
Leonard duduk di tepi ranjang saat Joana sadar dari pingsannya dan langsung berkata, "Papa rasa semua kejadian ini menguntungkan buat kita. Kamu keguguran dan tanpa ribet mengurus perceraian kamu dengan Arga Hewitt, Arga Hewitt bunuh diri. Itu berarti kamu dan Darren memang berjodoh. Aku akan nikahkan kalian secepatnya. Soal kamu pernah mengandung anaknya Arga Hewitt dan pernah menikah dengannya, jangan kamu kasih tahu ke Darren Benn atau siapapun di luar lingkungan internal kita!"
Joana seketika mematung dan dia hanya bisa diam membisu karena dia, sudah tidak memiliki daya untuk hidup sebenarnya. Dia hanya bisa menuruti semua keinginan papanya, seperti yang dia lakukan sejak kecil
Satu Bulan setelah kematiannya Arga Hewitt, Leonard Alexander menggelar pesta pernikahan Darren Benn dan Joana Alexander secara besar-besaran. Bahkan Leonard Alexander rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menayangkan pesta pernikahan putri tunggalnya dengan pewaris tunggal Grup Benn di lima stasiun televisi swasta
Arga melemparkan gelas yang dia pegang ke televisi saat ia melihat tayangan pernikahannya Joana dan Darren.
Arga mengepalkan kedua tangannya saat ia melihat Joana terus mengulas senyum dan tampak bahagia. Arga terhenyak di sofa saat ia melihat Joana tampak santai, tampak anggun dan tampak sangat cantik. Ciuman yang Joana dan Darren lakukan di depan altar, membuat Arga menggertakkan geraham dan berkata, "Dasar wanita murahan dan menjijikkan!"
Joana diboyong ke rumahnya Darren Benn yang terpisah dari rumah papa dan mamanya Darren Benn. Joana tegang di kamar pengantinnya. Dia sama sekali tidak memiliki pengalaman malam pertama dan benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
Darren Benn keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi dan tersenyum ke Joana, "Kamu nggak ganti baju? Nggak bersihkan diri kamu? Apa menunggu aku untuk melakukan semua itu?"
Alih-alih menjawab, Joana mencengkeram ujung tempat tidur dan hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Darren duduk di sampingnya Joana dan berkata sambil menyentuh ritsleting di punggungnya Joana, "Oke. Aku akan bantu kamu ganti baju. Kamu imut banget kalau tegang dan malu-malu kayak gini. Aku rasa aku semakin mencintai kamu dan nggak tahan untuk segera mencicipi rasa manis di diri kamu" Darren menurunkan dressnya Joana dan mulai mengusap punggung polosnya Joana.
Joana menegang dan semakin erat mencengkeram tempat tidur.
Darren kemudian merebahkan Joana dengan perlahan di atas kasur dan menarik lepas dressnya Joana. Darren berdiri di depan Joana dan berkata, "Astaga! Kamu memiliki tubuh yang sangat indah, Sayang"
Namun, Joana terkejut saat menjalani malam pertamanya. Sang suami dengan penuh semangat dan tanpa memberinya waktu untuk mengatur nafasnya, melakukan hubungan badan dengan langsung menembus lembah kenikmatan. Joana memekik kesakitan, namun Darren mengabaikannya. Joana akhirnya mencari pembenaran bahwa rasa cinta lah yang mendorong Darren berbuat begitu.
Joana menuruti semua keinginan Darren Benn dan meski merasa kesakitan dan kelelahan, dia mengikuti semua instruksi suaminya
__ADS_1
Joana menatap reaksi suaminya saat Darren menyibak selimut dan mencari sesuatu di sprei. Joana bertanya, "Kamu cari apa, Mas?"
Alih-alih menjawab pertanyannya Joana, Darren menatap Joana seperti menancapkan belati di dada Joana. Seketika itu juga, Joana merasa kalau Darren secara tidak sengaja telah membunuh mentalnya Joana.
Sejak itu, Darren tidak mau berbicara dengan Joana. Joana merasa diabaikan dan seolah-olah menjadi tersangka yang sedang menunggu untuk diadili.
Joana seringkali menitikkan air mata dan bergumam, "Kenapa aku nggak pernah merasakan malam pertama pernikahan yang indah. Malam pertamaku dengan Mas Darren yang seharusnya menjadi malam terbaik dalam kehidupan pernikahan kami, kenapa jadi seperti ini? Mas Darren meninggalkan aku begitu saja dan sampai detik ini, Mas Darren nggak mengajakku bicara dan selalu mengabaikan aku. Apa yang salah di diriku? Padahal aku melakukan semua instruksi dia di malam pertama kami"
Satu Minggu telah berlalu sejak malam pertama kelabu itu. Pernikahan Joana dan Darren didekap keheningan. Mereka tidur di ranjang yang sama, namun saling memunggungi.
Hingga di suatu pagi yang cerah, Darren menemukan istrinya menangis di atas kasur.
Joana menangis karena dia, merindukan Arga Hewitt. Dia merindukan obrolannya dengan Arga da merindukan kehangatan dan kelembutannya Arga Hewitt. Hatinya penuh dengan semua kerinduan itu dan dia menangis untuk melepas sesak yang terus membelenggu hatinya
Melihat Jenar menangis sesenggukan di atas kasur, seketika Darren merasa kasihan. Dia menyentuh punggung istrinya yang bergetar sambil bertanya, "Kenapa kamu menangis pagi-pagi begini?"
