Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Apa Kau Yakin?


__ADS_3

Arga memegang kedua tangannya Joana yang mencengkeram erat kerah kaosnya. Arga menarik kedua tangan itu dan saat ia melepas kedua tangan itu dan melangkah mundur, Arga jatuh terduduk di atas lantai.


Pria berparas tampan berbola mata hijau itu, menggoyang-goyangkan kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Arga memijit pelipisnya sambil bergumam, "Sial! Aku mencoba beberapa anggur beralkohol tinggi tadi. Ah! Sial! Kenapa aku terjebak lagi di situasi sulit seperti ini?"


Joana terus berteriak, "Panas! Tolong bantu aku lepas baju ini! Ah!!!!!! Kenapa baju ini susah sekali dilepas!?"


Dengan mendengus kesal, Arga mencoba bangkit berdiri dengan berpegangan pada pinggiran ranjang. Dia berhasil berdiri tegak, namun hanya untuk beberapa detik saja. Di detik berikutnya, tubuh jangkungnya jatuh di atas tubuhnya Joana.


Arga terkejut dan di saat ia ingin berguling, kedua tangan Joana mendekap pantatnya Arga yang penuh dan seksi


Arga spontan berteriak kaget, "Ouch!" Lalu, Arga melotot ke Joana, "Kenapa kau remas-remas pantatku?"


Joana tersenyum di depan Arga dengan wajah memerah karena mabuk berat. Gadis belasan tahun yang cantik itu, kemudian berkata sambil mendecak-decakkan mulutnya, "Kue bolu ini. Kue bolunya kenapa empuk sekali" Joana terus *******-***** pantatnya Arga.


Arga menggeram kesal, "Kue bolu pala Lo peyang! Lepaskan pantatku!" Arga berusaha melepaskan pantatnya dari remasannya Joana dengan cara menggoyang-goyangkan pinggulnya dan gerakannya itu membuat kepala Arga semakin terasa pusing. Dan karena sudah tidak kuat menahan kepalanya yang terasa sangat penting, Arga menjatuhkan wajahnya di lehernya Joana dan seketika itu juga ia mengumpat, "Sial! Kenapa gadis ini memiliki wangi alami yang aku suka?"


Joana bergumam, "Arga Hewitt. Dia baik tapi juga sangat galak. Sikapnya membingungkan. Tapi, kenapa aku selalu ingin berada di dekat dia dan aku ingin dia menciumku lagi? Ah! Gila, gila, gila!" Joana meninggikan nada suara di kata terqkhirnya sembari meremas keras pantatnya Arga.


Arga berteriak kesakitan, "Ouch!" Dan refleks pria tampan itu, mengangkat wajahnya dari lehernya Joana. Dia kemudian tertegun saat Joana kembali bergumam, "Aku nggak mau jadi gadis baik-baik. Karena menjadi gadis baik-baik tidak ada manfaatnya. Papa tetap aja nggak pernah peduli padaku"


Arga kemudian iseng bertanya, "Lalu, kau ingin jadi gadis yang bagaiman?"


Joana mengangkat kedua tangannya dari pantatnya Arga untuk menarik tengkuknya Arga. Joana mencium bibirnya Arga, lalu mendorong dadanya Arga untuk berucap, "Yang seperti ini. Aku suka berciuman dengan Arga Hewitt. Kata orang, gadis yang suka berciuman, bukanlah gadis baik-baik" Joana lalu menangkup kedua pipinya Arga.


Saat Joana menarik kedua pipinya mendekat ke wajah Joana karena Joana ingin menciumnya lagi, Arga refleks menahan kepalanya dengan sekuat tenaga sambil berkata, "Jangan seperti ini! Aku nggak ingin mengambil keuntungan darimu. Kau mabuk. Sial! Aku juga mabuk, nih. Jangan seperti ini! Lepaskan aku, Ana. Hiks, hiks, hiks, kumohon lepaskan aku karena jika kau sadar nanti, kau akan membenciku kalau aku tidak berhasil mengendalikan diriku lagi"


Joana menampar pipinya Arga cukup keras.

__ADS_1


Arga refleks mengaduh, "Ouch!" Lalu ia mendelik ke Joana untuk menyemburkan protes, "Kenapa menamparku?"


Joana yang masih menangkup kedua pipinya Arga tersenyum lebar dengan polosnya, lalu berkata, "Aku sebenarnya juga membenci kamu. Itulah kenapa aku menampar kamu, Hihihihihi"


"Dasar gila! Kenapa kau terlihat sangat menggemaskan kalau mabuk, Ana?" Arga menatap Joana dengan kedua bola mata yang mulai menggelap tersapu gairah.


"Kalau begitu, cium aku! Aku suka berciuman denganmu" Joana kembali tersenyum lebar ke Arga.


