
Mona tiduran di atas kasurnya setelah minum obat. Dia yang menyimpan rasa sama Leo tersenyum-senyum sendiri saat ia mengingat kembali kepanikan Leo saat melihat ia muntah dan kelembutan Leo saat di rumah sakit.
Rendy menerima telepon dari neneknya Arga, "Bagaimana Arga di sana?"
"Bos, emm, maksud saya, Tuan Arga baik-baik saja" Sahut Rendy.
"Oke. Tiga bulan lagi, aku akan pulang. Kasih tahu Arga"
"Baik, Nyonya" Sahut Rendy.
Arga menoleh Ke Leo, "Untuk apa kamu ke rumah sakit?"
"Mona tiba-tiba muntah saat aku suruh dia mencicipi minuman racikanku" Sahut Leo dengan santainya.
Arga sontak mengedarkan pandangannya ke segala arah sambil berkata, "Mana Mona sekarang?"
"Aku anter pulang. Dia lemas dan pusing" Sahut Leo masih dengan wajah santai.
"Apa kata dokter? Mona kenapa?" Tanya Arga.
"Dia alergi sama strawbery ternyata. Aku baru tahu" Leo meringis ke Arga.
Arga menghela napas panjang dan berkata, "Syukurlah kalau Mona nggak parah kondisinya"
Plak! Novi menampar Arga.
Arga terkejut dan sontak menoleh ke Novi untuk menyemburkan protes, "Kenapa kau menamparku?"
Leo juga terkejut dan langsung mendelik ke Novi.
"Apa hubungan kamu dengan Mona. Kamu menghamili sahabatku, tapi kamu begitu mengkhawtirkan Mona. Ada hubungan apa kamu sama Mona, hah?!" Novi berkacak pinggang di depan Arga.
Arga mengelus pipinya dan bergumam kesal, "Lama-lama pipiku luntur. kena tampar sehari dua kali"
"Jawab!" Novi masih berkacak pinggang dan melotot ke Arga.
Arga menghela napas panjang dan berkata, "Mona adalah karyawanku. Sebagai Bos, wajar, kan, kalau aku mengkhawatirkan Mona"
"Lalu, Ana? Kenapa kau tidak mengkhawatirkan Ana? Kenapa kau tidak bertanya soal Ana dan kehamilannya. Kau malah sibuk menanyakan soal kesehatannya Mona. Dasar brengsek!" Novi berteriak ke Arga dan Leo langsung menutup kedua lubang kupingnya dengan telapak tangan
__ADS_1
Arga seketika mematung.
"Astaga! Kenapa kamu malah diam dan mematung sekarang?" Novi mendengus kesal.
Leo menepuk pundak Arga,"Masuklah ke kamar! Jaga wanitamu! Bukankah kamu sangat merindukannya? Kamu bahkan sering melamun saat bekerja karena memikirkannya, kan?" Ucap Leo sambil tersenyum.
"Aku sangat ingin masuk ke sana. Bahkan aku sangat ingin berlari dan memeluknya. Tapi, Ana sudah memilih Darren Benn. Ana sudah bersedia bertunangan dengan Darren Benn. Apakah aku pantas menemuinya?"
"Ana bilang kalau Papanya mengancam dia. Kalau dia tidak bertunangan dengan Darren Benn, Papanya akan membuat hidup kamu seperti di neraka dan Ana nggak mau hal itu terjadi padamu" Sahut Novi.
"Lupakan kecemburuan kamu. Masuklah ke kamar dan bicaralah empat mata dengan Ana. Kasihan dia. Dia masih bau kencur tapi sudah menghadapi masalah seberat ini. Dia mengandung anak dari musuh Papanya dan........."
Arga langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian menutup pintu kamar dan melangkah perlahan untuk berdiri tegak di samping ranjangnya. Ia menatap wajah Joana yang tampak tirus.
"Kenapa kau tampak sangat kurus, Ana? Padahal kamu tinggal di rumah megah dengan makanan berlimpah" Gumam Arga sambil duduk di tepi ranjang.
Leonard menelepon Boy dan bertanya, "Di mana Ana?"
Boy yang masih kerabat jauh almarhum mamanya Joana dan sangat menyayangi Joana, langsung berkata, "Non Ana masih di sekolahannya, Tuan. Sepertinya ada ujian lisan, jadi agak lama"
"Baiklah. Langsung bawa Ana pulang setelah selesai. Jangan mampir ke mana-mana!" Leonard berkata dengan nada tegas.
Paloma berdiri di belakangnya Leonard dan sembari merapikan blus dan rok pendeknya, ia menyeringai kesal, karena Leonard masih peduli sama Joana. Paloma kemudian berkata di dalam hatinya, aku nggak akan biarkan warisan kamu jatuh ke tangan Joana. Akan aku pastikan, Joana tidak akan mendapatkan satu sen pun dari harta warisan kamu.
