Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Tandatangan


__ADS_3

Selama tiga hari ini, Fahri uring-uringan di rumah dan tidak fokus bekerja. Surat Perceraian di atas meja,belum di tandatangani.


Sedangkan Shania, terus-menerus menyuruhnya untuk melepas istri pertama suaminya itu.


"E'ehmmm....!". Suara deheman,di ambang pintu. Terlihat kedatangan pak Harto, berdiri tegak.


Fahri, semakin gelisah gusar karena kedatangan pak Harto. Sudah pasti mengambil surat perceraian itu,yang belum di tandatanganinya.


"Masuk,pah". Ajak Fahri, tetapi di tolak mentah-mentah oleh pak Harto.


"Mana surat perceraiannya, sudah kamu tandatangani? Ingatlah,hari ini terakhir". Kata pak Harto, dengan suara tegasnya.


"Mas, tandatangani surat perceraian ini. Jangan jadi pria bodoh, untuk apa mempertahankan rumah tangga kalian. Ada aku mas,jangan mengkhawatirkan yang lainnya". Bujuk Shania, tidak sabar menjadi istri satu-satunya. Payah sekali menjadi suami, selalu mementingkan istri pertamanya.


"Dengar apa kata istri mu itu, Fahri. Ayo, tandatangani surat perceraian ini. Aku tidak ada banyak waktu, meladeni mu". Bentak pak Harto, membuat nyalinya langsung ciut.


Shania, memberikan surat perceraian dan pulpen kepada suaminya.


Fahri, gemeteran memegang pulpen itu. Sedikit demi, mulai mendatangani nya.


Degggg ....


Pak Harto, tersenyum puas karena anaknya resmi bercerai.


"Bagus, kenapa tidak dari tadi. Kalian hajar dia, habis-habisan". Perintah pak Harto, kepada anak buahnya.


5 orang berbadan besar siap untuk menghajar, Fahri. Sontak membuat Fahri dan shania, ketakutan.


"Papah! Toloooong... Aaarghhh...". Teriak Fahri, mendapatkan bogem mentah dari anak buah pak Harto.


Buughhh....Bughhh...


Bughhh....Bughhh....


"Aaaaaaa.... Lepassss.... Lepaskan,suami saya! Aaaaa...Mas Fahri,massss... Hiks....Hiks...Kurang ajar kalian, lepaskan suamiku". Shania, meraung-raung meminta di lepaskan.

__ADS_1


Fahri, tersungkur di lantai dan tak berdaya lagi.


Anak buah pak Harto, langsung pergi meninggalkan rumah Shania.


Setelah itu,pak Harto berniat untuk menemui mantan besannya. Ini akibatnya sudah bermain-main dengan pak Harto,akan habis di tangannya.


Banyak orang lain, tidak mengenali keganasan pak Harto.


Pak Eko dan bu Marni, menyambut hangat kedatangan besannya.


Mereka berdua sangat bahagia, kedatangan besan. Sudah pasti pak Harto,akan memberikan uang kepada mereka. Biasa untuk modal,jika tidak ada. Mereka akan meminta langsung, karena pak Harto pasti mau.


"Besan, kedatangan anda ke sini sebuah anugerah untuk kami. pak Harto,orang ini sudah menipu kita. Katanya besan, sudah membatalkan pembayaran beli bahan bangunan untuk kami. Mana mungkin kan,anda membatalkannya? Pasti dia yang salah,". Kekehnya pak Eko, langsung menatap tajam ke sopir yang membawa pesanannya.


"Jangan menganggap diri saya, besan kalian. Karena Fahri, sudah mendatangani surat perceraiannya". Pak Harto, meletakkan bukti di atas meja.


"Apa? Itu tidak mungkin,pak". Bu Marni, langsung dan menggelengkan kepalanya.


"Besan, ini semua tidak benarkan? Mana mungkin,kita memutuskan tali keluarga. Aku akan membujuk Fahri,agar dia menarik Semuanya. Besan,anda adalah keluarga yang sangat ternilai bagi kami". Pak Eko, sudah gelisah gusar.


Pak Eko dan bu Marni, langsung kebingungan dan keringat dingin membasahi kening mereka.


"Besan, tidak bisakah kita berbaikan seperti dulu. Tidak baik memutuskan hubungan keluarga, walaupun anak kita sudah berpisah". Ucap bu Marni, menundukkan kepalanya.


