
Dengan hati dongkol dan langkah malas, Joana membawa keranjang berisi makanan ke ruangannya Presdir.
Joana mengetuk tiga kali dan setelah mendapat sahutan, "Masuk" Joana membuka pintu dan melangkah masuk.
Tanpa diperintah, Joana belok ke kanan dan melangkah menuju ke meja makan mini yang ada di sana untuk meletakkan keranjang makanan dan menata makanan hasil masakannya di sana tanpa menimbulkan suara.
Mario heran, ada suara pintu dibuka dan ditutup, tapi kok suasana hening tidak ada suara apapun. Dia lalu mengangkat wajahnya dari berkas di depannya untuk melihat siapa yang datang. Seketika ia bangkit berdiri dan berteriak dari balik meja kerjanya yang letaknya cukup jauh dari meja makan, "Kau! Kenapa kau kemari?! Siapa yang menyuruhmu kemari, hah?!"
"Rendy" Sahut Joana sambil duduk.
"Ren.....Rendy?"
"Hmm.Rendy bilang kalau kamu akan makan makanan yang aku masak jika aku menemanimu makan. Kata Rendy, kamu susah makan dan perlu makan untuk itulah ia minta aku ke sini menemanimu makan"
"Lalu, kenapa kamu mau melakukannya?" Mario tersenyum penuh arti sambil berjalan keluar dari balik meja kerjanya. Mario mengharapkan jawaban, karena aku peduli padamu.
Namun, Joana menjawab, "Aku mau melakukannya, karena aku nggak mau makanan yang aku masak dengan sepenuh hati kau buang dan kau kasihkan ke Jojo"
Sahut Joana dengan wajah datar.
"Kamu hanya peduli sama masakan kamu aja? Kamu nggak peduli kalau Presdir perusahaan ini jatuh pingsan atau sakit karena nggak makan?" Mario duduk di depan Joana dengan wajah merengut.
"Untuk apa aku peduli sama kamu"
"Hei! Kita masih suami istri. Kau ingat perjanjian kita, kan? Aku baru akan menceraikanmu tahun depan. Jadi, sekarang ini, kita masih suami istri"
"Tapi, aku tidak pernah merasa seperti itu dan.........."
"Aaaaaaaa" Mario membuka mulut lebar-lebar.
"Untuk apa kau membuka mulut di depanku?"
"Suapi! Seorang suami pantas, kan, meminta istrinya menyuapinya"
"Nggak mau! Makan saja sendiri!"
__ADS_1
"Kau lupa dengan peraturan pertama di perjanjian kita? Oke. Kalau kamu nggak mau menuruti permintaanku, aku akan robek perjanjian kita dan kita akan jadi suami istri selamanya"
"Sial! Buka mulut kamu!"
"Aaaaaaaa" Mario membuka mulutnya dan memajukan wajahnya dengan manis.
Joana menghela napas panjang dan terpaksa menyuapi Mario sampai makanan di depan mereka ludes semuanya.
Joana memasukkan semua piring kotor ke dalam keranjang makanan dan saat ia bangkit berdiri, Mario langsung bertanya, "Kau mau ke mana?"
"Kembali ke ruang kerjaku"
Mario yang masih ingin berlama-lama melihat Joana, langsung berkata, "Anjingku, si Jojo butuh makan. Kasih makan dia, lalu temani dia bermain di teras samping, tuh, di lobi!"
Tanpa Mario duga, Joana justru melonjak gembira. Joana langsung berlari ke lobi dan saat wanita cantik itu menggeser pintu lobi, Joana langsung berteriak, "Ah! Kamu di sini ternyata! Halo Jojo! Makasih, ya, selama ini kamu udah mau menghargai makanan yang Kak Ana masak. Nggak seperti Bos kamu yang aneh itu"
Mario mengikuti Joana dengan langkah pelan dan tersenyum di belakang Joana saat ia melihat Joana dan Jojo bisa akrab dan cocok satu sama lain.
Mario bergumam di dalam hatinya, Pantas aja kalian langsung cocok. Nama kalian, kan sama. Nama Jojo emang aku ambil dari nama depan kamu, Ana, karena aku sangat merindukan kamu. Andai kamu tahu itu"
Mario yang mengharapkan Joana kesal, langsung berkata, "Kasih makan Jojo! Jangan malah diajak main mulu!"
"Kamu nggak keberatan kasih makan Jojo?"
"Nggak" Joana berbalik badan, meletakkan Jojo di atas rumput dan mulai mengambil makanan anjing dan ia tuangkan ke piringnya Jojo.
Mario terus mengamati Joana.
