
Saat Mario dengan perlahan bangkit berdiri lalu berputar badan untuk memperlihatkan wajahnya ke Joana, Joana langsung menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan telapak tangan kanan.
Ketika langkah Mario secara perlahan menuju ke arahnya, Joana refleks melangkah mundur. Dengan kedua alis terangkat ke atas, sekujur tubuh Joana gemetar tanpa dikomando. Dia merasa kalau dirinya melihat hantu.
"Kenapa kamu ketakutan seperti itu?" Mario menghentikan langkah kakinya saat ia melihat punggung Joana membentur tembok.
Joana bertanya lirih seolah tidak percaya dengan apa yang tampak di depan mata kepalanya, "Mas.......Mas Arga? Ka......kamu masih hidup? Ka....kamu kenapa mirip sekali dengan Mas Arga Hewitt. Apa kamu benar Arga Hewitt?"
"Namaku Mario Alexei" Mario menatap Joana dengan wajah datar dan ekspresi dingin.
"Ta.....tapi, kenapa kamu mirip sekali dengan........."
Mario langsung melesat untuk menangkap tubuh Joana saat Joana limbung ke depan dan akhirnya, wanita cantik itu jatuh pingsan di dalam pelukannya Mario.
Mario membopong Joana ke kamar istirahatnya. Dia merebahkan Joana di atas kasur. Lalu, ia duduk di tepi ranjang dan terus memandangi wajah Joana.
Ketika Mario ternyata kembali dengan peristiwa pedih yang ia alami di masa lalu, ia bangkit berdiri untuk mengambil minyak kayu putih yang ada di dalam lemari obat yang terbuat dari kaca dan terpasang cantik di tembok kamarnya.
Mario kembali duduk di tepi ranjang dan membuka tutup minyak kayu putih lalu ia goyang-goyangkan di depan hidungnya Joana.
Joana membuka kedua kelopak matanya dan spontan bangun lalu mendorong kuat tubuhnya Mario sambil berteriak, "Jangan sentuh aku!"
Mario bangkit berdiri dan menyeringai, "Malam kemarin, pas, kita berduaan di kamar hotel, kamu nggak berteriak seperti itu. Kamu justru terus merengek memintaku untuk menyentuh kamu. Dan apakah salah kalau seorang suami menuruti permintaan Istrinya untuk dipuaskan?"
Joana refleks menarik selimut dan menatap pria yang berdiri menjulang di depannya dengan rasa deg-degan banget. Efek debaran jantungnya yang tiba-tiba menjadi abnormal, membuatnya lumayan kepikiran soal pria yang mirip banget dengan Arga Hewitt dan dia teringat lagi dengan masa lalu. Efek pertemuan nggak terduga itu seakan mampu bikin jantung terasa mau copot, merinding, sampai pusing dan mual saking shock-nya.
"Kenapa diam? Apa kau mau aku melakukannya lagi untuk mengembalikan ingatan kamu di malam sensual kita kemarin di kamar hotel?" Mario menyeringai kembali. Mario sangat pandai berakting di depan Joana. Pria tampan berkulit putih bersih dan berbola mata hijau itu, menyimpan ekspresi grogi dan Kagetnya dengan sangat baik. Dia mengatur napas agar sikap alami salah tingkah tidak muncul begitu saja di depan Joana dengan cara tidak melakukan kontak mata yang terlalu lama.
Joana mencengkeram erat kedua ujung selimut dan berkata dengan tatapan nanar, "Ja......jadi foto itu adalah benar? Ki......kita melakukan hal yang hina? Kenapa kamu tega lakukan itu adaku?! Aku mabuk saat itu. Aku juga sudah menikah. Harusnya kamu.........."
"Kamu nggak dengar perkataanku tadi, ya? Kamu adalah Istriku" Dengan cepat Mario memotong ucapannya Joana.
"A.....apa?! Istri apa? Kamu siapa sebenarnya? Kamu mirip dengan Mas Arga Hewitt, tapi nama kamu Mario Alexei. Siapa kamu Sebenarnya?!" Joana berteriak frustasi.
__ADS_1
Arga mengambil sebuah map dari dalam laci nakas dan menyerahkan map itu ke Joana sambil berkata, "Buka, baca dan lihat dengan baik!"
Dengan tangan gemetar Joana membuka map dan langsung menatap pria di yang masih berdiri di depannya, "Ba.....bagaimana bisa aku menikah dengan Mario Alexei? A.....ku menikah dengan Arga Hewitt lima tahun silam dan........."
"Itu kenyataannya"
Kedua tangan Joana yang masih mencengkeram map itu, langsung terkulai lemas dan jatuh di atas pangkuannya.
