
Bartender muda berbola mata hijau itu, tidak lagi menaruh belas kasihan pada Joana. Kecemburuannya seketika menguasai hatinya kembali dan membuatnya menggila. Dia tidak mencium Joana dengan penuh kelembutan lagi melainkan dengan semangat menggelora dan bergairah.
Arga mendaratkan sejumlah kecupan dan gigitan-gigitan kecil yang sangat pas yang mampu membuat gadis selugu Joana, beberapa kali merintih lirih. Rintihan lirih Joana membuat ciuman Arga membabi-buta. Ciuman yang biasanya hanya Joana lihat di drama-drama Korea atau di film-film romantis Eropa, kini ia rasakan sendiri dan gadis lugu itu sangat menyukainya.
Kecemburuan di hari Arga membuat Arga seperti orang kelaparan dan lidahnya berpesta di dalam mulutnya Joana, seakan-akan ia tengah menikmati cokelat manis dalam berbagai macam rasa. Ia ingin terus mencicipi Joana di dalam kesadarannya tanpa melibatkan alkohol seperti yang terjadi sebelumnya.
Ketika akhirnya Arga mengangkat kepalanya untuk membiarkan dirinya dan Joana mengambil napas, ia melihat bibir Joana tampak merah muda dan basah. Kedua mata Joana tampak berkilau indah, tubuh yang ia dekap terasa hangat dan lunak.
Dada Joana naik turun dengan cepat dan membuat Arga menurunkan pandangannya di sana. Tanpa meminta ijin pada sang pemilik, Arga menyentuhnya dan sambil menempelkan keningnya di kening Joana, ia berkata, "Seharusnya kita berbicara saat ini. Ada banyak hal yang harus kita luruskan. Tapi, kamu menciumku. Sekarang kamu harus bertanggung jawab atas kelancanganmu menciumku"
Joana merasakan panasnya napas Arga di keningnya.
Joana lalu berkata dengan suara serak penuh gairah, "Ciuman kita sudah mewakili semua hal yang ingin kita sampaikan. Yang terpenting adalah, kita saling rindu, kita saling cinta, kita saling membutuhkan. Benar begitu, kan, Mas?"
Arga meremas pelan dada Joana yang masih naik turun dengan cepat dan berkata dengan suara serak menahan gairah, "Iya. Benar"
Joana melenguh dan menengadahkan wajahnya ke langit kamar saat tangan Arga yang hangat terus bermain di titik kenyalnya.
Arga menyusupkan wajahnya di dada Joana dan langsung menegakkan kembali wajahnya kembali. Pria tampan berbadan atletis itu pun langsung merapikan dressnya Joana kembali saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk berulang-ulang kali.
Arga mencium kening Joana untuk memadamkan gairahnya, lalu ia merapikan rambut Joana. Dengan helaan napas panjang, ia berjalan ke pintu.
Arga melihat Novi berdiri di depannya saat pintu terbuka. "Ada apa?"
Novi langsung berkata, "Maaf mengganggu. Tapi, Ana harus segera pulang. Supir pribadinya Ana sudah ada di pekarangan depan dan menyarankan kami untuk segera pulang, karena Papanya Joana sudah meneleponnya, menanyakan di mana posisi Ana saat ini"
"Apa supir itu mengatakan yang sebenarnya kalau Ana di sini?" Tanya Arga.
"Tentu saja tidak. Pak Boy, ada di pihak kita. Dia selalu menolong dan melindungi Ana seperti putrinya sendiri" Sahut Ana.
"Berapa umur pria yang bernama Boy itu? Kenapa dia sangat peduli sama Ana" Wajah Arga dilanda kecemburuan.
__ADS_1
"Hei! Jangan cemburu pada Pak Boy. Pak Boy adalah kerabat jauh almarhum Mamanya Ana dan dia sudah menikah" Sahut Novi dengan wajah kesal.
"O" Sahut Arga singkat.
"O aja gitu komentar kamu? Dasar aneh. Ana! Keluarlah! Kita harus pulang" Novi langsung berteriak.
Arga langsung menggeram, "Ana milikku. Dia mengandung anakku. Kamu pikir, aku akan biarkan kamu membawanya pulang?" Arga menatap Novi dengan wajah dingin.
Leo muncul dari balik tubuhnya Novi dan langsung berkomentar, "Dia harus pulang, Ga. Kalau dia ada di sini, kamu akan dipenjara lagi untuk kasus yang sama. Penculikan anak"
"Nggak. Aku nggak akan biarkan Ana pergi dariku lagi. Aku juga nggak akan turuti lagi nasehat kamu saat ini. Gara-gara aku menuruti nasehat kamu saat itu, aku hampir kehilangan Ana dan anakku. Untung saja kamu ketemu Ana di rumah sakit kalau enggak ......."
