
Rendy tampak berlari dengan wajah panik memasuki pekarangan rumahnya Arga.
Arga dan Joana langsung bangun menegakkan tubuh. Arga langsung menyemburkan tanya dengan masih duduk di atas bangku yang terbuat dari bambu, "Ada apa?"
"Nyonya ada di rumah sakit dan Nyonya sudah meninggal"
Arga langsung melepaskan pinggang Joana yang ia peluk dan melompat dari bangku dengan wajah syok setelah ia melihat layar telepon genggamnya Rendy.
Joana ikutan turun dari bangku dengan wajah prihatin juga kebingungan.
"Kita ke rumah sakit sekarang" Arga langsung berlari meninggalkan pekarangan rumahnya dan lupa menggandeng Joana.
Rendy menoleh ke punggung Arga yang berlalu pergi lalu ia menoleh ke Joana untuk berkata, "Mari ikut kami, Nyonya"
"Jangan panggil Nyonya. Panggil aja Ana" Ana berucap sembari mengikuti laju larinya Rendy.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di bandara dan Joana terpana melihat private jet.
Arga langsung masuk ke dalam private jet dan kembali lupa menggandeng tangannya Joana.
Joana masuk dan duduk di samping Arga. Namun, Arga tidak menoleh kepadanya. Suami tampannya terus menatap ke jendela.
Novi, Mona, Leo, Tante Alma, dan Pak Boy, juga ikut masuk ke dalam private jet itu.
Setelah private jet lepas landas, Joana bangkit berdiri untuk berbicara empat mata dengan Rendy. Kata pertama yang ia tanyakan adalah, "Neneknya Mas Arga meninggal karena apa?"
Rendy menghela napas panjang dan berkata, "Lebih baik kamu tanyakan sendiri ke Pak Bos"
"Lalu, private jet ini milik siapa? Milik Neneknya Mas Arga, ya? Berarti, Mas Arga orang kaya dong. Tapi, kenapa Mas Arga ridak tinggal di rumah mewah, tidak memiliki mobil mewah dan tidak bekerja di kantor memakai setelan jas mahal seperti Papaku dan Mas Darren Ben? Lalu, ada satu lagi pertanyaan, apa yang kamu tunjukkan ke Mas Arga tadi? Apa yang ada di layar telepon genggam kamu?"
Rendy tersenyum dan berkata, "Kamu juga tanyakan sendiri hal itu ke Bos Arga, nanti"
Arga terus mengepalkan kedua telapak tangannya dan masih mengabaikan Joana yang sudah kembali duduk di sampingnya Arga. Amarah Arga mendidih saat ia melihat foto neneknya bertemu dengan Leonard Alexander. Ia yakin benar kalau Leonard Alexander yang membuat neneknya meninggal.
Joana menyentuh pundaknya Arga sambil berkata, "Mas, kenapa memunggungi Istri kamu terus?"
__ADS_1
Arga menepis tangannya Joana dengan pelan sambil menoleh ke istri yang baru dinikahinya beberapa jam lalu dan berkata, "Aku lelah. Aku butuh sendiri saat ini. Jangan menggangguku!" Setelah mengucapkan kata itu, Arga kembali menatap jendela dan memunggungi Joana.
Joana menghela napas panjang dan akhirnya ia ketiduran.
Arga menoleh ke samping kanannya dan saat ia menemukan istrinya tidur, ia mengusap rambut Joana, menyelimuti Joana sambil berkata, "Kenapa kita dipertemukan jika tanah yang kita pijak berdua lama-lama retak dan membuat jurang untuk memisahkan kita. Saat ini terus terang aku nggak tahu harus bersikap bagaimana sama kamu. Karena di wajah kamu, aku melihat Leonard Alexander brengsek itu" Arga kemudian bangkit berdiri dan memilih berpindah tempat duduk.
Semua menatap tingkah lakunya Arga dan Novi yang ceriwis, langsung bertanya, "Kenapa pindah?"
Arga terus melangkah melintasi tempat duduk Novi dan tidak menjawab pertanyannya Novi. Arga pindah di jok paling belakang dan tidur di sana.
Tiga jam kemudian, semua rombongan sampai di rumah sakit. Boy langsung menelepon anak buahnya untuk mengirimkan mobil ke rumah sakit tersebut. Boy akan
membawa pulang Alma dan Joana.
Joana kaget saat ia melihat Arga memeluk erat seorang wanita muda yang cukup cantik. Namun, dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
Joana melihat wanita muda itu lalu menunjukan sesuatu di layar telepon genggam dan Arga langsung mengepalkan kedua tangannya.
Rendy menoleh ke Joana, "Dia saudara angkatnya Bos Arga. Dia, Leo, dan Bos Arga pernah tinggal di panti asuhan. Mereka bertiga dibiayai oleh Nyonya dan memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Nyonya"
Arga lalu duduk di sebelah wanita itu dan terus menggenggam tangan wanita itu.
