
Joana bangkit berdiri dan sambil berlari, dia menjejalkan foto dirinya dengan punggung telanjang ke dalam tas jinjingnya. Dia berlari kencang berusaha untuk mengejar Rendy. Namun, dia harus terngah-engah percuma. Rendy sudah menghilang.
Joana terus mengerutkan keningnya dan saat ia duduk di belakang kemudi mobil, dia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian di bar dan kejadian setelahnya. Namun, sialnya, dia hanya ingat kejadian saat ia minum di meja bar dan tidak ingat sama sekali dengan kejadian setelah itu.
Joana memijit pelipisnya dan mendesis, "Ssshhhh! Kepalaku terasa pening lagi, nih. Sial! Kenapa aku nggak bisa ingat apapun selain minum cocktail di meja bar. Lagian, seingatku, aku pakai baju lengkap dan masih rapi pas aku bangun di kamar hotel tadi pagi. Kenapa bisa ada foto punggungku yang telanjang? Aku ke Alexei Grup aja sekarang. Akan aku temui si pria brengsek Bosnya Rendy dan menanyainya soal foto punggung telanjangku" Joana langsung tancap gas menuju ke kantor Alexei Grup.
Mario kembali ke kantornya setelah ia menyelesaikan kewajibannya memuaskan nafsu liar Bosnya. Mario yang selalu merasa hina dan jijik kepada dirinya sendiri setiap kali ia bercinta dengan Aika, mengabaikan panggilan telepon dari Rosa.
Rosa mendengus kesal dan meremas erat telepon genggamnya sambil bergumam, "Kenapa dia mengabaikan teleponku? Dia ada di mana sekarang ini?"
Mario muncul dari dalam ruang rahasianya dan muncul di kamar istirahatnya yang tersedia di dalam ruang kerjanya. Lalu, dengan langkah malas-malasan, dia keluar dari kamar itu sambil menggendong Jojo anjing kesayangannya.
Anjing berjenis Kintamani Mario pungut dari pinggir jalan, dua bulan yang lalu. Anjing itu dibuang oleh pemiliknya saat masih bayi dan diletakkan di dalam kardus. Mario lalu memungutnya, membawanya pulang dan mengasuh anjing itu. Mario memberi nama anjing itu Jojo karena anjing itu cewek.
Mario lalu meletakkan Jojo ke teras dan membiarkan Jojo bermain bebas di sana sementara ia bekerja.
Mario memiliki ruang rahasia untuk bekerja secara sembunyi-sembunyi mengumpulkan bukti keberadaan papanya dan untuk menghimpun kekuatan secara sembunyi-sembunyi karena, ia tidak ingin selamanya berada di bawah ketiaknya Aika. Hanya dia dan Rendy yang mengetahui ruang rahasianya Mario itu.
Mario meletakkan kotak berwarna merah yang terbuat dari beludru dan di dalamnya terdapat sepasang cincin pernikahan ke dalam laci meja kerjanya lalu ia kunci laci itu dan ia masukkan kuncinya ke dalam dompetnya.
Cincin itu adalah cincin yang dia pesan saat ia memutuskan menikahi Joana. Namun, belum sempat ia ambil dan ia sematkan cincin itu di jari manisnya Joana, dia mengalami banyak masalah tragis yang membuatnya harus kehilangan semuanya termasuk Joana.
Mario tersentak kaget dari lamunannya saat intern phone di atas mejanya berdering cukup nyaring. Mario memencet tombol on dan berkata, "Ada apa?"
Petugas resepsionis di perusahaan Alexei Grup langsung menyahut, "Ada seorang wanita muda yang sangat cantik memaksa ingin bertemu dengan Presdir. Katanya dia ingin membicarakan hal yang sangat penting dan......."
Sreeettt! Joana langsung merebut gagang telepon dan langsung nyerocos, "Temui saya sekarang juga! Saya mohon! Ada hal penting yang ingin saya katakan.........."
Klak! Mario langsung meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya sambil bergumam, "Ana? Sial! Kenapa jantungku berdebar kencang saat aku mendengar suaranya?" Mario mengelus-elus dadanya.
Joana meletakkan gagang telepon ke tempatnya dan meringis ke karyawati yang berada di meja resepsionis, lalu berkata, "Bos Anda menutup teleponnya dan sepertinya dia marah, hehehehe"
__ADS_1
"Hah?!" Petugas resepsionis yang masih berdiri di depan Joana ternganga kaget.
Joana langsung memasang wajah memelas dan berkata, "Bolehkah saya minta tolong sekali lagi? Tolong telepon Bos Anda. Sekali lagi. Please?!"
