Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Aku percaya


__ADS_3

Karena percintaan liarnya dengan Joana, Mario melupakan rencananya untuk membawa Joana ke panti asuhan. Pria tampan berbola mata hijau itu tertidur pulas di samping Joana.


Joana yang terbangun di dua dini hari memandangi wajah pria itu.


Joana terpesona oleh penampilan Mario yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer saja, Mario tampak menawan, maskulin, dan sangat jantan. Joana melihat dada Mario yang masih naik turun dengan cepat, bisa menangkap bahwa gairah pria itu belum sepenuhnya padam.


Seluruh kulit Mario yang dulunya putih pucat baru disadari oleh Joana telah berubah warna menjadi berwarna kecokelatan. Bulu-bulu di tubuh Mario yang berwarna cokelat muda semakin gelap pada bidang tebal yang mengelilingi pusarnya.


Joana bergumam, "Mengapa ia selalu berganti-ganti suasana hatinya? Suka mendadak berubah tanpa alasan yang jelas"


"Bukankah kamu juga sepeti itu?" Kedua kelopak mata Mario tiba-tiba terbuka lebar dan menatap kedua bola matanya Joana.


Joana tersentak kaget dan sontak ia menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih polos dan berbaring memunggungi Mario.


Mario tersenyum, lalu ia menyentuh bahunya Joana sembari memanggil mesra, "Ana?"


Bahu Joana berguncang dan Mario cepat-cepat mendekati Joana dan melingkarkan tangan di bahu wanita itu, "Apa kau menangis, Ana?"


Joana mengangguk dan semakin keras isak tangisnya.


Mario memeluk erat Joana dan dengan cepat berkata, "Jangan. Jangan menangis. Maafkan aku kalau tadi tanpa aku sadari, aku telah menyakiti hatimu"


Joana langsung membalik badan dan memeluk erat tubuh Mario. Joana menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya Mario dan Mario membiarkan Joana menuntaskan tangisannya.


Mario mendekap keluguannya Joana dan terus mengelus punggung polos Joana sampai Joana tertidur pulas di dalam dekapannya Mario.


Mario mencium pucuk kepala Joana dan bergumam, "Aku akan memaksamu tinggal di sisiku. Aku nggak akan melepaskanmu lagi, Ana. Aku nggak mau bercerai"


Mario terbangun dan langsung terduduk di tengah ranjang saat jam di dingin kamar hotel menunjukkan pukul sebelas. Mario menoleh ke samping kanannya dan dia teringat kembali kalau tadi malam berbaring seorang wanita cantik. Polos dan penurut. Wanita cantik yang lugu dan sangat ia cintai. Dia juga ingat kalau dia bercinta gila-gilaan dengan wanita itu. "Ana? Di mana dia?" Mario langsung menyibak selimut dan turun dari ranjang untuk mencari Joana.

__ADS_1


Mario menemukan Joana duduk di tepi kolam renang dengan kaki telanjang berjuntai di atas air. Mario menemukan Joana tengah melamun di sana.


Mario mendekati Joana dan duduk di samping Joana. Ia merangkul bahu wanita itu, lalu menunduk dan mencium lembut dahi Joana dan Joana mengijinkan Mario melakukan semua itu.


Siang itu terasa lembab dan tenang. Udara panas bercampur harum pewangi ruangan kamar hotel VVIP membuat Joana hanyut di dalam pelukan hangat Mario dan Mario merasa sangat nyaman memeluk tubuh hangat Joana.


Selama beberapa detik, mereka saling berpelukan dalam kebisuan mereka.


Mario diam karena ia merasa bersalah telah mengajak Joana bercinta secara gila-gilaan semalam. Tapi, akal sehat Mario berkata, Kamu nggak perlu merasa bersalah, ia Istrimu!


Sedangkan Joana diam karena ia merasa malu, telah begitu mudahnya jatuh ke dalam permainan cintanya Mario. Joana takut kalau dia dicap 'murahan' oleh Mario.


Mario menghela napas panjang, lalu bertanya, "Apa yang kau pikirkan?"


"Banyak hal" Sahut Joana sembari menendang percikan air.


"Aku ingin sekali mendengar dari mulut kamu, apa saja banyak hal itu, tapi kita harus segera pergi dari sini"


Lalu, Mario menunduk dan menggosokkan wajahnya di dada Joana. Bibir pria tampan berbola Maya hijau itu bergerak melintasi daerah lembur itu dengan tangan meluncur ke bawah, dari pinggang ke pinggul Joana, menarik wanita itu lebih dekat. Mario berbisik, "Kau harum. Aku ingin lebih dekat lagi denganmu untuk bisa mencium harum tubuhmu. Astaga! Kau sungguh ..........."


