Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Kenapa Harus Ana?


__ADS_3

Joana menoleh ke belakang dan ia kaget saat ia melihat Arga diborgol dan dibawa pergi oleh polisi.


Joana sontak menoleh ke depan untuk meluncurkan protes, "Pa! Kenapa Mas Arga diborgol dan dibawa oleh polisi?"


Papanya Joana menoleh tajam ke jok belakang, "Kau panggil si penculik itu, Mas? Kau gila atau mabuk saat ini, hah?!"


"Penculik? Apa maksud Papa dengan penculik?"


"Dia menyembunyikan kamu di rumahnya selama berhari-hari. Itu bukan penculik namanya?" Leonard masih melotot ke putri cantiknya.


Joana diam membisu. Ia takut kena pukul papanya kalau ia berkata jujur bahwa dia yang datang sendiri ke bar-nya Arga dan mabuk-mabukan di sana untuk melupakan rasa kecewanya pada Darren Benn. Dan dia juga yang meminta untuk tinggal di rumahnya Arga.


Leonard mengarahkan pandangannya ke depan lagi sambil berkata ketus, "Diam kau sekarang! Mulai hari ini, Papa nggak akan ijinkan kamu keluar ke mana-mana. Semua guru les akan Papa datangkan ke rumah. Kamu hanya boleh keluar bersama Darren Benn. Dan Papa akan segera menggelar pesta pernikahan kamu dengan Darren Benn"


Joana sontak berteriak, "Aku nggak mau tunangan dengan Darren Benn, Pa! Dia selingkuh dan.........."


"Papa nggak percaya sama omongan kamu! Darren kebingungan dan panik saat ia tahu kamu menghilang. Papa tahu karakter Darren Benn. Dia nggak mungkin selingkuh" Leonard berteriak kesal tanpa menoleh ke jok belakang.


Joana menghela napas berat dan hanya bisa bersandar di jendela mobil dengan tatapan kosong.


Begitu sampai di kediaman megahnya, Joana langsung diseret masuk dan dimasukkan ke dalam kamar. Pintu kamar langsung dikunci dari luar oleh Leonard Alexander.


Gadis berusia belasan dan masih lugu itu, hanya bisa selonjor lemas dan bersandar di pintu kamar dengan Isak tangis.


Dia menangis karena, ia tiba-tiba merindukan Arga. Gadis manis dan cantik itu menangis, karena ia ingin menolong Arga, tapi dia tidak memiliki daya saat ini. Dia hanya bisa menangis sendirian di dalam kamar mewahnya.


"Saya bukan penculik, Pak!" Arga berteriak di depan petugas kepolisan yang duduk di depannya. Arga berteriak, karena ia kesal dipaksa mengaku telah menculik Joana Alexander.


"Lalu, kalau bukan penculik apa? Kau menahan Joana Alexander selama berhari-hari di rumah kamu dan saat kami datang tadi, kau berusaha menangkapnya saat gadis itu berusaha kabur, kan?" Petugas kepolisan mendelik ke Arga dengan kesal.

__ADS_1


"Situasinya bukan seperti itu. Ana, emm maksud saya, Joana Alexander tidak berusaha kabur. Ada kesalahpahaman di antara kami dan saya mengejarnya karena saya ingin............"


"Dasar penculik brengsek! Mana ada maling ngaku maling" Leonard datang dengan suara menggelegarnya.


Arga sontak menoleh ke arah suara menggelar itu dan dia langsung menghunus tatapan tajam ke Leonard Alexander penuh dengan kebencian. Arga tanpa sadar bangkit berdiri dan dengan tangan yang masih diborgol, ia mendekati Leonard dan mengayunkan tangannya yang masih diborgol ke wajahnya Leonard Alexander sambil berteriak, "Kamulah yang brengsek!!!!!"


Petugas kepolisan yang sedari tadi menginterogasi Arga, langsung bangkit berdiri untuk menangkap Arga dan menarik Arga menjauh dari Leonard Alexander saat ia melihat Arga hendak melancarkan pukulan kedua.


Leonard Alexander mengusap sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan sedikit darah. Ia menegakkan kembali wajahnya dan tersenyum tipis ke Arga, sambil berucap, "Hanya pukulan banci seperti ini, kau berani membangunkan kemarahanku?"


Arga kembali melangkah maju dengan napas menderu dan sorot mata siap membunuh.


Beberapa petugas kepolisian langsung membekuk Arga dan langsung menarik Arga masuk ke dalam sel tunggal yang ada di pojok ruang interogasi dan langsung menguncinya di sana.


Arga memegang jeruji sel dengan tangan yang masih dibrogol dan mengguncang jeruji besi itu sambil berteriak, "Dia itu penjahat yang sebenarnya! Kenapa kalian tidak menangkapnya, hah?! Kenapa kalian justru menangkap aku yang tidak bersalah ini?! Dasar polisi bodoh! Kalian semua bodoh! Kalian hanya dibutakan oleh uang! Berapa kalian dibayar oleh si brengsek itu!!!!!"


