
Aika tersenyum ke pemuda tampan yang dia ajak bermain liar semalaman suntuk. Kemudian ia berkata, "Aku senang dengan permainan kamu semalam. Apa kamu kamu menandatangani kontrak kerja sama denganku?"
"Kontrak kerja sama apa?" Tanya pemuda itu sambil merapikan rambutnya Aika yang menutupi wajah cantiknya Aika.
"Untuk menjadi teman mainku selama yang aku mau? Jangan khawatir! Aku akan bayar kamu dengan sangat pantas"
"Jadi peliharaan kamu, maksudnya?" Tanya pemuda itu dengan senyum penuh arti.
"Iya. Dan kau tidak akan menyesalinya" Sahut Aika.
Pemuda itu menganggukan kepala dan Aika langsung mengajak pemuda itu kembali bergulat panas di atas ranjang.
Devi membeku di depan ranjang selama berjam-jam. Dia sampai-sampai tidak menyadari kalau ia telah berdiri menatap jasad Darren Benn yang bersimbah darah di atas kasur sampai pagi tanpa kelelahan dan dia masih menggenggam erat pisau buah yang dia pakai menusuk-nusuk tubuh Darren Benn.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Devi bertanya kepada dirinya sendiri dengan suara bergetar dan wajah panik.
Dia lalu jatuh bersimpuh di atas lantai dan melepaskan pisau dapur begitu saja ke lantai. Lalu, ia bergegas bangkit berdiri, meraih tasnya dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari noda darahnya Darren Benn.
Devi memakai baju ganti yang memang sengaja ia bawa dari rumah dan segera keluar dari dalam kamar mandi dan langsung melesat berlari keluar dari dalam apartemennya Darren Benn. Devi melupakan pisau buah dan melupakan luka goresan di telapak tangannya. Telapak dalam tangannya terkena goresan pisau buah saat ia menusuk dada kerasnya Darren Benn.
Joana memejamkan kedua kelopak mata lentiknya dengan mengangguk pelan. Lalu, Joana bergumam lirih, "Ini pertama kali aku akan bermain cinta secara sadar. Tidak dibawah pengaruh alkohol dan tidak berada di bawah tekanan"
Mario tersentak kaget dan ia langsung menangkup wajah cantik Joana sambil berkata, "Pengalaman pertama kamu tanpa pengaruh alkohol dan tidak di bawah tekanan, seharusnya tidak begini"
"Kau benar" Joana membuka kedua kelopak mata lentiknya dan menatap Mario sambil menjilat bibir bawahnya, "Masalahnya........aku sangat merindukanmu dan menginginkanmu"
Paru-paru Mario terasa menyempit saat ia mendengar Joana berkata seperti itu. Seluruh tubuh Mario yang kekar bergetar melemas. Ia menyugar rambut Joana jemarinya. Ia memegangi kepala Joana, dan kembali membayangkan permainan cinta yang selalu ia bayangkan ketika ia merindukan Joana. Mario sadar seratus persen bahwa ia seharusnya menolak permintaan Joana itu, tetapi ia tidak dapat mengatakan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak menginginkan aku?" Joana bertanya dengan suara serak yang lembut.
Mario memejamkan mata rapat-rapat, memaksa bibirnya untuk berkata tidak, tapi justru yang keluar adalah kata, "Iya"
"Tapi, aku ada pertanyaan untuk kamu?"
Mario yang masih memejamkan mata rapat-rapat langsung bertanya, "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa Rosa pernah menyentuh bibir kamu? Yeeaaahhh, itu pertanyaan gila, tentu saja pernah, dia, kan, tunangan kamu dan......."
"Tidak" Mario sontak membuka kedua kelopak matanya. Ia kemudian berkata, "Entah kenapa aku belum bisa berciuman dengan Rosa"
"Bagus" Joana langsung memagut bibir Mario tanpa permisi.
Bibir Joana terasa lembut dan terbuka, hangat dan sangat manis.
