Godaan Si Lugu

Godaan Si Lugu
Bedongan


__ADS_3

"Apa yang terjadi sama kamu dan Ana?" Tanya Leonard saat ia kembali menemui Darren, pemuda tampan yang ia jodohkan dengan putri tunggalnya.


Darren tersentak kaget dan untuk menutupi kesalahannya, ia balik bertanya, "Kenapa Anda datang kemari selarut ini dan Anda bertanya seperti itu?"


"Karena kata Novi, Ana sebelumnya pergi menemuimu di hotel The Rain dan setelah itu Ana menghilang" Leonard menatap tajam Darren.


Darren bangkit berdiri lalu melangkah mengitari meja kerjanya untuk menyembunyikan kegugupannya. Setelah ia duduk di sofa menghadap ke Leonard, ia berkata, "Saya tidak bertemu dengan Ana. Ana pergi dengan siapa ke hotel The Rain?" Darren mencoba menggilir kesalahan ke Novi.


"Ana pergi bersama Novi. Tapi, setelah itu Novi pulang sendiri. Dan untuk menutupi hilangnya Ana, Novi mengatakan kalau Ana pergi piknik dengan keluarganya" Sahut Leonard.


Darren mengumpat kesal di dalam hatinya, sial! Novi ternyata jago banget berbohong dan berakting. Darren kemudian, menghela napas panjang dan dengan memasang wajah polos rak berdosa, dia bersandar ke sofa, lalu berkata, "Apa mungkin Ana diculik oleh salah satu dari musuh bisnis Anda?"


"Itu tidak mungkin. Karena, Ana tidak pernah keluar rumah tanpa pengawalan dan Ana tidak pernah aku ajak ke pertemuan bisnis dan Ana juga tidak pernah datang ke kantorku" Sahut Leonard.


Darren kembali menghela napas dan berkata, "Anda benar. Ana tidak pernah anda publikasikan Bahkan saya, untuk bisa melihat kecantikan Putri tunggal Anda itu, saya harus datang ke kediaman Anda"


Leonard mematung tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.


Darren kemudian berkata, "Ana baru saja memenangkan kejuaraan balet. Apa mungkin gadis yang mendapatkan posisi kedua di kejuaraan balet itu, merasa kalau penilaian juri tidak adil, lalu ia marah dan menculik Ana?"


"Aku sudah suruh anak buahku mengawasi gadis itu dan semuanya tampak wajar. Jadi, bisa dipastikan kalau Ana tidak diculik oleh gadis itu" Sahut Leonard.


"Lalu, apa kata pihak kepolisian?" Tanya Darren.


"Pihak kepolisan belum bisa memberikan pernyataan apa-apa karena mereka tidak punya petunjuk apapun dari kita" Sahut Leonard.


Darren dan Leonard akhirnya hanya bisa mengakhiri percakapan mereka dengan saling menatap di dalam kebisuan.

__ADS_1


Saat Arga mendengar Joana bergumam lirih, spontan ia memajukan wajahnya untuk bisa mendengar gumamannya Joana.


Arga terlonjak kaget saat ia melihat Joana tiba-tiba memiringkan tubuh dan tangan Joana langsung meraih tangannya.


Arga spontan menarik lepas tangannya, namun ia justru tertarik maju dan jatuh di atas tubuhnya Joana. Arga mengumpat kesal, "Sial!" Saat bibirnya mendarat manis di atas leher putih mulusnya Joana.


Arga segera menarik wajahnya dari leher Joana saat wangi yang sangat menggoda menusuk kedua lubang hidungnya. Namun, di saat pria tampan itu hendak menarik tubuhnya, ia mendengar Joana menangis terisak.


Arga tertegun mendengar gumamannya Joana, "Pa, Ana sangat mencintai dan menyayangi Papa, tapi kenapa Papa tidak pernah sayang sama Joana? Apa salah Ana, hiks,hiks,hiks"


Arga lalu menggulirkan badannya ke samping. Kemudian, dia tidur miring untuk menatap punggungnya Joana yang bergetar karena isak tangisnya Joana.


Arga yang sesungguhnya memiliki hati yang lembut walaupun tampak dingin di luar, mengangkat tangan kanannya untuk mengelus rambut indahnya Joana sambil berkata, "Jangan menangis lagi! Tidurlah dengan tenang!" Arga terus mengelus rambut indahnya Joana sampai punggung Joana berhenti bergetar dan isak tangisnya Joana lenyap ditelan kesunyian malam.


Karena merasakan kelelahan fisik dan psikis yang luar biasa, Arga akhirnya ketiduran dengan memeluk pinggang rampingnya Joana.


Keesokan harinya, suara kokok ayam jantan dan nyanyian burung Pipit, membangunkan Joana. Joana menguap dengan santainya sambil mengulet dan memutar badannya.