Kriiingggg!!!!! Bunyi dering telepon genggam yang ada di dalam saku celana kainnya Mario membuat Mario mengumpat kesal.


Joana mendorong pelan dada Mario dengan kedua telapak tangannya sembari berkata, "Terimalah dulu! Siapa tahu penting.


Mario menghela napas kesal, lalu ia mengangkat panggilan itu, "Halo?"


"Kau harus segera keluar dari hotel itu! Leonard Alexander membawa polisi ke sana untuk menangkap kamu atas tuduhan pembunuhan Ayah kamu sendiri" Suara Rendy tampak terengah-engah karena ia menelepon sembari berlari menuju ke parkiran mobil.


"Biarkan saja ia datang dan menangkapku. Biarkan saja peristiwa di masa lalu terulang lagi" Sahut Mario dengan nada santai.

__ADS_1


Joana langsung bangkit berdiri dan Mario pun ikut bangkit berdiri tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik pujaan hatinya.


Rendy yang tidak tahu menahu soal rencana terbarunya Mario langsung menyemburkan, "Apa maksudmu?! kalau kau tetap di sana, kau akan masuk ke penjara dan ........"


"Justru itu rencanaku. Tenang saja" Sahut Mario dengan nada santai dan tatapannya masih melekat di wajah cantiknya Joana Alexander.


Setelah Mario mematikan telepon genggam dan memasukkan telepon genggam itu ke dalam saku celana kainnya, ia menangkap pipi Joana sambil berkata, "Sebentar lagi kejadian yang sama persis terjadi di masa lalu, akan kamu lihat lagi. Kali ini, aku mohon percayalah padaku!"


Joana menatap Mario dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Papa kamu akan menjebak aku lagi. Namun, kali ini ku sudah tahu dan aku sudah siapkan cara untuk membalasnya. Aku tidak akan memaksa kamu untuk memilih aku. Kamu boleh memilih Papa kamu. Tapi, aku mohon percayalah padaku. Hanya itu yang aku minta, percayalah padaku!"


Joana menemukan ketulusan dan kejujuran di kedua bola matanya Mario. Untuk itulah Joana akhirnya berkata, "Aku nggak akan memilih siapa pun saat ini. Aku nggak memilih kamu ataupun Papaku. Aku masih belum melihat dengan jelas permasalahannya. Tapi, Aku percaya padamu"


Mario mengecup bibir Joana, memeluk tubuh Joana dengan erat, dan berkata, "Terima kasih, Ana. Hanya kepercayaan darimu yang aku butuhkan saat ini"


Joana mengelus punggung Mario dan bertanya, "Berarti kita nggak jadi pergi?"


"Rendy dan anak buahku akan membawamu ke tempat yang aman. Tunggulah aku di sana dan tetaplah percaya padaku! Jangan terpengaruh dengan berita yang beredar atau terpengaruh dengan ucapan Papa kamu"


Joana membenamkan wajahnya di dada Mario sambil berkata, "Baiklah"


Mario mencium keningnya Joana, lalu ia melepaskan Joana dan berkata, "Baiklah ke rooftop! Rendy akan menjemputmu dan membawamu ke panti asuhan. Mama Mia merindukanmu"


Joana berucap, "Jaga diri kamu baik-baik" Lalu, ia berbalik badan dan berlari menuju ke rooftop.


Mario tersenyum penuh arti saat ia berbalik badan dan berjalan menuju ke kamar. Dia dengan santai membuka pintu saat pintu kamarnya diketuk. Mario juga bersikap kooperatif dan santai saat polisi memborgol tangannya.


Leonard Alexander menggeram kesal saat ia tidak menemukan putrinya di dalam kamar itu dan dia langsung mencengkeram kerah kaosnya Mario, "Di mana Ana?"

__ADS_1


"Kau bahkan tidak pernah peduli dengan Putri kamu, jadi untuk apa kau cari Ana? Untuk kau jadikan patung di rumah mewah kamu?"


Leonard Alexander langsung berteriak kesal, "Bawa dia pergi dari hadapanku secepatnya! Jebloskan dia di penjara untuk selama-lamanya!"


__ADS_2