Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Godaan


__ADS_3

Saat kedua matanya dengan kedua mata Joana masih bersitatap dengan napas panas yang menderu di kedua hidung mereka, Arga memasukkan tangan kanannya ke dalam air untuk membuka penutup bathtub dan setelah itu, ia bergegas bangkit berdiri, memunggungi Joana sambil meraih handuk yang ada di samping kirinya yang dicantolkan manis di cantolan baju.


Arga menyerahkan handuk tersebut dengan masih memunggungi Joana dan setelah Joana menarik handuk itu, Arga melepas handuk dan berlari keluar dari dalam kamar mandi. Arga menutup pintu kamar mandi dan bersandar sejenak di pintu kamar mandi sambil memegang dadanya yang masih tampak naik turun dengan sangat cepat.


Arga lalu melangkah maju sambil mengumpat kesal, "Sial! Kenapa gadis bodoh itu tidak menutup pintunya saat ia mandi dan kenapa juga ia bisa ketiduran di dalam bathtub? Huuuffttt! Sabaaarrrr, Ga!" Arga membuka pintu balkon lebar-lebar dan dia berdiri di sana untuk menghirup udara segar. Dia butuh udara segar supaya pikiran-pikiran erotis yang sempat mampir di otaknya saat ia melihat Joana dalam keadaan polos untuk yang kedua kalinya, bisa ia singkirkan.


Di saat Arga masih berusaha menyingkirkan segala pikiran kotor yang ada di benaknya, suara Joana menggema dari arah belakang memanggil namanya dengan nada lembut, "Mas Arga?"


Arga mendelik dan langsung mengumpat kesal, "Sial! Kenapa kau berlilitkan handuk mandi dan muncul begitu saja di depanku?!" Arga melotot ke Joana. Jakunnya naik turun dan dia mulai kesulitan menelan air liurnya saat kedua bola matanya menuruti naluri alaminya, menikmati keindahan pemandangan di depannya. Seorang wanita cantik dengan rambut setengah basah, dan air menetes dari rambut basah itu di pundak telanjang, lalu bola matanya bergerak turun dengan pelan menuju ke lekuk indah tubuhnya Joana dan berakhir di kaki jenjangnya Joana yang luar biasa menggoda.


"Kenapa?" Joana bertanya dengan wajah polos. "Aku biasa seperti ini di rumahku dan nggak pernah ada yang protes"


Arga refleks mendelik ke Joana, dan sontak menyemburkan protes,"Kenapa? Nggak pernah ada yang protes? Hei, Nona!!!! Sial! Lupakan saja!" Arga menghentikan ucapannya saat ia melihat kening Joana mulai berkerut dan wajah Joana penuh dengan tanda tanya.


Arga menghela napas berat, lalu bertamya, Ada apa mencariku?" Arga berucap dengan napas tertahan di saat gairahnya kembali timbul.


Joana berdiri mematung di depan Arga dan bertanya dengan polosnya, "Apa kau punya hair dryer?"


Arga kembali melamun dan pandangannya kembali tertuju ke rambut basahnya Joana, di saat Joana menanyakan hair dryer.


"Mas? Kok diam?" Joana mengerutkan keningnya di depan Arga.


Arga tersentak kaget dan pria tampan itu, refleks meraup wajah putih bersihnya yang berhidung mancung, lalu Arga melangkah melewati Joana dan tanpa menoleh ke Joana dia meninggalkan Joana sembari berkata, "Hair dryer ada di kamar. Cari sendiri!"


Kepala Joana refleks berputar mengikuti arah perginya Arga sembari bergumam, "Kenapa dia marah-marah terus kerjaannya? Dasar pria aneh" Joana menghela napas panjang lalu berputar badan untuk melangkah menuju ke kamarnya Arga.


Sementara itu, Arga turun ke lantai bawah dan langsung menuju ke barnya. Dia membuka satu kaleng bir dan setelah ia buka kaleng bir itu, dia langsung menenggaknya. Arga kemudian melempar kaleng bir yang telah kosong ke tempat sampah dengan tepat, lalu ia bergumam, "Kenapa gadis itu lugu sekali? Dia bilang dia punya tunangan, tapi kenapa dia nggak ngerti kalau muncul di depan pria dewasa hanya dengan mengenakan handuk mandi dan tampak basah itu sungguh berbahaya? Dia lugu, bodoh, atau hanya pura-pura lugu dan bodoh?" Arga lalu mengacak-acak rambutnya dan mengerang kesal, "Aaarrrghhhhh! Lama-lama bisa gila aku"

__ADS_1


Joana turun dengan mengenakan seragam pelayan bar. Seragam pelayan bar berupa kaos polos berwarna putih tanpa lengan itu, pas menempel lekat di badannya Joana dan kaos itu, dipadukan dengan rok pias berwana biru tua dengan panjang di atas lutut, membuat Joana tampak sangat manis, imut sekaligus seksi. Arga tertegun sejenak saat ia mengamati penampilannya Joana dan pria tampan itu refleks berkata di dalam hatinya, gila! Gadis ini benar-benar sempurna.


Joana memainkan rambut panjangnya yang ia kepang di depannya Arga dengan bertanya, "Bagaimana penampilanku? Norak nggak? Aku kepang rambutku kayak gini nggak papa, kan? Kalau aku gerai, takutnya nanti menganggu kerjaanku dan menganggu pelanggan kamu, Mas, dan........"


