
Tanpa sepengetahuannya Paloma, Leonard mengikutinya.
Leonard menggeram penuh amarah saat ia melihat istrinya masuk ke dalam sebuah hotel bersama.dengan seorang pria
Leonard langsung berkata ke anak buahnya, "Ikuti dia dan culik dia bersama.denhan pria brengsek itu! Bawa dia ke vila!"
Leonard Alexander, bukanlah orang bodoh yang bisa dengan mudah dibohongi. Dia mengendus kebusukan Paloma saat ia menemukan pesan text di telepon genggamnya Paloma untuk nomer asing. Lalu, ia menyuruh anak buahnya untuk mengikuti ke mana pun Paloma pergi sejak saat itu.
Leonard menunggu Paloma di vila pribadinya yang ada di Jepang. Vila tersebut terpencil dan berada di ujung tebing.
Paloma dan pria yang pergi dengannya ke kamar hotel, dibuka penutup mata mereka saat mereka dibawa menghadap Leonard Alexander.
Paloma tersentak kaget, " Kenapa kau bisa ada di sini, Mas?"
"Dan kenapa kau ada di sini?" Leonard menatap Paloma dengan wajah dingin.
"Siapa dia?"Tanya pria yang ada di sebelahnya Paloma.
"Diam kau!" Paloma menoleh ke pria yang ada di sebelahnya dengan mendelik.
"Apakah masih ada selain pria ini? Lalu, di mana Arga? Pria yang menculik Ana. Apa hubunganmu dengannya?"
Paloma langsung bersimpuh di depan suaminya sambil berkata, "Ini ridak seperti yang terlihat. Dia sepupuku, Mas. Dan Arga? Siapa Arga?"
"Jangan bohong! Dasar wanita menjijikkan. Seret mereka berdua ke tebing!" Leonard mendelik mengerikan.
"Lepaskan aku! Aku tidak tahu ada apa ini?" Pria yang dibawa menghadap Leonard bersama dengan Paloma berteriak kebingungan bercampur panik.
Paloma menoleh ke belakang dan berteriak, "Mas! Ini tidak sepeti yang terlihat. Aku mengandung anakmu! Aku hanya mencintaimu!"
Leonard menghentikan langkahnya saat Paloma dan pria yang berani berkencan dengan Paloma diberdirikan di tepi tebing.
Tubuh Paloma gemetar ketakutan dan dia kembali bersimpuh dan memohon, "Aku mengandung anakmu. Maafkan aku! Ini tidak seperti yang terlihat"
Dooooor!!!!!! Leonard menembak kening pria yang berdiri di sebelahnya Paloma dan Paloma terkejut setengah mati dan berteriak kencang, "Dioooooo!!!!!" Saat ia pria kenalannya telah mati tak bernyawa.
Paloma nanar melihat Leonard. Tubuhnya gemetar dan ia menangis ketakutan.
"Jangan kau terus membohongi aku. Aku sudah tahu kalau kehamilan kamu itu juga suatu kebohongan. Dasar menjijikkan"
Doooorrrr!!!!!!!!
__ADS_1
Leonard menembak kening Paloma saat Paloma hendak membuka mulut.
Leonard menyerahkan pistol yang ia genggam ke asisten pribadinya dan sambil berjalan meninggalkan tebing, ia berkata, "Urus mayat mereka berdua! Setelah itu, kita pulang. Kita cari Arga Hewitt"
Joana merasa sangat bahagia. Dia terus mengulas senyum di wajah cantiknya saat Arga mengajaknya berjalan-jalan.
Joana diam-diam menatap Arga dan membandingkan Arga dengan Darren. Arga lebih lembut, perhatian, dan mampu membuat jantungnya melonjak-lonjak abnormal tanpa dikomando.
Dan kasih sayang yang belum pernah ia rasakan dari Papanya, ia rasakan saat ia bersama Arga.
Perlakukan ayah pada anak perempuan yang lebih banyak menggunakan bahasa yang halus dan lembut dia temukan di diri Arga.
"Kenapa menatapku terus?" Arga merona malu dan mengelus tengkuknya.
"Pria setampan kamu, bisa merona malu juga, ya, pas ditatap sama seorang cewek" Joana tersenyum geli.
"Siapa yang merona? Nggak. Aku nggak merona. Wajahku memerah karena balado telurnya pedes banget" Arga langsung menunduk.
Joana terkekeh geli dan berucap, "Aku bersyukur bisa bertemu denganmu"
Arga mengangkat wajahnya, "Aku juga bersyukur bisa bertemu denganmu. Kamu mengobati luka di hatiku dan sekarang ini, kamu membuatku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu juga memberiku anak. Terima kasih" Arga tersenyum penuh arti.
