Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Jadian


__ADS_3

Cup...


Aldo, mengecup kening Rania. Sudah cukup dirinya, menumpahkan rasa rindu yang terlarang ini.


"Mulai hari ini,kau adalah kekasih ku Rania". Ucap Aldo, tersenyum manis.


Rania, tertunduk dan mengulum senyumnya. Hatinya berbunga-bunga, mendengar ucapan Aldo.


"Aku mau berpakaian dulu,". Pamit Rania, melongos melewati Aldo. Setengah berlarian. Saat ini Rania,cuman menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Beruntung sekali, Aldo tidak mengambil kesempatan untuk menyentuh dirinya.


Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Mengigit bibir bawahnya, merasakan kebahagiaan yang belum di dapatkannya.


Setelah selesai berpakaian, tak lupa mengoles make up tipis di wajahnya. Rania, membulatkan matanya ketika ada jejak di lehernya. Cepat-cepat menutupnya, menggunakan foundation. Bibir Rania , terlihat bengkak. Ciuman Aldo, begitu ganas dan liar.


Dengan rasa gugup, berusaha untuk santai. Rania,membuka pintu kamar dan menuju ke arah dapur. Matanya calingukan mencari, sesosok Aldo. Rupanya Aldo, sudah pergi ke rumah sebelah.


"Fiuuhhh.... Akhirnya pergi juga,aku bisa bernafas lega. Waktunya menonton drakor,". Gumamnya menuju ke ruang tamu.


***********


"Eee..Mana,mbak Rania? Bukankah,mas membawanya". Tanya Shania, melihat bangku mobil belakang, depan kosong.


"Tidak mau ikut, katanya malas. Tamu bulanannya datang,". Jawab Fahri, membukakan pintu untuk calon istri barunya.


"Makasih,mas. Ya sudah, kita berangkat berdua saja". Shania,masuk kedalam mobil. Sialan,aku tidak bisa membuatnya seperti cacing kepanasan. Berlahan-lahan aku akan menyingkirkan mu,dari kehidupan mas Fahri. Cuman aku istri satu-satunya,bukan kamu Rania.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang,membelah jalan raya.


"Mas, emangnya kita mengadakan resepsi pernikahan? Sampai harus,cari gaun pengantin segala". Shania, bingung dengan kekasihnya.


"Buat akad nikah, spesial untuk mu sayang. Mana mungkin,aku mempermalukan diri mu dan kedua orangtuamu". Jawab Fahri, tersenyum.


"Makasih banyak,mas". Shania, bergelut manja di lengan Fahri. Tak bisa di pungkiri,dia sangat bahagia.


Orangtua mana tidak setuju,jika anaknya menikah dengan pria mapan. Apa lagi memiliki jabatan, sebagai manager keuangan. Orangtuanya Shania, langsung menyetujuinya. Tidak masalah menjadi istri kedua, asalkan di utamakan.

__ADS_1


Fahri dan Shania, sampai di sebuah butik gaun pengantin.


Dengan senang hati, Shania memilih gaun pengantinnya. "Mas aku mau yang ini,".


Mata Fahri, terbalalak melihat nominal harganya 500 juta. Susah payah meneguk air ludahnya,panas dingin bercampur aduk.


"Yang lain saja, aku tidak suka". Alibinya, membuat Shania kecewa.


"Mas,yang ini," Shania, memilih gaun dengan harga lebih mahal lagi.


"Harganya sangat mahal, lagipula cuman akad nikah dan syukuran biasa aja". Tolak Fahri, langsung.


Shania,menghela nafas panjang dan memilih gaunnya lagi.


"Maaf boleh tanya,mbak? Masa iya, harganya semahal ini". Bisik Fahri, memegang pelipisnya.


"Iya,pak. Memang benar, harganya seperti itu. Tapi, untuk menyewa 1 hari bisa kok". Jawab sang karyawan,penjaga butik.


"Berapa yah,nyewa 1 harinya?". Tanya Fahri, berharap harganya murah.


"Kalau yang ini,1 harinya 5 juta dan yang ini 7 juta..". Banyak lagi, karyawan itu menjelaskan semuanya.


Shania, tersenyum sumringah karena gaun itu pertama kalinya di inginkan. Sudah pasti dia, sangat setuju. Akan tetapi, dia tidak mengetahui keberadaannya. Jika calon suaminya,cuman menyewa 1 hari saja.


"Makasih banyak,mas. Hari ini,kamu membelikan apapun yang aku inginkan. Termasuk seserahan pernikahan nanti,". Kata Shania, tidak sabar untuk memiliki Fahri.


"Shania,jika kamu menikah dengan ku. Apakah kamu,masih bekerja?". Tanya Fahri, berharap sang istri tetap bekerja.