Joana lalu membuka mulut yang masih ia tutup dengan telapak tangannya dan dia langsung mengernyit saat ia merasakan sendiri bau mulutnya. Lalu, gadis remaja yang masih lugu itu, menatap Arga yang masih tertidur pulas dan dia melihat lengan Arga dengan bergumam sangat lirih, "Apa aku tidur dengan berbantalkan lengan ini semalam?"


Joana lalu menatap kembali wajahnya Arga. Gadis cantik berambut panjang itu mengamati wajah Arga. Wajah berbentuk oval, sangat putih bahkan kulit Arga lebih putih dari kulitnya Joana, alis tebal dengan bentuk lengkungan yang pas, kelopak mata yang lentik, hidung menjulang tinggi, dan saat pandangannya Joana turun ke bibirnya Arga yang berwarna merah alami, wajah Joana memerah. Joana teringat kembali akan ciuman pertamanya dengan bibirnya Arga itu dan wajahnya semakin terasa panas saat hatinya berdesir liar dan jantungnya berdegup kencang.


Joana langsung memutar badan dan memejamkan kedua matanya saat ia melihat Arga menguap.


Arga menutup kembali mulutnya setelah menguap lebar-lebar. Lalu dengan spontan, ia menoleh ke samping kanannya dan dia sontak mengumpat, "Sial! Kenapa lenganku dipakai bantal sama dia?" Arga spontan mendesis saat ia merasakan lengannya kesemutan.


Joana masih berpura-pura tidur padahal dia bisa mendengar ucapannya Arga.

__ADS_1


Arga kembali membuka suara, "Sial! Aku tidak bisa menarik lenganku. Pantas saja dia keras kepala, kepala dia berat banget, nih"


Joana sontak merengut dan berbalik dadan untuk menyemburkan protes, "Siapa yang kau katakan keras kepala? Kepalaku nggak berat kok, kepalaku ringan" Joana mendelik ke Arga.


Arga melotot dan mengeluarkan suara bernada kesal, "Hei, Nona! Yang kau pakai tidur itu lenganku. Yang merasakan berat dan kesemutan itu lenganku. Harusnya aku yang marah dan protes. Kenapa malah kamu yang marah dan protes?"


Joana langsung meredupkan pandangannya, mengangkat kepalanya dari lengannya Arga, sambil berkata, "Iya, kamu benar. Maafkan aku!"


Arga menarik lengannya dan sambil berkata, "Lupakan saja!" Arga memijit-mijit lengannya


Joana menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan dan ia memakai tangan kirinya untuk memijat lengannya Arga sembari berkata, "Aku akan bertanggung jawab karena udah membuat lengan kamu pasti kesemutan dan pegal"


Arga tertegun saat tangan Joana menyentuh lengannya dan memijit lengannya. Arga merasakan kenyamanan dan kehangatan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Saat ia berpacaran dengan Paloma, Paloma tidak pernah bersikap spontan seperti Joana. Paloma selalu egois dan minta selalu dimanjakan oleh Arga.


Joana bertanya masih dengan telapak tangan menutup mulutnya, "Enak nggak pikiranku?"


"Kenapa kau menutup terus mulut kamu dengan telapak tangan kamu?" Arga menautkan alisnya ke Joana


Joana yang masih memijit santai lengannya Arga, berkata dengan sorot mata malu-malu dan masih dengan telapak tangan menutupi mulutnya, "Mulutku bau banget, kan, belum sikat gigi"


Arga tekekeh geli dan dia langsung menarik lengannya, lalu bangun sambil berkata, "Mandilah kalau gitu! Aku akan bikin sarapan"


"Aku nggak bisa bangun. Siapa yang membedongku kayak bayi begini?" Joana menatap Arga.


Arga memalingkan wajahnya dan setelah berdeham ia berucap, "Aku yang membedong kamu semalam. Itu karena kamu, terus bergerak dengan baju tidur kamu itu, jadi aku bedong aja" Arga lalu melangkah lebar meninggalkan Joana saat ia merasakan wajahnya memerah malu.


Joana mengikuti arah langkahnya Arga sembari berteriak, "Hei! Lepaskan dulu bedongan ini!"

__ADS_1


Alih-alih kembali ke Joana untuk membuka bedongan, Arga berlari kencang keluar dari dalam kamarnya sambil bergumam, "Dasar gadis gila!"


Joana kemudian bangun dan duduk di atas ranjang, ia menghela napas kesal saat ia berusaha melepaskan bedongan agar ia bisa turun dari atas ranjang dan pergi mandi. Setelah berjuang selama setengah jam lebih, akhirnya Joana bisa membebaskan dirinya dari bedongannya Arga, kemudian ia melipat selimut itu dari tubuhnya, melipatnya, dan setelah ia merapikan tempat tidur, gadis berambut indah dan panjang itu, melangkah ke kamar mandi.


__ADS_2