan kelangsungan hidup perusahaan kami, tolong bantu kami"
Joana yang memiliki watak tidak tegaan, langsung menghela napas panjang dan akhirnya berkata, "Baiklah"
Rendy menutup telepon genggamnya dan tersenyum ke Mario.
Mario melotot ke Rendy, "Apa katanya?"
"Dia bersedia datang"
__ADS_1
Mario langsung bersandar ke sofa dan berkata, "Ah, kenapa segampang itu dia bilang mau datang. Lalu fotonya?" Mario langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kamu ingin dia jadi ahli gizi kamu atau ingin dia melihat foto dirinya?"
"Dua-duanya" Sahut Mario dengan wajah tanpa dosa.
Rendy meraup wajah tampannya dengan kesal lalu ia berkata, "Oke. Aku akan cari cara agar Ana juga melihat foto dirinya"
Mario langsung semringah dan berkata, "Urus Ana dengan baik. Suruh dia mulai bekerja besok. Aku akan keluar sebentar untuk membeli sesuatu" Mario bangkit berdiri lalu menepuk pundak Rendy sambil berkata, "Thank you my beloved Brother"
Rendy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ting! Pintu terbuka dan Rosa berjalan mendekati Rendy yang masih duduk di sofa lobi. Sambil celingukkan Rosa bertanya, "Mario mana? Katanya ambil paket spesial di meja resepsionis, kok, nggak ada"
"Entahlah" Rendi memasukkan amplopnya Joana ke dalam tas kerjanya lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Rosa.
Rosa duduk di sofa lobi langsung bergumam, "Aku berhasil menjadi pacarnya. Tapi, dia tidak pernah memperlakukan aku layaknya seorang pacar. Dia tidak pernah mencium bibirku dan tidak pernah berinisiatif untuk mengajak kencan. Aku yang selalu mengajaknya berkencan. Dan dia juga selalu menghilang tanpa pamit seperti ini"
Mario pergi ke toko perhiasan langganannya. Pemilik toko perhiasan emas itu langsung memeluknya dan memekik kencang, "Aih! Ke mana saja kamu selama lima tahun ini? Kenapa sejak kamu pesan cincin pernikahan ke aku, kamu nggak pernah ke sini lagi?"
Mario melepaskan diri dari pelukan pemilik toko perhiasan emas itu dan langsung bertanya, "Cincin pernikahan yang dulu aku pesan, lima tahun yang lalu, masih ada di kamu, kan?"
"Masih dong. Aku jaga dengan baik cincin itu dan tidak pernah aku otak atik"
"Boleh aku ambil sekarang? Emm, tapi, sudah kamu ukir namaku dan nama Istriku di cincin itu, kan?"
Beberapa menit kemudian, Mario melaju kembali di atas aspal dan senyum-senyum penuh arti di dalam mobil.
Mario langsung berwajah muram setelah ia menerima panggilan teleponnya Aika. Dia dengan sangat terpaksa membelokkan mobilnya untuk menjemput Aika. Wanita yang sudah menolong hidupnya dan menariknya dari comberan, namun wanita itu juga membuat hidupnya Mario terkekang.
Aika menoleh ke Mario dan sambil mengelus pipi Mario ia tersenyum dan berkata, "Aku berhasil memenangkan tender dan aku butuh menyatu denganmu secepatnya. Bawa aku ke vila kita"
Mario langsung membelokkan mobilnya menuju vila yang ada di luar kota dan memiliki pantai pribadi.
Aika mengusap pipi Mario dan bertanya, "Kamu memang selalu dingin dan tanpa ekspresi seperti ini, tapi saat ini aku merasakan ada yang lain di diri kamu. Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang terjadi" Mario menyahut tanpa menoleh ke Aika.
Tiga jam kemudian, Mario memarkirkan mobil di pekarangan luas sebuah vila megah berlantai dua.
Aika langsung mengajak Mario turun dan menganggandeng tangan Mario dengan sangat mesra untuk melangkah masuk ke dalam vila
Sesampainya di dalam vila, Aika langsung menyuruh Mario untuk bersimpuh dan ia langsung mengikat tangan Mario dengan tali dadung ke belakang, menempel ke punggungnya Ares. Kemudian, wanita yang masih terlihat sangat cantik dan seksi di usianya yang sudah menginjak kepala empat itu, membungkam bibir Mario dengan bibirnya. Mereka berciuman sembari terus melangkah masuk ke dalam vila. Aika memagut bibir Mario sambil menarik kedua bahunya Mario untuk melangkah masuk ke bangunan mungil bergaya klasik yang berhadapan langsung dengan pantai.
Deburan ombak di pantai, selalu memberikan sensasi tersendiri bagi Mario dan memberikan debaran jantung yang tidak biasa di dada Aika.