"Iya,mas. Karena belum hamil dan punya anak, aku bekerja kok. Mas,kenapa tidak menyuruh mbak Rania bekerja? Lumayanlah,uang tambahan kita bersama. Apa lagi aku hamil, kemungkinan besar aku tidak bekerja. Gak mungkin kan,aku kerja. Mas tidak mau kan,anak kita kenapa-kenapa". Usul Shania, tersenyum smrik.


"Masalah itu, mbakmu memang bekerja. Tetapi,mas ataupun kamu tidak boleh menggugat uangnya. Rania, sudah memberikan surat perjanjian kepada mas". Fahri, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Perjanjian, mas! Emangnya,apa perjanjiannya yang di buat Mbak? Beritahu aku,mas". Rengeknya Shania, sangat penasaran sekali.


"Iya,aku akan memberitahu kepada mu. Setelah kita menikah,aku sudah janji dengan Rania". Jawab Fahri, membuat Shania jadi geram terhadap Rania.

__ADS_1


"Iiissshhh... Menyebalkan sekali,". Gerutu Shania, memajukan bibirnya ke depan.


Fahri, mengusap pucuk kepala sang kekasih. Mencubit pipi mulusnya, berusaha untuk membujuknya.


Tiba di rumah orangtuanya, Shania. Di sambut hangat oleh mereka,tak lupa Fahri mengeluarkan seserahan untuk sang calon istri.


Para tetangga orangtuanya Shania, terlihat sangat iri. Walaupun mereka, tidak tahu sama sekali. Jika Shania, menikah dengan pria beristri.


setelah selesai semuanya, Fahri pamit pulang dulu. "Siap-siap besok hari kebahagiaan kita,sayang". Ucap Fahri,tak sabar untuk hari esok.


"Mas, bolehkah aku minta sesuatu? Sebenarnya,ini adalah permintaan Kedua orangtuaku". Rengeknya Shania, tersenyum kecil.


"Katakan saja,sayang. Apapun pasti,mas memenuhinya". jawab Fahri, tersenyum sumringah.


"Mas kan tahu,jika orang-orang sini.Tahunya aku menikah dengan pria lajang,belum memiliki istri. Jadi bisakah,mbak Rania tidak datang. Plisss....Jangan membuat malu Kedua orangtuaku,mas". Cicit Shania,memasang wajah sedihnya.


Fahri, mengusap wajahnya dengan kasar. Apakah Rania, mengabulkan permintaannya. Lalu,apa kata tetangganya nanti? Sedangkan sang suami, melakukan akad nikah. Tetapi, istri pertama tidak ikut. "Hmmm... Baiklah, aku akan membicarakan tentang ini kepada mbakmu".


Shania, tersenyum sumringah dan merasa senang. "Makasih banyak,mas".


"Ya sudah,aku pamit dulu". Kata Fahri, naik mobil dan menghidupkan mesinnya. Shania, melambaikan tangannya melepas kepergian sang calon suami.


"Bagaimana, apakah berhasil?". Tanya sang ibu, langsung di angguki anaknya.


**************


"Wah...Wah...Wah... Belum apa-apa, rupanya dia sudah ngelunjak". Ucap Rania, mendengar permintaan suaminya. Agar Rania, tidak hadir di akad nikah besok.


"Ayolah,jangan membuat malu Kedua orangtuanya. Mas mohon,pliss...". Pinta Fahri, merengek-rengek.


"Baiklah, asalkan ada 1 syaratnya". Jawab Rania, tersenyum smrik.


"Apa, Rania? Akan aku lakukan, asalkan jangan hadir besok hari". Fahri, tersenyum langsung.


"Besok aku mau jalan-jalan, seharian. Jangan cari aku kemana,cuman itu kok. Kalau tidak mau, siap-siap saja. Aku akan hadir,bersama papahku". Tantang Rania, tersenyum. Mendingan jalan-jalan sama bang Aldo, berduaan. Daripada menghadiri acara akad nikah mu,mas."Jangan bertanya mau kemana aku,karena tidak berhak tahu". Sambungnya lagi, membuat Fahri bungkam.

__ADS_1


Fahri, tidak pernah mengijinkan istrinya pergi. Apa lagi tanpa dirinya, ingin sekali melarang. Namun Rania, mengancamnya datang dan bersama ayahnya. Sama saja, membuat neraka baru untuknya.


"Oke,cuman 1 hari. Puassss...!". Fahri, menyetujui persyaratan dari istrinya. Di sudut hatinya, tidak terima sang istri pergi sendiri. Takutnya Rania,di goda oleh pria hidung belang.


__ADS_2