Leo menelisik wajah temannya Joana, tidak begitu tinggi badannya, berambut hitam panjang dan ikal, berwajah bulat telur, berkulit kuning langsat, "Dan dia melototin aku, astaga!" Leo tersentak kaget dan refleks melompat ke belakang.
Novi berkacak pinggang dan dengan mata yang masih melotot dia menyemburkan tanya, "Kenapa mengamati aku? Ada yang salah dengan wajahku? Atau jangan-jangan kamu naksir sama aku, ya? Sori, kamu bukan tipeku. Tipeku itu yang seperti Arga. Sayangnya, dia sudah jadi milik sahabatku"
Leo sontak tertawa terpingkal-pingkal, lalu berkata, "Kamu juga bukan tipeku, Nona. Jadi, santai saja!" Leo lalu berputar badan, berjalan ke ruang tengah, duduk di sofa dan menghidupkan televisi"
Novi mendengus kesal dan duduk di sebelahnya Leo.
Novi dan Leo kemudian menonton televisi dalam diam.
Joana berdecak lalu mengeluarkan suara rintihan.
Arga terkejut dan refleks ia elus pipinya Joana sambil bertanya, "Ada apa? Bagian mana yang sakit?" Arga menatap wajah Joana dengan panik.
Joana sontak membuka kedua matanya saat ia mendengar suara Arga.
__ADS_1
Joana dan Arga bersitatap dalam keheningan.
Putri tunggal Leonard Alexander itu, kemudian bergumam, "Apa aku bermimpi?"
Arga diam mematung. Dia masih belum tahu bagaimana harus bersikap. Tidak bisa ia pungkiri, kecemburuan masih terasa panas di hatinya.
"Kalau ini mimpi berarti tidak apa-apa, kan, kalau aku memukulinya dengan bantal?"
Joana mengambil bantal di sampingnya dan sambil memukulkan bantal itu ke Arga ia berucap, "Kenapa kau hanya berani muncul di mimpiku? Kenapa kau tidak pernah mengirim pesan text padaku?"
Arga tetap diam mematung.
Joana lalu melempar bantal itu ke lantai dan berkata, "Tidak apa-apa juga, kan, kalau aku berkata, aku sangat merindukanmu Arga. Aku rindu kehangatan kamu, belaian kamu, ciuman kamu, perhatian kamu, sikap dingin kamu, selera humor kamu yang aneh. Dan aku mau bilang ke kamu" Joana mengelus perutnya yang masih tampak rata, "Di dalam sini ada anak kamu. Buah cinta kita. Eh, ralat. Kita tidak saling mencintai, kan? Apa kamu mencintaiku? Tapi, yang pasti, aku mencintaimu. Sesungguhnya Aku mencintaimu"
Arga tertegun mendengar semua ucapannya Joana. Lalu, ia menopang kepala dengan tangan, sementara siku bersandar pada lutut dan berkata, "Sudah selesai ngomongnya?"
Joana seketika mematung, lalu segera menyemburkan tanya, "Kenapa di dalam mimpiku, kamu bisa bicara? Biasanya kamu hanya diam kalau hadir di dalam mimpiku"
Arga menghela napas panjang dan berkata, "Karena ini bukan mimpi, Ana. Ini nyata. Kamu ada di dalam kamarku sekarang ini. Leo membawamu ke sini saat kamu pingsan"
Satu tangan Joana menutup mata, sementara tangan yang satunya tergeletak di samping tubuhnya dengan telapak tangan menghadap ke atas tak berdaya dan rapuh. Digigitnya bibir bawah agar Arga tidak mendengar isak tangisnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Aku tidak mengerti maksud kamu. Memberitahu apa?"
"Memberitahu kalau kamu sebenarnya mencintaiku dan kamu mengandung anakku"
"Aku juga baru tahu beberapa jam yang lalu" Sahut Ana.
Sewaktu Arga melihat mata Joana berkaca-kaca, Arga menjadi cemas. Dipeluknya gadis muda itu dengan sangat erat sambil berkata, "Jangan menangis lagi! Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku"
Joana menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya Arga dan dengan penuh kesabaran, Arga menunggu tangisannya Joana reda sambil terus mengelus punggung Joana dan tanpa Arga duga, Joana mengangkat wajahnya.
Arga tersentak kaget dan bertanya, "Apa yang kau inginkan Ana?"
Karena hormon wanita hamil sering bergejolak dan berubah-ubah, Joana tiba-tiba saja ingin mencium Arga dan dia pun melakukannya
"Hmmmppppt!" Arga tersentak kaget saat bibir Joana memagut bibirnya.
__ADS_1
Dengan cepat, Arga beralih peran menguasai permainan. Dengan kasar lidah Arga memisahkan bibir Joana dan mendorong masuk lebih dalam. Terdengar oleh Joana degup jantung Arga yang berpacu dengan cepat.
Joana mencengkeram kedua pundaknya Arga di saat ia merasakan ciuman Arga semakin hebat dan bergairah. Degup jantung Joana dan Arga menjadi abnormal secara bersamaan.