
"Mas,hari ini kami jangan telat. Malu tau,". Gerutu Shania, menyiapkan sarapan paginya. "Ngapain kamu juga, kerumahnya istri pertama mu? Ujung-ujungnya bikin masalah,coba kamu menurut perkataan ku kemarin".
"Aku ke sana karena ingin sarapan pagi, sedangkan kamu malas membuatnya". Sahut Fahri, matanya melotot melihat di meja makan. Telor ceplok dan nasi semata.
"Ayo, sarapan mas. Katanya mau di masakin,". Shania, langsung meletakkan telur ceplok dan nasi di piring suaminya.
"Shania, bukankah di kulkas banyak ikan dan sayur. Kenapa cuman di masakin ini,doang?". Fahri, tidak semangat untuk makan. Teringat dengan Rania, pagi-pagi sudah menyiapkan sarapan enak.
Seisi rumah sudah bersih dan enak di pandang. Sekarang apa, sangat jauh berbeda.
Shania,yang selalu bangun kepepet waktu. Jadi buru-buru memasak seadanya,apa lagi tidak pandai memasak.
"Mas, aku bukan Mbak Rania.Jago masak dan beberes rumah. Karena aku, seorang wanita pekerja. Bukan seorang istri rumah tangga seperti,mbak Rania". Jawab Shania, sepagi ini sudah mood hancur. Lama-kelamaan aku cepat tua,harus mengerjakan tugas rumah. Kalau seperti ini jadinya,ogah banget punya anak. Pantesan mbak Rania,gak hamil-hamil.
"Lalu,kamu tidak memasak bahan yang aku beli. Jangan menyia-nyiakan makanan, Shania. Mubazir tau, masih untung aku membelikannya". Bentak Fahri,mau tidak mau menyantap hidangan yang ada.
"Cukup! Kalau mau makan yang enak-enak,sana pergi kerumah mbak Rania. Sukanya ngeluh aja kamu,mas. Mbak Rania, banyak waktu luang untuk memasak. Sedangkan aku,mana ada waktu mas?". Akhirnya Shania, beranjak berdiri dan pergi.
"Shania...! Shaniaaaa... Aaarghhh....Kenapa serumit ini? Sialan,". Fahri, mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
*************
Aldo, sebelum pergi ke kampus. Sempat-sempatnya,bermadu kasih bersama Rania.
"Aaahhh.... Hentikan bang,sana pergi ke kampus. Masa dosen telat waktu, datangnya". Rania, menghentikan aksi Aldo.
"Aaakkkhh....kamu, benar-benar membuatku gila. Tidak mau berjauhan dengan mu, sayang". Aldo, semakin bersemangat menghujam tubuh sang kekasih.
"Aaahhh.... Hmmmmpptt.... Terusssss....Yaaaah....". Rania, memejamkan matanya menikmatinya.
"Ooouugghh....". Erangan panjang, bersamaan. Akhirnya sama-sama, sampai puncak.
Ngos-ngosan mengatur nafas, mereka berdua. Rania, berbaring lemah di atas meja.
Aldo, langsung merapikan pakaian dan siap berangkat. "Makasih sayang,aku semangat untuk pergi". Mengecup kening Rania, tersenyum puas.
__ADS_1
"Iiihhh.... Bisa-bisanya ngeces dulu,baru pergi". Gerutu Rania, penampilan acak-acakan sudah.
"Makanlah yang banyak,aku sudah memasakkan untuk mu. Dahhh....Aku pergi dulu, sayang". Sekali lagi, Aldo mencium bibir Rania.
"Makasih,bang". Ucap Rania, setelah selesai berciuman. Akhir-akhir ini,dia jarang masak. Karena tetangganya itu, memasakkan makanan sangat spesial dan enak.
Aldo, menghilang di balik pintu belakang rumah. Sekarang Rania, membersihkan diri di kamar mandi.
Selesai sarapan pagi, Rania melanjutkan tidurnya. Sangat lelah dan letih, tubuhnya pegal-pegal. Semenjak suaminya menikah lagi,dia selalu tidur berdua dengan duda tetangganya itu.
***********
"Maaf,ini total semua bahan bangunan yang di beli". Seorang pria, langsung menghampirinya pak Eko.
Pak Eko, langsung mengerutkan keningnya. "Loh, bukankah bahan bangunan yang aku beli ini.sudah di bayar atas nama, pak Harto".
"Soal itu, saya tidak tahu pak. Karena beliau bilang,di bayar oleh pak Eko. Baliu lepas tanggung jawab,kalau tidak mau bayar. Kami akan membawa bahan bangunan ini,ke tempat lain". Ucap seorang pria itu, tersenyum.
