
Aika terduduk lemas di sofa. Dia tidak bisa tidur sama sekali. Aika terus memikirkan penawaran yang diajukan oleh Mario. Dia berada di persimpangan hati malam itu. Di sisi lain dia sudah sangat mencintai Mario Alexei dan dia tidak rela jika Mario terus bermain-main dan terus mengejar Joana Alexander. Namun, di sisi lain, sebagai seorang ibu, sejahat apa pun dia, dia tetaplah seorang ibu, dia ingin putra semata wayangnya bisa sehat dan bugar kembali seperti Mario Alexei.
Karena, terus memikirkan Mario dan tidak bisa menyalurkan napsu liarnya ke Mario, dia memanggil Call Boy. Aika memilih pemuda yang tegap dan memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Mario Alexei untuk memuaskan napsu liarnya malam itu.
Di jam dua dini hari, Devi membangunkan Darren. Darren membuka kedua matanya dan dengan malas dia bertanya, "Ada apa?"
"Kamu akan nikahi aku,kan, Mas?"
Darren langsung bergumam, "Hmm" Dan memeluk Devi lalu memejamkan mata kembali.
"Mas! Bangun dulu! Duduk dulu! Aku butuh bicarakan ini dengan serius sama kamu!" Devi menarik kerah kaosnya Darren.
Darren menggeram kesal, namun dia akhirnya mau untuk bangun dan duduk sambil bersandar di ranjang.
Devi duduk bersila di depan Darren dan kembali bertanya, "Mas, aku adalah putri tunggal dari keluarga yang kolot. Kalau aku udah nggak perawan, aku harus menikah dengan pria yang sudah membuka segelku. Maka, kamu harus menikahiku"
"Hmm" Sahut Darren acuh tak acuh.
"Mas! Jangan Hmm, hmm, terus! Jawab yang betul"
"Oke. Aku akan jujur sama kamu. Setelah membuka segel seorang gadis, aku nggak pernah mau lagi berhubungan dengan gadis itu. Aku akan bayar mahal dan berikan apa yang mereka mau, tapi tidak untuk menikah dan setelah itu, aku nggak mau lagi berhubungan dengan mereka"
"Ter......termasuk a......aku, mas?"
"Yeeeahhh! Termasuk kamu. Tapi, karena kamu memberikan service yang lebih memuaskan daripada semua gadis yang pernah aku buka segelnya, maka aku akan membayar kamu lebih banyak. Aku juga akan kasih semua yang kamu inginkan. Tapi, setelah ini, jangan pernah menghubungiku lagi. Kita putus hubungan setelah ini"
__ADS_1
Plak!!!!!! Devi langsung menampar pipi Darren dengan sangat keras.
Darren membalas tamparan Devi kemudian ia berteriak, "Dasar wanita hina! Kamu itu sama seperti pelacur di luar sana, berani benar kamu menampar seorang Darren Benn, hah!!!!"
Devi langsung melompat turun dari atas ranjang dan berlari ke meja makan untuk mengambil pisau buah yang ada di atas buah yang tersaji di atas meja itu lalu berteriak sambil meletakkan ujung pisau ke nadi pergelangan tangannya, "Aku akan bunuh diri kalau Mas nggak akan menikahiku!!!!"
Darren merosot dan merebahkan diri kembali lalu dengan santainya ia memunggungi Devi untuk kembali tidur.
Devi meradang penuh amarah. Dia seketika itu menyesali kebodohannya telah menyerahkan kesuciannya ke tangan laki-laki tidak bertanggung jawab seperti Darren Benn.
Lalu, karena panik, kecewa, dan marah besar, tanpa berpikir panjang, ia melompat ke atas ranjang, lalu menusuk lehernya Darren Benn. Darren Benn tersentak kaget dan langsung berbalik badan untuk melawan Devi. Namun, karena sudah gelap mata, Devi kembali menusuk Darren dan kali ini di dada dengan membabi buta dan berulang-ulang kali dengan pisau buah, sampai Darren Benn tidak mampu lagi melawan. Darren Benn mati di asa ranjang dengan tubuh bersimbah darah.