Namun, Joana hanya mampu bergumam, "Hmm" Kemudian ia membuka mulutnya, bergerak lebih maju, dan mengatupkan bibirnya ke bibir Mario dengan panas. Mario merasa kaku dan beku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki
Sambil menggenggam, Joana terus bergerak, dan Mario semakin melemah dan kehilangan kendali. Joana masih polos, terapi hal itu justru terasa lebih menggairahkan daripada perempuan mana pun yang telah berpengalaman.
Mario mendorong pelan wajah Joana saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk cukup keras tanpa jeda. Mario mengerang karena gairah yang harus kembali ia kendalikan. Mario lalu bangun dan bangkit berdiri untuk membuka pintu kamar.
Gemetar gairah yang membuncah di seluruh indra perasanya Joana, membuat Joana ikutan mengerang kecewa saat Mario bangkit berdiri dan meninggalkannya. Bagaikan seekor anak kucing yang kehilangan mainannya, Joana duduk di tepi ranjang dengan bengong.
Joana lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan dan bergumam, "Apa yang telah aku lakukan? Aku merayu dan menggoda Mario Alexei barusan? Sial! Apa yang kau pikirkan, Ana?"
Setelah merapikan bajunya, dia bangkit berdiri, meraih tasnya dan ia memutuskan untuk menyusul Mario.
__ADS_1
Mario dan Rendy langsung menoleh ke Joana dengan sorot mata aneh.
"Ada apa?" Tanya Joana sambil menghentikan langkahnya.
"Suami kamu, Darren Benn, ditemukan tak bernyawa dengan bersimbah darah di apartemennya. Aku rasa sebentar lagi, papa kamu akan menelepon kamu dan......."
Kriiiiinnggggg! Dering telepon genggam jaman dulu terdengar nyaring dari dalam tasnya Joana.
Joana tersentak kaget. Dia langsung merogoh tasnya dan menjawab panggilan masuk di telepon genggamnya itu, "Halo, a......ada.....a.....apa, Pa?" Suara Joana bergetar karena ia masih berusaha mencerna kabar buruk yang dia dengar dari Mario.
"Kamu di mana?"
Joana yang tidak terbiasa berbohong, berkata, "Aku ada di hotel. Aku tidur di hotel semalam"
"Cepat susul Papa ke rumah sakit Hati Suci. Suami kamu, Darren Benn ada di rumah sakit sekarang" Klik! Leonard menutup panggilan telepon itu begitu saja.
Joana menatap nanar Mario dan Rendy. Tubuhnya bergetar hebat dan Mario langsung memeluk Joana dan berkata, "Aku akan antar kamu ke rumah sakit"
Mario menemani Joana duduk di jok belakang dan Rendy yang menyetir.
Novi bangun di pagi hari dan pergi ke kantor dengan wajah cerah ceria dan hati berseri-seri. Dia mengendarai mobil sedan keluaran tahun 2015 dengan bergumam, "Ah! kenapa jantungku berdebar kencang kalau aku ingat dansaku kemarin dengan Mas Rendy?" Novi lalu memukul kemudinya dan berkata kepada dirinya sendiri, "Mas Rendy masih jomblo, kamu harus rebut dia sebelum dia direbut wanita lain. Secara dia, kan, jomblo menawan"
Mario berkata ke Joana saat mereka berdua telah sampai di depan lift, "Aku nggak bisa menemani kamu naik. Papa kamu akan alah paham kalau kamu datang bersama dengan pria lain"
Joana mengangguk pelan dan ia melangkah masuk ke dalam lift
Mario melepas Joana masuk ke dalam lift dengan berat hati. Dan karena merasa khawatir, Mario langsung berlari ke anak tangga menuju ke lantai lima. Dia sampai di lantai lima dan ia melihat punggung Joana dari jarak tiga meter. Mario bergumam, "Jangan pingsan! Jangan pingsan untuk laki-laki brengsek semacam Darren Benn, Ana!"
__ADS_1