
Darren menyuruh karyawan baru di kantornya yang masih sangat muda dan perawan untuk segera memakai baju dan pergi.
"Tapi, Pak, Bapak sudah merenggut keperawanan saya dan........."
"Aku tahu. Aku udah siapkan cek sebesar dua puluh juta rupiah untukmu, tuh, di meja. Ambil lah dan pergilah sebelum Istriku pulang dari acara syukuran wisuda dengan teman-teman kampusnya" Sahut Rendy.
"Tapi, kata Bapak, Bapak akan bertanggung jawab. Bagaimana kalau saya hamil?"
"Aku nggak bodoh. Aku pakai alat pengaman. Aku sudah bertanggung jawab, kan, aku sudah kasih cek sebesar itu. Sekarang pergilah sebelum pengurus rumah tanggaku balik dari pasar dan Istriku balik dari kampusnya"
Wanita muda itu mengambil cek dan berlari keluar dari kamarnya Darren dengan badan lemas dan wajah kelelahan. Dia masih ingin tidur di dalam pelukan hangat bosnya, namun bosnya malah mengusirnya pergi.
Darren ketiduran karena kelelahan. Saking asyiknya mendapatkan rasa perawan, dia bermain sampai tiga ronde.
Mario tersentak kaget saat Joana beringsut mendekati Mario dan dengan nakal menarik ujung kemeja Mario hingga keluar dari pinggang celananya Mario.
Joana bergumam, "Sentuh aku, Mas. Kenapa Mas nggak pernah mau menyentuhku?"
Mario seketika mematung.
Joana membuka kedua kelopak matanya dan Mario terkesiap ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan Joana.
"Apa kau mengenaliku?" Tidak ada nada menggoda di suaranya Mario.
"Mas Darren" Joana menepuk pipi Mario, lalu berkata, "Sentuh aku! Aku ini Istrimu!"
Suara Joana yang lembut, namun menusuk seperti kerikil tajam membuat Mario takut, karena gairahnya sendiri untuk menyentuh Joana begitu besar. Mario menggeleng hendak mengatakan tidak, tetapi sorot matanya tidak mampu beralih dari tatapan Joana.
"Sentuhlah aku, Mas!" Ulang Joana dengan suara parau.
Joana memberikan tantangan yang tidak mungkin ditolak Mario. Mario seketika itu seperti mengulang kembali kejadian di lima tahun yang lalu saat ia merenggut keperawanannya Joana.
Seluruh bagian tubuh Mario bergejolak, namun Mario mencoba tetap tenang dan meletakkan kedua tangannya di tengkuk Joana. Ia mengelus tengkuk itu dengan gerakan yang agak menekan. Joana menatap lekat-lekat kedua bola matanya Mario sambil melepaskan kancing-kancing kemejanya Mario tanpa perlu melihat.
Dan Mario menarik tengkuk Joana sampai bibir Joana membentur bibirnya dengan pelan.
Dada Mario bergemuruh kencang saat ia mulai memagut bibirnya Joana yang sangat ia rindukan. Ujung-ujung jari Mario bergerak bebas di punggung Joana setelah ia buka ritsleting yang ada di bagian belakang dressnya Joana.
Sentuhan Mario menimbulkan sensasi yang luar biasa di kulit mulusnya Joana.
__ADS_1
Lalu, dengan pelan, Mario meletakkan kedua tangannya pada dada Joana. Ia mengelus dada itu dengan gerakan memutar dan meremas yang lembut. Mario semakin menggila saat ia merasakan degup jantung Joana ada di genggaman tangannya.
Mario menyusupkan wajahnya ke lehernya Joana dan berbisik di sana, "Kau ingin aku berhenti?"
"Tentu saja tidak! Aku menyukai sentuhan lembut kamu ini, Mas. Kenapa di malam pertama kita, kamu tidak memperlakukan aku selembut ini?"
Setelah membuang jauh-jauh segala pikiran yang merintangi dirinya, Mario menurunkan dressnya Joana sampai, lalu ia menaikan wajahnya menyusuri ujung kaki Joana sampai berhenti di lembah kenikmatan.
Joana langsung mengerang seolah penuh penderitaan.
"Cukup! Kau sudah membuatku tidak tahan lagi" Joana memejamkan matanya rapat-rapat.
Mario langsung menyatukan kejantanannya dengan tubuh Joana sambil memainkan lidahnya di dalam mulutnya Joana.
Mario terus bergerak di atas tubuhnya Joana dengan kata-kata tidak jelas keluar dari mulut Mario. Tapi yang jelas, itu bukan kata makian atau doa.
Joana memekik kencang disusul dengan lenguhan berat yang keluar dari mulut Mario.
Mario lalu rebah di samping Joana dengan posisi terlentang, dengan wajah lelah yang melukis senyum puas. Mario melihat Joana sudah tertidur pulas.
