Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Dua Pria Berbeda


__ADS_3

Rania,tengah mengerikan rambutnya yang basah.


Tidak mengetahui jika Aldo, tengah mendekatinya.


Hap...


Aldo, memeluk erat tubuh Rania dari belakang. Aroma sampo menyeruak ke penciuman Aldo, sungguh membangkitkan gairahnya.


"Lepas Aldo,jangan sampai Nick melihat kita seperti ini". Pinta Rania, melepaskan pelukan Aldo.


"Gak papa,malah dia senang melihat orangtuanya bersama-sama lagi. Aroma sampomu, membangunkan sesuatu sayang". Bisik Aldo, lagi-lagi menciumi leher Rania.


"Tidak Aldo! Jangan pernah kamu berharap lebih, untuk memiliki ku. Apapun terjadi nantinya,yang pasti aku tidak akan kembali kepada mu. Walaupun ada anak di antara kita, carilah kebahagiaan masing-masing". Tegas Rania, berusaha melepaskan pelukan Aldo.


"Tidak masalah,jika kamu menikah dengan pria manapun. Aku siap menjadi simpanan mu, bahkan di nomor duakan". Jawab Aldo, lagi-lagi membuat Rania menggelengkan kepalanya.


"Jangan gila,Aldo! Kamu kira aku, wanita seperti apa ha? Lepassss...!" Bentak Rania,cukup keras.


"Yakin, tidak mau? Aku bisa melakukannya, contohnya seperti sekarang. Kamu di peluk seperti ini, tidak bisa berbuat apapun. Sampai kapan pun,kau milikku sayang". Aldo, tersenyum smrik dan melepaskan pelukannya.


"Ck,jangan sok kepedean". Decak Rania, melongos melewati Aldo.


Aldo, terkekeh geli melihat tingkah lakunya sang mantan kekasih. "Bersiaplah sayang,kita sarapan pagi. Nick dan orangtuaku sudah menunggu dari tadi". Ucap Aldo, meninggalkan kamar Rania.


Rania, bernafas lega karena kepergian Aldo. Jantungnya tak lagi berdegup kencang, ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


Beberapa menit kemudian, Rania turun langsung ke arah dapur. Benar saja,di meja makan sudah menunggu dirinya.


Bu Ara dan pak Gito,saling pandang dan tersenyum. Melihat Rania,habis mandi dan keramas.


"Sepertinya kita mendapatkan cucu ke dua,". Bisik bu Ara,kepada suaminya.


"Berharap perempuan,". Jawab pak Gito, cengengesan.


Rania,yang duduk di sebelah Nick malu-malu. Sudah pasti merasa tak nyaman, dengan tatapan orangtuanya Aldo.


Tetapi Aldo,merasa tidak senang. Karena Rania, menutupi jejaknya di leher menggunakan foundation. Sehingga jejaknya, tidak terlihat oleh orangtuanya.


"Selesai makan bersama,kita pulang yah". Kata Rania, kepada anaknya.


Mimik wajah Nick, seketika berubah sedih dan menunduk kepalanya.

__ADS_1


"Jika kamu sibuk dengan pekerjaan, biarlah Nick bersama ku". Sahut Aldo, langsung.


"Benar sekali, Rania. Biarlah Nick,kami yang menjaganya. Jika sudah selesai dengan pekerjaan mu,kembali ke sini". Kata bu Ara, tersenyum.


Rania, langsung tak berkata apa-apa lagi. Sebenarnya dia pulang,bukan karena pekerjaan. Melainkan untuk menjauhi, Aldo. Lama-lama dekat dengan Aldo,bisa jadi hilaf nantinya.


Aldo, tersenyum sumringah dan mengetahui rencana mantan kekasihnya itu.


"Bunda,aku di sini saja. Masih mau main sama papah". pinta Nick, memasang wajah sedihnya.


"Baiklah,bunda pulang sebentar. Soalnya ada perlu,mau mengambil baju bunda". Rania, mengelus pucuk kepala anaknya.


"Oke,bunda". Jawab Nick,mimik wajahnya berubah bahagia seketika.


**************


"Loh, pulang sendiri. Mana Nick,?". Tanya bu Yati, kebetulan santai di teras rumahnya dan melihat kepulangan Rania.


"Masih di rumah papahnya,bu. Mau pulang dulu, ngambil pakaian". Jawab Rania, langsung mendekati bu Yati. "loh,Tama gak kerja?".


"Oh, pasti gak mau pulang Nick. Senang sekali melihat Nick, bahagia. Iya,Tama tidak bekerja. Katanya gak enak badan". Jawab bu Yati,sontak membuat Rania keheranan.


"Ya sudah, kamu lihat sana. Siapa tahu, langsung sembuh sakitnya. Ibu,mau ke warung dulu". Bu Yati, langsung turun dari teras rumah.


