Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Rasa Manis


__ADS_3

keesokan harinya, Joana langsung didandani oleh Mama Mia. Mama Mia membawakan dress putih terusan pas badan yang panjangnya sampai tumit dan memiliki belahan di samping kanan di bawah lutut. Dress putih tersebut berkerah V dan memperlihatkan lekuk indah tubuhnya Joana. Mama Mia memandang Joana, "Di umur kamu yang masih tujuh belas tahun, kamu memiliki lekuk tubuh yang sangat indah. Kamu cantik dan sangat cantik"


"Terima kasih banyak, Ma" Joana tersipu malu.


Mama Mia lalu menyuruh Jonas duduk di depan kaca. Dia memegang kedua pundaknya Joana dan menatap wajah Joana di cermin, "Enaknya, rambut kamu aku cepol biasa atau aku biarkan tergerai dan aku kasih hiasan mahkota dari bunga melati? Kamu suka yang mana?"


"Digerai saja. Tapi, maaf kalau nggak bunga bisa? aku nggak suka sama bunga, Ma" Joana melempar senyum ke Mama Mia lewat cermin yang ada di depannya.


"Kalau gitu, aku pasang bando mutiara aja. Yeaahhh bukan mutiara asli, sih" Sahut Mama Mia.


"Iya. Aku pilih bando aja" Sahut Joana.


"Oke. Aku akan benahi rambut kamu dulu, setelah selesai barulah kita dandani wajah kamu"


"Makasih, Ma" Joana kembali tersenyum di depan cermin.


Sementara itu, Arga memakai setelan jas berwarna putih miliknya Pendeta Kaya Dwipa. Dia sudah berdiri dia berjalan masuk ke dalam gereja dan tersentak kaget saat ia melihat Rendy, Bramantyo, Leo, Mona, Novi, seorang pria, dan seorang wanita yang berdiri mengapit Novi.


Arga memekik girang dan langsung menyemburkan tanya, "Kapan kalian sampai? Kenapa kalian semua bisa ada di sini? Wah! Terima kasih banyak kalian bersedia datang ke sini untuk mendukung pernikahanku"


Arga lalu menoleh ke Novi, "Maaf, kamu ajak siapa ini? Aku belum pernah bertemu dengan Bapak dan Ibu ini?"


Novi tersenyum dan berkata, "Ini Pak Boy. Pak Boy supir pribadinya Ana yang sayang sama Ana seperti beliau sayang sama putrinya sendiri Pak Boy udah menikah, tapi belum punya anak"


Boy dan Arga saling melempar senyum dan bersalaman


"Dan ini" Novi merangkul seorang wanita yang memiliki wajah lembut keibuan, "Ini, adalah Bu Alma. Ana memanggil beliau dengan Tante Alma. Beliau yang merawat Ana sejak Ana dilahirkan di dunia ini. Beliau juga menyayangi Ana seperti putrinya sendiri"


"Oh! Ini rupanya Tante Alma. Senang berkenalan dengan Anda. Ana sering bercerita soal Anda sama saya" Arga menyalami Alma dengan penuh semangat.


Alma menggenggam tangan Arga dan dengan senyum lembut, ia berkata, "Tolong jaga Non Ana. Bahagiakan Non Ana! Kasihan sejak kecil Non Ana belum pernah merasa bahagia"


"Tentu saja Bu. Saya akan bahagiakan Ana dan menjaga Ana dengan jiwa raga saya" Arga tersenyum ke Alma.


"Terima kasih banyak" Alma menepuk pundak Arga dengan senyum tulus.


"Tidak perlu berterima kasih. Saya sangat mencintai Ana dan untuk selamanya hanya akan mencintai satu wanita yakni Joana Alexander" Arga tersenyum semringah.


"Sombong bener!" Leo menepuk keras bahu Arga dan Arga langsung menguyel-uyel rambutnya Leo sambil berkata, "Perlu sombong, dong. Aku bakalan punya Istri yang sangat cantik"


Semua langsung tertawa mendengar selorohannya Arga.