"Entah kenapa, aku nggak pernah bisa makan lebih dari lima suap sejak kecil"
"Tapi, pas kamu tinggal di rumahku dan pas kita makan bareng di restoran seafood, kamu makan banyak banget" Sahut Arga.
"Itulah yang membuat aku heran. Aku bisa makan banyak hanya saat aku makan bersama denganmu"
"Kalau gitu makan yang banyak. Lagian sekarang kamu nggak sendirian. Ada anak kita di dalam perut kamu. Jadi, kamu harus makan yang banyak" Arga mengambilkan nasi dan lauk di atas piringnya Joana.
"Cukup, Mas! Kebanyakan, nih" Joana merengut.
"Harus habis" Sahut Arga.
"Wah, berat, nih" Sahut Joana.
"Harus habis" Arga tersenyum penuh kasih. Lalu, pria tampan itu bertanya, "Anak kita cewek atau cowok?"
"Belum tahu. Kan, masih belum ada lima bulan. Kata dokter, entar kalau udah lima tau enam bulan, baru bisa tahu anak kita cewek atau cowok"
Arga manggut-manggut, lalu bertanya, "Kamu nggak ada mual atau pengen muntah, kan?""
__ADS_1
Joana menggeleng sambil mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Syukurlah. Semoga kamu nggak ngidam. Karena, kata orang, ngidam itu berat"
"Kata Dokter, belum. Kandunganku masih sangat muda. Bulan depan kemungkinan aku mulai ngidam"
"Kalau pengen mual atau muntah di tengah malam, bangunin aku, ya!? Terus kalau pengen apa-apa langsung bilang, ya!? Jangan ditahan!" Arga menatap Joana dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Mas" Jona tersenyum penuh syukur.
Sesampainya di kama hotel, Arga menyuruh Joana tidur duluan karena ia masih harus melihat saham.
Arga tersentak kaget saat ia mendengar suara isak tangis yang cukup keras. Pria tampan berbola mata hijau itu sontak menoleh ke ranjang, saat ia mendengar Joana mengigau, "Pa, bernyanyilah untukku! Aku pengen dinyanyikan lagu Nina Bobo sama Papa"
Arga menutup laptopnya, memasukkannya ke dalam tas punggungnya, lalu ia bangkit berdiri untuk berjalan ke ranjang sambil bergumam, "Separah apa sebenarnya Papa kamu mengabaikan kamu? Kenapa kamu terus mengigau tentang Papa kamu?"
Arga lalu merentangkan lengannya, menarik kepala Joana dengan pelan untuk ia letakkan di atas lengannya. Kemudian, ia peluk Joana dan ia mengumandangkan lagu, "Nina bobo, ooooo Nina Bobo. Kalau tidak bobo, digigit nyamuk"
Arga tersenyum senang saat ia melihat Joana memeluk tubuhnya dan Joana mengigau, "Terima kasih, Pa"
Arga mengelus bahu Joana sambil terus mengumandangkan lagu Nina Bobo sampai ia jatuh ke alam mimpi.
Keesokan harinya, Joana terbangun dan langsung tersenyum semringah. Dia tidur di atas lengannya Arga. Dia senang, sangat senang, saat ia menatap wajah tampannya Arga yang tengah tertidur pulas.
Joana terus tersenyum dan saat Arga membuka kedua bola matanya, Gadis cantik itu bangun dan Arga sontak menarik lengan Joana sambil berkata, "Mau ke mana?"
"Mau bangun. Aku belum sikat gigi" Joana menarik lengannya dan nekat bangun.
Arga langsung mengaduh, "Aduh! Lenganku sakit. Nggak bisa diangkat, nih"
Joana kembali ke tempat tidur dan duduk bersimpuh di atas kasur untuk memijat pelan sambil berkata, "Maafkan, aku. Aku pakai lengan ini buat bantal, ya?"
Arga terus menatap wajah Joana yang tampak semakin menggemaskan saat Joana merasa bersalah.
Arga lalu mengangkat wajahnya dan ia mengecup bibir Joana.
"Mas!" Joana sontak menutup mulutnya dan berkata, "Aku belum sikat gigi"
Arga menarik tangan Joana dan sambil merebahkan Joana ke ranjang, ia berkata, "Aku nggak peduli kamu udah sikat gigi atau belum" Arga lalu mencium Joana dan menarik selimut sampai selimut itu menutupi dia dan Joana.
Arga dan Joana kemudian berciuman di dalam selimut penuh dengan kelembutan dan kehangatan cinta.
__ADS_1