"Itu karena, aku pikir kamu gadis baik-baik. Aku pikir aku bakal dapatkan darah keperawanan kamu. Aku pikir aku adalah pria pertama yang akan mendapatkan kehormatan membuka segel kamu. Aku pikir aku mencintaimu. Namun, semuanya sirna ketika tidak ada tanda-tanda keperawanan muncul di malam pertama kita. Kamu sudah nggak perawan, kan? Siapa pria pertama yang membuka segel kamu?" Darren mulai menggertakkan gerahamnya dan mendelik ke Joana.
Joana seketika mematung. Dia ingin sekali berkata jujur ke Darren, tapi dia tidak ingin nama Arga Hewitt tampak jelek di matanya Darren. Dia juga teringat akan pesan papanya untuk tidak mengatakan soal pernikahannya dengan Arga Hewitt dan soal kehamilan juga kegugurannya ke Darren Benn.
"Kenapa diam? Kenapa mematung? Aku menyesal di beberapa menit yang lalu aku sempat merasa kasihan sama kamu. Ternyata kamu bukan gadis baik-baik. Aku kecewa sama kamu. Dan aku rasa aku nggak bisa menyentuh kamu lagi entah sampai kapan" Darren lalu bangkit berdiri dan pergi mandi
Seperti di hari-hari sebelumnya, Joana selalu mencoba untuk melayani suaminya memakai baju dan ingin memasangkan dasi. Namun, Darren lagi-lagi mendorong tubuh Joana dengan kasar sambil berkata, "Aku bisa melakukannya sendiri.
Joana terduduk di tepi ranjang dengan wajah tanpa harapan.
__ADS_1
Setelah selesai memakai kemeja, celana, dasi dan jas sendiri, Darren keluar kamar tanpa pamit.
Joana menatap punggung suaminya uang menjauh dengan derai air mata.
Lima tahun kemudian..............
Joana menata kue-kue hasil kreasinya di toko kue yang dia rintis sejak tiga tahun silam. Entah apa yang merasuki Leonard, dia mengijinkan Joana kuliah sembari membuka bisnis kue. Andalannya Joana adalah cupcake. Dari nol Joana merintis bisnis cupcake dan berhasil membuka toko kue dari hasil jerih payahnya sendiri.
Joana sedikit terhibur dengan toko kuenya. Di dapur, saat ia membuat cupcake, Joana bisa merasa bebas dan bisa melupakan sejenak kesedihannya menjalani pernikahan yang dingin dengan Darren Benn.
Novi dan Alma selalu membantu dan mendukung bisnis kecil-kecilan yang tengah Joana kembangkan. Dan untuk mendukung hobinya membuat cupcake, Joana kuliah di jurusan gizi. Karena kecerdasannya, Joana berhasil lulus kuliah di umur dua puluh tiga tahun.
Namun, Joana masih harus terus menelan kesedihan dan kekecewaan. Suaminya masih dingin di ranjang. Suaminya masih mengabaikannya dan suaminya tidak bersedia mendampingi dia ketika.dia membuka toko kue. Suaminya juga tidak bersedia mendampingi dia di acara kelulusannya.
Di suatu sore yang cerah, Joana pulang ke rumah suaminya dari upacara wisudanya dengan wajah bahagia. Joana bergegas berlari ke lantai dua dengan membawa map berisi ijazah kelulusannya. Dia ingin segera menunjukkan ijazah kelulusannya ke suaminya. Namun, Joana mematung di depan pintu kamar saat ia mendengar suara wanita. Joana mendorong pelan pintu kamar yang sedikit terbuka dan dia bagai tersambar petir di siang bolong saat ia melihat suaminya tengah bercinta dengan wanita muda yang sama sekali tidak ia kenal.
Joana seketika mundur ke belakang, berputar badan dan berlari turun. Dia terus berlari sampai dia masuk kembali ke dalam mobilnya.
Joana terus menangis di dalam mobil dan berputar-putar menyusuri jalan raya tanpa tujuan. Hingga petang tiba dan tanpa ia sadari, dia menghentikan mobilnya di pelataran parkir sebuah hotel berbintang lima.
Joana melepas toga dan baju wisudanya. Dia mengambil bedak dari dalam tas untuk melihat wajahnya."Untung aku tidak memakai riasan berlebih di kelopak mata, jadi pas aku nangis riasan di mataku aman-aman saja" Ia kemudian mengusap ingus dan pipinya lalu ia memoleskan bedak di pipi untuk menutupi jejak air matanya kemudian ia turun dari dalam mobil dengan masih dicepol rambutnya, mengenakan dress putih simple yang dia pakai di balik baju wisudanya, dan high heels.
Banyak pasang mata mengagumi penampilan Joana hari itu. Joana tampak anggun, cantik dan elegan saat ia berjalan masuk ke dalam hotel tersebut dan langsung melangkah menuju ke bar yang ada di dalam hotel berbintang lima itu.
Joana duduk di depan meja bar dan memesan minuman beralkohol kesukaannya.
__ADS_1
Tanpa Joana sadari, ada sepasang mata yang terus menatapnya dari kejauhan.