Arga kemudian digiring di depan altar dan menunggu pengantinnya di sana saat Mama Mia muncul dan berteriak, "Joana siap memasuki gereja!"

__ADS_1


Semua tamu langsung berdiri dan menoleh ke pintu masuk. Mereka menunggu kemunculannya Joana Alexander.


Melihat Joana Alexander tidak membawa buket bunga karena tahu kalau Joana memang tidak menyukai bunga, Novi langsung nyeletuk, "Wah! Bakalan nggak ada acara lempar buket bunga, nih. Padahal aku mengharapkan dapet biar bisa cepet nyusul nikah"


Leo langsung menepuk bahunya Novi, "Hei! Kamu masih tujuh belas tahun. Kok udah mikir mau nyusul nikah. Nggak boleh!"


"Emang Elo siapa? Bapak Gue? Kok ngatur-ngatur" Novi mendelik ke Leo dan saat Leo mendelik, Mona langsung menengahi, "Ssssttt! Jangan bertengkar! Berisik! Ini pernikahan yang sakral"


Leo dan Novi saling buang muka dengan kesal.


Pemberkatan berjalan lancar dan Bramantyo selaku pengacara, menyerahkan surat nikah ke Arga dan Joana untuk ditandatangani.


Alma berkata ke Joana, "Tante yang bawa surat-suratnya Non"


"Makasih Tante" Joana memeluk Alma.


"Nah, kalian sudah sah menjadi suami istri baik di mata hukum maupun di mata agama. Selamat, ya" Bramantyo menyerahkan surat nikah ke Arga dan menyalami Arga dan Joana dengan senyum semringah.


Lalu, Mama Mia mempersilakan semuanya ke aula besar. Mama Mia sudah menyiapkan hidangan sederhana yang lengkap dnw sangat banyak untuk mereka santap bersama-sama. Joana menitikkan air mata haru melihat kehangatan dan keceriaan yang ada di depan matanya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dia biasa hidup di dalam kesepian.


Arga mengusap pipi Joana sambil bertanya, "Kenapa menangis?"


"Aku terharu, Mas. Aku belum pernah berada di situasi yang hangat, ramai, dan penuh kasih sayang seperti ini"


Arga langsung memeluk Joana dan mencium pucuk kepalanya Joana dan berkata di sana" "Aku sangat bahagia melihat kamu bahagia tinggal di sini"


"Lalu, rumah yang ada di depan Pastori?" Joana menoleh ke Arga.


"Itu rumah yang aku pakai kalau aku mengunjungi anak-anak. Tapi, kalau beristirahat total dan tinggal sehari-hari, aku tinggal di rumah yang di ujung sana. Rumah kita dikelilingi kebun teh dan sayuran. Lalu di belakang rumah kita ada sungai yang sangat bersih airnya. Air dari pegunungan langsung" Arga memeluk pinggang Joana dan mencium pipinya Joana dengan lembut, lalu bertanya, "Kau suka?"


"Aku suka. Aku suka hawa sejuk di sini, suka kehangatan anak-anak, Mama Mia dan Bapak Pendeta Jaya Dwipa. Aku suka suana sepi di sini. Aku suka kamu ada di sini dan aku suka semuanya"


Arga tertawa bahagia mendengar ucapannya Joana dan ia langsung mengangkat tubuh Joana dan ia putar. Joana memekik kaget dan berteriak, "Mas! Hentikan! Kita bisa jatuh.


Arga mengentikan gerakannya memutar Joana dan menurunkan Joana dengan pelan di atas tanah dan setelah mengecup keningnya Joana, ia berkata, "Kita jalan kaki menyusuri pematang sawah menuju ke rumah kita, kamu nggak keberatan, kan?"


"Lalu mobil kamu?" Joana menoleh ke belakang.