Joana merasa cemburu dan sikap kekanak-kanakannya mulai muncul karena ia, memang masih remaja yang labil emosinya.
Joana melangkah lebar dan berdiri di depannya Arga untuk tersenyum, lalu berkata, "Mas, kamu nggak kenalkan dia ke Istri kamu?"
Arga menghela napas panjang dan setelah menarik tangannya dari genggaman tangan Rosa, ia mengusap pipinya yang penuh dengan air mata dan berkata dengan acuh tak acuh, "Ini Rosa adik angkatku dan ini Ana Istriku"
Rosa terkejut dan sontak menyemburkan tanya ke Arga, "Istri? Kenapa kau bisa.......emm, maksudku kapan kalian menikah?"
Arga menyisir kasar rambut lurusnya dengan kasar sambil berucap, "Beberapa jam yang lalu" Arga bangkit berdiri dan memilih berjalan ke tempat duduk yang ada di sebelahnya Leo.
Pandangannya Joana mengikuti arah perginya Arga dan ia sontak menoleh ke wanita muda yang bernama Rosa saat Rosa melemparkan tanya, "Kenapa kalian menikah?"
Joana duduk di sebelahnya Rosa dan tersenyum lalu berkata, "Karena saling cinta tentu saja"
__ADS_1
Rosa tersenyum tipis dan berkata, "Begitu ya?"
"Hmm" Joana menganggukkan kepala dengan wajah bangga.
Rosa lalu bertanya, "Berapa lama kalian kenal? Kenapa aku nggak pernah bertemu denganmu dan Arga nggak pernah mengenalkan kamu sama aku?"
"Kami kenal sekitar satu bulan lebih" Sahut Joana dengan wajah penuh senyum.
"Itu terlalu singkat bagi seorang Arga Hewitt untuk jatuh cinta. Aku rasa dia tidak begitu mencintai kamu. Dia hanya mencintai Paloma. Dia kenal dengan Paloma selama dua tahun, lalu ia nembak Paloma. Paloma wanita pertama yang Arga cintai. Aku rasa dia tidak begitu mencintai kamu. Sial! Apa secara tidak sengaja Arga telah membuatmu hamil?" Rosa langsung menarik rahang bawahnya.
Joana tersenyum dan sambil mengelus perutnya yang masih tampak rata, ia berkata, "Iya itu benar. Aku hamil. Soal Arga benar-benar mencintaiku atau tidak, hanya aku yang bisa merasakannya. Aku rasa, aku tidak perlu pendapat kamu"
Rosa hendak membalas ucapannya Joana, namun terpaksa ia hentikan saat ia melihat Arga keluar dari dalam kamar jenazah dengan langkah gontai.
Rosa dan Joana bangkit berdiri secara bersamaan untuk memapah Arga. Namun, Arga lebih memilih ambruk di pelukannya Leo. Arga menangis sejadi-jadinya di pelukannya Leo.
Tiba-tiba datang rombongan polisi mendekati Arga dan pimpinan rombongan itu langsung berkata, "Arga Hewitt, kamu kami tangkap atas kepemilikan narkoba di bar kamu"
Arga langsung menarik diri dari dalam pelukan Leo dan mendelik, "Narkoba? Narkoba apa? Aku tidak pernah berurusan dengan narkoba. Barku bersih dari narkoba"
"Itu benar Pak Polisi!" Pekik Mona dan Leo secara bersamaan.
Joana terkejut bukan main mendengar Arga memiliki narkoba di bar Hewitt.
Rosa yang diam-diam menyimpan rasa sama Arga,memanfaatkan situasi dengan berbisik di telinganya Joana, "Kamu tampak terkejut. Kenapa? Itu karena kamu belum kenal benar siapa Arga Hewitt"
Joana sontak memeluk Arga saat ia melihat Arga limbung ke arahnya. Joana langsung bertanya, "Mas, apa itu benar?"
Arga menoleh ke Joana dengan sorot mata kecewa dan pria tampan itu langsung menyemburkan protes, "Kau tidak percaya sama aku?"
Saat Joana hendak membuka mulut, suara Leonard Alexander menggelegar di telinganya Arga, "Tentu saja Ana tidak percaya sama pria brengsek dan miskin kayak kamu" Leonard menyeringai di depan Arga.
Arga sontak mendorong tubuh Joana yang memeluknya untuk mengambil pistol dari bapak polisi yang berdiri di depannya persis. Arga langsung membuka pengaman pistol itu dan mengarahkan moncong pistol itu ke Leonard Alexander.
Semua sontak berteriak terkejut termasuk Joana.
__ADS_1