Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Mario Alexei


__ADS_3

Joana melepas cepol di rambutnya dan membiarkan tusuk cepol jatuh di atas lantai. Ia lalu menenggak habis cocktailnya dan setelah menggoyangkan kepalanya sebentar, ia berkata ke bartender yang ada di balik meja bar, "Racikan kamu,emm, terus terang masih kurang menggigit dibandingkan dengan racikannya Arga Hewitt. Dia bartender paling oke di seluruh dunia ini menurutku. Semua minuman racikannya sedaaapppp betul!" Joana mengacungkan ibu jarinya di depan bartender muda itu


"Oh, ya? Maafkan saya Nona, kalau minuman racikan saya masih belum memenuhi standar Anda. Dan maaf kalau saya bertanya, Arga Hewitt yang Anda sebutkan barusan, bekerja di bar mana atau di hotel mana? Saya ingin belajar sama beliau" Bartender itu meletakkan gelas keempat yang berisi cocktail dengan racikan yang sama.


"Joana menyesap gelas yang keempat itu, lalu berkata, "Nyonya. Aku sudah menikah. Kau lihat, kan, cincin di jari manisku ini. Aku sudah menikah"


"Ah, iya. Maafkan saya. Saya pikir Anda masih single karena Anda masih sangat muda"


"Dan Arga Hewitt......." Joana menggantung kalimatnya sebentar di udara dan setelah menghela napas panjang, ia berkata, "Dia memiliki bar sendiri bernama bar Hewitt. Tapi, bar itu sudah bangkrut dan Arga sudah meninggal. Dan kau tahu ........." Joana memajukan wajahnya lalu berkata kembali, "Arga Hewitt juga jauh lebih tampan dari kamu. Dia adalah pria paling tampan, paling lembut, paling seksi, dan paling romantis di dunia ini. Tambah satu gelas.lagi"


"Jangan Nyonya. Anda sepertinya sudah mabuk berat. Apa Anda datang ke sini sendirian? Kalau Anda datang sendirian, bagaimana Anda pulang nanti?"


Joana menggelengkan kepalanya dan setelah menenggak habis minuman di gelasnya, ia berkata, "Aku sekarang udah dua puluh tiga tahun. Tapi, aku nggak muda. Aku sudah menikah dua kali. Jadi, untuk apa kamu mengkhawatirkan caraku pulang nanti. Aku udah besar. Aku nggak mau dikekang lagi. Aku ingin bebas. Aku belum pernah merasakan kebebasan sebelumnya. Yaaahhhh! Kecuali saat aku bersama dengan Arga. Kebebasan itu aku rasakan hanya saat aku bersama dengan Arga" Lalu, Joana menjatuhkan kepalanya di atas meja bar dan berkata, "Kenapa ada banyak bintang di depan mataku? Ini tahun baru, ya? Kenapa ada kembang api juga di sekitarku?"


Bartender itu hendak keluar dari balik meja bar untuk menolong wanita muda yang sangat cantik yang tengah mabuk berat di depannya. Namun, tiba-tiba muncul seorang pria gagah, dengan setelan kemeja bermerk yang keren, berdiri di belakangnya Joana dan berkata ke bartender itu, "Dia teman lamaku. Joana Alexander. Lanjutkan saja pekerjaan kamu! Aku yang akan mengurusnya"


"Maaf, bisa tunjukkan kartu identitas Anda. Saya nggak ingin merasa bersalah kalau tiba-tiba Nyonya ini hilang karena Anda menculiknya"


Pria tampan yang masih berdiri tegak di belakangnya Joana mengambil dompet dari kantong belakang saku celana kainnya lalu menunjukkan kartu identitasnya ke bartender tersebut.


Bartender muda dengan nametag Agus Prasetyo itu lalu menembakkan kamera ke kartu identitasnya pria tampan itu. Dia kemudian mengembalikan kartu identitas itu ke pemiliknya sambil berkata, "Terima kasih banyak atas kerjasamanya Tuan Mario Alexei"

__ADS_1


Pria tampan itu tersenyum ke bartender muda itu. Lalu, bartender muda itu pergi meninggalkan Joana untuk melayani tamu yang lain.