Mario mencium keningnya Joana sambil bergumam lirih, "Terima kasih. Aku belum pernah bercinta seindah ini dengan wanita lain selain kamu"
Mario kemudian bangun untuk memakai kembali semua bajunya, lalu ia mengambil telepon genggamnya. Ia menembakan kamera di tubuhnya Joana yang masih polos dengan senyum penuh arti. Setelah itu, Mario memakaikan kembali semua bajunya Joana, menyelimuti Joana, dan melangkah keluar dari dalam kamar dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana kain.
"Lho, bukannya kamu dan Joana?"
"Biarkan Joana tidur di kamar ini. Aku pengen tidur di kamar lain. Aku nggak ingin dia bangun dan melihat aku secepat ini. Aku punya rencana lain untuk membuat hidup wanita itu seperti di dalam neraka" Mario tersenyum ketus.
"Baiklah"
Beberapa menit kemudian, Mario masuk ke kamar yang baru yang ada di sebelah kamarnya yang lama.
Rendy berkata sebelum Mario menutup pintu, "Pacar kamu, Rosa, mencarimu tadi"
"Lalu, kau bilang apa?"
"Aku bilang kalau kamu ada rapat di lantai atas dan nggak bisa diganggu. Aku juga katakan hal sama ke Nyonya Aika. Nyonya Aika mencarimu juga, tadi"
"Kenapa Aika datang ke sini? Dia tidak pernah mengikutiku ke mana pun aku pergi. Kenapa tiba-tiba dia mengikutiku?"
__ADS_1
"Nyonya Aika bilang kalau dia juga ada rapat
bisnis di hotel ini. Karena kebetulan kamu juga ada di hotel ini, maka beliau memutuskan untuk menemuimu"
Mario langsung panik, "Apa dia juga menginap di sini?"
"Siapa?" Tanya Rendy dengan menautkan kedua alis hitam tebalnya.
"Aika kalau Rosa aku yakin dia langsung pulang karena besok dia ada jadwal pemotretan" Sahut Mario.
"Tidak. Nyonya Aika menginap di hotel Alexander yang baru saja diresmikan. Kata Nyonya, dia ingin melihat-lihat hotelnya Alexander yang terbaru"
"Fiuuuuhhhh, syukurlah" Mario langsung menutup pintu dan Rendy langsung mengumpat kesal, "Sial! Main tutup aja, tuh pintu, aku, kan, belum selesai ngomong"
Keesokan harinya, Joana membuka mata dan langsung menegakkan badan saat ia berada di dalam kamar yang asing. "Ini bukan kamarku. Kamar siapa ini?" Joana menunduk dan merasa lega karena ia masih memakai baju dressnya.
Joana lalu turun dari atas ranjang dan langsung mendesis, "Ssshhhhh! Kenapa kepalaku pusing banget, nih?"
Joana melihat jam tangannya dan tersentak kaget, "Astaga! Sudah jam empat pagi. Aku harus segera pulang. Mas Darren pasti mencariku semalaman"
Joana duduk di tepi ranjang untuk memakai sepatunya dan meraih tas dan kunci mobilnya. Dia bergegas berlari keluar dari dalam kamar dan turun ke lobi. Dia ingat kalau mobilnya ia parkir di halaman depan hotel bukannya di parking area yang ada di dalam hotel.
Joana tersentak kaget saat ia tidak menemukan mobilnya. Seorang petugas parkir hotel tersebut mendekati Joana dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu?"
"Mobil saya di mana? Kemarin saya parkirkan di sini"
"Oh, kemarin teman saya memindahkannya ke dalam. Mari saya antarkan ke mobil Anda"
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Joana langsung tancap gas pulang ke rumahnya.
Beberapa jam kemudian, Joana sampai di rumahnya Darren Benn dan dia langsung bertanya ke kepala rumah tangga yang bertugas di rumah suaminya, "Apa Bapak mencariku semalam?"
"Tidak Nyonya. Bapak nggak keluar dari kamarnya sampai pagi ini"
"Kalau Bapak nanya kapan aku pulang, tolong jawab kalau aku pulang jam sepuluh malam, ya?!"
Kepala rumah tangga yang masih kerabat dekatnya Alma dan juga sangat menyayangi Joana langsung berkata "Siap Nyonya"
Joana langsung memeluk kepala rumah tangga itu sambil berkata, "Terima kasih banyak"
__ADS_1
Joana kemudian naik ke lantai atas dan bergumam, "Apa wanita muda yang kemarin bercinta dengan Mas Darren masih ada di kamar?" Joana membuka pelan pintu kamar dan sesampainya di dalam kamarnya, Joana menghela napas lega, dia tidak melihat wanita muda di samping suaminya dan dia melihat suaminya masih tidur pulas. Joana langsung berganti baju dengan cepat dan pura-pura tidur di samping suaminya.
Di dalam hatinya Joana sangat bersyukur dia bisa pulang pagi tanpa dipergoki suaminya. Namun, saat ia ingat dengan kamar di hotel, dia langsung berkata di dalam hatinya, Sial! Aku lupa bayar kamar hotelnya. Ah! Entar aja kalau Mas Darren berangkat kerja aku buka toko kueku sekalian ke hotel sebentar untuk bayar kamar itu.