"Ana akan gugurkan kandungannya" Sahut Novi dengan santainya"
"Nah! Kau dengar! Untuk itulah aku nggak akan biarkan siapapun membawa Ana dari sisiku. Titik! Aku nggak mau kehilangan Ana dan anakku" Arga melotot ke Leo dan Novi.
Leo menoleh ke Novi dan berkata, "Kenapa kau harus katakan kalau Ana ingin gugurkan kandungannya?"
"Aku akan pertahankan Ana dan melawan siapapun yang ingin merebutnya dariku" Arga berkata dengan napas menderu.
Leo sontak melotot terkejut mendengar ucapannya Arga. Ia kemudian menghela napas panjang dan segera berkata, "Tapi, itu konyol namanya. Kalau kau pertahankan dia di sini........"
"Siapa bilang dia akan aku pertahankan di sini" Sahut Arga dengan wajah tanpa ekspresi.
"Maksud kamu?" Leo dan Novi menyemburkan tanya secara bersamaan.
"Aku akan bawa Ana ke panti asuhan tempat kira pernah diasuh" Arga menatap Leo.
"Hah?!" Leo sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.
Novi langsung mendorong Arga dan dia menyusup masuk ke kamarnya Arga sambil berkata, "Nggak boleh. Kalau Ana kamu bawa pergi, kalian bisa celaka. Papanya Ana tidak akan tinggal diam. Aku harus bawa Ana pulang sekarang juga sebelum Papa dan Mama tirinya sampai di rumah"
__ADS_1
Leo ikutan masuk ke dalam kamarnya Arga dan Arga langsung menggeram kesal, "Kenapa kalian menyusup masuk ke kamarku?"
"Aku harus ajak Ana pulang. Tolong ijinkan!" Sahut Novi.
"Ana mengandung anakku. Bukankah aku harus bertanggung jawab? Untuk itu, aku akan pertahankan Ana di sisiku. Aku akan menjaga Ana dan anakku mulai dari sekarang" Arga tetap pada pendiriannya.
Novi langsung menatap Joana yang masih duduk selonjor di tengah kasur. Lalu, Novi bertanya, "Ana, kenapa diam saja? Ayo turun dari kasur itu dan ikut aku pulang"
"Aku ingin tetap di sisinya Arga. Dia adalah Papa dari anak yang aku kandung. Aku tidak ingin memisahkan anak dari Papanya" Sahut Joana.
"See! Ana sependapat denganku" Sahut Arga.
Leo dan Novi langsung meraup wajah mereka dengan frustasi.
Darren bersiul saat ia turun dari mobil mewahnya. Dia ingin mengajak Joana makan siang di sebuah hotel. Dia telah bertunangan dengan Joana dan dia merasa berhak untuk mencicipi Joana. Untuk itulah, ia memesan kamar hotel dan mengajak Joana makan siang bersama di sana.
"Ana, ada, kan Bi?"
Alma yang keluar menemui Darren langsung berkata, "Maaf, Tuan. Non Ana pergi ke sekolah. Ada penandatanganan berkas dan ujian di sana, jadi Non Ana harus hadir di sekolahan"
Darren langsung mengepalkan kedua telapak tangan yang ada di kedua sisi badan. Dia kecewa, sangat kecewa. Dan dia kesal, sangat kesal karena ia harus menahan impian liar yang sudah ada di ubun-ubun untuk bisa mencicipi Joana di hari itu.
"Tuan bisa menyusul Non Ana di sana" Sahut Alma saat ia melihat ada gurat kekecewaan di wajah tampannya Darren Benn.
"Nggak usah. Saya sibuk. Besok saja saya akan ke sini lagi" Darren berbalik badan meninggalkan Alma dengan masih mengepalkan kedua tangannya. Pewaris utama Grup Benn itu langsung memukul kemudi mobil dengan sangat kesal dan menggeram, "Kenapa Ana tidak kirim pesan text ke aku kalau dia harus pergi ke sekolahan hari ini?" Darren lalu menelepon asisten pribadinya, "Batalkan kamar hotel dan makanan yang sudah kau pesan! Ana tidak ada di rumah"
"Tapi, saya sudah bayar lunas semuanya, Tuan. Apa Tuan ingin memakai kamar ini dengan wanita lain seperti biasanya? Saya akan .........."
"Kau gila, ya?! Aku tidak mau wanita lain. Aku hanya ingin Joana Alexander, tunanganku. Aku akan belajar setia karena aku sudah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Aku sangat mencintai Ana" Sahut Darren.
"Lalu, kamar dan makanannya?" Tanya Asisten pribadinya Darren.
__ADS_1
"Terserah mau kau apakan. Kau pakai juga nggak papa" Sahut Darren dan klik! Darren mematikan telepon genggamnya dan melempar asal telepon genggamnya ke jok samping untuk mulai melajukan mobil mewahnya