Mario Alexei menatap punggung Joana di dalam kebekuannya, namun dia riuh bertanya di dalam benaknya, Kenapa dia masih naif dan polos? Padahal dia udah dua puluh tiga tahun sekarang ini. Kenapa dia datang ke bar kayak gini sendirian? Bukankah tindakannya ini bisa membahayakan dirinya. Kenapa dia selalu datang ke bar saat dia kacau balau? Dan apa yang dirinya kacau balau saat ini? Dan kenapa dia memakai dress putih pas body dan high heels? Sial! Kenapa dia tampak sangat cantik saat ini?


Joana yang masih merebahkan kepalanya di atas meja bar dan sempat tertidur selama beberapa menit, memijat tengkuknya sambil berkata, "Ah! Kenapa kepalaku pusing sekali?"


Pelan-pelan Mario mengangkat kedua tangannya, membenamkan jari-jarinya di antara rambut Joana, dan menyingkirkannya ke belakang wajah Joana. Ia lalu menyeret ke bawah jari-jarinya melewati helaian-helaian rambut indah itu. Setelah puas menyisir rambut indah itu beberapa kali sampai ke ujung-ujungnya yang terasa sangat halus, tangannya kemudian dilingkarkan di leher mulusnya Joana. Dipijatnya tulang belakang di bagian tengkuk wanita itu dengan ujung-ujung jarinya.


Joana menepis tangan yang ada di tengkuknya sambil berkata, "Siapa yang berani menyentuh tengkukku?"


"Bukankah ini membantu melepaskan ketegangan di lehermu dan meringankan rasa pening di kepala kamu?"


Pijatan itu berhasil memberikan Joana rasa nyaman dan hanya di dalam hitungan satu detik saja, Joana tertidur sangat nyenyak di atas meja bar.


Rendy mengikuti langkah Mario masuk ke dalam lift dan dia memencet tombol lift di nomer 8 sambil bertanya, "Kenapa kau bawa Joana naik? Mau kau apakan?"


"Entahlah. Aku hanya tidak ingin dia dilecehkan di bar"


"Tapi, dia dan Papanya udah jahat banget sama kamu. Kenapa kamu masih baik sama dia? Biarkan saja dia dilecehkan di bar agar Leonard brengsek itu merasakan kepedihan melihat anak satu-satunya diculik dan dilecehkan" Rendy berkata dengan ketus.


"Aku punya cara sendiri untuk membalas dendam. Soal balas dendam, tolong jangan ikut campur!" Sahut Mario.

__ADS_1


"Yeeeaahhh, baiklah" Sahut Rendy.


Mario keluar dari dalam lift dan Rendy menutup pintu lift untuk kembali ke lantai bawah melanjutkan rapat dengan para pebisnis kelas kakap yang bergerak di bidang kosmetik, supermarket, dan tekstil.


Mario masuk ke dalam kamar super VVIP dan berlari kecil untuk segera merebahkan Joana di atas kasur.


Mario lalu melepas sepatunya Joana dan dia menelepon Rendy, "Tas Joana sudah kamu ambil?"


"Sudah. Aku cek di dalam tasnya ada kunci mobil dan aku lihat mobilnya diparkirkan di depan lobi hotel" Sahut Rendy.


"Parkirkan mobilnya ke dalam hotel. Joana akan menginap di kamarku malam ini"


"Kau gila atau........."


Klik! Mario langsung mematikan telepon genggamnya.


Mario melemparkan telepon genggam mahalnya begitu saja di nakas sambil terus mengamati Joana dari ujung rambut ke ujung kaki. Mario menghela napas panjang dan berkata, "Kamu sudah menikah. Kenapa kamu berkeliaran sendirian di bar? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Joana tiba-tiba menelan ludah cukup keras dan sambil mengelus-elus seprei, wanita itu berkata, "Haus. Aku haus"


Mario tersentak kaget dan spontan mengambil gelas yang berisi air putih bening, lalu ia menopang Kepala Joana dan dia tarik ke atas. Dia peluk bahu Joana untuk membantu Joana minum. Setelah ia letakkan kembali gelas di atas nakas, ia tersentak kaget saat Joana tiba-tiba menarik kepala ke belakang untuk kembali rebah di atas bantal, gerakan Joana itu otomatis membuat dirinya ikutan tertarik ke belakang dan rebah di atas kasur.

__ADS_1


Mario menahan napas saat wajahnya berhadapan dengan wajahnya Joana.


Mario spontan mengumpat, "Sial!" Saat pipinya terasa terbakar dan jantungnya berdebar-debar.


__ADS_2