"Nggak! Itu nggak boleh! Aku takut nggak bisa mengendalikan diriku lagi kalau aku mencium kamu saat ini" Arga terus menahan kepalanya dari tarikan Joana.


Joana lalu menarik kedua tangannya dari pipinya Arga sambil mengerucutkan bibirnya, ia terisak menangis dan berkata di sela isak tangisnya, "Berarti kau bohong selama ini! Kau bilang aku cantik? Cih! Itu bohong! Papaku aja nggak pernah mengatakan kalau aku cantik. Dan barusan, kau bilang aku menggemaskan? Cih! Itu juga bohong!"


Arga mengumpat kesal, "Sial! Asal kau tahu, ya, aku nggak pernah berbohong. Aku mengatakan yang sesungguhnya"


"Kalau begitu, cium aku!" Joana menatap Arga dengan sorot mata menantang.


Joana menarik tangan kanan Arga untuk ia letakkan di atas dadanya, "Kau dengan detak jantungku, kan? Cukup keras tidak?"


"Hmm" Sahut Arga sambil terus menatap wajah cantiknya Joana.


"Itu berarti aku menginginkanmu saat ini dan aku serius!" Joana meninggikan suaranya di kata terakhir.


"Kau tidak akan menyesalinya? Karena, aku sudah nggak bisa mengendalikan diriku lagi kali ini" Arga menatap lekat kedua bola mata hitam yang sangat cantik.


"Hmm. Aku tidak akan menyesalinya" Sahut Joana sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ares dengan pelan menyusupkan wajahnya ke lehernya Joana untuk menghirup dalam-dalam wangi alaminya Joana yang sangat ia sukai sambil jari jemarinya bergerak lincah melepaskan satu per satu kancing dressnya Joana.

__ADS_1


Arga terus asyik melanjutkan aktivitas liar mencium lehernya Joana dan mendaratkan banyak jejak kepemilikan di sana. Lalu, pria tampan itu, menyusurkan bibirnya untuk mencari lagi titik yang mengasyikan. Arga berhenti menyusurkan bibirnya saat ia menemukan titik kenyal. Ia kemudian bergerak terus untuk bermain asyik di titik kenyal dengan menggunakan tangan dan bibir. Pria tampan berkulit putih pucat itu, kemudian bergerak kembali ke atas sampai bibirnya menemukan bibirnya Joana.


Arga mengajak Joana berciuman cukup lama, cukup liar, dan semakin lama semakin panas.


Arga menurunkan kembali bibirnya untuk menciumi setiap sudut tubuh Joana yang telah polos. Arga berhenti sejenak saat ia menemukan lembah yang tampak menggoda dan pria berbola mata hijau itu, kemudian bermain cukup lama di lembah kenikmatan. Joana tersentak kaget lalu berteriak, merintih indah di saat ia untuk yang pertama kalinya merasakan sensasi liar itu.


Napas Joana menderu menahan gairah, melenguh menikmati setiap sentuhan bibir dan telapak tangannya Aga dan kenyataan ia belum pernah merasakan semua itu sebelumnya, membuat gadis berusia belasan tahun itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan di saat ia semakin menyukai setiap sensasi yang ditorehkan oleh Arga di atas tubuh moleknya, Joana mulai memejamkan kedua kelopak mata yang berbulu lentik dengan perlahan.


Arga bergerak pelan ke atas dengan bibirnya setelah ia merasakan kepuasan bermain di lembah kenikmatan dan Arga menempelkan bibirnya di atas keningnya Joana untuk mencium keningnya Joana dan berkata dengan suara serak "Buka mata kamu!"


Joana membuka kedua kelopak mata berbulu lentik dengan perlahan dan dengan napas menderu ia berucap, "Kenapa berhenti?"


"Kau menyukainya?" Tanya Arga dengan napas menderu pula.


"Iya" Sahut Joana lemas.


Arga yang masih menempelkan bibirnya di atas keningnya Joana berkata, "Aku akan masuk dengan pelan-pelan karena aku tahu ini pengalaman pertama bagimu. Apa kau yakin? Kalau kau ingin aku berhenti, aku akan berhenti saat ini juga"


"Jangan berhenti. Lanjutkan! Aku penasaran dengan endingnya" Sahut Joana.


"Sial! Aku belum pernah melakukan hal ini dengan siapapun sebelumnya. Katakan kalau kamu merasa kesakitan"


Joana menganggukkan kepalanya.


Arga kemudian melesak masuk dengan gerakan pelan di awal, namun sensasi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ternyata sangat luar biasa, membuat Arga tanpa sadar mempercepat gerakannya.


Joana memekik kaget dan sontak mengangkat wajahnya ke atas. Arga mengabaikan pekikan itu dan terus bergerak dengan liar dan semakin cepat. Joana refleks membuka Kedua kelopak matanya lebar-lebar dan menggigit bibir bawahnya saat ia merasakan sensasi baru yang unik.

__ADS_1


__ADS_2