"Nggak. Anda ternyata tidak sopan. Anda merebut gagang telepon dari tangan saya begitu saja dan Anda sudah membuat Bos saya marah. Saya pasti kena SP (Surat Peringatan) sebentar lagi dan itu karena Anda" Karyawati dengan nametag Erika itu mendelik ke Joana.
"Maafkan saya! Tapi, keadaan saya sungguh gawat. Saya butuh bicara dengan Bos Anda sekarang juga, tolong?!" Joana menangkupkan kedua tangannya di depan petugas resepsionis itu dan kedua kelopak matanya tergenang air mata.
Mario tersenyum lega saat ia melihat Rendy masuk.
"Kenapa Elo? Kenapa bahagia banget lihat Gue?" Rendy langsung mengerutkan keningnya.
"Ana ada di sini. Ada di bawah. Aku mendengar suaranya barusan" Mario menggerakkan kedua tangannya dengan gugup dan wajahnya tampak kebingungan.
"Elo kenapa sepeti kambing kebakaran jenggot, kayak gitu? Denger suara Ana aja langsung lebay kayak gitu"
"Kamu nggak ngerti perasaanku, Bro. Perasaanku kacau balau saat ini dan aku nggak tahu bagaimana harus menghadapi Ana"
"Kamu bilang apa di telepon tadi?"
Rendy meraup wajah tampannya dengan kasar dan menghela napas panjang, lalu berkata, "Apa kamu masih ada rasa sama Ana?"
Mario langsung mengibaskan kedua tangannya di depan Rendy sambil berkata, "Tidak! Tentu saja tidak! Aku hanya bingung harus bagaimana"
Mario kembali tersentak kaget ketika intern phone di atas meja kerjanya kembali berbunyi sangat nyaring. Mario langsung berkata, "Angkat teleponnya dan katakan kalau aku repot. Aku belum siap ketemu Ana sekarang"
Rendy menghela napas panjang lalu dengan langkah malas-malasan ia mengangkat gagang telepon dan berkata, "Iya, ada apa?"
"Rendy?" Joana yang cepat hapal dengan suara, langsung mengetahui kalau yang menerima telepon itu adalah Rendy.
"Iya. Ini aku. Kalau ingin bertemu dengan Bosku, datanglah besok. Bosku " Sahut Rendy sambil menoleh ke Mario.
__ADS_1
Mario langsung menautkan kedua alisnya saat Rendy meletakkan gagang telepon.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kenapa kau bilang begitu? Aku juga belum siap bertemu dengan Ana besok"
"Kalau nggak bilang gitu, Ana akan terus memaksa bertemu denganmu"
"Lalu, besok gimana dong?" Mario terhenyak lemas di kursinya.
"Kita pikirkan soal Ana besok. Sekarang kita bahas soal ......."
Mario bangkit berdiri dan berlari meninggalkan Rendy begitu saja.
Rendy melongo dengan kepala berputar mengikuti arah perginya Mario. Saat punggung Mario telah lenyap dari pandangnya, Rendy langsung mendengus kesal dan berkata, "Dasar bocah tua gila"
Mario keluar dari lift dan langsung bersembunyi di balik tembok ketika ia melihat Joana Alexander masih berdiri di depan meja resepsionis.
Mario mengamati Joana Alexander dari balik tembok dan bergumam, "Kamu terlihat lebih dewasa dan semakin cantik" Mario terus memperhatikan Joana dari kejauhan dan tanpa ia sadari ia mengulas senyum bahagia ketika ia melihat sosok Joana Alexander.
Seorang karyawan yang melintas di depan Mario, menatap Mario dengan heran dan spontan bertanya, "Presdir? Kenapa Anda bersembunyi di balik tembok?"
"Ssssstttt! Jangan ngomong keras-keras!"
"Kenapa Presdir ada di sini? Apa Anda mencari saya?" Karyawan itu mengajukan pertanyaan lagi dengan suara berbisik.
"Ngapain aku mencari kamu? Sana pergi jangan ganggu aku!" Mario mendelik ke karyawannya.
Karyawannya langsung pergi meninggalkan Mario.
Mario kembali mengintip dari balik tembok dan dia spontan keluar dari balik tembok ketika sosok Joana Alexander lenyap.
__ADS_1
Mario mendengus kesal dan bergumam, "Kok Ana pergi secepat itu?"
Mario lalu berputar badan dan kembali masuk ke dalam lift dengan wajah sedih. Karena jauh di lubuk hatinya, dia masih ingin berlama-lama menatap Joana Alexander meskipun dari jarak yang cukup jauh.