"Nggak papa" Leonard menepuk pundak petugas kepolisian itu, lalu melanjutkan kalimatnya, "Buat ia membusuk selamanya di penjara. Aku akan berikan tuntutan yang sangat berat untuk penculikan dan pemukulan"


"Baik, Tuan" Sahut petugas kepolisan itu.


Leonard melempar senyum ketus ke Arga, kemudian ia berbalik badan meninggalkan kantor polisi.


Arga kembali mengguncang jeruji selnya dan kembali berteriak "Jangan pergi kau! Aku belum bikin perhitungan denganmu!!!!!! Hei, brengsek!!! Kembali kau!!!!!!"


Pletak! Pukulan keras tongkat polisi mendarat di tangannya Arga dan Arga sontak lepaskan jeruji besi yang sedari tadi ia genggam sangat erat.


"Jangan berteriak lagi kalau kau tidak ingin kami menyiksamu!" Petugas kepolisan yang tadi menginterogasi Arga melotot kesal ke Arga.


"Kenapa si brengsek tadi datang ke sini? Dia telah membunuh Mama kandungku dan Papa si brengsek itu telah membunuh orangtua asuhku. Kenapa kau tidak menangkapnya, hah?!"

__ADS_1


Petugas kepolisan yang masih berdiri di depannya Arga tertawa mengejek lalu berkata, "Kau itu bodoh, masuk, atau gila, hah?! Mana bisa kami menangkap tanpa bukti" Petugas kepolisian itu kemudian menempeleng kepalanya Arga dengan tangan kirinya.


Arga mengaduh lalu dengan mendelik ia kembali bertanya, "Lalu kenapa dia ada.di sini tadi?"


"Kau memang bodoh ternyata" Petugas kepolisian itu kembali tersenyum mengejek, lalu ia berkata, "Dia papanya gadis yang kau culik. Leonard Alexander adalah papanya Joana Alexander"


Arga tersentak kaget dan langsung berjongkok di balik jeruji besi sambil bergumam, "Sial! kenapa takdir mempermainkan aku?" Arga kemudian tertawa pedih dan kembali bergumam, "Kenapa Ana adalah putri si brengsek itu. Dasar sial! Kenapa aku tidak menyelidiki asal usulnya Ana saat ia datang ke barku? Kenapa?! Kenapa harus Ana?!!!!!!!!"


Petugas kepolisian berbalik badan meninggalkan Arga sembari berucap, "Bergumam nggak jelas, tertawa dan berteriak sendiri kayak gitu, dia memang gila ternyata"


Petugas kepolisan itu menghentikan langkahnya saat ia melihat dua orang berlari ke arahnya dan berhenti mendadak di depannya persis. Petugas kepolisan dengan nametag Susilo, sontak melangkah mundur sembari bertanya kesal, "Siapa kalian?"


"Saya Rendy temannya Arga, yang ada di balik jeruji besi itu"


"Dan saya Bramantyo, saya pengacaranya Pak Arga Hewitt. Ini kartu nama saya"


"Oke silakan duduk" Sahut petugas kepolisian yang bernama Susilo.


"Apakah klien saya bisa keluar dari balik jeruji besi dengan uang jaminan?" Tanya Bramantyo yang bisa dipanggil Tyo oleh Arga.


Rendy langsung menoleh ke sel. Ia melihat Arga tengah berjongkok dan menangis di sana. Rendy langsung berkata ke petugas kepolisan yang duduk di depan dia, "Saya akan bayar berapa pun. Saya mohon keluarkan teman saya dari sana"


"Tapi, Arga Hewitt tidak bisa keluar dari jeruji besi kalau tidak ada pernyataan dari Joana Alexander bahwa Joana Alexander tidak diculik oleh Arga Hewitt. Lagipula, Arga Hewitt baru saja memukul Tuan Leonard Alexander" Sahut petugas kepolisian yang bernama Susilo.


"Apa?!" Bramantyo dan Rendy berteriak kaget secara bersamaan.


Joana mengusap air mata di kedua pipinya dan sambil bangkit berdiri, ia bergumam, "Aku nggak boleh menangis terus dan berdiam diri di sini. Aku harus menolong Arga. Aku harus keluar dari sini dan pergi ke kantor polisi" Dia kemudian berlari ke balkon. Joana melihat ke bawah dan mengedarkan pandangannya sambil bergumam, "Bagaimana caranya aku turun ke bawah?"


Joana dikunci oleh papanya di lantai dua dan lantai dua kediamannya Leonard Alexander itu cukup tinggi letaknya.

__ADS_1


__ADS_2