Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Jangan Pergi!


__ADS_3

Darren benar-benar frustasi saat ia akhirnya merasakan jatuh cinta. Dia jatuh cinta pada Joana Alexander. Dan Darren mengumpat kesal di depan meja kerjanya saat ia kembali teringat, pujaan hatinya, gadis cantik nan lugu yang ia cintai, masih belum ditemukan.


"Aku sangat merindukan kamu, Ana. Aku harap kita bisa bertemu kembali. Aku ingin meminta maaf dan ingin segera mengikatmu untuk menjadi wanitaku satu-satunya. Karena, kau tercipta di dunia ini hanya untuk aku" Gumam Darren sembari bersandar di kursi kerjanya yang empuk dan nyaman.


Arga memegang erat pinggul Joana dan sambil menciumi perut ratanya Joana ia berkata dengan suara serak, "Kau sangat wangi, Ana. Aku suka. Sangat suka dengan wangi kamu"


Joana yang memegang kepalanya Arga, mengelus kepala itu dengan rona malu di wajah.


"Aku nggak bisa berhenti" Arga menghela napas berat dan menghirup napas dalam-dalam sambil melayangkan senyum penyesalan ada Joana.


"Jangan berhenti kalau gitu" Ucap Joana dengan dibukanya matanya pelan-pelan.


"Kita berdua dalam pengaruh alkohol saat ini, Ana. Aku takut kalau kau akan menyesalinya besok Sial! aku malu pada diriku sendiri yang tidak bisa menahan diri lagi. Kau .........sangat cantik" Arga berdecak.


Joana merona malu di bawah kungkungannya Arga.


Ditekannya mulutnya pada mulut Joana. Bibir mereka membuka. Lidah mereka bersentuhan kembali. Ketika ciuman itu semakin. dalam, Arga menggeser bibirnya ke pundak Joana yang terbuka dengan tangan meluncur ringan di setiap lekuk indah dan kembali mengagumi lembah. Tangan Arga kembali bermain asyik di lembah kenikmatan sambil berucap di atas pundaknya Joana, "Aku akan melakukannya lagi. Maafkan aku, Ana. Pesona kamu membuatku tidak bisa berhenti. Sama sekali tidak bisa berhenti"


Kata-kata dan kalimat yang dilakukan oleh Arga membuat Joana bergetar hebat.


Ciuman Arga membuat bibir Joana memerah dan basah. Lalu Arga mengarahkan ciumannya ke dada. Ia mengusapkan wajahnya di dada itu saat ia akhirnya bergerak masuk untuk yang kedua kalinya.


Joana memekik kaget dan refleks mencengkeram punggung Arga. Joana bisa mendengar degup jantung Arga yang berpacu dengan sangat cepat. Dengan wajah sayu, Joana menatap Arga dan menyebut lirih nama Arga sambil mencengkeram erat pundaknya Arga.


Arga terus bergerak liar dan tak terkendali dan di saat ia dan Joana memekikkan pekik kepuasan mereka secara bersamaan, Antares berguling dan langsung memeluk perut Joana yang masih tidur terlentang, "Kau wangi, Ana" Arga membenamkan bibirnya di pipi Joana.


Joana tersenyum dengan wajah sayu dan lelah.


Arga lalu mencium pundaknya Joana dan berkata di sana, "Fakta bahwa kau masih tersegel rapat membuat napasku tercekat. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya dan sepertinya, aku hanya menginginkan dirimu mulai detik ini. Aku tidak mau wanita lain. Aku hanya inginkan dirimu, hanya dirimu"


Joana terkekeh tanpa bersuara, lalu bertanya, "Apa segelku menjadi masalah buat kamu?"

__ADS_1


"Yeeeaahhh! Kau kaku di awal. Aku kesulitan untuk masuk. Tapi, aku rasa aku pun juga kaku karena aku belum pernah melakukannya sebelumnya. Tapi, di permainan kedua kita, kau sangat luar biasa. Aku rasa aku juga sangat luar biasa. Benar, kan?" Tanya Arga. sembari bergerak turun untuk mencium perutnya Joana dan merebahkan kepalanya di sana.


Arga menyentuh kembali gundukan sintal dan Joana langsung bertanya, "Kau menyukainya?"


"Hmm" Sahut Arga sembari terus melakukan gerakan membelai, memelintir, dan meremas.


Joana merintih pelan dan kembali bertanya, "Apalagi yang kau suka dariku?"


"Wangi kamu, wajah polos kamu yang manis, bibir kamu, dan kaki jenjang kamu" Arga lalu mengelus kakinya Joana dan kembali berkata, "Kaki kamu sangat indah dan sejak awal aku melihat kaki kamu ini, aku sudah menyukainya"


"Lalu bagaimana dengan si pemilik kaki itu? Kau tidak menyukai pemilik kaki itu?" Joana berucap dengan kelopak mata yang mengerjap-ngerjap karena kantuk berat dan lelah mulai menderanya.


Arga sontak menjawab, "Aku sudah mulai menyukaimu sejak awal bertemu denganmu di pantai waktu itu. Aku ingat sekarang. Perjumpaan pertama kita itu di pantai bukan di bar. Kau menggambar wajah seorang pria di pasir pantai dan aku rasa itu Papa kamu. Benar begitu?" Arga menoleh ke kanan untuk melihat Joana.


Arga tersenyum lebar saat ia melihat Joana telah tidur dengan sangat nyenyak.