"Kamu sudah berselingkuh. Dasar wanita menjijikkan"
Joana langsung menundukkan wajahnya dan berkata lirih, "Ya, kamu benar. Aku sudah mengkhianati Mas Darren. Aku sudah berselingkuh dari Mas Darren"
"Kamu tidak mengkhianati Darren!" Mario langsung berteriak sangat kencang.
Joana sontak mengangkat wajah cantiknya dan dengan gemetar ketakutan ia bertanya, "Apa maksud kamu?"
"Kamu sudah berselingkuh dariku. Kita masih menikah sampai saat ini, namun kamu udah menikah lagi dengan pria lain. Kamu mengkhianati aku.
Joana spontan menyibak selimut dan turun dari ranjang.
"Kenapa bisa begini?"
"Kamu kaget, kan? Aku masih hidup. Segar bugar berdiri di depan kamu saat ini. Kamu kecewa aku masih hidup?"
Joana menggelengkan kepalanya dan air mata mulai menetes di kedua pipinya.
"Kau tidak pernah mencintaiku, kan? Kau tidak memercayai aku saat itu, kan? Ketidakpercayaan kamu sudah merenggut nyawanya Leo, kau dengar itu?! Setelah itu kamu membunuh anakku dan ......."
"Anak kita" Potong Joana di sela isak tangisnya.
"Cih! Anak kita apa? Hanya aku yang mencintai anak itu. Kamu menggugurkannya dan........"
Joana Kembali menggelengkan kepalanya dan derai air matanya semakin deras.
__ADS_1
"Apa karena kamu masih anak kecil waktu itu maka kamu pikir cinta itu seperti permen karet yang bisa kau permainkan sesuka hati kamu? Kau bikin gelembung, lalu kau pecahkan dan begitu terus sampai rasa manisnya hilang dan gelembung itu sudah tidak menarik lagi, lalu kau buang begitu saja permennya? Begitu, hah?!" Mario melotot ke Joana dengan napas menderu penuh amarah.
"Kamu juga sama. Kamu juga mempermainkan cintaku. Kamu mengaku bernama Arga Hewitt, menjerat aku dengan kebaikan hatinya Arga Hewitt. Kamu juga menutupi fakta kalau kamu pengedar narkoba dan......"
"Itu semua rekayasa Papa kamu! Kamu bukan tidak memercayaiku sampai sekarang. Cih! Dasar semua keluarga Alexander memang menjijikkan" Mario melengkingkan suaranya dan melotot ke Joana.
"Kalau saja kamu jujur kala itu. Kamu katakan semuanya ke aku, maka........."
"Kau menyalahkan aku? Sementara semua yang terjadi di dalam hidupku adalah kesalahan Papa kamu" Mario melangkah pelan ke arah depan dan Joana melangkah mundur.
"Dasar wanita hina. Kamu menggugurkan anakku dan menikah dengan pria lain. Kau bahkan tidak mencari tahu kebenaran kematianku" Mario berkata sambil terus melangkah ke depan.
Joana diam membisu dan terus melangkah mundur ke belakang dengan wajah panik.
Saat punggung Joana membentur pintu, Mario langsung mengungkung tubuh Joana.
Joana seketika mematung dan dengan napas terengah-engah, ia berucap, "Apa yang akan kau lakukan?"
Mario mengusap sisa air mata di pipi Joana dan Joana langsung menepis tangan Mario sambil berkata, "Jangan sentuh aku!"
Mario menggertakkan gerahamnya dan sambil mencubit dagunya Joana, dia mengangkat wajah Joana dan berkata, "Benarkah? Aku tidak boleh menyentuh kamu? Hei! Jangan lupa! Kita ini masih suami istri yang sah"
Joana hendak membuang muka dan Mario langsung menahannya.
Joana melotot ke Mario dan berkata, "Aku sudah menikah dengan Mas Darren. Kalau kamu benci sama aku dan sama Papaku, maka ceraikan aku!"
"Bahkan sampai detik ini, kamu masih ingin bercerai denganku" Mario menyeringai.
"Aku tidak mengerti dengan semua yang kamu ucapkan. Aku menyesal mengenalmu dan ....... hmmmppppt!"
Joana tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Mario memagut bibirnya.
Mario sadar kalau Joana sudah tumbuh dewasa seperti perempuan berumur dua puluh dua tahun pada umumnya. Namun, ia mencium Joana seperti anak yang masih duduk di bangku SMA.
__ADS_1
Merasakan ketertarikan terhadap minimnya pengalaman perempuan yang berada di dalam kungkungannya, Mario mencoba menggoda Joana dengan lidahnya............