"Bisa,jika kalian benar-benar berpikir jernih. Mentang-mentang selama ini,saya diam saja. Suka seenaknya memanfaatkan saya, seperti memesan barang dan hampir 1 M. Bukan hanya 1 kali, tetapi berkali-kali. Ck,kalian cuman benalu". Kata pak Harto, dengan lantangnya. "Kalian obrak-abrik tempat ini,jangan ada yang tersisa. Karena semua ini milik saya, menggunakan uang saya".


"Baik,bos". Ucap bersamaan anak buah,pak Harto.


"Apa? Apa maksudnya ini,pak Harto?". Pak Eko dan bu Marni, langsung menyusul mantan besannya itu.


"Kenapa,belum paham juga? Lihatlah,apa yang di lakukan anak buah ku. Itulah akibatnya menantang saya,lalu memanfaatkan kebaikan seseorang". Ucap pak Harto, langsung masuk kedalam mobil. Membiarkan anak buahnya, mengobrak-abrik toko bangunan milik mereka.


Brakkk...Brakkkk... Bruaakkkkkkk.... Bruuukk...


"Aaaa.... Hentikan,aku mohon.... Hentikan!". Bu Marni, berteriak-teriak histeris. Toko bangunannya,acak adul dan sebagian rusak.

__ADS_1


"Hentikaaaan! Toloooong! Hentikaaaan...! Pak Harto, hentikan mereka pak. Tolonglah ampunilah kami,pak!". Pak Eko, menggedor-gedor kaca mobil.


Pak Harto, tersenyum puas dan tidak memperdulikan nasip mereka.


Setelah selesai semuanya,anak buah pak Harto. Langsung pergi begitu saja, membiarkan bu marni meraung-raung.


Sudah pasti menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar, bisik-bisik mulai terdengar.


*************


Sedangkan Rania, merenggangkan kedua tangannya. Hari ini dia bebas tanpa ikatan pernikahan, hatinya merasa lega.


Cup...


Aldo, mencium sekilas bibir kekasihnya itu. "Selamat atas perceraian mu, selesai masa idah. Aku berjanji untuk menikahimu,sayang". Kata Aldo, memeluk erat tubuh Rania.


"Baiklah,aku serahkan semuanya kepada mu". Jawab Rania, merasakan kehangatan dalam pelukan Aldo. Maafkan aku,bang. Kali ini masih rahasia, tentang kehamilan ku. Aku janji bang,akan menjaga buah hati kita. Lalu, menikah dan membangun rumah tangga bersama-sama.


"Apa rencana mu,sayang? Mana mungkin kan,kamu membiarkan dua sejoli itu bersenang-senang". Bisik Aldo, lagi-lagi menciumi seluruh leher Rania.


"Uughhh....Tentu saja,aku tidak akan membiarkan mereka bahagia. Aku ingin sekali, mereka di turunkan jabatannya. Bukankah ancamannya,cuman di keluarkan di perusahaan jika tidak mendatangani surat perceraian. Papah, tidak bilang jika di turun jabatannya". Jawab Rania, sudah memantapkan pikirannya.


"Bagaimana jika Fahri,menjadi OB?Lalu Shania,menjadi staf kantor biasa. Anggap saja, untuk pelajaran mereka berdua. Jika tidak mau, silahkan akan kaki di perusahaan". Aldo, mengusulkan idenya.


"Hmmmm...Aku sangat setuju sayang,". Jawab Rania, menyetujui ide kekasihnya itu.


"Aku tidak percaya dengan perbuatan-perbuatan papah, bisa-bisanya menghajar mas Fahri. Lalu, mengobrak-abrik toko bangunan mantan mertuaku. Sebenernya,aku tidak masalah melepaskan mereka begitu saja. Tetapi,ide papah ada benarnya juga. Mereka semua harus di berikan, pelajaran setimpal". Rania, menyikap rambutnya ke belakang.


"Biar mereka tidak melakukan kesalahan lagi,atau efek jera jangan macam-macam dengan mu". Aldo, mengecup bibir Rania lagi.


"lepaskan pelukkan mu,mau memasukkan baju ke dalam koper. Katanya mau liburan,". Kekehnya Rania, melerai pelukannya.


"Baiklah,aku akan berisap-siap juga. Besok kita akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama". Aldo, mengelus lembut pucuk kepala kekasihnya. Lalu, meninggalkan kamar rania.


Aldo, terkejut melihat sesosok pria yang di kenalnya. Matanya melotot sempurna, bahkan hampir copot. Siapa lagi kalau bukan Fahri, rupanya dia masuk jalan belakang. karena pintu depan terkunci, oleh Rania.

__ADS_1


__ADS_2