Tepat jam lima pagi, Mario bergegas keluar kamar untuk mengambil baju ganti yang dibawakan oleh Rendy.
Setelah selesai memakaikan baju, dia kembali merebahkan diri di sebelahnya Joana dan dengan pelan ia mengangkat kepalanya Joana untuk ia letakkan di atas lengannya. Mario memandangi wajah Joana dan terus tersenyum semringah. Dia senang, sangat senang, akhirnya dia bisa kembali memandangi wajah wanita yang sangat ia rindukan.
Mario mengagumi kecantikan alami wajah Joana di dalam hatinya. Dan ia bergumam di dalam hatinya, makasih, berkat kamu, aku bisa tidur nyenyak dan tidak bermimpi buruk semalam. Terima kasih, kau ijinkan aku melihat wajah ayu alami kamu di pagi ini.
Deg! Jantung Mario sontak berdegup abnormal saat kedua bola mata hitamnya Joana menatap lekat kedua bola mata hijaunya.
Alih-alih panik dan bergegas bangun, Joana malah mematung. Jantung Joana pun berdetak abnormal.
Tangan Mario terangkat pelan untuk merapikan rambut yang menutupi wajah Joana dan ia selipkan wambut itu di balik telinga. Lalu, ibu jarinya Mario mengusap cuping telinganya Joana dan meluncur turun menuju ke rahang. Tangan Mario berhenti di pipi Joana dan dia mengelus mesra pipi Joana di dalam kebisuannya.
Joana tanpa ia sadari, meletakkan telapak tangannya di dada Mario dan jantungnya semakin berdetak tidak karuan saat telapak tangannya merasakan detak jantungnya Mario.
__ADS_1
Mario masih mengelus pipinya Joana yang mulai memerah dan terasa sedikit hangat.
Tanpa Joana sadari pula, bibirnya berucap di saat otaknya membeku, "Kenapa dada kamu berdetak sekencang ini?"
"Kamu ingat apa yang pernah aku katakan dulu?" Mario menurunkan ibu jarinya dan mengusap bibir Joana.
"Apa?" Joana bertanya dengan suara serak.
"Aku tidak akan berhenti mencintai kamu selama jantungku ini masih berdetak"
Joana seketika mematung dan angan Joana langung berkelana ke masa lalu. Ke masa indah yang ia pernah ia lalui bersama dengan Arga Hewitt. Pria pertama yang membuatnya hatinya kembang kempis. Pria pertama yang merenggut segelnya. Pria pertama yang membuatnya rela mengorbankan apapun bahkan nyawanya sekalipun. Dan, wajah pria itu kini berada persis di depan wajahnya.
Joana bahkan tidak mampu menghindar saat wajah Mario mendekat dan bibir Mario akhirnya menyentuh bibirnya.
Bibir Mario mendarat cukup lama di bibir Joana dan hanya menempel di sana tanpa pagutan dan tanpa gerakan.
Jantung Joana berdegup semakin kencang dan semua pertahanan dirinya hancur lebur. Entah apa yang merasuki dirinya, ia justru yang akhirnya memagut bibir Mario. Karena, di benak Joana yang masih terpengaruh sisa obat perangsang, pria itu adalah Arga Hewitt bukan Mario Alexei.
Imajinasi otaknya yang masih berada di bawah pengaruh sisa obat perangsang yang mengenali pria itu sebagai Arga Hewitt, pria yang sangat ia rindukan, membuat Joana mencium bibir Mario dengan liar dan menuntut lebih.
Mario mendorong pelan wajah Joana untuk bertanya di sela deru napasnya, "Apa kau yakin menginginkannya?"
"Diam! Cium saja aku!" Joana kembali memagut bibir Mario dengan penuh damba seperti anak domba yang kehausan dan asyik menikmati segarnya air sungai.
Mario menghela napas panjang dan kembali mendorong pelan wajah Joana, "Kalau kamu menyuruhku mencium kamu terus, aku nggak akan bisa menahan diriku lagi, Ana........"
__ADS_1