"Ehem!!!!" Arga berdeham kencang untuk mengusir bayangan erotis yang kembali muncul di benaknya dan dengan segera ia berucap di depan Joana yang menatapnya dengan penuh tanda tanya, "Aku mau mandi. Jaga bar sebentar!" Setelah menyelesaikan kalimatnya, Arga melangkah pergi meninggalkan Joana tanpa menoleh ke Joana.


Joana melangkah masuk ke meja bar dan sambil menatap punggungnya Arga yang menjauh, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam kesal, "Dasar cowok nggak punya etika dan nggak punya perasaan. Hobinya motong ucapan orang dan teriak-teriak mulu, huh! Menyebalkan!"


Arga mengguyur kepalanya dengan air dingin dan akhirnya dia bermain solo di bawah pancuran air dingin yang mengucur deras dari shower sambil terus mengumpat, "Sial, sial, sial!!!!"


Saat Arga keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan kaos oblong berwarna abu-abu terang yang dipadukan dengan celana jins berwarna biru tua, ponselnya berdering sangat nyaring. Arga mengernyit saat ia melihat tulisan Paloma My Love muncul di layar ponselnya.


Sejenak Arga didera keraguan, namun rasa penasarannya membuat ibu jarinya menggeser layar ponselnya ke kanan, "Halo, ada apa?"


"Aku ingin bertemu denganmu" Ucap Paloma.


"Di kedai makan tempat biasa kita bertemu, ya? Jam lima sore, bisa?" Sahut Paloma.


Klik! Arga langsung menutup ponselnya tanpa menjawab pertanyannya Paloma.


Paloma terkejut dengan sikap Arga. Wanita cantik berwajah tirus itu, kemudian bergumam, "Kenapa dia? Kenapa nggak nanya kabarku padahal aku, kan, pamit ke dia kalau aku pergi ke luar negeri? Kenapa ia nggak nanya juga kenapa aku pulang lebih cepat?"


Arga menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana jinsnya, lalu memakai jam tangannya dan dia langsung mengambil kunci mobil pickup-nya saat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah lima.


Arga turun dan dia melihat Mona sudah datang. Arga berdiri di depan meja bar sebentar dan Mona langsung menghentikan obrolannya dengan Joana untuk bertanya, "Mau ke mana, Bos?"


"Mau menemui cewek brengsek. Kalian jaga bar dengan baik! Sebentar lagi adik angkatku si Leo datang dari Jepang. Dia akan membantu kita di bar ini" Arga lalu berputar badan dan pergi meninggalkan bar.

__ADS_1


"Hei! Bos! Adik Angkat kamu wajahnya kayak gimana?" Mona berteriak kencang.


Arga menyahut tanpa menoleh ke belakang dan tanpa menghentikan langkahnya ke depan, "Kayak orang masak kayak Sapi"


"Gila kau Bos!" Mona memekik kesal dan Joana sontak tertawa terpingkal-pingkal.


Beberapa menit kemudian, Arga duduk di tempat biasa dan sambil menunggu kedatangannya Paloma, ia menyesap kopinya


Saat Paloma datang, Arga tidak bangkit berdiri dari tempat duduknya dan mendorong kedua bahunya Paloma di saat Paloma menunduk dan ingin mencium bibirnya Arga.


Paloma menghela napas panjang dan mundur ke belakang untuk duduk berhadapan dengan Arga sambil bertanya, "Ada apa denganmu? Kenapa tidak ada kata cinta dan kata merindukanmu kali ini? Apa kau sudah tidak mencintai dan merindukanku?"


Arga menggertakkan gerahamnya dan berkata, "Untuk apa aku mencintai cewe brengsek tukang selingkuh dan matre kayak kamu? Kau pikir kau masih pantas menemuiku dan mengatakan semua itu?"


Paloma menautkan alisnya dan bertanya, "Apa maksud kamu?"


"Kamu sudah menikah, kan? Kamu nggak pergi ke luar negeri selama ini. Aku sudah tahu semuanya Paloma. Hentikan sandiwara kamu" Arga menghunus tatapan tajamnya ke Paloma.


Paloma langsung bangkit berdiri, "Darimana kau tahu?"


"Aku mencintaimu tapi aku nggak buta dan nggak bodoh" Arga menatap Paloma dengan penuh kebencian.


Paloma tersenyum mengejek dan berkata, "Itu karena salah kamu sendiri"


"Salahku? Kamu selingkuh dan menikah dengan pria lain, itu salahku?" Arga berucap dengan menggebrak meja tanpa bangkit berdiri.


Paloma yang berdiri, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja dan sambil mendelik ke Arga ia berucap, "Kau miskin. Kau hanya pria bar pemalas yang miskin dan hanya punya pickup. Aku nggak suka naik pickup terus dan aku nggak suka selalu makan di kedai makan sederhana seperti ini terus. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Ga, tapi aku juga ingin merasakan hidup mewah"

__ADS_1


Arga menatap Paloma dengan tatapan kosong. Lalu ia bangkit berdiri untuk mengulas senyum mengejek dan berucap, "Makan saja cinta palsu kamu itu. Jangan cari aku lagi dan jangan telpon aku lagi mulai detik ini dan untuk selamanya!" Arga lalu berjalan melewati Paloma dan terus melangkah lebar meninggalkan Paloma.


__ADS_2