"Biasanya juga aku parkir di sini. Aman, kok" Sahut Arga sambil menggandeng tangan Joana.


Joana lalu menahan tangan Arga, "Mas, sebentar"


"Ada apa?" Arga menoleh ke Joana dengan menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


Ada suara dung, dung, dung dan Joana langsung bertanya, "Apa itu es krim?"


"Iya. Kamu mau?"


Joana menganggukkan kepala dengan penuh semangat.


Arga langsung menghentikan bapak yang baik sepeda dan membawa wadah tempat bermacam-macam rasa es krim


Bapak penjual es krim itu berhenti di depan Arga dan Joana sambil bertanya, "Mau rasa apa? Cokelat, Vanila, atau stroberi?"


Joana menoleh ke Arga dengan wah bingung.


Arga tersenyum geli dan sambil mengusap rambut indah istri cantiknya, ia berkata, "Kok malah noleh ke Mas. Bapaknya nanya, tuh, kamu mau es krim rasa apa?"


"Emm, rasa apa ya? Aku nggak pernah beli es krim sendiri dan Tante Alma hanya sediain es krim rasa vanila di lemari es. Jujur, aku udah bosan sama rasa vanila, tapi nggak enak kalau harus bilang bosan ke Tante Alma" Joana meringis di depan Arga.


Arga mengusap rambut Joana dan tersenyum, lalu berkata, "Spontan aja kalau gitu. Saat ini, kamu ingin makan es krim rasa apa?"


"Kalau Mas, sukanya rasa apa?" Tanya Joana.


"Sebenarnya aku nggak begitu suka es krim, tapi kalau harus beli, aku standar aja. Suka rasa cokelat. Aku selalu beli yang rasa cokelat. Tapi, ini es krim biasa lho. homemade. Bukan seperti yang ada di mal-mal besar" Sahut Arga.


"Iya. Ini es krim kampung, Non" Sahut bapak penjual es krim itu. "Biasa disebut es krim dung-dung. Nih, kayak gini bentuknya" Bapak penjual es krim itu membuka tutup dagangan es krimnya.


"Aku mau. Aku belum pernah makan es krim kayak gini. Aku mau rasa cokelat aja kayak Mas" Joana menoleh ke Arga penuh cinta


Arga mencium pelipisnya Joana dan bertanya, "Mau pakai wadah dari kertas, pakai wadah contong yang terbuat dari bahan wafer dan bisa dimakan, atau mau pakai wadah roti tawar?"


"Iya, Non. Mau pakai yang apa?" penjual es krim itu menatap Joana.


"Aku pakai contong dan Mas pakai roti tawar, ya?! Biar kita bisa saling mencicipi nanti. Aku belum pernah makan pakai dua-duanya soalnya" Joana menatap Arga dengan penuh semangat.


"Oke. Satu pakai roti tawar satu pakai contong, Pak" Arga berkata ke bapak penjual es krim sambil memeluk pinggang Joana.


Mereka lalu memakan es krim mereka di atas bak mobil pickupnya Arga.


Arga menyuapi Joana roti tawar yang ada es krim cokelat di tengahnya, lalu ia mengusap sudut bibirnya Joana dengan bibirnya sambil bertanya, "Enak?"


Joana seketika mematung.


"Kok malah diam?"


"Mas, usap es krim yang ada di sudut bibirku dengan bibir Mas tadi. Kalau ada yang lihat gimana?"

__ADS_1


"Nggak ada yang lihat. Kalau ada yang lihat so what gitu lho. Kita udah nikah. Lagian sayang kalau buang-buang makanan. Makanya aku pilih usap es krim yang nempel di sudut bibir kamu dengan bibirku. Tapi, kalau boleh jujur, rasa es krimnya kalah manis dengan rasa bibir kamu" Arga menatap Joana dengan penuh arti.


Joana langsung menunduk malu


__ADS_2