Arga mengangkat kepalanya dari perut ratanya Joana untuk menarik selimut sampai ke dagu. Ia menutupi tubuh telanjangnya Joana dari angin malam. Lalu, Arga mengecup bibirnya Joana sambil berkata, "Aku akan menikahimu. Aku akan bertanggung jawab, karena sudah nekat membuka segel kamu, Ana" Arga kembali mengecup bibirnya Joana, lalu pria tampan berbola mata hijau itu bergulir untuk bangun dan memakai celana boxernya.


Arga segera mengangkat panggilan yang masuk ke dalam telepon genggamnya karena ia tidak ingin dering kencang dari telepon genggamnya membangunkan Joana.


"Bos, Musuh kita menyerang balik kita. Saham kita turun drastis" Sahut Rendy.


"Aku akan cek sekarang juga" Arga membuka pintu balkon dan menutupnya kembali dengan tenang lalu ia duduk di depan meja untuk membuka laptopnya. Dia bekerja sangat keras dan setelah berhasil menyeimbangkan skor dengan musuhnya, Arga bangkit berdiri, berbalik badan untuk berjalan ke ranjang dan merebahkan diri di sana sambil memeluk erat perut ratanya Joana.


Arga berbisik di telinganya Joana, "Kau membuatku bisa berpikir jernih dan berhasil menyeimbangkan skor dengan musuhku. Terima kasih, Ana. Aku rasa kau muncul di depanku dengan tanpa sengaja untuk menjadi keberuntungan dalam hidupku" Lalu, Pria tampan berbadan atletis itu segera memejamkan mata dan tertidur pulas dengan mengulas senyum bahagia.


Bunyi Kokok ayam jantan dan air hujan yang mengetuk-ngetuk pintu jendela, membuat Joana membuka kedua kelopak mata lentiknya dengan pelan. Dia menemukan dirinya tidur miring. Kepalanya berdenyut-denyut, sekujur tubuhnya terasa pegal, dan di bagian bawah terasa sedikit aneh dan terasa perih.


Terdengar suara dengkuran halus di belakangnya. Joana sontak berbalik badan dengan pelan-pelan, dan ia hampir saja berteriak kencang saat ia menemukan Arga tidur satu ranjang dengannya. Namun, dengan sigap ia menutup mulutnya yang ternganga.


Joana refleks menunduk dan saat ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, Joana tertegun. Dia kemudian berusaha mengingat kembali kejadian semalam sembari menutup sembari mendekap erat selimut yang ada di atas tubuhnya.

__ADS_1


Joana langsung memejamkan kedua matanya dengan rapat dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar saat ia bisa mengingat kejadian semalam. Ia dan Arga telah bercinta secara gila-gilaan semalam.


Joana membuka kembali kedua kelopak mata lentiknya, lalu menyibak pelan selimutnya untuk melangkah turun dari atas ranjang dengan perlahan. Gadis cantik itu mengumpat lirih, "Sial" Saat bagian bawahnya kembali berdenyut dan terasa nyeri.


Joana memegangi kepalanya yang terasa sangat pening saat ia menunduk untuk mencari bajunya.


Joana mengumpat kesal dan bergumam tanpa bersuara, "Sial. Kenapa aku pakai seragam bar yang ribet itu semalam?" Lalu pandangan Joana beralih ke kaosnya Arga.


Tanpa berpikir panjang, Joana memakai kembali pakaian dalamnya dengan cepat lalu menyambar kaosnya Arga yang bila ia pakai, kaos itu akan berubah menjadi dress mini.


Sambil mendesis pelan, ia berjingkat keluar dari dalam kamar dan berusaha untuk mengabaikan rasa nyeri yang ada di kepala dan bagian bawah dengan melangkah lebar turun ke lantai bawah.


Arga bangun saat ia mendengar gemuruh petir. Dia tersentak kaget saat menemukan ranjangnya kosong. Arga langsung berteriak, "Ana! Kau di mana?"


Arga segera melesat ke kamar mandi saat tidak ada sahutan dan bergegas berlari keluar dari dalam kamar saat ia tidak menemukan Joana di kamar mandi.


Arga mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan lantai dua kediamannya dan mengumpat kesal saat ia juga tidak menemukan Joana di kamar mandi yang ada di luar kamarnya.


Arga langsung melesat turun. Dia membuka pintu bar dan melihat Joana berlari di tengah hujan menuju ke jalan raya.


Arga segera berlari dan dia berhasil menahan lengan Joana sebelum Joana berhasil menyeberangi jalan raya.


Arga berteriak, "Jangan pergi!"


"Kenapa kau tega?!" Joana berteriak kencang dan mendelik ke Arga.


"Itu kesalahanku. Aku khilaf. Kau berhak menyalahkan aku. Apa yang terjadi pada kita semalam adalah suatu kesalahan. Tapi, aku rasa aku mencintaimu!" Teriak Arga di tengah derai air hujan dan di tengah kebisingan jalan raya.


"Aku tidak dengar!" Teriak Joana.


Tiba-tiba terdengar suara kencang, "Jangan bergerak!"

__ADS_1


Lalu, Joana didekap oleh Leonard dan dibawa pergi oleh Leonard saat polisi memborgol kedua tangannya Arga.


Arga terkejut saat polisi yang memborgolnya berkata, "Kau kami bawa ke kantor polisi atas tuduhan penculikan"


__ADS_2