Penguasa bisnis besar yang sangat cantik dan sangat seksi itu, melepaskan ciumannya lalu ia menurunkan dan mendorong Mario sampai Mario jatuh terlentang di lantai marmer vila itu.
__ADS_1
Aika mengusap bibir Mario dengan ibu jarinya. Bibir yang masih basah karena ulahnya kembali mengundang wanita dengan make-up tebal itu untuk mengecapnya lagi.
Mario membalas gerakan liarnya Aika dengan mencium lembut bibir ranum bagaikan strawberry dan terasa sangat manis bagaikan gulali itu dengan intens dan semakin menuntut ketika kemudian, kedua kelopak matanya Mario ditutup dengan syal.
Mario mengerang saat mulut Aika bergerak liar dan cepat di titik sensitifnya. Lalu Aika, membantu Mario berdiri dan mendorongnya kuat sampai tubuhnya terjatuh dengan sangat keras di atas empuknya kasur mewah.
Aika lalu naik ke atas tubuhnya Mario, membuka ikatan di kedua tangannya Mario, tapi tidak melepas tutup mata. Tangan Mario yang telah bebas, melayang-layang di udara mencari wajahnya Aika. Aika mendekatkan wajahnya dan saat tangan Mario menyentuh wajah Aika, ia menangkup wajah itu untuk ia tarik hingga bibirnya menemukan kembali kehangatan bibirnya Aika.
Mereka lalu berguling di atas ranjang sambil terus berciuman dalam gairah yang semakin lama semakin membara.
Hawa dingin di sekitar vila yang melesak masuk ke dalam kamar mereka, tidak mampu memadamkan api gairah yang ada di pasangan 'tidak normal' itu.
Sampai akhirnya, beberapa menit kemudian, pasangan liar itu menyelesaikan permainan asyik mereka dengan menggemakan suara puas mereka ke udara bebas.
Joana memekik girang saat ia melihat Rendy berdiri di depannya dan saat Joana mengulurkan tangannya, Rendy tidak menyambut ukuran tangan itu dan Rendy langsung berkata dengan ketus, "Duduklah! Kita dikejar waktu dan aku nggak ada waktu untuk berbasa-basi sama kamu"
Joana duduk kembali dengan wajah penuh dengan tanda tanya. Joana tidak tahan untuk melemparkan tanya, "Apa kabarmu? Kamu kerja di Grup Alexei sekarang ini? Sejak kapan? Apa kamu tahu di mana makan Arga? Aku ingin mengunjungi makamnya. Aku sangat merindukan Arga dan........"
"Cukup! Jangan bahas masa lalu. Bosku tidak bersedia menerima pemberian dari kamu. Amplop kamu aku kembalikan"
Joana tertegun menatap amplop yang di beberapa jam yang lalu ia berikan ke penjaga meja resepsionis hotel. "Kenapa dikembalikan?"
"Karena Bosku bukan orang kere" Sahut Rendy ketus.
"Aku nggak ada maksud menghina Bos kamu. Tapi, aku sungguh-sungguh ingin.........."
"Cukup! Tandatangani saja kontrak kerja ini" Rendy berucap sembari membanting sebuah map di atas meja sampai Joana mengerjapkan mata karena kaget.
Joana menatap Rendy dalam-dalam dan bertanya, "Kamu membenciku aku, ya?"
Rendy menghela napas panjang dan menatap lekat Joana tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, Joana bisa melihat kebencian tersirat di raut wajahnya Rendy.
"Kenapa kamu benci sama aku? Apa salahku?"
"Tandatangani kontrak kerja sama itu dan biarkan aku segera pergi dari sini. Aku sesak napas duduk berhadapan denganmu seperti ini"
"Ta......tapi kenapa kamu sesak napas? Apa yang sudah aku lakukan?"
"Tanda tangan cepat! Atau aku akan kasih lihat sesuatu yang akan membuatmu syok"
"Iya. Aku akan tanda tangan. Di telpon tadi, kan, aku juga udah katakan kalau aku mau menjadi ahli gizi Bos kamu" Joana langsung membuka map yang ada di atas meja dan langsung menandatangani tiga lembar kertas yang ada di dalamnya tanpa membacanya terlebih dahulu"
"Ada satu amplop lagi untuk kamu. Bukalah di rumah, nanti" Rendy lalu mengambil mapnya dan bangkit berdiri.
Setelah Rendy tidak tampak lagi di depannya, Joana memasukkan amplop yang berisi cek miliknya ke dalam tas dan membuka amplop yang diberikan oleh Rendy.
Joana seketika mematung saat ia melihat punggung telanjangnya di dalam sebuah foto dan ia tiba-tiba menggigil kedinginan ketika ia membaca surat yang menyertai foto itu, "Kalau kamu penasaran dengan foto ini, temui aku di kantorku besok! Aku akan berikan penjelasan yang sangat bagus untukmu"
__ADS_1