Sedangkan Rania, sudah sampai di pintu kamarnya Tama. Jantungnya berdegup kencang,ketika memutar handle pintu.


Pintu kamar terbuka, Rania masuk kedalam dan melihat Tama menyelimuti tubuhnya.


"Tama,kamu sakit apa?". Tanya Rania, duduk di tepi ranjang. "Tidak panas,". Tangan Rania, menyentuh keningnya Tama.


Sontak Tama, terkejut melihat Rania ada di dalam kamarnya. Rupanya tadi dia, ketiduran dan tidak mengetahui Rania masuk kedalam.


Dengan sigap Tama, menarik lengan Rania. Sesak rasanya menahan api cemburu, ingin melampiaskan kepada Rania.


"Aaakkkhh....!". Pekik Rania, terkejut dengan sikap Tama. "Tama,kamu!" Terkejut karena dia, sudah di bawah Kungkungan Tama.


Tama, tersenyum smrik. Memandang wajah cantik Rania, terngiang-ngiang apa yang di lakukan oleh Aldo.


"Tama,kamu! Lepassss...". Rania, memberontak terhadap Tama yang mencium lehernya dengan agresif. "Auuukk...". Meringis kesakitan,ketika lehernya di gigit Tama.


Nafasnya memburu sudah, gairah memuncak dan sangat ganas mencium Rania . "Aku sudah menghapus jejak pria itu,". Ucap Tama, sontak membuat Rania terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Jejak? Maksudnya.... Hhhmmmpptt....". Kini bibir Rania,di bungkam oleh bibirnya Tama. Seluruh mulutnya di kuasai,Tama.


Bagi Rania, memang gila. Tama,yang selama ini di anggap adiknya sendiri. Telah jatuh cinta dengannya,berani menyentuhnya.


Tama, melepaskan ciumannya dan menghapus bibir Rania basah. "Kau milikku,kak Rania. Tidak perduli dengan usia,". Tegas Tama, memandang wajah Rania.


Rania, membuang muka ke arah lainnya. Mengontrol dirinya sendiri, mengatur nafasnya yang tersengal. "Tama, Maafkan aku". Lirihnya pelan.


"Tidak masalah jika aku, menjadi yang kedua. Asalkan kak Rania, menerimaku sebagai pacar dan diam-diam menjalin hubungan". Tama, sudah memikirkan secara matang. "Akan aku buktikan sendiri,jika aku yang terbaik".


Mendengar ucapan Tama, membuat dirinya kebingungan jadinya."Eeee.... Ak-aku tidak janji,". Jawabnya Rania.


"Baiklah,mulai sekarang kita jadian. Tidak ada penolakan terhadap ku,". Tama, tersenyum sumringah dan mengecup bibir Rania dengan lembut.


Tama,merasa senang karena Rania membalas ciumannya. Tidak perduli dirinya, menjadi yang pertama atau keduanya.


Kepala Rania, sudah nyut-nyutan menghadapi dua pria. Hatinya tidak sanggup menolaknya, munafik tidak tertarik dengan Tama dan Aldo.


"Katanya sakit, sampai gak kerja". Ucap Rania, membelai lembut kepala Tama yang manja. Merebahkan kepalanya di atas pangkal paha, Rania.


"Sangat sakit,tapi di sini. Ketikan Aldo, mengirim sebuah foto. Kalian tidur berdua, saling berpelukan mesra. Kapan aku tidur bersama mu,sayang". Tama, langsung menginginkan tidur bersamanya.


Rania, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rupanya Aldo, diam-diam mengambil momen berdua lalu mengirimkannya ke Tama.


"Eee... Tidak bisa, Tama. Takutnya ketahuan oleh ibu,". Jawab Rania, mengelak keinginan Tama.


"Tenanglah, di saat ibu tidur pulas. Aku langsung ke sebelah,kita bisa tidur bersama dan saling berpelukan". Tama, langsung mengeluarkan ide cemerlangnya.


Rania, mengerut keningnya. Bagaimana dengan dirinya, memiliki kekasih 2 sekaligus. Ingin sekali menghilang dan menjauhkan dirinya dari pandangan mereka.


Namun apalah daya,semua itu tidak mungkin terjadi.


Rania, keluar dari kamar dan di iringi oleh Tama.


Tama,tak ingin jauh-jauh dari kekasihnya. Walaupun Rania,belum mengatakan mau atau tidak.


"Mau ke sana lagi,aku cemburu sayang. Kapan pulang,kangen Nick?". Rengeknya Tama,masih memeluk Rania dari belakang.


"Tidak tau,Tama. Nick,masih ingin di sana dan tidak mau jauh dari papahnya. Maaf yah,". Rania, tersenyum manis.


"Tidak apa, sayang. Jangan lupa,balas pesanku". Sekali lagi,Tama mengecup bibir Rania. Yang selama ini di inginkan olehnya, akhirnya terwujud sudah.

__ADS_1


__ADS_2