Joana yang mengira Mario sudah kembali ke meja kerja, mengelus Jojo yang tengah asyik makan sambil berkata, "Aku dari dulu pengen punya anak anjing, tapi sama Papaku nggak boleh. Dulu, aku nekat beli kelinci, tapi sama Papaku dibuang. Aku senang berkenalan denganmu, Jo"
Mario membeku di tempatnya dan bergumam di dalam hatinya, aku lupa kalau kamu juga disakiti oleh Papa kamu selama ini. Tapi, kamu juga kejam. Kamu menggugurkan anak kita dan minta cerai padaku. Kamu lebih memilih Darren Benn, cih! Mario langsung berbalik badan dan melangkah kembali ke mejanya dengan perasaan kacau balau.
Joana melirik jam tangannya dan dia langsung mengusap Jojo sambil berkata, "Aku pamit dulu, ya. Aku harus balik ke ruang kerjaku dan bersiap pergi ke pestanya Bos kamu yang aneh itu" Joana lalu bangkit berdiri dan setelah menutup pintu lobi, ia melangkah menuju ke meja makan untuk mengambil keranjang makanan dan saat ia menoleh ke Mario, ia melihat Mario tengah asyik bekerja. Akhirnya, Joana memutuskan untuk pergi dari ruangannya Mario tanpa pamit ke Mario.
Ketika pekerjaannya telah selesai, Mario menoleh ke lobi dan ia langsung bangkit berdiri dan berlari ke lobi, "Di mana Ana? Dasar wanita itu! Datang tak diundang pulang tak pamit, macam Jalangkung aja, cih!"
__ADS_1
Joana menelepon suaminya, "Mas, aku pulang agak malam karena ada undangan makan malam di perusahaanku"
"Oke. Hati-hati pulangnya" Klik. Darren langsung mematikan sambungan telepon istrinya itu
Joana menghela napas panjang sambil memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas jinjingnya.
"Aku pulang dulu, ya, Mbak Ana" Mitha tersenyum ke Joana.
"Ah! Iya. Ati-ati, ya, Mbak Mitha" Sahut Joana.
Joana memutuskan berangkat ke pesta dari kantor karena dia malas untuk pulang dan malas dicecar suaminya perihal baju pesta yang dia bawa. Baju pesta pemberiannya Mario yang harus ia kenakan malam itu.
Joana mengunci pintu ruang kerjanya, lalu ia mandi di kamar mandi yang ada di dalam ruang kerjanya dan memakai dress elegan berkerah V, berlengan pendek, berwarna hitam polos dari bahan brukat, panjang rok mini di pas di atas lutut, tampak indah membalut tubuh rampingnya Joana.
Joana membuka lebar paper bag dan ia menemukan kotak besar dan kotak kecil. Joana mengeluarkan kotak besar dan dia melihat sepasang sepatu high heels merk terkenal berwarna hitam polos yang sangat indah. Joana langsung mengernyit, "Apa maksudnya ini? Kenapa ada sepatu juga di sini?"
Namun, karena dikejar waktu Joana langsung memakai sepatu itu dan mengeluarkan kotak yang berikutnya.
Kedua mata Joana membeliak lebar saat ia melihat kalung putih dengan liontin berbentuk air mata berwarna hitam. "Apa pula ini? Kalau gila, ya, gila aja. Kenapa harus segila ini ngasih aku kalung?" Joana berucap sembari memakai kalung itu. Lalu, ia bergegas keluar dari ruangannya menuju ke parkiran mobil.
Joana sampai di tempat diadakannya pertemuan para pemegang saham dan dia terkejut saat seseorang memeluknya dari arah belakang. Joana sontak berputar badan dan langsung semringah saat ia menemukan Novi yang memeluknya.
"Kamu datang juga?" Tanya Joana.
"Semua tim di kantor finance diundang sama Presdir. Termasuk karyawan baru kayak aku" Sahut Novi.
"Syukurlah, aku punya teman untuk ngobrol"
"Kamu tunggu di sini, ya?! Aku ambilkan untuk kamu" Ucap Novi.
Lima menit kemudian Novi mendekati Joana sambil membawa segelas cola ke Joana dan saking gembiranya dia bisa bertemu dengan sahabat terbaiknya di pesta perusahaan Grup Alexei itu, membuat minuman yang dia bawa tumpah, ",Ups, maaf, Ana"
"Nggak papa. Ada tissue?"
Ketika Novi masih sibuk mencari tissue atau lap, sebuah sapu tangan hadir di depan Joana.
__ADS_1
Joana menerima sapu tangan itu sambil berkata, "Terima kasih" Namun, saat ia menoleh, seketika ia mematung.
Mario menunduk dan berbisik di telinga Joana, "Kamu cantik banget. Makasih udah mau memakai semua barang yang aku kasih ke kamu"