Pak Eko, terbalalak melihat nominalnya. Hampir 200 juta,uang darimana untuk membayar.
Awalnya pak Eko dan bu Marni, mengeluh karena bahan bangunan kosong kepada besannya.
Pada akhirnya pak Harto,merasa kasian kepada mereka. Lalu, menyuruh besannya membeli bahan bangunan. Soal membayar tagihannya,pak Harto yang bertanggung jawab.
Bu Marni, langsung bersemangat mendengarnya. Memiliki besan kaya raya, tidak mungkin membuat kesempatan. Dia langsung mencatat apa saja, sehingga nominalnya sangat banyak.
"Gak papa banyak-banyak, pak. Mumpung di bayarin besan,". Ucap bu Marni, memanfaatkan kebaikan pak Harto. Bukan cuman sekali saja,tapi berkali-kali.
Pak Harto, awalnya membiarkan begitu saja. Tidak mempersalahkan tentang besannya, tetapi sudah keterlaluan sekali.
Pak Harto, langsung murka dan membatalkan pembayaran untuk besannya. Apa lagi sudah mengecewakan dirinya, tentang Fahri menghianati anaknya.
"Ini sudah perjanjian awal,pak Harto yang bayar. Bukan saya, tolong di hubungi lagi bosmu. Bisa jadi bosmu,salah tad". Kata pak Eko, sang sopir yang mengantar bangunan. Langsung menghubungi bosnya, melalui telepon.
Pak Eko,masih gelisah gusar. Semoga saja ini, cuman kesalahan anak buah saja.
__ADS_1
Sang sopir sudah menutup teleponnya,lalu mendekati pak Eko. "Apa yang di katakan saya, memang benar. Pak Harto, sudah melepaskan tanggung jawabnya. Jika tidak mau di bayar,kami bawa lagi".
Pak Eko, langsung memasang wajah masam. "Sana pergilah,aku mana ada uang membayar ini".
"Baiklah pak,kami permisi dulu". Sang sopir, langsung berlalu pergi.
"Loh, kenapa di bawa lagi? Bahan bangunan kita,mau habis". Bu Marni, terkejut apa yang di lihat.
"Nominal uangnya,200 juta yang harus kita bayar. Mana ada uang segitu,bu". Pak Eko,menghela nafas beratnya.
"Ha? Maksudnya apa,pak? Uang,uang apa?". Tanya sang istri, tidak paham.
"Pak Harto, membatalkan pembayarannya". Jawab pak Eko, sontak membuat sang istri syok berat.
"Apa? Gak mungkin, pak! Terus, bagaimana nantinya? Lihatlah,bahan bangunan kita cuman sedikit. Aaaarrgghh....Enak saja,pak Harto membatalkan pembayarannya. Bikin malu,pak". Bu Marni, tersandar di kursi.
"Ini semua gara-gara Fahri. Pokoknya kita minta uang kepadanya,gak mau tau". Pak Eko, langsung kepikiran anaknya.
"Mana mungkin,pak. Tau sendirilah, Fahri mana pernah membantu kita. Semua ini adalah dari besan kita,". Bu Marni,heran kepada anak bungsunya itu.
Masalah uang memanglah pelit, bahkan perhitungan sekali.
************
Malam harinya, kedua orangtuanya Fahri. Tiba di rumah menantunya, Shania. 2 mobil terparkir di halaman rumah, berarti mereka ada.
Beberapa kali menekan tombol bel rumah, akhirnya di buka oleh menantunya.
"Tumben sekali,ibu dan bapak ke sini. Ada apa,?". Tanya Fahri, merasakan hawa tak nyaman.
"Shania,kenapa rumah ini sangat berantakan sekali? Lihatlah,banyak debu juga. Apa aja sih, pekerjaan mu ha? Mana mungkin lah,gak ada waktu membersihkan rumah". Kata bu Marni, tidak menjawab pertanyaan anaknya.
Shania, memutar bola matanya dengan malas. "Jangan bandingkan aku sama menantu,ibu yang satunya.Mbak Rania, istri rumah tangga tidak bekerja. Jelas dia, banyak waktu untuk beberes rumah. Sedangkan aku, wanita pekerja kantoran. Sudah sepatutnya,gak ada waktu untuk membersihkan rumah ini. Walaupun jam 4 sore, sudah pulang. Tetapi,aku memerlukan istirahat yang cukup".
Bu Marni, langsung emosi mendengar ucapan menantunya. Ingin sekali menampar wajahnya, berani sekali membantah perkataannya.
__ADS_1